Pages

Showing posts with label Kelingking Skunyos. Show all posts
Showing posts with label Kelingking Skunyos. Show all posts

Tuesday, February 23, 2010

Bermain Dengan Waktu

Suara – suara sumbang itu terus berdengung. Persis seperti dengungan nyamuk di telinga menjelang tidur. Menganggu dan menyebalkan! Mulai dari mengingatkan untuk makan, mandi, membaca hingga nonton TV. Mulai dari nada lembut, kesal, marah, hingga akhirnya datar tak bernada. Kenapa semua orang tiba-tiba begitu memperhatikanku? Begitu peduli? Begitu repot? Apa karena sudah lima hari aku tak membiarkan busa sabun yang wangi itu mengelus kulitku? Atau karena belum sesuap nasi pun melewati tenggorakan ini? Ah, apa karena masai rambut yang belum bercanda dengan sisir? Entah. Hanya mereka yang tahu jawabannya. Karena bagaimana pun mereka bicara, rasanya aku enggan angkat suara. Aku hanya ingin menikmati sebuah benda bulat tak berujung dalam genggaman. Liontin. Liontin emas putih dengan sebongkah batu berkilau diatasnya. Namun kilau itu tidak indah. Kilau itu menyakitkan. Sungguh!

Tuesday, February 16, 2010

Tak Ada Judul

Disclaimer: Cerpen ini adalah pengembangan dari cerita sebelumnya yang pernah saya post dua minggu lalu. Ternyata bisa nyambung dengan rangkain cerpen yang sedang saya garap. Dua paragraf pertama akan terasa familiar namun setelah itu dijamin penasaran :D (sok PD hehehe) Semoga tidak bosan ya. Durasinya lumayan panjang. Butuh waktu untuk mencerna dan membacanya ;)



UDARA DINGIN menyeruak ke dalam ruangan tidur kami. Ruang tidur yang berperan ganda sebagai peraduan dan saksi bisu. Ruang ini adalah kawan gelak tawa saat gurau suami terlontar meredakan rajukku. Ruang ini merupakan saksi derai airmata, saat keinginan dan kenyataan tak berjalan seiringan. Ruangan ini jugalah yang meredam lenguh cumbu mesra sepasang anak manusia - catat: sudah halal!


Seiring hawa sejuk yang merasuk tulang, kupandangi wajah belahan jiwa yang terlelap dalam manis buaian mimpi. Semakin kupandangi, perlahan semakin aku mengakrabi perasaan yang dulu pernah ada. Rasa itu lamat-lamat muncul. Rasa sayang yang membuatku sukarela membatalkan rencana kuliah ke negeri Kangguru agar bisa menikah dengannya. Perasaan kasih yang membuatku yakin (tanpa rasa menyesal sedikitpun) untuk berhenti bekerja agar bisa sepenuhnya mengurus rumah tangga. Dulu, dulu semuanya terasa indah. Namun sekarang..., entah apa yang terjadi, sepertinya kami semakin menjauh. Walau raga ini bernaung disatu atap, walau tubuh ini berbagi ranjang yang sama, namun ada jarak yang membentang, hatiku (ataukah hatinya?) mulai beranjak pergi.


Ku raba dadaku dan airmataku meleleh. Ditengah semua rasa ketidakpuasaan pun kesepian ini, kutahu rasa itu... (rasa yang dulu membuatku berkata ya pada lamarannya) masih tergores dalam loh hati ini. Meski telah tertutup oleh minimnya waktu untuk bersama, oleh kurangnya romantisme dan kata-kata cinta, oleh asa dan realita yang tak mampu berkawan, namun yang pasti, aku masih mencintainya. Sungguh!


Bola mataku tertuju ke jam meja di sisi tempat tidur, manakala beker futuristik hadiah kuis di TV itu melakukan tugasnya dengan baik: berdering nyaring. Tanda buatku memulai aktifitas. Ku alihkan pandang. Kudapati sang pangeran membuka matanya pelan, kemudian tersenyum lembut melihatku. Ah, perasaan ini lembut, selembut sutera. Sempat kutangkap perasaan tak tentu dari sorot matanya, seperti rasa galau juga marah dan kecewa. Tapi senyum lembutnya itu mengaburkan gulana dari paras wajahnya.


Tegap dan pasti, Ia beranjak menuju sudut ruangan. Dengan tangan kokohnya menyambar kayu coklat berbentuk aduhai. Elok lekuk tubuhnya. Sementara jenjang lehernya dihiasi enam utas tali yang terlihat rapuh namun memiliki kekuatan luar biasa. Baru kemudian aku tahu tali itu mempunyai merek! d’addario. Dipangkunya sang gitar Spanyol yang oleh pembuatnya diberi nama: Prudencio Saez. Kemudian perlahan ia mengecup keningku dan berbisik lembut, “Kita awali hari ini dengan doa, kali ini kamu pilih lagu pujiannya”.

Aku mengganguk seiring kabut rasa tertolak dan keengganan yang melesak cepat dari hati. Begitu banyak pertanyaan yang berputar dikepala. Membuat pening dan mengaduk-aduk emosi jiwa. Masih layakkah aku untuk berdoa? Masih maukah Tuhan memberikan wajah kudusNya guna memandangku? Masihkah? Derai airmata membasahi pipi. Astaga, maukah Tuhan mendengar seru dari bibir yang telah melumat lidah pria yang bukan suaminya? Tidakkah Tuhan memandang rendah istri yang menyerahkan diri dibelai, dijilati dan disetubuhi kekasih gelapnya? Arrrrrgh! Rasa bersalah itu kian merajalela. Sesak, sesak sekali! Dadaku sesak sekali!! Terus memburu nurani, mencengkeramnya kuat, persis seperti kucing menerkam tikus buruannya. Katakan padaku, masih layakkah aku? Aku tak pantas ada disini, di pelataran Rumah Doa Tuhan. Aku ini kotor! Menjijikkan. Binal. J.A.L.A.N.G. Ya.. silahkan caci aku, boleh kalian memakiku. Perempuan NAKAL yang berselingkuh. Katakan saja sekeras-kerasnya! Jangan hanya bicara diam-diam dalam hati. Bilang! Bilang sekeras-kerasnya!! Oh For God sake! Hakimi aku, hukum aku, jangan hanya diam! Namun semua jeritanku itu tak terdengar, tersangkut di pangkal tenggorokan bersama bulir-bulir air yang menetes.

Ku lihat suamiku tekun berdoa sambil terus memetik dawai gitarnya. Cepat kuhapus airmataku. Tak boleh ia melihatku menangis. Nanti bisa curiga. Untuk sekian waktu aku hanya diam tanpa tahu harus bagaimana, kecuali memandangi wajah khusuknya. Sekejab ia mengangkat wajah dan tiba-tiba tanganku diambilnya. Dan dimatanya kulihat duka. Seperti rasa perih, namun terbalut kasih? Ah, entahlan. Hatiku bergetar. Aku takut. Rasa bersalah ini begitu mendera.

Beberapa tarikan nafas diambilnya lalu pelan kudengar ia berkata,” Aku tahu semuanya.” Pendek kata-katanya, begitu tenang ia bicara namun kata-kata yang pendek itu menghujam jantungku. Dihelanya lagi nafas panjang sebelum ia melanjutkan lagi, “Aku tahu tentang dia.” Bibirku terbuka, kaget tak terkira. Sepertinya... Ah, mungkinkah akhirnya ia telah tahu? Apa yang harus aku katakan padanya? Tidak, tidak, seharusnya ia tidak tahu. Cepat aku menguasai keadaan. Dalam situasi seperti ini aku harus tenang.

“A.. a.. apa maksudmu?” tanyaku. Berusaha menyembunyikan gulana sementara otak ini berpikir keras akan jawaban apa yang harus disediakan. Semoga suamiku tak menangkap getar kebohongan yang merambat dari suara ini. Namun kulihat matanya.. Ah lagi-lagi matanya berselimut duka.

“Ka.. kamu.... mengkianati.... cinta.... kita” ucapnya terpatah-patah dengan mata berkaca-kaca. Walau begitu, tajam ekor matanya menyiksaku. Aku meneguk air liur, dapat kurasakan dadaku berdebar lebih cepat dari biasanya. Telapak tanganku dingin. Sangat dingin.

“Kamu mengingkari janji setia kita di depan Allah, di depan jemaat, di depan keluarga,” tandasnya lagi. Tangannya meremas jemariku. Ku tahu sudut mataku mulai panas. Teringat janji yang kuucapkan di Altar 5 tahun lalu. Kala itu aku bersumpah setia! Hingga maut saja yang memisahkan. Tapi lihat aku, lihat aku sekarang. Ditinggal kesibukan sebentar saja, aku telah berpaling. Rasa bersalah itu kembali datang. Namun, ku keraskan hatiku. Aku tak boleh menangis! Tidak di depan dia!! Aku harus mengelak. Aku harus menyangkal.

“Kamu memberikan tubuhmu yang telah menjadi satu daging dengan tubuhku, kepada orang lain,” ucapnya lagi. Dapat kudengar rasa pahit dalam nada suaranya. Aku menunduk. Tak mampu melihat wajahnya. Dalam diam, makin kukeraskan hati ini. Walau dadaku mulai perih seperti ditusuk ribuan jarum rasa bersalah teringat janji di depan altar! Suci hanya untuk suami!

“Hatiku hancur. Kamu menginjak-injak harga diriku..,” ujarnya lirih. Helaan nafasnya telah bercampur dengan ingus dan air mata. Senyap sejenak.

“Tapi....,” katanya lagi... Aku menunggu ia menyelesaikan kata-katanya.. namun sebelum ia melanjutkan kalimatnya, suamiku menghela nafas panjang. Inhale.. exhale.. Pelan, pelan sekali... Menghirup oksigen kedalam paru-parunya sebanyak mungkin.. Makin kukeraskan hatiku. Aku harus menyangkal. Walau ketika melihat wajahnya saat ini, dapat kurasakan sakitnya. Ah, hatiku pun terasa sakit melihat perih jiwanya. Ditengah bimbang hatiku antara rasa bersalah dan segala tipu daya penyangkalan yang akan kuberikan, kuberanikan diri mengangkat wajah dan melihatnya.... dan mata kami beradu... Ah, mata itu... mata pria yang kucintai itu... Mata pria yang menemani hari-hariku selama ini, mata yang memancarkan cinta. Sementara mataku memancarkan dusta. Kelopak ini makin panas.. aku bingung.. harus bagaimana.. aku sadar aku menyakitinya... Tapi.. tapi.. jika aku mengakui segalanya.. tentulah ia akan murka. Tapi mata itu.. mata suami yang kucintai itu... Mata itu tidak menghakimi, hanya memandang penuh arti. Dan mata itu selaras dengan bibirnya lirih berkata,

“Aku memaafkanmu.” Lalu aku dipeluk. Erat.

Dan pecahlah hatiku. Meledaklah tangisku! Luluh lantak semua kekerasan hati. Aku meraung, deras air mata membanjiri pipi. Aaaah... Aku bersiap untuk segala kalimat menyalahkan untuk terucap dari bibirnya. Aku memang salah, seharusnya aku ini dicaci, dimaki, bahkan kalau perlu dirajam! Tapi kau dengar? Kau dengar itu? Aku... aku.. d.i.m.a.a.f.k.a.n.

Tak percaya ia kan berkata begitu. Pelukannya tulus, hangat nafasnya ditengkukku penuh kasih. Kubalas rentangan tangan suamiku, kuciumi pipinya, ciumku bercampur dengan rasa asin yang bergulung. Dan aku terus menangis hingga airmataku habis. Tanpa mampu berkata-kata.

***

Fajar menjelang di ufuk timur. Dan aku disini. Menikmati denting indah dawai gitarmu dalam peluk hangat cintamu.

Tuesday, February 9, 2010

Pelangi Rasa

Jemariku gemetar membaca barisan aksara yang muncul di ponselmu. SMS mesra pada jam 3 dini hari! Kutenangkan jiwaku, kudinginkan kepala yang mulai panas dengan amarah. Tak ada nama, hanya barisan angka, berarti nomor ini tak tersimpan dalam memori ponselmu. Perasaan tenang merayapi hati, mungkin SMS mesra ini cuma nyasar saja.

Hati-hati ku letakkan ponsel istriku itu pada tempatnya. Memang, kami sudah menikah namun privacy masing-masing kan harus tetap ada dan dijaga. Ku pejamkan mata, mencoba untuk kembali tidur. Namun tak bisa. Aku gelisah. Tak bisa kupungkiri, aku

Tuesday, February 2, 2010

Denting Indah Dawai Gitarmu

Udara dingin menyeruak ke dalam ruangan tidur kami. Ruang tidur yangberperan ganda sebagai peraduan dan saksi bisu. Ruang ini adalah kawan gelak tawa saat gurau suami terlontar meredakan rajukku. Ruang ini merupakan saksi derai airmata, saat keinginan dan kenyataan tak berjalan seiringan. Ruangan ini jugalah yang meredam lenguh cumbu mesra sepasang anak manusia - catat: sudah halal !


Seiring hawa sejuk yang merasuk tulang, kupandangi wajah belahan jiwa yang terlelap dalam manis buaian mimpi. Semakin kupandangi semakin aku mengakrabi perasaan ini lebih dalam: aku mencintainya. Bola mataku tertuju ke jam meja di sisi tempat tidur, manakala beker futuristik hadiah kuis di TV itu melakukan tugasnya dengan baik: berdering nyaring. Tanda buatku memulai aktifitas. Ku alihkan pandang. Kudapati sang pangeran membuka matanya pelan, kemudian tersenyum lembut melihatku. Aaah perasaan ini manis, semanis madu. Ia beranjak pasti menuju sudut ruangan. Dengan tangan kokohnya menyambar kayu coklat berbentuk aduhai. Elok lekuk tubuhnya. Sementara jenjang lehernya dihiasi enam utas tali yang terlihat rapuh namun memiliki kekuatan luar biasa. Baru kemudian aku tahu tali itu mempunyai merek ! d’addario.

Dipangkunya sang gitar Spanyol yang oleh pembuatnya diberi nama: Prudencio Saez. Kemudian perlahan ia mengecup keningku dan berbisik lembut, “Kita awali hari ini dengan doa, kali ini kamu pilih lagu pujiannya”

Aku mengganguk dan bersyukur. Fajar menjelang di ufuk timur. Dan aku disini. Menikmati denting indah dawai gitarmu dalam peluk hangat cintamu.

Tuesday, January 26, 2010

BERHENTI

LANGIT KELAM tanpa rembulan ataupun bintang, gigiku bergemeletuk. Dingin angin yang menusuk tulang memaksaku merapatkan jaket tua yang telah hilang warnanya. Pelan kubuka pagar depan, terdengar decit besi dari putaran engsel yang lama tak bermandikan pelumas. Aku pulang. Tepat ketika tiang listrik bertalu sebelas kali dipukul oleh para petugas ronda malam. Ah, lelah, penat, segala rasa bercampur di pundakku, namun itu semua kan luntur begitu melihat senyum manis istriku.

Bergegas aku masuk, ingin ku bersegera menemuai belahan jiwa- alasan ku hidup. Mencium lembut keningnya, memeluk pinggang rampingnya seraya membenamkan kepalaku kedalam ikal rambut hitamnya yang selalu harum dengan wangi shampoo. Tapi ternyata kudapati engkau tertidur di sofa, dengan TV yang terus menyala menyiarkan program tak bermutu. Ah, hatiku bergetar memandangi wajahmu yang terlelap. Polos. Baru kusadari, sekian lama kujalani biduk pernikahan denganmu, jarang aku memperhatikan wajahmu ketika tidur pulas. Segala sesuatu berjalan begitu cepat diantara kita. Kesibukan dan tuntutan performa kerja yang sempurna menggilas momen-momen bersama kita. Setiap pagi selalu terburu-buru berangkat kerja. Harus cepat. Kemacetan Jakarta begitu memuakkan. Dan malam hari pun sering terpaksa lembur. Nah, momen ini.. momen dimana aku bisa memandangimu tanpa harus terburu-buru.. Rasanya indah sekali. Ingin kuhentikan waktu, agar aku dapat mengagumimu lebih lama lagi, menyesap esensi dirimu semuanya kedalam hatiku. Kamu milikku. Manis. Cantik. Lembut. Pipimu halus tanpa jerawat, matamu lentik dibingkai oleh alis dan bulu mata hitam tebal yang indah. Aku mencintaimu, istriku. Sungguh!

Belaianku membangunkanmu, dan kamu tersenyum. Mengucapkan salam seraya memeluk dan mencium pipiku. Lalu bergegas menuju ke dapur menyiapkan secangkir teh hangat untukku. Tunggu, tunggu sayang. Kali ini, aku tak butuh teh hangat itu, aku hanya butuh pelukan hangatmu. Itu saja. Itu cukup buatku. Buat menenangkan kepalaku yang lelah berkejaran dengan kertas dan negosiasi.

Beberapa biskuit rasa coklat menjadi teman secangkir teh hangat seduhan tanganmu. Engkau menyodorkannya diatas meja, lalu melepas kaos kakiku serta memijat lembut telapak kakiku. Ah, rasanya nikmat. Penatku hilang. Terus sayang, pijat terus kakiku. Lelah sekali tadi menekan pedal kopling mobil. Kuusap lembut rambutmu dan engkau pun membalasnya dengan senyum. Eh, senyum itu.. senyummu itu.. Kenapa aku menangkap ada yang beda dari senyum dan sorot bola matamu? Senyummu sungguh tak tentu. Tawamu terasa palsu. Malam ini ada yang lain darimu, ah bukan hanya malam ini, smeinggu terakhir kamu sungguh berbeda. Terasa rapuh. Iya, kamu tersenyum, namun tidak semanis biasanya. Iya, kamu memelukku, namun tidak seerat malam sebelumnya. Iya kamu menciumku, namun tidak sehangat biasanya.

Aku gelisah, ada yang beda darimu. Tapi aku tak tahu. Apakah engkau marah setelah sebulan penuh ini aku selalu pulang larut? Apakah kamu kecewa karena aku tak pernah menanyakan kabarmu? Oh, istriku.. aku bekerja keras untukmu. Hanya untukmu. Selera pakaianmu diatas rata-rata, koleksi sepatumu itu setara dengan 3x UMR buruh tiap bulannya, pipi mulusmu itu hasil suntikan rutin vitamin C dari dermatoligist terkenal, dan segala hal lainnya. Kamu itu mahal sayang. High maintenance. Tapi aku tak mengeluh. Tidak ada yang terlalu mahal untuk sebentuk perasaan bernama cinta. Dan aku mencintaimu Ya, memang betul dengan gila kerja maka aku cepat mendapatkan promosi untuk jabatan strategis di kantor. Suatu kepuasan dan pencapaian tertentu untuk eksistensi karir. Tapi istriku, semua pencapaianku itu untukmu. Sungguh, hanya untukkmu.

***

Keringat dingin mengalir dari dahi, membangunkanku dari istirahat yang baru dua jam saja aku rengkuh. Kamu, tidur memunggungiku. Istriku, kenapa? Ada apa? Ku balikkan tubuhmu, dan engkau hanya menggeliat saja sambil tersenyum simpul dalam lelapmu. Entah apa yang ada di alam mimpimu. Apakah aku? Kugenggam erat jemarimu, mencoba membaca isi hatimu. Tapi semuanya terasa kelabu. Aku tak mampu lagi melanjutkan tidur. Firasatku berkata ada yang tak beres dengan kamu. Apakah itu? Apa yang kamu sembunyikan istriku? Apa?

Aku dikejutkan oleh dering halus tanda masuknya pesan singkat dari ponselmu. Hemm, ponselmu selalu mati tiap kali engkau berangkat tidur. Namun, kenapa malam ini tidak? Mungkinkah engkau lupa? Siapa pula gerangan dini hari begini mengirimimu pesan singkat? Seperti tidak ada kerjaan saja. Kubuka layarnya, tidak ada nama pengirim di kolom Sender, hanya barisan angka saja.

Sender: +62813*******2

Message: Pagi pacarku, how was your sleep? Muaawh! Peluk mesra.


Deg! Duniaku sepertinya berhenti berputar.

Mami Skunyos
(Eka Situmorang-Sir)

Tuesday, January 19, 2010

Kamu Dan Pertanyaanmu

TITIK PELUH menghias pias wajahmu. Disini, di pangkuanku, engkau terlelap tidur. Nyenyak seolah tanpa beban, padahal baru seminggu sebelumnya badai menghantam hidupmu, eh hidupku juga. Wajah ovalmu polos tanpa tersaput make-up, kamu nampak cantik, gadisku. Sangat cantik. Aku lebih suka kamu disaat seperti ini, tak ada dempul yang katamu berkhasiat menyembunyikan kantong mata, tak ada saputan mubazir serbuk halus berwarna merah di pipi, lha wong pipimu selalu bersemu malu-malu tiap kali ku goda, pun tak ada pemulas bibir senada warna buah saga. Untuk apa sih pemulas itu? Kalau sudah bersamaku, warna itu tentu luntur tergerus lumatanku, jadi lain kali tinggalkan saja gincu itu. Aku suka berlama-lama memandangimu saat seperti ini. Sudahkah kukatakan bahwa kamu cantik ketika tidur? Ketika tak ada make-up sama sekali? Ah ya, sudah kukatakan itu di awal paragraph ini. Maaf, sepertinya aku mulai pikun.

Tuesday, January 12, 2010

Pria Berseragam Loreng Itu Membunuhku

Setiap terang bulan bapak selalu duduk terpekur memandangi langit melalui beranda rumah. Malam ini pun tak terkecuali. Tak diindahkannya ajakku agar masuk ke dalam. Diusianya yang sekarang aku cemas paru – paru tuanya itu tak kuasa menahan dingin angin malam. Belum lagi rokok kretek yang selalu menjadi karibnya. Memperparah keadaan saja. Sekali ini pun jawabnya tak berubah saat ku pinta kembali beliau untuk pindah ke dalam.

“Jangan kau ganggu aku Duma,” hanya itu. Dan sesudah itu ia seolah tenggelam dalam kepulan asap kreteknya. Dunianya yang tak tersentuh. Bahkan oleh aku – anaknya. Esok harinya lakon bapak di depan beranda rumah itu ia tekuni lagi. Lakon yang telah ia jalani selama 2 tahun terakhir sepeninggalan omak. Tak dipedulikannya ladang kami, tak dihiraukannya pula kebun sawit kami. Kami anak-anaknya yang tak pandai berladang ini harus mengurus itu semua. Mulanya ku pikir paling lama 3 bulan saja bapak akan duduk diam seperti itu. Tapi... hingga sekarang bapak lebih memilih memandangi canda burung gereja di dahan daripada berbicara denganku. Sia – sia bapak tua datang dari Samosir untuk menghiburnya. Sia – sia namboru atau bahkan tulangku datang mangapuli. Tak ada satupun yang mampu menembus dunianya. Mata bapak tetap kosong. Sekosong jiwanya.

Bapak...

Walaupun kasat mata ia ada bersamaku namun entah dimana jiwanya. Hilang. Aku tak tahu. Yang dipikirkannya hanya omak dan boru siakangannya yang tak pulang – pulang. Ya, boru siakangannya. Lima tahun lalu kakakku itu pergi mengejar impian. Ke Jakarta katanya. Omak tak setuju tapi bapak mendukung. Hiburnya ke omak:

"Tak apa, disanapun ia tinggal dirumah amangborunya. Galaknya amangborunya itu. Pasti ia tak bisa macam-macam”.

Katanya kemudian pada kakakku:

“Baik – baik kau di Jakarta boruku. Biar kau buka jalan untuk adik-adikmu. Biar Sihar, Togar dan Duma kuliah di Jakarta pula nanti. Aku tak mau anakku hanya melihat ladang saja. Harus jadi orang besar kalian nanti”

Begitulah, kakak pergi ke Jakarta bersama dengan 1 kebun sawit kami sebagai bekalnya. Binar mata bapak penuh harap saat melepas kakak. Manusia boleh berencana tapi takdir berbicara lain. Angan bapak kandas tatkala setahun kemudian kakak bilang ia mau mangoli padahal belum tamat pula kuliahnya. Pahit. Tapi yang lebih membuat bapak dan omak murka hingga tak sepatah katapun keluar, tatkala melihat calon hela.nya itu. Melalui sinar matanya aku tau omak berang bahkan bapak sudah sedia parang. Tapi apa daya, pria pilihan kakak dikawal 8 orang bersenjata.

Kulihat bang Sihar dan Bang Togar pun sudah merah menahan amarah. Ah kakak... betapa beraninya kau bawa pulang pria berseragam. Tak ingatkah kau sumpah bapak dulu? Bahwa tak akan dibiarkannya keturunannya menikah dengan siapapun yang berseragam. Terlebih seragam loreng. Tak ingatkah kau kak, ompung kita dianiaya, dinjak-injak tentara hanya karena memberi minum laki-laki terluka dari kampung seberang. Hanya karena air, ompung dianggap anggota gerakan terlarang dari provinsi perbatasan hingga mati ditembak tanpa diadili dianggap layak baginya.

Kak, sakit hatiku melihat kesedihan bapak. Jiwanya habis digerogoti rasa bersalah memberikan ijin kakak ke ibu kota. Omak pun tak kuasa menahan pilu hingga ajal cepat menjemputnya. Itupun kau tak pulang, bahkan pusaranya pun belum sekalipun kau bersihkan. Pahit nian hati bapak. Sudah ditinggal borunya, ditinggal omak pula. Perih aku kak, manakala kulihat bapak. Sayup kudengar suara bapak bersenandung dari beranda:

Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani

Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani.


“Kak, pulanglah. Bapak masihol," kataku melalui telepon. Lirih dari seberang sana ia menjawab, "Aku tak bisa pulang. Pria berseragam loreng itu membunuhku dek, membunuh jiwaku.”


Aku diam untuk kemudian pecahlah tangisku.



Skunyos
(Eka Situmorang-Sir)


Glossary:
  • Bapak tua : Saudara laki –laki bapak yang lebih tua
  • Namboru : Saudaraperempuan bapak
  • Amangboru : suami darinamboru
  • Tulang : Saudara laki – lakiomak
  • Mangapuli : menghibur dukakarena ada yang meninggal
  • Boru siakangan : Anakperempuan pertama
  • Mangoli :menikah
  • Hela : menantu
  • Ai hodo boruku, borupanggoarani: Kamulah putirku, anak perempuan yang membawanamaku
  • Sai sahat dana dirohani:terkabullah apa yang kau cita - citakan
  • Masihol : rindu


Monday, January 4, 2010

Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu.

Tanganmu dingin meremas jemari ini. Sedingin salju yang menutupi pohon plum yang berbunga di awal Januari. Sedingin hawa kematian yang berhembus leluasa di kamar jenazah. Sedingin, ah sedingin jiwa kita. Tanpa perlu kata-kata, kita berdua tahu untuk apa kita bersua. Disini, dipinggir pantai dengan hamparan pasir putih engkau menggenggam ruas-ruas jariku kuat, seolah menyatakan keenganan untuk berpisah. Tak ada aksara. Apalagi belai manja. Hanya debur ombak bermain dengan camar saja. Ironis, di depan elok semburat jingga mentari, kita diam dalam pikiran dan luka yang menyayat rasa.

“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu tak bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku. Tak ayal kusenderkan kepalaku di pundak, mencari kehangatan. Ah bukan, tepatnya berusaha mencari perlindungan dari rasa gentar juga gelisah yang makin meraja.

“Mungkinkah ini waktu bagi kita tuk berpisah?” tanyamu tanpa berani menatapku. Dan aku diam tergugu, sebuah pertanyaan pahit dengan kadar kebenaran. Ada pedih didalam hatiku. Ada hati yang teriris-iris mendengar kata-katanya. Perih. Aku menutup telingaku, tak mau mendengarnya bicara lagi. Oh, duhai Lelaki.. Tolong... Tolonglah aku. Kumohon berhentilah bicara.

“Ku harap hidupmu bahagia dengan atau tanpaku,” bisikmu lirih ditelinga seraya menyibakkan ikal anak rambutku. Kata-katamu bagai pisau tajam yang merobek jantung. Ingin rasanya kutampar saja bibirmu namun kulihat dadamu turun naik. Susah payah berusaha menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga paru, tanda kau pun mulai tak mampu mengontrol rasa yang mengharu biru. Situasi yang sungguh aku benci; terluka oleh Lelakiku yang dengan topengnya berusaha kuat padahal sisi dalam hatinya mungkin sudah hancur berkeping-keping juga.

Lirih katamu tadi kusambut dengan titik air menggantung di sudut mata. Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Siapakah yang mampu berpisah denganmu wahai Lelaki. Engkau yang menghias malam-malamku dengan lelucon jenaka, yang menyapaku di pagi hari dengan pesan-pesan puitis nan romantis, yang menemani hari-hariku dengan segala rengekan manja juga polah merajuk yang gila. Lelaki lain mungkin sudah menyerah menghadapiku, namun kamu tidak. Kamu terus ada, sabar juga setia. Setia jadi tempatku berkeluh kesah, setia meyakinkanku bahwa rasa itu nyata dan terus bertumbuh. Dan sekarang? Setelah kita berdua sedemikian yakin akan rasa ini, realita menampar rasa. Menghempaskan mimpi kembali ke bumi.

Semenjak hari itu, semenjak sore kelabu itu, kulalui setiap detik waktu dengan sengsara menahan rindu, teringat belai kasihmu. Dengan tatapan kosong memandang kotak ajaib di ruang tamu padahal pikiran ini melayang jauh pada memori kencan-kencan rahasia kita. Dengan isak yang tertahan diujung kamar (hati-hati jangan sampai suami mendengar) terbayang kecup mesra bibirmu melumat bibirku. Dengan kuah sayur yang berlebih takaran asinnya karena terngiang semua kata-kata gombalmu. Rayuan (sampah) yang sesungguhnya mampu menggetarkan sukmaku. Dan hari-hariku pun kelabu. Tak ada warna disitu, karena tak ada kamu. Aku ini bagai mayat hidup yang berusaha menjalani hari. Yang tersisa hanya raga padahal jiwa dan roh sudah melayang meminta bersamamu jika bisa.

“Bagaimanakah aku bisa bahagia jika tak ada kau dalam hidupku?” suaraku tercekat menahan tangis di gagang telepon. Setelah sekian hari, mungkin tujuh, tak mampu lagi logika mengatur hati. Hati yang memerintah logika, jadi kutelepon dia. Namun senyap yang menyambut kata-kataku. Tak ada jawaban, hanya helaan nafas saja yang terdengar. Beberapa saat kemudian ada jawab dari seberang sana,“Temui aku ditempat biasa.”

Senja Merah

Dan begitu melihatmu di ujung senja pantai kesayangan kita, aku menghambur dalam peluk kekar tanganmu. Tangisku pecah. Ah, sedemikian aku rindu pada Lelakiku, pada suara bariton khasmu yang selalu mampu menenangkanku, pada wangi jantan yang membuatku merasa aman. Dan kamu pun mengangkatku hingga sejajar dagu, lalu bibir ini bersatu. Berpagutan liar seolah lama tak bersua padahal hitungannya tak lepas seminggu saja. Meluapkan emosi tertahan yang menyiksa. Liar, panas, ganas. Senja elok itu ditutup dengan dengan gumulan tubuh yang berpeluh. Berdua nafas kita tersengal riuh.

Bukan kali pertama kita berusaha berpisah, karena kata orang cinta kita ini cinta terlarang. Entah siapa yang membuat aturan bahwa ini cinta terlarang, cinta halal atau haram. Aku benci aturan itu! Aturan konyol yang memaksa memadamkan cerita kasih ini. Namun entah mengapa, setiap kali mengambil keputusan untuk menyudahi roman cinta, setiap kali pula gagal. Paling lama tak bersua dari ahad ketemu ahad saja saja, namun rindu yang menggedor jiwa lebih keras dari keputusan untuk berpisah. Ah, sepertinya cinta sialan yang terlarang ini begitu kuat, mencengkeram erat bagai maut mengintai daging sekerat. Persetan dengan terlarang, ke laut saja itu norma. Kau adalah dosa terindah yang pernah kubuat dan jika ku harus dirajam karenanya... Biar, biarlah itu adanya. Kau. Aku. Kita. Teronggok mesra di ujung senja merah itu, bergemuruh, berusaha mencurangi takdir dan waktu. Entah sampai kapan mampu begitu......