Boleh ngomel malam ini? Nggak ada maksud buat cari pendukung atau cari ribut. Cuma sekali lagi status keibuanku tersundul. Kesyaaal....
*ups, ternyata tulisan diatas masuk ke draft dan terbaca sama Indah. Padahal aku udah memutuskan untuk membatalkan ngomel malam ini. Bagaimana? Lanjut?* Lanjuuut.....
Sebuah foto berhasil memancing komen yang akhirnya mengarah kepada acara reuni-an SDku. Teman-teman lama berbalas komentar di foto itu.
Berikut cuplikan berbalas komen di foto seorang teman lamaku (dengan sedikit editan, supaya jelas dan gak kepanjangan) :
A (cowok): Gw kalo sabtu minggu ora iso B.. Piket di rumah jagain pasukan
B (cewek): nah, kalo gitu di rumah kamu aja A, gimana, boss?
C (cewek juga) : Oooo...besok ga jadi ya....?
D (cowok) : Kalian gimana sih? C, sudah saya izinkan kumpul2 kok malah ga jadi...? Hahaha...
B : C mah enak, D...dia kan ibu rumah tangga...nah kalo gw bisa digorok orang kalo kerjaan lagi kejar tayang di kantor...
Winda (ngetik dengan penuh nafsu setelah membaca komen B) : B, jadi bu rumah tangga juga bukan berarti gampang keluar rumah lhooo...contohnya sayah...^_^ (sumpah, waktu ngetik ini usahaaa banget biar gak keliatan emosi).
Sayangnya B tidak membalas komenku setelah itu. Seandainya dia membalas, aku bisa membayangkan akan sepanjang apa thread yang terjadi di bawah foto anak teman SD-ku itu.
Heran! Kalimat 'aneh' terhadap status ibu rumah tangga itu justru datang dari seorang perempuan yang juga seorang ibu, walaupun dia punya karir di kantor. Masih belum ngeh kenapa aku sewot? Coba aku perjelas lagi dengan kata-kataku dan menurut penafsiranku ya :
"Kamu mah enak, cuma jadi ibu rumah tangga...bisa bebas kemana-mana...nah, kalau aku mana bisa bebas begitu, apalagi kalau lagi ada kerjaan kejar tayang di kantor!"
Seingatku, yang juga pernah kerja kantoran dan punya karir, aku justru lebih bebas mau kemana saja sepulang kerja dibanding sekarang setelah full jadi 'cuma' ibu rumah tangga. B boleh saja dikejar-kejar kerjaan untuk kejar tayang (dia artis sinetron apa bukan, itu juga hal lain yang jadi pemikiranku sehubungan dengan hadirnya kata-kata 'kejar tayang'), tapi aku dikejar-kejar mengawasi anak-anak dan urusan rumah tangga di rumah 24 jam non-stop!
Ffiuuuh...aku kagum dengan seorang ibu yang memiliki karir di luar rumah. Bagiku, cukuplah menjadi ibu di rumah tanpa karir di luar rumah dan itu sudah sangat melelahkan. Apalagi ditambah dengan beban pekerjaan di kantor. Benar-benar aku salut pada para working moms ini. Semua jempol aku acungkan untuk mereka. Lalu mengapa B, yang seorang working mom, sampai bisa mengatakan hal itu mengenai full time mom seperti aku? Aku sangat menyayangkan. Sungguh! Apa begitu yang ada di pikiran para working moms terhadap kami yang full time moms? Aku jadi bertanya-tanya. Kalau benar demikian, alangkah sedihnya. Aku sangat mengagumi kalian, namun kalian ternyata memandang kami setingkat di bawah kalian. Sedangkan kalian juga sama seperti kami, seorang ibu.
Waduh, ini tidak boleh terjadi. Masa gara-gara satu orang aku jadi merasa ada jurang antara kita? Nggak kan? Aku yakin masih banyak ibu-ibu diluar sana (baik yang bekerja ataupun yang 'tidak bekerja') yang tetap bisa menghargai sesama. Tanpa memandang dirinya lebih sibuk atau lebih sukses lantaran punya karir.
Maafkan omelanku, kawan. Aku nggak bisa menyimpan ini sendiri. Lebih lega rasanya kalau aku bisa menumpahkan kekesalanku. Toh sekarang aku sudah biasa lagi kok. Hehehe....soal si B? Ah, ke laut aja deh...^^b
PS : Maaf Eka Skunyos, aku posting hampir berbarengan dengan cerpenmu yang sudah memasuki injury time itu. Tidak ada maksud untuk steal your thunder. Bagaimanapun ini hanya uneg-uneg dan tidak ada usaha yang berarti untuk menumpahkannya menjadi sebuah tulisan. Berbeda dengan cerpen-cerpen kita yang butuh usaha untuk melahirkannya. Jadi aku mohon dengan amat sangat, please, tulisanku ini tanggapinya belakangan aja, setelah menanggapi cerpennya Eka SS. *meluncur mau baca cerpen Eka*
Wednesday, January 13, 2010
Tuesday, January 12, 2010
Pria Berseragam Loreng Itu Membunuhku
Setiap terang bulan bapak selalu duduk terpekur memandangi langit melalui beranda rumah. Malam ini pun tak terkecuali. Tak diindahkannya ajakku agar masuk ke dalam. Diusianya yang sekarang aku cemas paru – paru tuanya itu tak kuasa menahan dingin angin malam. Belum lagi rokok kretek yang selalu menjadi karibnya. Memperparah keadaan saja. Sekali ini pun jawabnya tak berubah saat ku pinta kembali beliau untuk pindah ke dalam.
“Jangan kau ganggu aku Duma,” hanya itu. Dan sesudah itu ia seolah tenggelam dalam kepulan asap kreteknya. Dunianya yang tak tersentuh. Bahkan oleh aku – anaknya. Esok harinya lakon bapak di depan beranda rumah itu ia tekuni lagi. Lakon yang telah ia jalani selama 2 tahun terakhir sepeninggalan omak. Tak dipedulikannya ladang kami, tak dihiraukannya pula kebun sawit kami. Kami anak-anaknya yang tak pandai berladang ini harus mengurus itu semua. Mulanya ku pikir paling lama 3 bulan saja bapak akan duduk diam seperti itu. Tapi... hingga sekarang bapak lebih memilih memandangi canda burung gereja di dahan daripada berbicara denganku. Sia – sia bapak tua datang dari Samosir untuk menghiburnya. Sia – sia namboru atau bahkan tulangku datang mangapuli. Tak ada satupun yang mampu menembus dunianya. Mata bapak tetap kosong. Sekosong jiwanya.
Bapak...
Walaupun kasat mata ia ada bersamaku namun entah dimana jiwanya. Hilang. Aku tak tahu. Yang dipikirkannya hanya omak dan boru siakangannya yang tak pulang – pulang. Ya, boru siakangannya. Lima tahun lalu kakakku itu pergi mengejar impian. Ke Jakarta katanya. Omak tak setuju tapi bapak mendukung. Hiburnya ke omak:
"Tak apa, disanapun ia tinggal dirumah amangborunya. Galaknya amangborunya itu. Pasti ia tak bisa macam-macam”.
Katanya kemudian pada kakakku:
“Baik – baik kau di Jakarta boruku. Biar kau buka jalan untuk adik-adikmu. Biar Sihar, Togar dan Duma kuliah di Jakarta pula nanti. Aku tak mau anakku hanya melihat ladang saja. Harus jadi orang besar kalian nanti”
Begitulah, kakak pergi ke Jakarta bersama dengan 1 kebun sawit kami sebagai bekalnya. Binar mata bapak penuh harap saat melepas kakak. Manusia boleh berencana tapi takdir berbicara lain. Angan bapak kandas tatkala setahun kemudian kakak bilang ia mau mangoli padahal belum tamat pula kuliahnya. Pahit. Tapi yang lebih membuat bapak dan omak murka hingga tak sepatah katapun keluar, tatkala melihat calon hela.nya itu. Melalui sinar matanya aku tau omak berang bahkan bapak sudah sedia parang. Tapi apa daya, pria pilihan kakak dikawal 8 orang bersenjata.
Kulihat bang Sihar dan Bang Togar pun sudah merah menahan amarah. Ah kakak... betapa beraninya kau bawa pulang pria berseragam. Tak ingatkah kau sumpah bapak dulu? Bahwa tak akan dibiarkannya keturunannya menikah dengan siapapun yang berseragam. Terlebih seragam loreng. Tak ingatkah kau kak, ompung kita dianiaya, dinjak-injak tentara hanya karena memberi minum laki-laki terluka dari kampung seberang. Hanya karena air, ompung dianggap anggota gerakan terlarang dari provinsi perbatasan hingga mati ditembak tanpa diadili dianggap layak baginya.
Kak, sakit hatiku melihat kesedihan bapak. Jiwanya habis digerogoti rasa bersalah memberikan ijin kakak ke ibu kota. Omak pun tak kuasa menahan pilu hingga ajal cepat menjemputnya. Itupun kau tak pulang, bahkan pusaranya pun belum sekalipun kau bersihkan. Pahit nian hati bapak. Sudah ditinggal borunya, ditinggal omak pula. Perih aku kak, manakala kulihat bapak. Sayup kudengar suara bapak bersenandung dari beranda:
Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani
Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani.
“Kak, pulanglah. Bapak masihol," kataku melalui telepon. Lirih dari seberang sana ia menjawab, "Aku tak bisa pulang. Pria berseragam loreng itu membunuhku dek, membunuh jiwaku.”
Aku diam untuk kemudian pecahlah tangisku.
Skunyos
(Eka Situmorang-Sir)
(Eka Situmorang-Sir)
Glossary:
- Bapak tua : Saudara laki –laki bapak yang lebih tua
- Namboru : Saudaraperempuan bapak
- Amangboru : suami darinamboru
- Tulang : Saudara laki – lakiomak
- Mangapuli : menghibur dukakarena ada yang meninggal
- Boru siakangan : Anakperempuan pertama
- Mangoli :menikah
- Hela : menantu
- Ai hodo boruku, borupanggoarani: Kamulah putirku, anak perempuan yang membawanamaku
- Sai sahat dana dirohani:terkabullah apa yang kau cita - citakan
- Masihol : rindu
Monday, January 11, 2010
Pohon
Gambar diambil dari :
http://georgiachronicles.files.wordpress.com/2009/03/oak-tree-autumn.jpg
Topic starter : Minggu, 3 Januari 2010 (9:29 pm)
Aku suka sekali pohon.
...
Aku suka sekali pohon, kalau kamu, suka apa?
Topic ended : 3 Januari 2010 (11:59 pm)
Aku suka sekali pohon.
...
Aku suka sekali pohon, kalau kamu, suka apa?
Topic ended : 3 Januari 2010 (11:59 pm)
Subscribe to:
Posts (Atom)
