Pages

Thursday, February 4, 2010

liontin itu

Tawa berderai dari empat orang perempuan terdengar nyaring dari sebuah gerai jual beli emas di Pasar Atom siang hari itu. Aku dan tiga sahabat karibku sudah hampir sejam berada di gerai itu sesudah kami selesai santap siang bersama yang sudah menjadi kegiatan rutin kami setiap bulannya. Kali ini kami sepakat sesudah santap siang menuju ke Pasar Atom untuk mendatangi gerai perhiasan emas menemani Rena yang ingin menukarkan cincin emasnya dengan perhiasan yang lain.

Berderet toko emas menjajakan dagangan perhiasan beraneka bentuk dan rupa sekaligus juga menerima pertukaran jual beli perhiasan yang sudah tidak disukai oleh pemiliknya dan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru modelnya.
'Aku mau yang itu mas, liontin putih itu'. Aku menunjuk ke sebuah liontin berbentuk hati terawang dan dibalik terawangnya terlihat sebutir berlian terperangkap di dalam liontin berbentuk hati itu. Sungguh menawan hatiku sejak pertama aku melihat liontin hati itu.
'Iya ih mbak, bagus sekali iiontinnya, butir berliannya bisa bergerak bebas di dalam terawang berbentuk hati itu. Kalau mbak tidak ambil aku ambil aja ya, gimana?', Arin menimpali perkataanku kepada si penjual ketika aku meminta untuk mengambilkan liontin itu dari meja etalase.
'Mas coba ini dua cincinku berlian, ada suratnya, saya sudah bosan karena sudah beberapa kali kupakai di kondangan dan arisan, wah pasti teman-temanku sudah mengenal cincinku ini. Saya mau tukarkan dengan gelang saja'. Begitu kata Rena menerangkan alasan dia akan menjual dua cincin berliannya.
Si penjual dengan serius manggut-manggut dan berkata, 'Betul Bu Rena, ditukar saja dengan gelang model baru, ini baru kemarin datang, coba Bu saya ambilkan dari dalam karena masih belum saya display'. Dengan muka berseri-seri Rena mengiyakan perkataan si penjual perhiasan, sudah terbayang di benaknya, arisan besok akan dia gunakan gelang barunya itu.
Si penjual sudah mengenal Rena karena seringnya dia berbelanja maupun menukar perhiasannya di gerai miliknya.

Aku masih memegang liontin hati itu sambil mengaguminya bersama Arin. Indah betul berlian di dalam terawang hati itu, bisa bergerak bebas kesana kemari meski tetap terbatasi oleh sangkar indah berbentuk hati putih. Ya seperti menjadi simbol dari perempuan-perempuan yang memiliki kehidupan berada, tetapi tetap kebebasannya terbatasi oleh sangkar cantik bentukan suaminya.

Ketika itu nampak seorang Ibu setengah umur menghampiri gerai perhiasan tempat kami berada. Dengan setengah hati Ibu itu mengeluarkan dompet kecil dari dalam tas tangan coklat yang terlihat telah berumur lebih dari beberapa tahun. Terlihat penampilannya yang tidak segar, sedikit kusut dan kurus, tertumpuk persoalan hidup memberati pundaknya. Aku agak jengah, tidak sampai hati melihatnya.
Kemudian mbak penjual menghampiri dan menanyakan keperluannya.
'Mbak, saya mau menjual gelang ini. Ada dua mbak, bisa tolong ditimbang dulu ya?'.
Dengan cekatan si mbak penjual memperhatikan, meneliti modelnya dan menghampiri meja kasir dimana timbangan berada. Kemudian si mbak penjual kembali menghampiri Ibu itu dan mengatakan,
'Bu yang berukir ini beratnya lima koma enam gram, kalau yang polos ini delapan koma dua gram'.
Si Ibu termenung memandang kedua gelangnya, dipegangnya kedua gelang itu dengan masing-masing di satu telapak tangann dan ditimbang-timbangnya ke dua gelang itu sambil bergumam perlahan seperti mengatakan pada dirinya sendiri,
'Untuk uang sekolah anak-anak sudah cukup dengan gelang berukir ini, tapi bagaimana dengan makan bulan depan ini, sudah tinggal tiga hari lagi dan memasuki bulan baru, aku belum juga mendapatkan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan anak-anak dan diriku.
Yah, bantulah aku untuk mendapatkan pekerjaan, sudah berat rasanya aku menanggung semuanya sendiri sejak Ayah tinggalkan kami dan semakin berat karena aku belum juga mendapatkan pekerjaan.
Kamu tahu kan Yah, gelang polos ini adalah hadiah Ibuku pada saat pernikahan kita, aku tidak tega untuk menjualnya. Aku tidak ingin kehilangan perhiasan satu-satunya peninggalan Ibuku'.
Aku tercekat mendengar gumaman Ibu setengah baya itu,
'Ya Allah ibu itu telah ditinggalkan suaminya, belum mendapatkan pekerjaan dan untuk kebutuhannya dia terpaksa menjual perhiasan emasnya. Belum lagi dia masih harus berpikir untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya bulan depan ini. Dan di sini aku bersama teman-temanku dengan girangnya sedang bernegosiasi untuk menambah koleksi perhiasan emas kami.
Kepekaan seperti apa yang aku miliki?'

Segera aku melepaskan liontin hati itu dari genggamanku kemudian aku serahkan ke penjualnya untuk aku minta agar dia menyimpan kembali ke meja etalase.
Tidak tega aku menambah koleksi perhiasanku di saat bersamaan, di gerai yang sama aku menyaksikan seorang Ibu yang sama dengan diriku, juga seorang Ibu, tengah gundah mempertimbangkan menjual perhiasanannya untuk kebutuhan hidupnya.

Aku hanya bisa tersenyum memperhatikan ke tiga sahabat karibku yang masih saja tertawa-tawa, menertawakan diri mereka yang memiliki hasrat besar untuk menambah koleksi perhiasannya atau menukarkannya dengan model terbaru.

***
sahabat-sahabatku pembaca, di jaman susah seperti ini banyak kejadian seperti yang aku ceritakan di atas. Yuuuk mari meskipun kita berkecukupan tapi apa salahnya kita tidak menghamburkan untuk barang-barang yang hanya menjadi kebutuhan kuarter kita. yaaaa




Wednesday, February 3, 2010

Laki-Laki Itu Bernama Adjie

Laki-laki itu bernama Adjie. Pertama kali ku mengenalnya, di Airport Husein Sastranegara,Bandung, di sebuah kedai soto di hari pertamaku bekerja di sana. ‘Gerejanya dimana?’ tanyanya. Mungkin karena dia melihat kalung salib yang menggantung di leherku. Rasanya berbunga-bunga sekali,disapa laki2 bermata indah di tempat yang masih serba baru bagiku.

Dari situ awal perkenalanku dengannya, dan sejak itu mulailah kami melewati hari-hari bersama berdua. Banyak suka dan duka yang kita hadapi. Mulai dari penyesuaian karakater sampai dengan restu dari orang tua yang rasanya harus kita lewati dan perjuangkan. Tidak ada yang mudah,tapi bersama dengannya, membuatku kuat menghadapinya.

Tak semuanya berjalan mulus. Ada saja kerikil yang menghadangnya. Dari pertengkaran-pertengkaran kecil sampai pertengkaran=pertengkaran besar,yang rasanya membuat kami berdua merasa mungkin kami tidak dapat bersatu. Tetapi entah apa namanya,mungkin kekuatan cinta yang menyatukan kami. ( hehehehe,puitis gak sih, gak pa pa deh,buat cerpen ini ;))

Sampailah kami pada permulaan hidup berdua, yang resmi di mata Tuhan. Hari perkawinan kami. Seharusnya hari itu menjadi yang paling bahagia buat kami berdua, tetapi ada cobaan yang membuat hari itu menjadi tidak lengkap. Ibuku terbaring di rumah sakit! Terserang stroke pada malamnya,saat keluarga besarku sedang mengadakan makan malam bersama. Mungkin beliau terlalu lelah dan tegang mempersiapkan aku,putri pertamanya,memasuki hidup berkeluarga. Tetapi acara tetap berlangsung dengan baik,karena semua persiapan sudah terjadi dan semua saudara sudah berkumpul. Semua berjalan dengan lancer. Aku resmi menjadi seorang istri. Bahagia sudah pasti…

Hari-hari sesudah perkawinan pun,rasanya tidak mudah. Karena aku harus pindah ke Jakarta, satu minggu setelah kami menikah. Walaupun sedih,tapi kami mancoba melaluinya dengan bersyukur. Sehingga kami dapat melewatinya dengan lebih ringan dan gembira. Ada saat2 dimana aku membutuhkannya, tapi dia tidak ada di dekatku. Seperti saat di tengah malam, kandunganku yang berusia 6 bulan,mengalami pendarahan hebat,aku seorang diri di kamar kos2anku. Beruntunglah aku,bayak teman2 kos yang menolongku,mereka mebawaku ke rumah sakit. Saat dia datang dari Bandung,d an menemuiku di rumah sakit, tampak rasa lelah dan bersalah di matanya. Saat itu aku tau, walaupun jarang sekali ada kata2 romantis dari mulutnya, bahwa dia amat menyayangi aku dan bayi kami.

Tahun ini, adalah tahun ke 16,dari sejak kami bertemu, tapi rasa sayang itu tidak pernah berkurang, tatapan dan sentuhan yang aku dapat,masih sama seperti ketika pertama kali kami bertemu, malah terasa semakin dalam,karena kami lebih dapat memahami satu sama lain. Saat ini, ijinkan aku berkata, terimakasih karena sudah datang dan melengkapi hidupku. Walaupun masih jauh dari sempurna, aku tau bahwa hanya maut yang dapat memisahkan kami….

Tuesday, February 2, 2010

Denting Indah Dawai Gitarmu

Udara dingin menyeruak ke dalam ruangan tidur kami. Ruang tidur yangberperan ganda sebagai peraduan dan saksi bisu. Ruang ini adalah kawan gelak tawa saat gurau suami terlontar meredakan rajukku. Ruang ini merupakan saksi derai airmata, saat keinginan dan kenyataan tak berjalan seiringan. Ruangan ini jugalah yang meredam lenguh cumbu mesra sepasang anak manusia - catat: sudah halal !


Seiring hawa sejuk yang merasuk tulang, kupandangi wajah belahan jiwa yang terlelap dalam manis buaian mimpi. Semakin kupandangi semakin aku mengakrabi perasaan ini lebih dalam: aku mencintainya. Bola mataku tertuju ke jam meja di sisi tempat tidur, manakala beker futuristik hadiah kuis di TV itu melakukan tugasnya dengan baik: berdering nyaring. Tanda buatku memulai aktifitas. Ku alihkan pandang. Kudapati sang pangeran membuka matanya pelan, kemudian tersenyum lembut melihatku. Aaah perasaan ini manis, semanis madu. Ia beranjak pasti menuju sudut ruangan. Dengan tangan kokohnya menyambar kayu coklat berbentuk aduhai. Elok lekuk tubuhnya. Sementara jenjang lehernya dihiasi enam utas tali yang terlihat rapuh namun memiliki kekuatan luar biasa. Baru kemudian aku tahu tali itu mempunyai merek ! d’addario.

Dipangkunya sang gitar Spanyol yang oleh pembuatnya diberi nama: Prudencio Saez. Kemudian perlahan ia mengecup keningku dan berbisik lembut, “Kita awali hari ini dengan doa, kali ini kamu pilih lagu pujiannya”

Aku mengganguk dan bersyukur. Fajar menjelang di ufuk timur. Dan aku disini. Menikmati denting indah dawai gitarmu dalam peluk hangat cintamu.