Saturday, February 27, 2010
Pindah
Bohong, kalau kami tidak sedih. Dusta, kalau kami tidak terpukul dengan kehamilan Inge. Kami kecewa. Aku dan suamiku. Tapi, apa daya kami? Nasi sudah menjadi bubur, dan sampai kapanpun, Inge tetaplah anak kami. Tak'kan pernah berubah. Kalau kami saja tidak bisa menerimanya, bagaimana dengan lingkungan? bagaimana dengan keluarga besar? bagaimana dengan orang lain? Kami berbesar hati menerima Inge. Apa adanya. Kami memaafkan kekhilafannya. Kecerobohannya. Keteledorannya. Maaf yang tulus. Yang murni. Tanpa syarat apapun. Karena kami mencintainya.
Friday, February 26, 2010
Dialog Dengan Si Butut
"Nggak apa-apa" jawabmu singkat.
"Ah, nggak mungkin! Kamu nggak mungkin melewatkan kesempatan menyapa semua orang, kecuali kalau ada sesuatu yang sangat penting. Jema gitu lho!"
"Lagi males aja!" jawabmu singkat lagi.
"Hmmm...aku tahu. Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian semalam, kan?"
"Maksud loh?" tanyamu cepat.
"Hehehe...Ada yang menyindirmu, kan tadi malam? Dia bilang 'Ih, tu orang haus perhatian kali, ya. Tiap menit ganti-ganti status'. Ahahahaaa...aku masih ingat bagaimana kamu seperti kebakaran jenggot tadi malam membacanya.
"Ih, ngapain juga gue mikirin status nggak penting kaya gitu!" sahutmu ketus sambil cemberut.
"Jemaa...Jemaa...Aku tahu persis kamu pasti mikirin. Kan kamu langsung pasang status baru lagi, isinya 'Kenapa tu orang ya? Sirik status gue banyak yang komen kali, ya?'. Hahahaa...ya kan?"
"Weeeeks....nggak juga ah! Gue cuma nggak suka aja sama orang yang beraninya nyindir doang. Kalo berani, langsung aja ngomong di wall gue. Ngapain pake nyindir-nyindir? Hih!" kamu terpancing.
"Naaah, kan..berarti benar kan, kamu kesal baca status orang itu. Tapi, Jem...kamu kok sensitif gitu sih? Kamu kan juga nggak tahu kepada siapa statusnya itu ditujukan".
"Pasti ke gue lah! Ke siapa lagi?" katamu cepat.
"Kok bisa yakin gitu?"
"Ya, pasti ke gue! Itu orang emang dari dulu sukanya cari gara-gara sama gue. Inget gak waktu gue masang status 'Duuh, hari ini mau makan apa ya? Nasi goreng Mang Ucup atau makan di resto mahal aja sekalian? Udah lama nih gak makan enak!'. Eh, nggak lama kemudian dia nongol dengan status 'Masih banyak orang miskin di luar sana yang kelaparan. Malu dong bisa makan di tempat mahal, tapi nggak bisa ngasih sedekah buat mereka!'. Coba! Nyindir gue kan?" katamu emosi.
"Ah, belum tentu juga, Jem. Temannya ribuan, sama seperti temanmu. Siapa tahu dia memang cuma mau berbagi nasehat aja. Kebetulan aja munculnya hampir bersamaan dengan status makan siangmu itu".
"Nggak! Itu pasti ditujukan buat gue! Pernah juga nih ya, gue masang status, 'Kenapa ya Innova gue bunyi-bunyi gini. Padahal baru enam bulan dibeli. Ada yang ngalamin juga nggak?'. Trus dia langsung masang status, 'Banyak orang kaya bermobil mewah di Jakarta, tapi nggak tau gimana cara maintenance-nya. Kasian...'. Kurang ajar, kan?" katamu tambah emosi.
"Lho, ya sama aja kejadiannya seperti tadi kan? Belum tentu dia menujukannya untuk kamu, Jema. Kalau menurutku sih, itu status umum. Siapa aja bisa merasa kalau status itu ditujukan untuk mereka. Lagian kamu juga suka mamer…padahal mobilmu kan sudah lebih empat tahun kamu beli, kenapa kamu bilang baru enam bulan? Biar orang lain mengira kamu punya mobil baru? Sudahlah, Jema....Jangan terlalu terpancing dengan hal-hal sepele seperti ini. Bisa-bisa, sebelum usia empat puluh kamu sudah jantungan".
"Eh, sialan lo ya! Nyumpahin gue lo?" kamu hampir meledak.
"Hahahaa...tenang, Jemaa....Santai...Kamu terlalu teribsesi dengan Facebook-mu. Sebaiknya kamu hati-hati. Kamu ingat kan waktu ada yang masang status, 'Duuuh, kok nggak punya ide mau nulis apa ya? Gimana mau jadi penulis terkenal nih? Baru nulis blog aja stuck'. Lalu kamu dengan sewotnya langsung ganti status kamu juga, 'Gak penting deh segala tulisan-tulisan lo itu!'. Hahahaa...kamu mau ngaku nggak kalau kamu kadang juga suka iseng nyindir orang. Jadi terima aja kalau ada yang menyindirmu juga".
"Ah, nggak ah! Aku nggak nyindir dia, Kalau dia tersindir, ya berarti dia aja yang sensi. Weeeks...." jawabmu mengelak.
"Nah, sama kan berarti dengan kejadian sebelumnya. Status orang lain belum tentu ditujukan untuk kamu pribadi. Please, Jema...hidup mereka tidak terpusat pada kamu seorang. Memangnya kamu siapa? Hahahaha...".
"Eh, gak sopan banget sih lo! Gue nggak peduli sama status-status nggak penting mereka itu ya. Dan gue nggak terobsesi sama Facebook! Ingat itu!" jawabmu dengan nada semakin meninggi.
"Aku setuju kalau kamu bilang kamu tidak terobsesi dengan Facebook. Masalahmu lebih dari sekedar itu. Kurasa kamu terobsesi ingin mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitarmu. Kamu ingin dilihat dan dipandang sukses, walaupun kamu belum ada apa-apanya...Jadi satu-satunya jalan, kamu manfaatkan status di Facebook untuk menaikkan harga diri dan gengsi kamu. Kadang kamu ngomongin mobil kamu dengan kedok kamu seolah-olah mengeluh kalau mobilmu sedang rusak. Kadang kamu ngomongin kerjaan kamu yang super sibuk dan berhubungan dengan orang-orang penting dengan kedok seolah-olah kamu capek banget kerja seperti itu setiap hari. Kadang kamu ngomongin rumah kamu yang asri dan luas dengan kedok seolah-olah kamu kesepian berada di rumah seluas ini. Hahahaa...aku tahu persis kamu cuma mau memperlihatkan pada seribu dua ratus temanmu di Facebook kalau kamu punya mobil baru, punya pekerjaan bagus dan punya rumah besar. Ya kan?"
"Nah, kan sekarang lo yang berprasangka. Gue nggak maksud kaya gitu kok. Tapi ya maaf kalau ada yang menangkap kesan kaya gitu. Bukan salah gue dong!" jawabmu.
"Belum lagi masalah gede rasa kamu yang sudah keterlaluan. Semua status teman-temanmu kamu hubung-hubungkan dengan kamu. Seolah-olah semua status mereka pasti berbicara tentang kamu. Kamu terlalu gede rasa alias GR, Jema! Dan itu kelihatannya makin akut sejak kamu mengenal Facebook. Tidakkah kamu berpikir kalau keadaan ini sudah tidak sehat lagi bagi jiwamu?"
"Eh, jangan sok ceramahin gue, ya! Gue bisa buang lo kapan aja tau! Jadi hati-hati deh kalau menilai orang" kamu kembali meradang.
"Hahahaha..terus kalau kamu buang aku, pakai apa dong kamu update statusmu tiap jam? Kamu kan belum mampu beli Blackberry yang kamu idam-idamkan itu. Ini juga jadi pelajaran buat kamu. Kenapa ketika kamu tidak mampu, kamu tidak share di statusmu? Kamu malu ya belum pake Blackberry. Aku masih ingat bagaimana kamu menyindir teman-temanmu yang memakai Blackberry di status. Kamu bilang, 'Tau BB cuma buat fesbukan. Buat apa?'. Hahahaha...padahal kamu sendiri ingin sekali punya".
"Diem lo, henpon butuuuut!!!!"
Tuesday, February 23, 2010
Bermain Dengan Waktu
Suara – suara sumbang itu terus berdengung. Persis seperti dengungan nyamuk di telinga menjelang tidur. Menganggu dan menyebalkan! Mulai dari mengingatkan untuk makan, mandi, membaca hingga nonton TV. Mulai dari nada lembut, kesal, marah, hingga akhirnya datar tak bernada. Kenapa semua orang tiba-tiba begitu memperhatikanku? Begitu peduli? Begitu repot? Apa karena sudah lima hari aku tak membiarkan busa sabun yang wangi itu mengelus kulitku? Atau karena belum sesuap nasi pun melewati tenggorakan ini? Ah, apa karena masai rambut yang belum bercanda dengan sisir? Entah. Hanya mereka yang tahu jawabannya. Karena bagaimana pun mereka bicara, rasanya aku enggan angkat suara. Aku hanya ingin menikmati sebuah benda bulat tak berujung dalam genggaman. Liontin. Liontin emas putih dengan sebongkah batu berkilau diatasnya. Namun kilau itu tidak indah. Kilau itu menyakitkan. Sungguh!
Saturday, February 20, 2010
Waktu
***
Setelah usaha bunuh diriku yang gagal. Mami dan papi akhirnya berbagi luka dengan keluarga Om Bonar. Dan, inilah hasilnya. Bang Adi mau menjadi ayah bayi ini, yang artinya juga menjadi suamiku.
Aku tahu persis hati suamiku. Tak ada aku disana, apalagi bayi dalam kandunganku. Dia menikahiku, karna kasihan. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak bersikap baik. Menikahiku, pasti ada banyak hal yang ia korbankan. Namun aku meyakini satu hal, cepat atau lambat, dia akan mencintaiku, begitupun sebaliknya, aku akan mencintainya. Kata mami di hari pernikahanku masih begitu jelas. "Menikahlah sekali untuk selamanya, lakukan bagianmu, selebihnya serahkan pada yang di atas."
Aku berusaha menjadi istri sempurna. Aku berusaha melakukan segala sesuatu sebaik mungkin. Walau aku sadar, manusia tak ada yang sempurna. Namun, tak ada salahnya aku berusaha. Meski kami tidur di kamar yang berbeda, aku tetap menyiapkan keperluannya. Dari sarapan sampai pakaiannya. Suamiku selalu pulang larut malam, menyapaku seperlunya saja. Tapi aku tidak mengeluh. Semua itu sangat wajar, karena pernikahan kami tidak di landasi cinta yang tulus. Tapi, percaya atau tidak, aku belajar mencintainya. Aku berhutang banyak padanya. Berhutang nyawa anakku. Karnanya, kurasa tidaklah berlebihan bila aku membalas semua itu dengan cinta. Cinta yang berusaha kupupuk, meski begitu sulit, karna, suamiku tak memberiku ruang di hatinya. Waktu kan mengubah semuanya. Semoga...
***
Hari ini begitu sunyi. Mina harus pulang ke kampung, karna bapaknya sakit. Jadilah aku sendiri. Bingung harus melakukan apa, bingung harus ngobrol dengan siapa, akhirnya aku terkaget-kaget sendiri, mendapati diriku telah berada dikamar tamu. Kamar suamiku. Duduk di ranjangnya. Ranjang jati dengan seprei abstrak hitam putih. Ranjang yang menjadi bukti ada tembok yang tinggi antara aku dan suamiku.
Entah berapa lama aku dikamar suamiku, hingga getar ponselku membangunkanku. Rupanya aku ketiduran. Telpon dari mami, seperti biasa, menanyakan keadaanku, menanyakan perkembangan janin dalam kandunganku. Hari sudah sore, aku merapikan seprei dan bantal yang berantakan. Dan...
Dibawah bantal, aku menemukan sesuatu. Sesuatu yang sangat familiar. Potret. Potretku! Untuk apa? Ponselku kembali bergetar. Ada pesan dari suamiku. "Dian, bagaimana kalau kita makan diluar malam ini?" Hah? Apakah aku sedang berhalusinasi karna tidur dikamarnya? Kubaca lagi pesan pendek dari suamiku hingga berulang-ulang. Benarkah ini pesan untukku? Tentu saja, ada namaku disitu. Benarkah pesan ini dari suamiku? Entahlah, aku ragu, tapi aku harus memastikannya. Segera ku tekan tombol-tombol huruf yang ada di ponselku "Oke, jam berapa bang Adi pulang? Aku siap". Cukup lama aku menunggu, barulah aku mendapatkan pesan balasan. "Jam tujuh malam ya."
OMG! Pertanda apakah ini? Benarkah waktu telah mengubah semuanya? Aku punya waktu dua jam untuk siap-siap. Aneh. Bingung. Kaget. Senang. Semua campur aduk. Ini adalah kali pertama suamiku mengajakku dinner sejak kami menikah. Semua pakaian sudah kukeluarkan dari dalam lemariku, aku bingung harus memakai yang mana. Perasaan dejavu. Aku pernah mengalami ini dulu, ketika memilih pakaian untuk kencan pertama kali dengan mas Pras. Oh, mas Pras, restuilah aku, bathinku.
Jam tujuh teng. Aku sudah siap. Akhirnya, aku memilih celana blue jins yang masih muat dengan ukuran tubuhku yang sudah naik beberapa kg, dipadu dengan atasan blous putih. Dan suamiku pun pulang...
-Dian-
cerita sebelumnya:
'sendiri'
'kepergianmu'
'dia'
'sakit'
'pusing'
Friday, February 19, 2010
Bocor
Mami menggeliat malas di atas tempat tidur. Sekilas diliriknya jam dinding yang tergantung di atas kusen pintu kamar dengan mata setengah terpejam. Jam enam lebih tiga puluh menit. Mami mengusap-usap matanya masih dengan setengah sadar. Sisa-sisa kantuk masih menggantung di sana. Semalam Mami baru tidur pukul empat karena keasyikan main Facebook. Chatting dengan teman lama. Berbalas komentar-komentar tidak penting. Tertawa-tawa sampai lupa waktu. Dan sekarang sudah pukul…
“Apaa??!!!” Mami menjerit dan terlompat dari tempat tidurnya.
“Jam setengah tujuh? Kenapa alarmnya gak bunyiiii???!!!” jerit Mami sambil bergegas ke dapur.
Ditampungnya air dari keran ke dalam panci besar. Sambil menunggu panci penuh, Mami segera menjerang air minum di panci kecil untuk memasak mi instan, sarapan darurat di kala kesiangan. Ironisnya hampir setiap pagi mereka sarapan ala darurat seperti ini.
“Ya ampuun!!! Kesiangan lagi! Papiii, bangunin anak-anak doong! Ini hari senin, upacara!!” pekik Mami masih dalam kepanikan.
“Duuh, selalu begini deh. Kenapa sih ini mata nggak mau merem kalau malem? Giliran udah subuh baru bisa tidur. Gimana nggak kesiangan melulu!” omel Mami sendiri.
Panci besar sudah penuh. Cepat-cepat Mami meletakkan panci itu ke atas kompor dan menyalakan apinya. Sambil menunggu air untuk mandi anak-anaknya itu matang, Mami kembali berkutat dengan bumbu-bumbu mi instan. Tiga menit kemudian mi goreng instan sudah siap tersaji di atas meja makan. Benar-benar instan!
Mami menarik nafas mengumpulkan energinya kembali. Rasa kantuk masih tersisa sedikit di pelupuk matanya. Ditepuk-tepuknya pipinya sendiri seolah ingin menyadarakan dirinya kalau dia harus tetap terbangun.
“Perjuangan masih panjang, Nyonya!” ucapnya pada diri sendiri.
“Membangunkan anak-anak. Menyuruh mandi mereka. Memakaikan seragam dan sepatu. Menyuruh mereka sarapan. Mengeluarkan mobil. Mengantarkan mereka ke sekolah. Pergi ke pasar. Masak. Nyapu. Ngepel. Nyuci. Nyetrika. Oh Tuhaan!!!” Mami meracau sendiri.
Air di panci besar sudah menggelegak mendidih. Cepat-cepat Mami mematikan kompor.
“Papiii!!! Tolongin Mami doong! Bangunin anak-anak! Ya ampuun, ribet nih kalau sendirian!” pekik Mami sambil mengangkat panci besar berisi air panas itu hati-hati.
Papi menggeliat sedikit mendengarkan keributan yang dibuat Mami dari tadi.
“Iyaaa…” sahut Papi.
Byurr! Mami menuangkan air panas itu ke dalam ember besar dalam kamar mandi.
“Iya, iya, tapi nggak bangun-bangun!” Mami terdengar menggerutu lagi dari dalam kamar mandi. Diambilnya air dari dalam bak mandi dengan menggunakan gayung. Dituangkannya air dingin itu ke dalam ember berisi air panas tadi.
Byurr! Byurr! Byurr!
“Dulu kan kita udah sepakat, kalau punya anak kita harus sama-sama ikut ngurusin. Iya sih, Papi capek cari uang. Tapi kan aku juga capek ngurusin anak-anak di rumah. Sekali-sekali ikut terlibat dong ngurusin keperluan anak-anak sekolah” omelan Mami sepertinya belum bisa berhenti.
Byurr! Byurr! Byurr!
“Mami sih nggak masalah kita nggak punya pembantu. Tapi kan bukan berarti semuanya bisa Mami kerjain sendiri. Tangan Mami kan cuma dua” lanjut Mami lagi.
Byurr! Byurr! Byurr!
“Coba deh sekali-sekali Papi ditinggalin bertiga aja sama anak-anak, bisa nggak? Mami jadi pengen tau! Uuuh….kenapa ni ember nggak penuh-penuh sih?” Mami masih mengomel sambil memperhatikan isi ember yang tidak kunjung penuh itu.
“Ya ampuun!!! Embernya bocoooor!!!” jerit Mami kesal.
“Hahahahaa….” terdengar suara tertawa dari balik punggung Mami. Dua anak Mami yang manis dengan rambut masih berdiri dan mulut masih bau tengah berdiri di depan pintu kamar mandi menertawakan si Mami. Papi juga sedang berdiri di situ tersenyum geli.
“Makanya, bangun tidur berdoa dulu!” kata si sulung tergelak.
“Makanya, jangan main fesbuk melulu!” sambung si bungsu sok tahu.
“Makanya…” Papi tidak meneruskan kalimatnya karena melihat Mami sudah melotot ke arahnya.
Mami manyun. Gara-gara kesiangan? Gara-gara lupa berdoa bangun tidur? Atau gara-gara ember bocor? Yang pasti pagi itu tetap berjalan seperti biasa, penuh kericuhan.
Wednesday, February 17, 2010
Kelopak-Kelopak Mawar Berserakan
Perempuan itu tersentak dari tidurnya, mimpi-mimpi buruk itu selalu datang dalam tidurnya, seperti tak pernah mau pergi. Sebagai seorang hakim terkenal yang selalu memenangkan kasus2 orang yang tertindas. Hakim hebat bertangan dingin yang tak kenal ampun terhadap orang-orang jahat yang melakukan kekerasan terhadap anak kecil dan perempuan. Tak seorang pun pernah tau latar belakang hidupnya. Semua sudah terkubur dengan rapih dan tak ada yana bisa menariknya keluar. Dia adalah orang berbeda dengan gadis kecil berumur 8 tahun, yang ditemukan orang di sebuah gang sempit dengan tubuh penuh luka bekas siksaan pada suatu malam, 27 tahun yang lalu.
Tak ada yang pernah tau, dari mana gadis kecil itu berasal. Hanya sesosok gadis kecil denga tatapan mata yang kosong tapi sarat dengan pernderitaan. Tak ada yang pernah tau betapa gadis kecil itu melewati hari-harinya dengan berbagai siksaan fisik dan mental yang luar biasa. Gadis kecil itu selalu melihat ayahnya pulang dengan mata merah dan mulut yang berbau alkohol, mencaci maki semua orang yang ada di rumah, menganiaya ibunya yang hanya bisa menumpahkan kesedihan dengan berlinang air mata.
Tidak hanya berhenti sampai disitu. Ketika malam menjelang, ayahnya memasuki kamar si gadis kecil yang seharusnya dia peluk dan dia lindungi dari kekejaman dunia, si ayah malah memeluknya dengan nafsu binatang dan mencabik pakaian si gadis kecil itu, lalu menimpanya dengan tubuhnya yang besar dengan kasar. Semua itu berlangsung hampir setiap hari,setiap malam…
Hingga pada suatu malam, si ayah pulang dengan keadaan yang lebih parah dari biasanya. Ketika sudah tidak ada lagi barang yang dapat dijualnya untuk kepentingan dia, langsung dia menghajar si ibu yang sudah terkapar lemah,membuat si ibu tambah tak berdaya hingga tak sadarkan diri, semua berlangsung sangat cepat dan berada di depan mata si gadis kecil itu.
Setelah selesai dengan istrinya, si ayah hendak melampiaskan emosinya ke gadis kecil yang seharusnya masih belum waktunya menghadapi kejadian yang menyakitkan seperti ini. Dia masuk ke kamar si gadis kecil dan langsung menyerbu ke ranjang tempat si gadis kecil itu berbaring sambil ketakutan. Ketika ayahnya mendekat ke dirinya dan menjatuhkan diri ke atas tubuh gadis kecil itu, si gadis kecil menarik sebilah pisau yang sudah dia persiapkan untuk melindungi dirinya. Dia tancapkan pisau itu, ke tubuh orang yang merampas masa kecilnya, yang membuat hidupnya seperti di atas api neraka. Tubuh itu ambruk menimpa tubuhnya. Setelah dapat membebaskan diri dari tubuh besar itu, dia tancapkan lagi pisau itu berulang-ulang ke tubuh besar itu..berulang-ulang hingga tak ada lagi tenaga yang tersisa, berulang-ulang tanpa ada seorangpun yang menghentikannya. Sampai kelelahan yang mebuat ia berhenti.
Semuanya selesai… semuanya gelap…
Tuesday, February 16, 2010
Tak Ada Judul
Disclaimer: Cerpen ini adalah pengembangan dari cerita sebelumnya yang pernah saya post dua minggu lalu. Ternyata bisa nyambung dengan rangkain cerpen yang sedang saya garap. Dua paragraf pertama akan terasa familiar namun setelah itu dijamin penasaran :D (sok PD hehehe) Semoga tidak bosan ya. Durasinya lumayan panjang. Butuh waktu untuk mencerna dan membacanya ;)
UDARA DINGIN menyeruak ke dalam ruangan tidur kami. Ruang tidur yang berperan ganda sebagai peraduan dan saksi bisu. Ruang ini adalah kawan gelak tawa saat gurau suami terlontar meredakan rajukku. Ruang ini merupakan saksi derai airmata, saat keinginan dan kenyataan tak berjalan seiringan. Ruangan ini jugalah yang meredam lenguh cumbu mesra sepasang anak manusia - catat: sudah halal!
Seiring hawa sejuk yang merasuk tulang, kupandangi wajah belahan jiwa yang terlelap dalam manis buaian mimpi. Semakin kupandangi, perlahan semakin aku mengakrabi perasaan yang dulu pernah ada. Rasa itu lamat-lamat muncul. Rasa sayang yang membuatku sukarela membatalkan rencana kuliah ke negeri Kangguru agar bisa menikah dengannya. Perasaan kasih yang membuatku yakin (tanpa rasa menyesal sedikitpun) untuk berhenti bekerja agar bisa sepenuhnya mengurus rumah tangga. Dulu, dulu semuanya terasa indah. Namun sekarang..., entah apa yang terjadi, sepertinya kami semakin menjauh. Walau raga ini bernaung disatu atap, walau tubuh ini berbagi ranjang yang sama, namun ada jarak yang membentang, hatiku (ataukah hatinya?) mulai beranjak pergi.
Ku raba dadaku dan airmataku meleleh. Ditengah semua rasa ketidakpuasaan pun kesepian ini, kutahu rasa itu... (rasa yang dulu membuatku berkata ya pada lamarannya) masih tergores dalam loh hati ini. Meski telah tertutup oleh minimnya waktu untuk bersama, oleh kurangnya romantisme dan kata-kata cinta, oleh asa dan realita yang tak mampu berkawan, namun yang pasti, aku masih mencintainya. Sungguh!
Bola mataku tertuju ke jam meja di sisi tempat tidur, manakala beker futuristik hadiah kuis di TV itu melakukan tugasnya dengan baik: berdering nyaring. Tanda buatku memulai aktifitas. Ku alihkan pandang. Kudapati sang pangeran membuka matanya pelan, kemudian tersenyum lembut melihatku. Ah, perasaan ini lembut, selembut sutera. Sempat kutangkap perasaan tak tentu dari sorot matanya, seperti rasa galau juga marah dan kecewa. Tapi senyum lembutnya itu mengaburkan gulana dari paras wajahnya.
Tegap dan pasti, Ia beranjak menuju sudut ruangan. Dengan tangan kokohnya menyambar kayu coklat berbentuk aduhai. Elok lekuk tubuhnya. Sementara jenjang lehernya dihiasi enam utas tali yang terlihat rapuh namun memiliki kekuatan luar biasa. Baru kemudian aku tahu tali itu mempunyai merek! d’addario. Dipangkunya sang gitar Spanyol yang oleh pembuatnya diberi nama: Prudencio Saez. Kemudian perlahan ia mengecup keningku dan berbisik lembut, “Kita awali hari ini dengan doa, kali ini kamu pilih lagu pujiannya”.
Aku mengganguk seiring kabut rasa tertolak dan keengganan yang melesak cepat dari hati. Begitu banyak pertanyaan yang berputar dikepala. Membuat pening dan mengaduk-aduk emosi jiwa. Masih layakkah aku untuk berdoa? Masih maukah Tuhan memberikan wajah kudusNya guna memandangku? Masihkah? Derai airmata membasahi pipi. Astaga, maukah Tuhan mendengar seru dari bibir yang telah melumat lidah pria yang bukan suaminya? Tidakkah Tuhan memandang rendah istri yang menyerahkan diri dibelai, dijilati dan disetubuhi kekasih gelapnya? Arrrrrgh! Rasa bersalah itu kian merajalela. Sesak, sesak sekali! Dadaku sesak sekali!! Terus memburu nurani, mencengkeramnya kuat, persis seperti kucing menerkam tikus buruannya. Katakan padaku, masih layakkah aku? Aku tak pantas ada disini, di pelataran Rumah Doa Tuhan. Aku ini kotor! Menjijikkan. Binal. J.A.L.A.N.G. Ya.. silahkan caci aku, boleh kalian memakiku. Perempuan NAKAL yang berselingkuh. Katakan saja sekeras-kerasnya! Jangan hanya bicara diam-diam dalam hati. Bilang! Bilang sekeras-kerasnya!! Oh For God sake! Hakimi aku, hukum aku, jangan hanya diam! Namun semua jeritanku itu tak terdengar, tersangkut di pangkal tenggorokan bersama bulir-bulir air yang menetes.
Ku lihat suamiku tekun berdoa sambil terus memetik dawai gitarnya. Cepat kuhapus airmataku. Tak boleh ia melihatku menangis. Nanti bisa curiga. Untuk sekian waktu aku hanya diam tanpa tahu harus bagaimana, kecuali memandangi wajah khusuknya. Sekejab ia mengangkat wajah dan tiba-tiba tanganku diambilnya. Dan dimatanya kulihat duka. Seperti rasa perih, namun terbalut kasih? Ah, entahlan. Hatiku bergetar. Aku takut. Rasa bersalah ini begitu mendera.
Beberapa tarikan nafas diambilnya lalu pelan kudengar ia berkata,” Aku tahu semuanya.” Pendek kata-katanya, begitu tenang ia bicara namun kata-kata yang pendek itu menghujam jantungku. Dihelanya lagi nafas panjang sebelum ia melanjutkan lagi, “Aku tahu tentang dia.” Bibirku terbuka, kaget tak terkira. Sepertinya... Ah, mungkinkah akhirnya ia telah tahu? Apa yang harus aku katakan padanya? Tidak, tidak, seharusnya ia tidak tahu. Cepat aku menguasai keadaan. Dalam situasi seperti ini aku harus tenang.
“A.. a.. apa maksudmu?” tanyaku. Berusaha menyembunyikan gulana sementara otak ini berpikir keras akan jawaban apa yang harus disediakan. Semoga suamiku tak menangkap getar kebohongan yang merambat dari suara ini. Namun kulihat matanya.. Ah lagi-lagi matanya berselimut duka.
“Ka.. kamu.... mengkianati.... cinta.... kita” ucapnya terpatah-patah dengan mata berkaca-kaca. Walau begitu, tajam ekor matanya menyiksaku. Aku meneguk air liur, dapat kurasakan dadaku berdebar lebih cepat dari biasanya. Telapak tanganku dingin. Sangat dingin.
“Kamu mengingkari janji setia kita di depan Allah, di depan jemaat, di depan keluarga,” tandasnya lagi. Tangannya meremas jemariku. Ku tahu sudut mataku mulai panas. Teringat janji yang kuucapkan di Altar 5 tahun lalu. Kala itu aku bersumpah setia! Hingga maut saja yang memisahkan. Tapi lihat aku, lihat aku sekarang. Ditinggal kesibukan sebentar saja, aku telah berpaling. Rasa bersalah itu kembali datang. Namun, ku keraskan hatiku. Aku tak boleh menangis! Tidak di depan dia!! Aku harus mengelak. Aku harus menyangkal.
“Kamu memberikan tubuhmu yang telah menjadi satu daging dengan tubuhku, kepada orang lain,” ucapnya lagi. Dapat kudengar rasa pahit dalam nada suaranya. Aku menunduk. Tak mampu melihat wajahnya. Dalam diam, makin kukeraskan hati ini. Walau dadaku mulai perih seperti ditusuk ribuan jarum rasa bersalah teringat janji di depan altar! Suci hanya untuk suami!
“Hatiku hancur. Kamu menginjak-injak harga diriku..,” ujarnya lirih. Helaan nafasnya telah bercampur dengan ingus dan air mata. Senyap sejenak.
“Tapi....,” katanya lagi... Aku menunggu ia menyelesaikan kata-katanya.. namun sebelum ia melanjutkan kalimatnya, suamiku menghela nafas panjang. Inhale.. exhale.. Pelan, pelan sekali... Menghirup oksigen kedalam paru-parunya sebanyak mungkin.. Makin kukeraskan hatiku. Aku harus menyangkal. Walau ketika melihat wajahnya saat ini, dapat kurasakan sakitnya. Ah, hatiku pun terasa sakit melihat perih jiwanya. Ditengah bimbang hatiku antara rasa bersalah dan segala tipu daya penyangkalan yang akan kuberikan, kuberanikan diri mengangkat wajah dan melihatnya.... dan mata kami beradu... Ah, mata itu... mata pria yang kucintai itu... Mata pria yang menemani hari-hariku selama ini, mata yang memancarkan cinta. Sementara mataku memancarkan dusta. Kelopak ini makin panas.. aku bingung.. harus bagaimana.. aku sadar aku menyakitinya... Tapi.. tapi.. jika aku mengakui segalanya.. tentulah ia akan murka. Tapi mata itu.. mata suami yang kucintai itu... Mata itu tidak menghakimi, hanya memandang penuh arti. Dan mata itu selaras dengan bibirnya lirih berkata,
“Aku memaafkanmu.” Lalu aku dipeluk. Erat.
Dan pecahlah hatiku. Meledaklah tangisku! Luluh lantak semua kekerasan hati. Aku meraung, deras air mata membanjiri pipi. Aaaah... Aku bersiap untuk segala kalimat menyalahkan untuk terucap dari bibirnya. Aku memang salah, seharusnya aku ini dicaci, dimaki, bahkan kalau perlu dirajam! Tapi kau dengar? Kau dengar itu? Aku... aku.. d.i.m.a.a.f.k.a.n.
Tak percaya ia kan berkata begitu. Pelukannya tulus, hangat nafasnya ditengkukku penuh kasih. Kubalas rentangan tangan suamiku, kuciumi pipinya, ciumku bercampur dengan rasa asin yang bergulung. Dan aku terus menangis hingga airmataku habis. Tanpa mampu berkata-kata.
***
Fajar menjelang di ufuk timur. Dan aku disini. Menikmati denting indah dawai gitarmu dalam peluk hangat cintamu.
Saturday, February 13, 2010
Pusing
***
Tidak ada komitmen apa-apa antara aku dan Dian. Semuanya mengalir begitu saja. Tidak ada pembicaraan mengenai apakah pernikahan ini hanya sementara sampai Dian melahirkan, atau hal lainnya. Aku tidak pernah cerita soal Inge padanya. Begitupun sebaliknya. Dian tak pernah membicarakan Pras padaku. Entahlah, membicarakan hal itu seolah begitu tabu.
Kalau saja benih yang ada dalam kandungannya itu benihku...! Kalau saja Dian adalah Inge...! Kalau saja aku bisa mencintai Dian seperti aku mencintai Inge...! Kalau saja Dian bisa mencintaiku seperti dia mencintai Pras...! Pusing aku!
Tak pernah ada air mata kulihat di sudut-sudut matanya. Tak pernah ku dengar isak tangisnya. Tak pernah ia mengeluh tentang sikapku. Ku yakin, semua pedihnya ia simpan rapi, mungkin ia mau semua itu hanya menjadi miliknya sendiri.
Dian baik. Terlalu baik malah. Dia berusaha menjadi istri sempurna. Itu yang ku lihat. Padahal, aku bukanlah suami yang baik. Hampir tidak ada waktuku buatnya. Aku selalu sibuk kerja. Selalu pulang larut malam. Dian terlalu sering sendirian di rumah. Sejak kami pindah ke rumah kami sendiri, hadiah pernikahan orang tua kami, hanya ada Mina yang menemaninya, pembantu kami.
Aku tidak pernah menyentuhnya. Sampai saat ini. Aku tidur di kamar tamu, sementara Dian tidur di kamar utama. Padahal Dian cantik. Terlalu cantik malah. Aku bahkan terlalu sering tergoda. Tergoda untuk menyentuhnya. Wajarkan? Aku suaminya. Dian istriku. Kami resmi di mata hukum. Kami sah di mata agama. Dengan perut yang semakin membesar, entah mengapa semakin menambah pesonanya. Itu menurutku. Akh...! Sebentar lagi, aku akan menjadi ayah. Ayah dari bayi yang bukan benihku. Bayi dari wanita yang tidak ku cintai. Benarkah?
Ku ambil ponsel di atas meja kerjaku. Dengan cepat ku tekan huruf-huruf yang ada di ponselku. Pesan pendek untuk istriku. "Dian, bagaimana kalau kita makan diluar malam ini?"
Berbagai rasa bermain, menari-nari dalam dadaku. Apakah jawabannya? Tidak sampai lima menit, aku sudah menerima pesan balasan. "Oke, jam berapa bang Adi pulang? Aku siap". Deg! Ada perasaan aneh menjalar kesekujur tubuhku. Ini pertama kalinya aku mengajak Dian dinner sejak kami menikah tiga bulan lalu.
-Adiyanto-
rangkaian cerita sebelumnya:
'sendiri'
'kepergianmu'
'dia'
'sakit'
Thursday, February 11, 2010
Si Lincah, Si Jangkung Dan Si Tenang Menghanyutkan

Si Lincah memang lincah sesuai panggilannya. Tidak bisa diam walau sesaat. Kerjanya selalu sama dari waktu ke waktu. Berlari berputar-putar menelewati si Jangkung dan si Tenang Menghanyutkan, dua sahabat dalam perputaran hidupnya.
Tiap kali si Lincah melewatinya, si Jangkung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lincah! Takbisakah kau tenang sedikit? Berhentilah sejenak. Sampai capai aku melihatmu berlari berputar-putar tak ada hentinya" teriak si Jangkung kepada si Lincah yang sudah berlari menjauh darinya.
"Hahaa...maaf, kawan. Aku tak mungkin berhenti. Kau tahu apa jadinya kalau aku berhenti berlari. Dunia kiamat, kawan!" seru si Lincah dari kejauhan sambil tertawa riang dan terus berlari.
"Bukan itu maksudku...." si Jangkung tidak meneruskan kalimatnya, karena dilihatnya si Lincah sudah semakin jauh darinya.
"Ah, nanti sajalah aku katakan padanya kalau dia sudah sampai di sini lagi" ujarnya pada diri sendiri sambil tidak lupa menggeser sedikit posisi duduknya akibat terkena senggolan si Lincah barusan.
Tak lama si Lincah muncul kembali, masih berlari.
"Kau mau bilang apa tadi, kawanku?" dari kejauhan dia sudah berseru kepada si Jangkung. Si Jangkung sempat terperanjat tak menyangka si Lincah begitu cepat kembali ke tempatnya lagi.
"Maksudku, tak bisakah kau perlambat sedikit larimu, Lincah? Kau benar-benar menyusahkan. Tiap kali kau melewati aku, pasti kau senggol aku sampai aku harus menggeser dudukku setiap saat" kata si Jangkung cepat-cepat sebelum si Lincah menjauh lagi karena tidak berhenti berlari.
"Ohooy...itu rupanya! Maaflah, kawan...tak ada maksud untuk mengusik dudukmu. Aku hanya ingin menolongmu sedikit demi sedikit dengan cara menyenggolmu itu" jawab si Lincah penuh arti, masih sambil berlari.
"Menolongku bagaimana?" tanya si Jangkung penasaran ketika dilihatnya si Lincah telah muncul lagi mendekat ke arahnya sambil berlari.
"Supaya kau cepat sampai ke tempat pujaan hatimu itu, si Tenang Menghanyutkan. Wahai, jangan berpura-pura, kawan. Kalian sungguh pasangan yang manis. Malu-malu tapi mau. Untuk mendekatpun harus aku yang mendorongmu ke arahnya. Hahaaay..." goda si Lincah sambil terus berlari.
Si jangkung tersipu sejenak mendengar ocehan sahabatnya barusan. Teringat pertemuan terakhirnya dengan kekasih hatinya, si Tenang Menghanyutkan itu beberapa saat yang lalu. Tiba-tiba si Jangkung menjadi tidak sabar ingin segera berjumpa kembali dengannya. Rindunya kembali menyeruak. Si Jangkung mendadak merasa beruntung si Lincah telah berlari begitu cepat. Semakin cepat si Lincah berlari, bukankah semakin cepat dia akan bertemu dengan kekasihnya itu?
"Lincaaah! Tak bisakah kau berlari lebih cepat dari biasanya? Dan kau boleh senggol aku lebih keras mulai saat ini. Agar lebih cepat aku sampai di tempat kekasihku itu" kata si Jangkung ketika si Lincah kembali muncul di hadapannya.
"Ohohohoo..itu tak mungkin, kawan. Kecepatanku tetap dan akan selalu tetap. Lagipula, tidakkah kau dengar ucapan orang-orang mengenaiku belakangan ini?" tanya si Lincah dengan nada sedikit kesal.
"Apa maksudmu?" tanya si Jangkung tak mengerti.
"Mereka seperti menghakimiku karena merasa tidak punya waktu cukup untuk melakukan semua kesibukan-kesibukan mereka itu. Menurut mereka itu gara-gara aku yang berlari terlampau cepat. Kenapa aku yang disalahkan?" Lincah menjelaskan panjang lebar menumpahkan kekesalannya sambil terus berlari.
"Ya! Kenapa pula kau yang disalahkan?" tanya si Jangkung tak kalah herannya.
"Mereka yang harusnya bergerak lebih tenang. Menikmati setiap langkah yang mereka ambil. Menghirup lebih dalam nafas yang mereka hirup. Memandang lebih jauh keindahan yang ada di depan mata mereka. Tapi apa? Mereka justru tenggelam dalam kesibukan. Demi apa kata mereka? Tuntutan hidup? Aah...persetan alasan itu! Hidup tidak menuntut. Hidup itu untuk dinikmati. Orang-orang aneh atau jaman yang semakin gila!" maki si Jangkung lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa maksudmu, kawan?" tanya si Lincah ketika sampai di dekat si Jangkung kembali.
"Maksudku, dulu rasanya tidak segila ini. Orang-orang tidak bergerak secepat ini. Mereka tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi semua dilakukan dengan penuh kenikmatan. Tak ada yang berteriak-teriak 'aaah, waktu satu hari tidak cukup bagiku!'. Ya kan?" si Jangkung kembali berceloteh panjang sambil celingukan mencari wujud si Lincah yang sudah kembali menjauh dari hadapannya.
"Sudahlah, tak usah banyak bicara, kawan. Sebentar lagi kau akan sampai di tempatnya. Tinggal satu senggolanku lagi, dan kau akan bertemu dengan kekasihmu itu, si Tenang Menghanyutkan. Bersiap-siaplah!" kata si Lincah kembali riang.
Dan benar saja, begitu melewati si Jangkung, disenggolnya sedikit sahabatnya itu dan berjumpalah dia dengan kekasih hatinya itu, si Tenang Menghanyutkan.
"Wahai, kekasihku. Senang sekali rasanya bisa bertemu lagi denganmu, sayangku. Seandainya kita bisa tetap di tempat ini bersama-sama selamanya" sapa si Jangkung berseri-seri sambil memeluk kekasihnya itu dengan penuh kerinduan.
"Itu sungguh tidak mungkin, pangeranku. Seandainya kita diam di sini, maka dunia kiamat. Bukankah begitu?" kata sang kekasih sambil tersenyum manis.
"Seandainya kiamat itu datang, aku ingin berada di sini bersamamu, sayang. Tepat di angka dua belas ini. Dimana kita bisa saling berpelukan seperti sekarang ini. Tapi si Lincah harus terhenti di angka tiga atau enam saja sekalian, supaya dia tidak menghalangi kita" ujar si Jangkung sambil tertawa geli.
"Hey! Aku dengar yang kau ucapkan barusan, kawan!" seru si Lincah dari kejauhan.
"Hahaaa...maaf, kawan. Tapi tidakkah kau risih jika sampai kiamat itu datang dan akhirnya kau bisa berhenti berlari dan kau berhenti tepat di tempat kami berdua berada? Sedangkan kami adalah sepasang kekasih. Hahaha..." si Jangkung tergelak kini.
"Ah, aku tak mau memikirkan kiamat, kawan. Aku harus terus berlari demi enam puluh langkahku yang akan membuatmu melangkah setitik. Dan demi enam puluh langkahmu yang akan membuat kekasihmu bergerak menuju angka berikutnya. Kita ini hanya jam, hanya waktu. Tapi kita adalah segalanya bagi mereka di luar sana" seruan si Lincah makin kecil terdengar seiring dengan menjauhnya dia karena masih terus berlari dan berlari.
Untuk Eka Sari ^_^ (semoga berkenan)
ilustrasi dari http://fahahm.files.wordpress.com/2009/01/backwards-clock.jpg
cintakah ini
Segelas mug berisi coklat panas dengan kepulan uap air panas ada digenggamannya menghangatkan telapak tangan Putri yang merasakan hawa dingin tengah malam itu.
Putri termenung memandangi warna warni lampu yang terlihat bagaikan permata berkelip sehamparan sudut mata kanan ke kirinya, indah nian warna warninya sebanding terbalik dengan warna awan kelabu yang tengah menutup merah hatinya.
Didekapnya mug hangat itu mendekati hatinya, ingin dia menguapkan awan kelabu dilingkaran hatinya bersamaan dengan membubungnya uap coklat panas di dalam mug.
'Terima kasih ya kamu bersedia menerima kado istimewaku', ucapan dengan senyum manis keluar dari mulut Rio ditambah dengan kecupan mesra di kening Putri. Keduanya tengah berbaring diselimuti bed cover hijau daun di dalam ruang tidur di sebuah rumah peristirahatan milik keluarga Rio. Rumah peristirahatan yang dijaga oleh seorang pak tua penduduk dari desa sekitar dan hanya pada hari libur ramai oleh kedatangan keluarga besar Rio.
Lebih sering rumah peristirahat bertingkat dua ini senyap diketinggian bukit yang tidak jauh letaknya dari kota Semarang.
Putri dan Rio keduanya mahasiswa Universitas Diponegoro semestar enam yang tengah menjalin asmara tepat dua tahun di malam itu.
Putri hanya bisa tersenyum mendengar ucapan manis dari Rio di tengah rasa redam hatinya mengingat peristiwa beberapa saat yang lalu.
Di tengah lamunannya memandangi kerlip lampu dikejauhan, Putri teringat ucapan Rio siang tadi pada saat mereka berdua selesai mengikuti mata pejaran terakhir di hari itu.
'Yang kamu ingat kan hari ini pas dua tahun kita menjadi pasangan terserasi di kampus ini, hehehe. Aku ingin memberimu kado istimewa bukti dari cintaku padamu'.
'Ooh yaa, apa itu kak?', nada penasaran terdengar jelas di suara Putri.
'Sabar yaa nanti malam kamu akan tahu. Ok? Setuju ya Yang'. Hanya itu jawaban Rio mendengar pertanyaan Putri.
Sore tadi keduanya sudah berdandan cantik dan tampan masing-masing ingin menyenangkan pasangannya di hari istimewa mereka.
Putri sudah sering mendengar cerita dari Rio mengenai rumah peristirahatan keluarga di daerah Bandungan, daerah perbukitan yang tidak jauh dari kota Semarang, tapi baru kali ini Putri melihat sendiri indah dan nyamannya rumah perisirahtan keluarga Rio.
Seorang pak tua menyambut dengan santun kedatangan mereka. Pak tua menyerahkan kunci rumah ke Rio dan meninggalkan mereka berdua di teras depan rumah yang luas. Putri memandang hijaunya daerah sekitar yang masih penuh dengan perdu dan tanaman liar. Tetangga terdekatnya terlihat beratus meter dari hamparan luas tanah tempat rumah peristirahatan itu tegak berdiri.
Aaah Putri tidak sanggup mengingat peristiwa selanjutnya sesudah mereka memasuki rumah itu.
Putri hanya mampu mengingat rasa hatinya sesudah semuanya terjadi.
'Betulkah, beginikah bukti dari saling mencintai? Sucikah cinta kita sesudah peristiwa yang diluar dugannya ini?
Iya kuakui gelora hasrat begitu pandai dipermainkan Rio yang betul-betul menghanyutkan pikiran sadarnya. Sungguh nikmat permainan jemari ditimpali cumbuan bibir Rio, aku tidak merasakan kesangsian pada waktu itu. Aku terperangkap dalam pusaran keinginan birahi kami'.
Tetapi, begitukah pembuktian dari rasa cinta kita? Awan kelabu masih menyelimuti hati Putri.
Tuesday, February 9, 2010
Pelangi Rasa
Jemariku gemetar membaca barisan aksara yang muncul di ponselmu. SMS mesra pada jam 3 dini hari! Kutenangkan jiwaku, kudinginkan kepala yang mulai panas dengan amarah. Tak ada nama, hanya barisan angka, berarti nomor ini tak tersimpan dalam memori ponselmu. Perasaan tenang merayapi hati, mungkin SMS mesra ini cuma nyasar saja.
Hati-hati ku letakkan ponsel istriku itu pada tempatnya. Memang, kami sudah menikah namun privacy masing-masing kan harus tetap ada dan dijaga. Ku pejamkan mata, mencoba untuk kembali tidur. Namun tak bisa. Aku gelisah. Tak bisa kupungkiri, aku
Saturday, February 6, 2010
Sakit
Semakin kupandangi gambarnya, semakin ku tak percaya itu adalah dia. Kubingkai gambarnya dengan frame kaca favoritku. Kuletakkan kedalam kotak kecil. Aku berjalan perlahan ke halaman belakang rumahku. Rumah yang ia belikan untukku. Rumah yang mestinya kami tempati bersama. Telah kugali lubang kecil dengan tanganku sendiri, untuk meletakkan semua ini. Penggalan kenangan kami. Semuanya, agar tak ada sisa kenangan diantara kami, bahwa kami pernah bersama merajut kasih yang kini telah terkoyak. Kuingin menguburnya dalam-dalam.
Tak sulit menjual rumah ini. Rumah yang akhirnya ia berikan menjadi milikku. Tapi..., entahlah rasanya untuk yang satu ini masih berat bagiku. Kulangkahkan kakiku kala matahari mulai bersinar dengan teriknya, namun teriknya mentari, rasanya tak mampu meluluhkan hatiku yang kurasakan beku. Kuserahkan kunci ke security kompleks, untuk merawat rumah ini, mengontrakkannya bila ada yang berminat, dengan satu pesan kecil bahwa bila ia tanya, katakan rumah ini sudah dijual.
Roda-roda bis terus berputar, perlahan namun pasti menghantarku ke kota asalku. Ku terus termenung dalam bis yang terus melaju. Anganku melayang, mengingat semua kenangan indah bersamanya yang kini telah ia akhiri. Ah! Bukankah aku sudah bertekad melupakannya? Tak mungkin kami bisa merajut mimpi seperti dulu lagi, karna semuanya kini tak sama lagi. Tapi, mengapa kenangan-kenangan itu masih saja mengusikku?
Matahari hampir terbenam mengakhiri tugasnya hari itu. Semakin kutahan, anganku semakin mengembara kemasa-masa indah dulu, seiring laju bis yang terus berputar. Pedihnya perasaanku. Lima tahun bersama, ternyata aku tak mengenalnya sedikitpun. Betapa bodohnya diriku, dipermainkan perasaan.
Akhirnya aku tiba di kotaku. Tak mungkin ku pulang kerumah orang tuaku dalam keadaan seperti ini. Hanya akan membuat mereka gelisah dan khawatir. Kuputuskan untuk menginap di hotel. Ah! Hotel ini lagi.
Begitu letihnya diriku, sampai akhirnya kuterlelap dengan segala galauku. Sebuah mimpi buruk membuatku kembali terjaga. Sementara diluar sana, sang rembulan bersinar dengan begitu indahnya. Namun, mengapa ku tak bisa nikmati keindahan itu? Usapan lembut sang bayu tak mampu sejukkan hati ini. Aku merindukannya. Kurindu belaiannya. Kurindu kehangatannya. Ingin rasanya kupunya sayap, agar ku dapat terbang menjemputnya, menemaniku melalui malam ini, seperti malam-malam yang dulu, agar tak sunyi diri ini.
***
Sebulan sudah kami berpisah. Kutinggal bersama orang tuaku. Mereka kini bisa mengerti semuanya. Tapi, mulai ada yang tidak beres denganku. Kumulai sering sakit. Kesedihan ini nyaris membunuhku. Makanan mulai sulit kucerna. Tubuh ini menolak asupan makanan. Sampai akhirnya orang tuaku memaksaku ke dokter. Memastikan penyakitku. Padahal aku tau pasti, tak ada obat untuk sakitku, karna sakitku adalah sakit rindu yang teramat sangat dalam. Karna ternyata aku tak mampu melupakan kekasih hatiku. Adiyanto.
Semua tercengang. Shock. Aku ternyata tidak sakit. Hanya saja..., ada mahluk kecil bertumbuh didalam rahimku! "Tidak mungkin!" Jeritku histeris. Mengapa baru sekarang benih itu bertumbuh dirahimku? Mengapa setelah semuanya terlambat?
***
Keluargaku memutuskan untuk pindah. Pindah dari kota ini. Agar dia tak tau dimana kami. Agar dia tak pernah tau, ada benihnya dirahimku.
-Inge-
Friday, February 5, 2010
S & P
Si anak laki-laki usia tanggung itu tampak sedikit grogi. Terus-terusan dia menggaruk-garuk kepalanya seolah ada banyak kutu bersarang di sana. Sesekali diusapnya keningnya yang lebar. Semua gerakan-gerakan tidak perlu yang menunjukkan kesalahtingkahannya. Sementara si anak perempuan berseragam SMP yang datang bersamanya tampak diam saja. Sibuk mengamati menu.
"Kelihatannya baru jadian, nih" bisik S kepada P. P hanya menggangguk tanda sependapat dengan S.
Tak lama kedua anak SMP itu memesan makanan dan minuman. Sesekali terdengar percakapan antara mereka. Kadang mereka tertawa karena lelucon yang biasa saja lucunya. Kadang lama terdiam seolah berpikir keras mencari bahan pembicaraan yang lain. Benar-benar pasangan yang manis.
"Kira-kira akhirnya nanti bagaimana ya, P?" tanya S kepada P masih sambil terus mengamati kedua anak tersebut.
"Kita tunggu aja, deh" ujar P.
Tak lama kedua anak SMP itu selesai makan. Si anak laki-laki memanggil pelayan untuk meminta tagihan. Pelayan pun datang menghampiri mereka dengan selembar kertas. Diserahkannya kertas tersebut kepada si anak laki-laki.
"Mmm..." si anak laki-laki tampak serius mengamati tagihan itu. Si anak perempuan ikut melongok mengamati juga. Kemudian si anak laki-laki mengeluarkan selembar uang dari sakunya dan meletakkan di atas meja.
"Aku makan habis dua puluh ribu pas. Berarti sisanya itu harga makanan kamu ya" ujarnya enteng kepada si anak perempuan.
"Lho? jadi kita bayar sendiri-sendiri nih? Kirain kamu yang bayarin. Dimana-mana juga kalau pacaran tuh, cowonya yang bayarin tau" jawab si anak perempuan kaget bercampur kesal.
"Hehehe...itu kan kalau orang dewasa yang pacaran. Kalau anak SMP kaya kita gini jangan disamain dong. Uang jajanku aja nggak sampai segini" ujar si anak laki-laki cengengesan sambil menunjukkan lembar tagihan tadi.
"Capedeee...lain kali bilang ya kalau mau bayar sendiri-sendiri. Untung uang jajanku belum aku pakai seharian" si anak perempuan bersungut-sungut sambil mengeluarkan selembar uang dari dompet berwarna pink-nya.
S dan P tertawa geli melihat adegan itu.
Tak lama kedua anak itu pergi, datang sepasang anak usia kuliahan ke arah mereka. Si laki-laki tampak sangat senang, dilihat dari raut wajahnya yang tidak henti-hentinya mengumbar senyum. Si perempuan tampak biasa-biasa saja. Mereka duduk di hadapan S dan P.
Sama seperti kedua anak SMP tadi, mereka makan dan bercakap-cakap. Setelah setengah jam berlalu, si perempuan permisi untuk ke kamar kecil.
Begitu si perempuan berlalu dari hadapannya, dengan sigap si laki-laki mengambil handphonenya dan menelpon sebuah nama.
"Eh, kampret! SMS gue gak lo bales-bales. Gila ya, temen lagi usaha gini, bantuin doong. Gue lagi sama Sandra nih. Kirimin uang sekarang ke ATM gue, gue takut gak cukup, kan tengsin gue. Pliiiis...." kata si laki-laki terburu-buru karena melihat si perempuan sudah kembali dari kamar kecil.
"Kita balik sekarang?" tanya si perempuan.
"Tenang aja dulu. Ngapain buru-buru sih? Kita kan nggak ada rencana mau kemana-mana lagi abis dari sini?" jawab si laki=laki berusaha mengulur waktu.
"Oke..." si perempuan kembali duduk. "Kalau gitu aku mau pesan kopi sama cake lagi deh" sambungnya. Si laki-laki menelan ludah sambil tersenyum dipaksakan.
S dan P tertawa terpingkal-pingkal melihat adegan itu.
Sedang asyik menertawakan kejadian itu, tiba-tiba sebuah tangan mungil terasa meraih P dan mengguncang-guncangnya. P terkejut bukan kepalang.
"Hatchii...Hatchiii...Huaaaa!" terdengar suara bersin dan disusul dengan tangisan seorang anak bayi.
"Marni! Gimana sih jadi babysitter gak becus! Dilihat dong si dedeknya. Jangan bengong aja!" sebuah suara wanita yang ketus terdengar. S dan P melihat seorang babysitter dengan seragamnya tengah membersihkan hidung si bayi sambil merunduk-runduk meminta maaf kepada nyonya majikannya. Si nyonya tampaknya sudah lupa dengan kejadian dua detik yang lalu itu. Sekarang dia kembali sibuk dengan Blackberry Javelinnya sembari duduk di sebuah kursi di belakang S dan P. Sang tuan juga tak kalah sibuknya, memegang Blackberry Bold dan tak henti-hentinya mengetik sesuatu di sana. Sesekali dilihatnya anaknya yang masih menangis dengan pandangan terganggu.
"Udah, bawa main dulu ke taman sana!" perintahnya kepada si babysitter.
S dan P cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat adegan itu.
Sore di cafe itu berlalu lagi seperti biasa untuk S dan P. Menjadi saksi bisu tingkah laku manusia yang berkunjung ke tempat makan itu. S dan P yang duduk manis di tengah-tengah meja sebagai condiment selalu mendapat tontonan seru setiap harinya. Ternyata menjadi Salt dan Pepper tidak terlalu membosankan, ya?
Thursday, February 4, 2010
liontin itu
Tawa berderai dari empat orang perempuan terdengar nyaring dari sebuah gerai jual beli emas di Pasar Atom siang hari itu. Aku dan tiga sahabat karibku sudah hampir sejam berada di gerai itu sesudah kami selesai santap siang bersama yang sudah menjadi kegiatan rutin kami setiap bulannya. Kali ini kami sepakat sesudah santap siang menuju ke Pasar Atom untuk mendatangi gerai perhiasan emas menemani Rena yang ingin menukarkan cincin emasnya dengan perhiasan yang lain.
Berderet toko emas menjajakan dagangan perhiasan beraneka bentuk dan rupa sekaligus juga menerima pertukaran jual beli perhiasan yang sudah tidak disukai oleh pemiliknya dan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru modelnya.
'Aku mau yang itu mas, liontin putih itu'. Aku menunjuk ke sebuah liontin berbentuk hati terawang dan dibalik terawangnya terlihat sebutir berlian terperangkap di dalam liontin berbentuk hati itu. Sungguh menawan hatiku sejak pertama aku melihat liontin hati itu.
'Iya ih mbak, bagus sekali iiontinnya, butir berliannya bisa bergerak bebas di dalam terawang berbentuk hati itu. Kalau mbak tidak ambil aku ambil aja ya, gimana?', Arin menimpali perkataanku kepada si penjual ketika aku meminta untuk mengambilkan liontin itu dari meja etalase.
'Mas coba ini dua cincinku berlian, ada suratnya, saya sudah bosan karena sudah beberapa kali kupakai di kondangan dan arisan, wah pasti teman-temanku sudah mengenal cincinku ini. Saya mau tukarkan dengan gelang saja'. Begitu kata Rena menerangkan alasan dia akan menjual dua cincin berliannya.
Si penjual dengan serius manggut-manggut dan berkata, 'Betul Bu Rena, ditukar saja dengan gelang model baru, ini baru kemarin datang, coba Bu saya ambilkan dari dalam karena masih belum saya display'. Dengan muka berseri-seri Rena mengiyakan perkataan si penjual perhiasan, sudah terbayang di benaknya, arisan besok akan dia gunakan gelang barunya itu.
Si penjual sudah mengenal Rena karena seringnya dia berbelanja maupun menukar perhiasannya di gerai miliknya.
Aku masih memegang liontin hati itu sambil mengaguminya bersama Arin. Indah betul berlian di dalam terawang hati itu, bisa bergerak bebas kesana kemari meski tetap terbatasi oleh sangkar indah berbentuk hati putih. Ya seperti menjadi simbol dari perempuan-perempuan yang memiliki kehidupan berada, tetapi tetap kebebasannya terbatasi oleh sangkar cantik bentukan suaminya.
Ketika itu nampak seorang Ibu setengah umur menghampiri gerai perhiasan tempat kami berada. Dengan setengah hati Ibu itu mengeluarkan dompet kecil dari dalam tas tangan coklat yang terlihat telah berumur lebih dari beberapa tahun. Terlihat penampilannya yang tidak segar, sedikit kusut dan kurus, tertumpuk persoalan hidup memberati pundaknya. Aku agak jengah, tidak sampai hati melihatnya.
Kemudian mbak penjual menghampiri dan menanyakan keperluannya.
'Mbak, saya mau menjual gelang ini. Ada dua mbak, bisa tolong ditimbang dulu ya?'.
Dengan cekatan si mbak penjual memperhatikan, meneliti modelnya dan menghampiri meja kasir dimana timbangan berada. Kemudian si mbak penjual kembali menghampiri Ibu itu dan mengatakan,
'Bu yang berukir ini beratnya lima koma enam gram, kalau yang polos ini delapan koma dua gram'.
Si Ibu termenung memandang kedua gelangnya, dipegangnya kedua gelang itu dengan masing-masing di satu telapak tangann dan ditimbang-timbangnya ke dua gelang itu sambil bergumam perlahan seperti mengatakan pada dirinya sendiri,
'Untuk uang sekolah anak-anak sudah cukup dengan gelang berukir ini, tapi bagaimana dengan makan bulan depan ini, sudah tinggal tiga hari lagi dan memasuki bulan baru, aku belum juga mendapatkan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan anak-anak dan diriku.
Yah, bantulah aku untuk mendapatkan pekerjaan, sudah berat rasanya aku menanggung semuanya sendiri sejak Ayah tinggalkan kami dan semakin berat karena aku belum juga mendapatkan pekerjaan.
Kamu tahu kan Yah, gelang polos ini adalah hadiah Ibuku pada saat pernikahan kita, aku tidak tega untuk menjualnya. Aku tidak ingin kehilangan perhiasan satu-satunya peninggalan Ibuku'.
Aku tercekat mendengar gumaman Ibu setengah baya itu,
'Ya Allah ibu itu telah ditinggalkan suaminya, belum mendapatkan pekerjaan dan untuk kebutuhannya dia terpaksa menjual perhiasan emasnya. Belum lagi dia masih harus berpikir untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya bulan depan ini. Dan di sini aku bersama teman-temanku dengan girangnya sedang bernegosiasi untuk menambah koleksi perhiasan emas kami.
Kepekaan seperti apa yang aku miliki?'
Segera aku melepaskan liontin hati itu dari genggamanku kemudian aku serahkan ke penjualnya untuk aku minta agar dia menyimpan kembali ke meja etalase.
Tidak tega aku menambah koleksi perhiasanku di saat bersamaan, di gerai yang sama aku menyaksikan seorang Ibu yang sama dengan diriku, juga seorang Ibu, tengah gundah mempertimbangkan menjual perhiasanannya untuk kebutuhan hidupnya.
Aku hanya bisa tersenyum memperhatikan ke tiga sahabat karibku yang masih saja tertawa-tawa, menertawakan diri mereka yang memiliki hasrat besar untuk menambah koleksi perhiasannya atau menukarkannya dengan model terbaru.
***
sahabat-sahabatku pembaca, di jaman susah seperti ini banyak kejadian seperti yang aku ceritakan di atas. Yuuuk mari meskipun kita berkecukupan tapi apa salahnya kita tidak menghamburkan untuk barang-barang yang hanya menjadi kebutuhan kuarter kita. yaaaa
Tuesday, February 2, 2010
Denting Indah Dawai Gitarmu
Seiring hawa sejuk yang merasuk tulang, kupandangi wajah belahan jiwa yang terlelap dalam manis buaian mimpi. Semakin kupandangi semakin aku mengakrabi perasaan ini lebih dalam: aku mencintainya. Bola mataku tertuju ke jam meja di sisi tempat tidur, manakala beker futuristik hadiah kuis di TV itu melakukan tugasnya dengan baik: berdering nyaring. Tanda buatku memulai aktifitas. Ku alihkan pandang. Kudapati sang pangeran membuka matanya pelan, kemudian tersenyum lembut melihatku. Aaah perasaan ini manis, semanis madu. Ia beranjak pasti menuju sudut ruangan. Dengan tangan kokohnya menyambar kayu coklat berbentuk aduhai. Elok lekuk tubuhnya. Sementara jenjang lehernya dihiasi enam utas tali yang terlihat rapuh namun memiliki kekuatan luar biasa. Baru kemudian aku tahu tali itu mempunyai merek ! d’addario.
Dipangkunya sang gitar Spanyol yang oleh pembuatnya diberi nama: Prudencio Saez. Kemudian perlahan ia mengecup keningku dan berbisik lembut, “Kita awali hari ini dengan doa, kali ini kamu pilih lagu pujiannya”
Aku mengganguk dan bersyukur. Fajar menjelang di ufuk timur. Dan aku disini. Menikmati denting indah dawai gitarmu dalam peluk hangat cintamu.
Saturday, January 30, 2010
Surat untuk Sahabat
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran
Tiba-tiba kamu menghilang! Semua panik. Project kita terancam bubar!
***
Aku memang tidak tau betul siapa kamu. Aku bahkan belum pernah bertemu muka denganmu. Awal pertemanan kita pun sangat unik. Kala itu group bentukanmu mengadakan lomba dari game yang begitu ku gandrungi, dan aku begitu ingin ikut serta dalam lomba itu. Akupun masuk sebagai anggota group'mu, upload foto karyaku, dan ternyata salah satu syarat untuk ikut lomba itu, harus menjadi teman para admin (kau salah satu adminnya). Kalah. Aku memang tidak menang di lomba itu, namun aku memenangkan satu nilai yang lebih besar dari pada sekedar game. Persahabatan. Ya, begitulah kita mulai terlibat dalam kelompok yang sama. Kau menjadikanku salah satu admin di group itu (psmi), membuat kita semakin dekat, apalagi kita mengadakan lomba halloween dimana setiap hari perlu adanya koordinasi sesama admin.
Usai masa-masa sibuk lomba halloween, aku pun terpilih sebagai salah satu penerima hadiah dalam thread menyambut natal "Give Away", dimana setiap kita yang terpilih boleh make a wish yang akan dikabulkan santa pet di malam natal. Kau pun ada di thread itu, bersama teman-teman kita yang lain.
Kemudian kebosanan mulai melanda kau dan teman-teman kita, hingga akhirnya ide cemerlang muncul dari pikiranmu. Ngeblog. Padahal aku sama sekali tak tau caranya. Tak tau menulis yang baik. Tapi kau begitu sabar. Kau membagi apa yang kau tahu denganku, dengan yang lain juga (aku belajar banyak soal yang satu ini).
Kemudian, tiba-tiba kamu menghilang. Namamu tidak tercantum lagi sebagai admin di psmi. Di inbox ku, namamu menghitam. Apa yang terjadi? Semua panik. Mencarimu. Kehilanganmu, sampai akhirnya kutemukan kau disini, di blog kita. Ternyata, oh ternyata..., ada seseorang yang menghack akunmu, sesaat setelah kau pamerkan kekayaan Bla (petmu). Untung saja mereka tidak merampok si kaya Bla ;) dan kau pun kembali. Tapi tidak sepenuhnya kembali, karena sejak kau kembali, kau tidak kembali ke group yang mempertemukan kita. Kau meninggalkan psmi.
Entah bagaimana awalnya, aku bisa setuju mengikuti project nekad ini. Satu minggu dengan satu cerpen, padahal aku sama sekali awam soal ini. Kita berkomitment untuk menjalankannya setahun ini. Bersahabat denganmu, banyak memberi masukan positif bagiku. Duniaku mulai terbuka, teman-temanku pun bertambah. Aku bersyukur menjadi sahabatmu, walau terjalin maya.
***
Dan kini, kepanikan itu terjadi lagi. Kau menghilang. Tepat di hari ulang tahunku! Semua blogmu di setting private, di blog kita, namamu menghilang dan di inbox, namamu kembali menghitam. Apa yang terjadi sahabat? Adakah yang salah? Sakitkah kau? Adakah yang tidak beres? Kambuhkah sakit ditangan kirimu yang pernah kau keluhkan? Ataukah ada yang kembali mencoba menghack akunmu? Ataukah kau sedang di Papua melanjutkan projectmu? Ataukah...(ini dugaan paling sulit bagiku) apakah kau lelah menjadi teman mayaku, teman maya kami? Oh, tidak.
Padahal aku merasa kau kini bagian keluargaku. Bukankah tempat yang sama dimana kita bernaung menjadikan kita satu keluarga? Ketika kau menceritakan bagaimana repotnya harus menimba air saat keran mati, aku seolah ikut merasakan kerepotanmu. Ketika bunda tercintamu ulang tahun, aku ikut terpingkal-pingkal kala si kecil Joshua membocorkan rencana surprise yang kau dan keluargamu buat kepada sang bunda. Ah! Sahabat, sungguh, kau seperti saudara bagiku. Bagi kami.
Sahabat...
Apakah kau tau? Indah teman kelingking kita ingin mengundurkan diri dari project yang sudah kita sepakati selama setahun ini? Apakah kau tau? Irene dan yang lain begitu patah semangat tanpamu? Apakah kau tau? kau adalah inspirasi bagiku? Apakah kau tau? Ekasari begitu takutnya kau tidak ada diantara kita, dan menyalahkan dirinya atas menghilangnya dirimu? Apakah kau tau? Winda, Eka, mba Ami, mba Siska, mba Delia, mba Jude, kami semua merasa kehilanganmu? Apakah kau tau semua terasa tak sama?
Sahabat...
Mengapa hati kecilku berkata kau tak akan kembali? Seperti kau tak pernah kembali ke psmi? Jangan tinggalkan teman-teman kelingkingmu dengan tanda tanya. Kami merindukanmu...
Friday, January 29, 2010
Kebaya Pengantin
Tanti lagi ribet. Pernikahannya sudah di depan mata dan dia merasa semua persiapan masih mentah. Hampir setiap hari Tanti uring-uringan dibuatnya. Ada saja yang membuat dia senewen dari mulai bangun pagi sampai saat dia berangkat tidur. Semua orang di rumah kena getahnya. Mami kena semprot gara-gara catering service yang di pilih Mami tidak mau memberikan tester. Papi juga tidak luput dari omelannya gara-gara belum juga memesan layanan bis besar untuk mengangkut keluarga besarnya dari rumah menuju gedung tempat pernikahan.
Owwh, bicara soal gedung kepala Tanti makin nyut-nyutan. Setelah sempat bersitegang untuk bisa mendapatkan tanggal yang diinginkan, Tanti masih belum puas karena dia menginginkan resepsi diadakan malam hari. Akhirnya dengan sedikit kesal, Tanti mengalah untuk memajukan waktu resepsi menjadi siang hari karena sudah ada pasangan lain yang membayar DP untuk malam harinya. Semua serba tidak sempurna, begitu pikir Tanti. ‘Padahal aku ingin segalanya sempurna’ batin Tanti. ‘Bukankah ini hari bahagiaku? Semua harus terlihat sempurna dan aku juga harus terlihat sempurna seperti seorang ratu’ tekadnya.
Tanti menatap ke arah cermin di dekat meja riasnya. ‘Oh Tuhan, siapa perempuan gendut dalam cermin itu?’ teriak Tanti dalam hati. Teringat ucapan Tante Siska, perias pengantin yang dipilihnya, saat dia melakukan fitting seminggu yang lalu. “Tanti, kalau kamu tetep ngotot mau pakai kebaya yang maroon ini, paling tidak kamu harus bisa nurunin berat badan sepuluh kilogram lagi baru bisa muat. Tante sarankan ya, kamu pilih yang warna lain aja yang ukurannya sesuai sama badanmu” Tante Siska menjelaskan tanpa perasaan. Tanti hanya bisa menelan ludah. Baginya menyerah dan berubah pilihan adalah suatu kekalahan. Dia sudah mimpi-mimpi akan memakai kebaya berwarna maroon dengan aksen emas dalam pernikahannya kelak. Tanti tidak pernah berpikir kalau dia perlu menjahit kebaya sendiri untuk ukuran tubuhnya yang sedikit lebih besar dari ukuran normal, karena dia tidak punya satu penjahit pun yang bisa dipercayanya.
Saat Tanti ke tempat Tante Siska, matanya langsung tertumbuk pada kebaya maroon yang dipajang di patung mannequin di tempat display kebaya pengantin. ‘Uuuh, ini dia kebaya pengantinku!” tekadnya dalam hati. Sayang seribu sayang, saat fitting ternyata kebaya itu ‘sedikit agak terlalu’ kekecilan untuknya. Tanti ngotot menggunakan kata ‘sedikit agak terlalu’. Biarpun Tante Siska sudah mengultimatumnya untuk bisa menurunkan berat badannya sepuluh kilogram dalam waktu tiga minggu, Tanti tidak mundur. Dia yakin bisa menurunkan berat badannya dalam waktu singkat.
Mulailah hari itu Tanti puasa mutih. Hanya makan nasi putih dan minum air putih. Setiap hari!
‘Gila kamu, ya?” Mami protes keras melihat kenekadan Tanti. “Kamu bisa mati lemas kalau tiap hari kaya begitu. Bisa-bisa pas hari H kamu malah nggak segar. Mau?” tanya Mami lagi.
“Mami, pokoknya itu kebaya harus muat! Aku nggak peduli gimana caranya.!” Tanti ngeyel. Sifat dasar yang sudah mendarah daging dalam dirinya dan sudah sangat dimaklumi oleh Mami dan Papinya.
“Mami kan udah bilang jauh-jauh hari, coba pergi ke Tante Rini yang penjahit itu. Dia kan kalau jahit kebaya lumayan bagus. Kenapa sih nggak jahit kebaya sendiri aja? Kenapa harus sewa? Udah gitu mending pas di badanmu!” Mami masih berusaha mengalihkan pendirian Tanti.
“What? Tante Rini? No way, Mami! Bisa-bisa kebayaku nggak jadi pas hari H-nya. Udah gitu belum tentu enak dipake. Kalau nggak enak, mau nggak mau harus dibongkar lagi jahitannya. Wuuah, pokoknya nggak sempurna! Aku nggak mau!” Tanti tetap ngeyel.
“Terserah!” Mami kesal sendiri.
“Iya, dong! Terserah aku! Ini kan pernikahanku! Week!” Tanti cuek membalas kedongkolan Maminya. “Trus Mami jangan lupa ya, bilangin Tante Gina yang jutek itu untuk jadi pengawas cateringku. Biar nggak dikerjain. Aku nggak mau sampai kejadian makanan dibilang udah habis, padahal tamu masih banyak yang belum datang. Pokoknya semuanya harus SEM-PUR-NA!” sambung Tanti lagi.
“Capedee!” Mami berlalu sambil memegang kertas-kertas hasil rapat panitia pernikahan putri satu-satunya itu. Tanti melanjutkan mematut-matut dirinya di depan cermin.
Sudah dua minggu Tanti mutih. Tinggal seminggu lagi waktu yang tersedia untuk Tanti menurunkan berat badannya sesuai yang diinginkannya. Tanti siap-siap menimbang berat badannya sore itu di kamarnya. Hatinya dag dig dug ingin melihat hasilnya. ‘Paling tidak harusnya beratku udah turun tujuh kilogram. Pliiis Tuhan…’ harap Tanti sambil naik ke atas timbangan badannya.
“Whaaaat??? Cuma empat kilo?? Nggak mungkiiin!!!” jerit Tanti keras.
“Tantiiii!!! Kamu kenapaaa???” Mami berteriak kaget mendengar jeritan Tanti barusan.
“Nggak papaaa, koook!” balas Tanti cepat-cepat. ‘Huuuh…harus dibantu apa lagi nih, biar cepet turun?’ Tanti mulai berpikir keras.
Sebenarnya minggu lalu, Yulie sahabatnya sudah menawarkan susu penurun berat badan. Kata Yulie hasilnya tokcer. Bisa turun berat badan sampai lima kilogram dalam satu minggu. Tapi Tanti menolak. Menurutnya mutih lebih ampuh menurunkan berat badannya. “Kalau cuma lima kilo, mendingan gue mutih aja deh, Yul. Pasti bisa turun lebih banyak lagi kalau aku cuma makan nasi putih dan minum air putih thok!” katanya saat itu ke Yulie.
Tanti jadi berpikir ulang tentang tawaran Yulie itu sekarang. Waktunya tinggal seminggu lagi dan dia masih harus menurunkan beratnya sebanyak enam kilogram lagi. Kalau susu itu benar bisa menurunkan berat badannya sebanyak lima kilogram dalam seminggu berarti masih ada satu kilogram lagi yang harus dipikirkan bagaimana caranya untuk dienyahkan.
Aha! Tanti punya ide. Segera diambilnya handphone dan dihubunginya Tante Siska. Tulisan ‘Perias Pengantin Jutek’ segera muncul di layar handphonenya. Tanti Cuma meringis melihatnya sekilas.
“Halo, Tante. Aku mau nanya. Kalau aku pakai korset dua nomor lebih kecil, kira-kira bisa muat nggak ya kebayanya di aku?” tanya Tanti tanpa basa-basi begitu telponnya dijawab Tante Siska.
“Hah? Kamu udah gila ya? Bisa sesek napas kamu tau!” Tante Siska sedikit menjerit menjawab pertanyaan Tanti yang tidak disangka-sangkanya.
“Nggaklaaah….Kan makenya cuma sebentar. Pakenya di kait yang paling belakang. Udah, gini aja deh, tiga hari lagi aku ke tempat Tante buat final fitting. Sediain korset ukuran kecil ya. Aku mau test!” Tanti memutuskan sendiri.
“Terserah kamu deh” jawab Tante Siska malas. Tante Siska hanya bisa geleng-geleng kepala setelah memutuskan pembicaraan dengan Tanti di telpon. Selama dua puluh tahun menjadi perias pengantin dan penyedia kebaya pengantin, baru kali ini dia mendapat pelanggan seperti Tanti. Cerewet minta ampun, omelnya dalam hati. ‘Padahal aku udah masuk kategori judes, kok dia bisa lebih judes dari aku ya?’ tanyanya sendiri dalam hati.
Tanti berjalan sempoyongan menuju rumah Tante Siska. Sudah beberapa hari ini kepalanya sakit sekali. Tanti bukannya tidak menyadari keadaan dirinya. Dia tahu kalau tubuhnya sudah mulai lemah karena aksi diet gila-gilaan yang sedang dilakukannya. Bayangkan, mutih alias Cuma makan nasi putih dan minum air putih, di tambah malam cuma minum segelas susu penurun berat badan dari Yulie dan dilengkapi dengan sit up dan push up tiga set tiap pagi dan malam. Tapi bukan Tanti kalau menyerah begitu saja.
“Bisa nafas nggak kamu?” tanya Tante Siska begitu selesai mengaitkan kaitan terakhir korset yang dipakaikannya ke Tanti.
“Bisaaa….” Jawab Tanti sambil menahan nafasnya.
“Coba duduk!” perintah Tante Siska.
“Nggak usah! Nanti juga kan aku berdiri terus salaman sama tamu-tamu” jawab Tanti mengelak. Bukan apa-apa, berdiri saja rasanya perutnya sudah mau meledak, apalagi dibawa duduk? Huuufff…..
“Ya udah, kalau kaya begini, kayanya sih bisa pake kebaya maroon itu” kata Tante Siska akhirnya.
“Good!” jawab Tanti senang. “Lepasin dong, Tante! Udah selesai kan fittingnya?” tanya Tanti cepat berusaha untuk keluar dari korset super ketat sialan itu secepatnya.
Kebaya maroon manyun tergantung di pintu kamar pengantin bernuansa maroon dan emas. Seandainya dia bisa bicara, pasti dia sudah ngomel-ngomel panjang sejak tadi.
“Sialaaan! Dipaksa, dirobek dan dimuntahin! Ini pemerkosaan! Bener-bener hari siaaal!” begitu kira-kira si kebaya maroon akan mengumpat.
Pengantin wanita tampak terkulai tengkurap di tempat tidur pengantin bertabur mawar merah. Bibi tengah berkarya di punggungnya membuat garis-garis miring berwarna merah dari sebuah koin berbalur minyak. Tanti lagi kerokan akibat masuk angin akut, lemas kurang cairan dan keluhan-keluhan lainnya.
“Oooh, my perfect wedding….” Bisiknya kesal mengingat tragedi muntah dan hampir pingsan di atas panggung saat tengah menerima ucapan selamat dari para tamu.
Dua hari kemudian Tanti memberanikan diri menghidupkan handphonenya setelah kejadian memalukan di hari pernikahannya itu. Di dengarnya satu per satu pesan dari teman-temannya yang memuji-muji dirinya terlihat cantik saat itu. “Huh! Dasar pembuohong semua!” maki Tanti dalam hati. Mereka pasti sekarang tengah berkumpul dan mentertawakan dirinya di sebuah cafĂ© entah di mall mana kali ini.
“Halo, Tanti. Kamu harus ganti ya harga kebaya tempo hari. Sobeknya sampe panjang banget gitu di bagian belakang. Udah Tante bilang, jangan dipaksain, kamunya ngotot sih!” terdengar suara Tante Siska dari layanan voice mail handphone Tanti pada pesan terakhir yang di dengarnya.
Hap! Tante memasukkan sepotong besar pizza ke dalam mulutnya sambil mematikan handphone-nya kembali.
*ilustrasi diambil dari http://textilesbykomang.com/Kebaya_Nirina_Maroon.JPG*
Thursday, January 28, 2010
jalan pagiku
Maafin yaaa aku sudah enam hari tidak menengokmu. Aku tidak membuka lembaranmu untuk menemukan lembaran kosong baru sesudah lembaran terakhir aku isi dengan tulisan rapi agar engkau tetap terlihat cantik.
Terakhir, hari Senin aku mengisimu dengan omelanku karena siang harinya ada mata kuliah konstruksi bangunan ! Huaaah dari mulai awal masuk jurusan ini aku sudah terbayang, tidak sukaaa dengan mata kuliah ini. Iyaaa my diary, aku juga tahu mata kuliah ini amat penting, bisa ambruk rancangan bangunanku kalau aku tidak mau mengenal mata kuliah ini dengan baik. Maafkan yaa aku sudah mengisi lembaranmu dengan omelan yanggg tidak perlu.
Tapi pasti kamu memaklumi kan, engkau adalah sahabatku yang paliiing menyenangkan. Kamu terima semua apa yang ada di dalam pikiran dan rasaku, tanpa engkau menghakimiku. Terima kasiiih.
Eeeeh tapi kali ini diaryku, hihihihi aku mau ketawa ketiwi geli.
Seperti biasa kan, hari Sabtu pagi, segaaar rasanya setiap bangun pagi di hari ini, karena yups libuuur hehehe. Dan inilah kesempatanku untuk berolah raga. Jalan pagi.
Naah ceritanya nih diary, kemarin pagi itu aku bangun agak kesiangan, biasalah hari Jumat malam aku ingin menyelesaikan gambar perspektifku sehingga aku punya waktu libur penuh hari Sabtu dan Minggu. Iya diary, hari Senin adalah batas waktu pengumpulan tugas mata kuliah perancangan. Jadi aku selesaikan gambar perspektifku hingga jam dua dini hari.
Sabtu pagi itu aku bangun jam setengah enam. Iya itupun masih pagi, tapi kan kesiangan kalau untuk jalan pagi. Tapi kamu tau kan, jalan pagi adalah olah raga yang paling aku sukai.
Terusss, bagaimana? Teruus aku bangun, bersiap, kali ini aku menggunakan sweater berlengan panjang untuk menutup t-shirt tipis lengan pendek dan celana panjang kaosku. Aku tidak ingin kedinginan karena dini hari ini aku hanya tidur tiga jam. Aku gunakan sweater butut yang sudah kusam warna merah tuanya, ahhh cuma jalan pagi ini, malas aku diary, mengaduk lemari baju mencari sweater putihku yang dibelikan mama dua minggu lalu.
Kemudian aku keluar rumah dan mulailah perjalananku berjalan agak cepat menyusuri jalanan. Seperti biasa juga ruteku kali ini sama seperti hari Sabtu yang lalu, aku keluar dari kompleks perumahanku kemudian menyusuri tepian jalanan yang di samping kiriku adalah dataran landai perbukitan dan aku lihat tanaman kubis yang sudah mulai besar, semakin besar dari hari Sabtu lalu.
Haah iya juga ya, mungkin lain kali akan aku bawa kamu ikut jalan-jalan, ikut merasakan terpaan angin dingin pagi yang sejuk dan segar. Paru-paruku terisi penuh dengan udara bersih perbukitan. Nikmat sekali rasanya.
Okeee selanjutnya, seperti biasanya juga, sesudah aku menyusuri jalan berkelok dengan pemandangan perbukitan dipenuhi pohon perdu yang hijau terhampar luas, diselingi kebun tanaman kubis, ooh itu diaryku, disitu, agak sedikit di atas bukit seberang aku melihat ada pembangunan rumah. Satu lagi rumah akan dibangun, semakin mempersempit pandangan hijauku.
Hnah sampai mana tadi yaa jalan pagiku, jadi ngelantur. Ooo iya, sesudah dua kilo jalur rutinku, aku sampai di warung bu Tinah, dan seperti biasa kan diaryku, belum lagi kepalaku nyelonong masuk ke dalam warung, aku sudah menyapa nyaring bu Tinah yang dari luar warungnya terlihat sedang menyiapkan bubur ayam panas gurihnya. Bau bubur ayamnya itu diary, nyam nyam, keroncongan perutku. Hihihi pasti kamu tidak bisa membayangkan rasa keroncongan, bukankah kamu tidak memiliki perut. Hihihi
Tapi aduuuh baru aku sebut 'Bu Tiii ...!!', tepat ketika itu kepalaku terjulur masuk ke dalam warung bambunya, disitu telah duduk seorang pemuda, aduuuuh my diary, aduuuh badannya ituuu, meskipun dalam posisi duduk di bangku panjang dengan satu tangan memegang sendok persis akan menyuap bubur dan lengan yang satunya bertengger di atas meja, huhuhuhu badannya terlihat tegap atletis. Pasti diaryku, pasti dia penyuka olah raga. Dan dan itu rambutnya, tercukur rapi secenti tersambung dengan bulu kasar di pipi, di bawah hidung menyambung hingga dagunya. Aduuuh terlihat samar bintik-bintik bulu yang tajam.
Terus ini diaryku yang membuat jantungku hampir terlepas, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya ketika mendengar suaraku. Duuuh dairyku, aku terlonjak sendiri pada saat itu, aku bertanya-tanya, terlalu keraskah sapaanku, sumbangkah nadaku, paraukah suaraku, huhuhu terkesan seperti gadis bagaimanakah aku yang tanpa menggunakan kata sapa langsung saja memanggil Bu Tinah.
Aku tersadar, aku segera mengalihkan pandanganku ke Bu Tinah dan melemparkan senyumku yang paling manis, paling imut, aku buat secantik mugkin lah hehehe.
Bu Tinah, iiih my diary, sebal aku, Bu Tinah terlihat menahan senyum menyaksikan reaksiku yang tiba-tiba tidak selesai menyebut namanya.
Aku segera duduk di bangku panjang yang letaknya di samping bangku panjang di mana si tampan duduk. Aku segera menyebutkan pesananku tanpa berpikir panjang. Sampai aku lupa menyebutkan tambahan telur sebutir seperti yang sudah menjadi kebiasaanku.
Aku segera, hehe segera lagi ya diaryku, segera mengeluarkan handphoneku dan memencet tutsnya, mencari inbox message, berpura-pura sibuk menerima sms hahaha.
Tahu nggak diary, Bu Tinah lama sekali sih mempersiapkan pesananku, lebih lama dari biasanya, seperti sengaja membuat aku semakin salah tingkah duduk sendirian di bangku kayu panjangnya.
Samar-samar tanpa berani mengangkat muka aku mendengar sendok beradu dengan mangkuk, kemudian sepi lagi, itu sudah pasti pada waktu sendok berisi bubur sedang memasuki mulut si tampan.
Tiba-tiba aku teringat penampilanku. Ingat kan diary, seperti yang aku tuliskan di atas, aku menggunakan sweater butut merah tuaku. Hampir aku menutup wajahku, malu aku, menyesal aku, kenapa juga aku menggunakan sweater gedomboran ini, di mana tshirt lengan pendek yang aku gunakan bersama dengan celana kaosku cukup memperlihatkan lekuk tubuh gadisku.
Hiks, salah lagi kan diary, percuma juga aku menutup wajahku, kan bukan wajahku yang tertutup sweater butut. Menyesaaal rasanya. Pantaskah bila kubuka sweater bututku sekarang?
Sempat terpikir olehku diary. Tapi untuk merubah posisi dudukku saja aku tidak berani, aku tidak ingin menarik perhatian si tampan. Ya sudah, akhirnya aku duduk manis saja sambil berkhayal, menerima sms sepuluh buah, agar terlihat sibuk hahaha.
Akhirnya, semangkuk bubur ayam panas sudah terhidang dihadapanku, yaaah tanpa telur kesukaanku. Aaah bu TInah, sepertinya pura-pura lupa pula dengan kebiasaanku. Ya sudahlah, mana berani aku mengeluarkan lagi suaraku, yang aku tidak tahu, sumbangkah atau melengkingkah suaraku menurut si tampan.
Dengan tetap menunduk, perlahan, perlahaaan sekali diary, agar sendok tidak teradu dengan mangkuk, aku mulai mengambil sesuap bubur. Aduuuh diary, kelupaan lagi, aku belum mengambil kerupuk bulat kecil kuning teman si bubur. Hiks satu lagi kegemaranku yang kali ini tidak bisa aku nikmati. Mana berani aku mengambil kerupuk, stoples kerupuknya berada di samping kiri si tampan ! Bu Tinah ! Teganya dirimu meletakkan stoples kerupuk itu di situ.
Aaah sudahlah, lupakan kegemaranku, aku harus tetap terlihat manis meski sedang makan. IIIh betul diary. Seorang kawan laki-lakiku pernah mengatakan, 'Rin, aku paling suka melihat cewek pada waktu makan, pada waktu dia menyuapkan sendoknya. Menurutku, disitu aku bisa melihat, cantikkah cewek itu'.
Huuus jangan ketawa diary, pada waktu itu akupun spontan tertawa terbahak-bahak, dimana sambungannya ya, menyuap dan cantik, hahaha.
Eeeeh tapi mana kita tahu, siapa tahu si tampan juga memiliki pandangan seperti itu. Kan kan, gawat seandainya aku tidak terlihat cantik karena makan terburu-buru, atau ketika menyuap tiba-tiba sebutir bubur jatuh dan menimpa pinggiran mangkuk. Huah aku tidak ingin terlihat tidak cantik !
Akhirnya berhasil juga aku menyuap dengan perlahan dan mencoba terlihat selalu anggun untuk yang ketiga kalinya, ketika itu si tampan berdiri dan menanyakan ke Bu Tinah berapa yang harus dibayarnya.
Dan kemudian tetap diary, tetap aku hanya berani memandang melalui ekor mataku, aku melihat tubuhnya yang menjulang, tegap dengan celana pendek dan kaus berwarna gelap lekat di tubuhnya, hiks, duuh diary.
Tetap dengan ekor mataku, ketika berpura-pura mengaduk buburku, mengaduk untuk mencari potongan ayam suir, aku melihat transaksi itu. Si tampan, dengan tangannya yang panjang kekar, itu diary, itu tangan dengan bulu halusnya menutup kulit lengannya yang terlihat coklat sehat, uuuh.
TIba-tiba diary, tiba- tiba si tampan berkata 'Mari dek saya duluan, selamat makan'.
Haaah diary, dia menyapaku ! Untuk kedua kalinya jantungku hampir melorot, tanganku terhenti mengaduk bubur.
Mukaku terangkat spontan, dengan mulut tidak terkatup rapat, aku menatap si tampan melewati bangku panjang dudukku yang dengan senyum tampannya menatapku sekejap.
Aduuuh diary, sudah ah ceritaku, aku ingin berbaring dulu dan mengingat kembali tatapan tampannya itu, aku ingin menikmati detik-detik rasa terkejutku, rasa terkejut yang menyenangkan.
Bye my diary. cup cup
***
hai pembacaku, ceritaku kali ini terinspirasi dari perjalananku dengan suami dan teman-teman ke sebuah cafe terpencil di daerah perbukitan sekitar bandung. letaknya tidak jauh dari rumah salah satu temanku. dan dia bercerita, sebelum menikah kegiatan sabtu paginya adalah berolah raga jalan pagi di daerah itu.
mudah-mudahan pembaca bisa turut merasakan senyum geliku ketika mengetik cerita di atas. :)
Tuesday, January 26, 2010
BERHENTI
LANGIT KELAM tanpa rembulan ataupun bintang, gigiku bergemeletuk. Dingin angin yang menusuk tulang memaksaku merapatkan jaket tua yang telah hilang warnanya. Pelan kubuka pagar depan, terdengar decit besi dari putaran engsel yang lama tak bermandikan pelumas. Aku pulang. Tepat ketika tiang listrik bertalu sebelas kali dipukul oleh para petugas ronda malam. Ah, lelah, penat, segala rasa bercampur di pundakku, namun itu semua kan luntur begitu melihat senyum manis istriku.
Bergegas aku masuk, ingin ku bersegera menemuai belahan jiwa- alasan ku hidup. Mencium lembut keningnya, memeluk pinggang rampingnya seraya membenamkan kepalaku kedalam ikal rambut hitamnya yang selalu harum dengan wangi shampoo. Tapi ternyata kudapati engkau tertidur di sofa, dengan TV yang terus menyala menyiarkan program tak bermutu. Ah, hatiku bergetar memandangi wajahmu yang terlelap. Polos. Baru kusadari, sekian lama kujalani biduk pernikahan denganmu, jarang aku memperhatikan wajahmu ketika tidur pulas. Segala sesuatu berjalan begitu cepat diantara kita. Kesibukan dan tuntutan performa kerja yang sempurna menggilas momen-momen bersama kita. Setiap pagi selalu terburu-buru berangkat kerja. Harus cepat. Kemacetan Jakarta begitu memuakkan. Dan malam hari pun sering terpaksa lembur. Nah, momen ini.. momen dimana aku bisa memandangimu tanpa harus terburu-buru.. Rasanya indah sekali. Ingin kuhentikan waktu, agar aku dapat mengagumimu lebih lama lagi, menyesap esensi dirimu semuanya kedalam hatiku. Kamu milikku. Manis. Cantik. Lembut. Pipimu halus tanpa jerawat, matamu lentik dibingkai oleh alis dan bulu mata hitam tebal yang indah. Aku mencintaimu, istriku. Sungguh!
Belaianku membangunkanmu, dan kamu tersenyum. Mengucapkan salam seraya memeluk dan mencium pipiku. Lalu bergegas menuju ke dapur menyiapkan secangkir teh hangat untukku. Tunggu, tunggu sayang. Kali ini, aku tak butuh teh hangat itu, aku hanya butuh pelukan hangatmu. Itu saja. Itu cukup buatku. Buat menenangkan kepalaku yang lelah berkejaran dengan kertas dan negosiasi.
Beberapa biskuit rasa coklat menjadi teman secangkir teh hangat seduhan tanganmu. Engkau menyodorkannya diatas meja, lalu melepas kaos kakiku serta memijat lembut telapak kakiku. Ah, rasanya nikmat. Penatku hilang. Terus sayang, pijat terus kakiku. Lelah sekali tadi menekan pedal kopling mobil. Kuusap lembut rambutmu dan engkau pun membalasnya dengan senyum. Eh, senyum itu.. senyummu itu.. Kenapa aku menangkap ada yang beda dari senyum dan sorot bola matamu? Senyummu sungguh tak tentu. Tawamu terasa palsu. Malam ini ada yang lain darimu, ah bukan hanya malam ini, smeinggu terakhir kamu sungguh berbeda. Terasa rapuh. Iya, kamu tersenyum, namun tidak semanis biasanya. Iya, kamu memelukku, namun tidak seerat malam sebelumnya. Iya kamu menciumku, namun tidak sehangat biasanya.
Aku gelisah, ada yang beda darimu. Tapi aku tak tahu. Apakah engkau marah setelah sebulan penuh ini aku selalu pulang larut? Apakah kamu kecewa karena aku tak pernah menanyakan kabarmu? Oh, istriku.. aku bekerja keras untukmu. Hanya untukmu. Selera pakaianmu diatas rata-rata, koleksi sepatumu itu setara dengan 3x UMR buruh tiap bulannya, pipi mulusmu itu hasil suntikan rutin vitamin C dari dermatoligist terkenal, dan segala hal lainnya. Kamu itu mahal sayang. High maintenance. Tapi aku tak mengeluh. Tidak ada yang terlalu mahal untuk sebentuk perasaan bernama cinta. Dan aku mencintaimu Ya, memang betul dengan gila kerja maka aku cepat mendapatkan promosi untuk jabatan strategis di kantor. Suatu kepuasan dan pencapaian tertentu untuk eksistensi karir. Tapi istriku, semua pencapaianku itu untukmu. Sungguh, hanya untukkmu.
***
Keringat dingin mengalir dari dahi, membangunkanku dari istirahat yang baru dua jam saja aku rengkuh. Kamu, tidur memunggungiku. Istriku, kenapa? Ada apa? Ku balikkan tubuhmu, dan engkau hanya menggeliat saja sambil tersenyum simpul dalam lelapmu. Entah apa yang ada di alam mimpimu. Apakah aku? Kugenggam erat jemarimu, mencoba membaca isi hatimu. Tapi semuanya terasa kelabu. Aku tak mampu lagi melanjutkan tidur. Firasatku berkata ada yang tak beres dengan kamu. Apakah itu? Apa yang kamu sembunyikan istriku? Apa?
Aku dikejutkan oleh dering halus tanda masuknya pesan singkat dari ponselmu. Hemm, ponselmu selalu mati tiap kali engkau berangkat tidur. Namun, kenapa malam ini tidak? Mungkinkah engkau lupa? Siapa pula gerangan dini hari begini mengirimimu pesan singkat? Seperti tidak ada kerjaan saja. Kubuka layarnya, tidak ada nama pengirim di kolom Sender, hanya barisan angka saja.
Sender: +62813*******2Message: Pagi pacarku, how was your sleep? Muaawh! Peluk mesra.
Deg! Duniaku sepertinya berhenti berputar.
(Eka Situmorang-Sir)
Monday, January 25, 2010
Suspicious Eyes
Sudah tiga hari ini aku merasa matamu selalu mengamatiku penuh rasa curiga.
...
Topic ended : 6 Januari 2010 (11:38 pm)