Pages

Tuesday, January 26, 2010

BERHENTI

LANGIT KELAM tanpa rembulan ataupun bintang, gigiku bergemeletuk. Dingin angin yang menusuk tulang memaksaku merapatkan jaket tua yang telah hilang warnanya. Pelan kubuka pagar depan, terdengar decit besi dari putaran engsel yang lama tak bermandikan pelumas. Aku pulang. Tepat ketika tiang listrik bertalu sebelas kali dipukul oleh para petugas ronda malam. Ah, lelah, penat, segala rasa bercampur di pundakku, namun itu semua kan luntur begitu melihat senyum manis istriku.

Bergegas aku masuk, ingin ku bersegera menemuai belahan jiwa- alasan ku hidup. Mencium lembut keningnya, memeluk pinggang rampingnya seraya membenamkan kepalaku kedalam ikal rambut hitamnya yang selalu harum dengan wangi shampoo. Tapi ternyata kudapati engkau tertidur di sofa, dengan TV yang terus menyala menyiarkan program tak bermutu. Ah, hatiku bergetar memandangi wajahmu yang terlelap. Polos. Baru kusadari, sekian lama kujalani biduk pernikahan denganmu, jarang aku memperhatikan wajahmu ketika tidur pulas. Segala sesuatu berjalan begitu cepat diantara kita. Kesibukan dan tuntutan performa kerja yang sempurna menggilas momen-momen bersama kita. Setiap pagi selalu terburu-buru berangkat kerja. Harus cepat. Kemacetan Jakarta begitu memuakkan. Dan malam hari pun sering terpaksa lembur. Nah, momen ini.. momen dimana aku bisa memandangimu tanpa harus terburu-buru.. Rasanya indah sekali. Ingin kuhentikan waktu, agar aku dapat mengagumimu lebih lama lagi, menyesap esensi dirimu semuanya kedalam hatiku. Kamu milikku. Manis. Cantik. Lembut. Pipimu halus tanpa jerawat, matamu lentik dibingkai oleh alis dan bulu mata hitam tebal yang indah. Aku mencintaimu, istriku. Sungguh!

Belaianku membangunkanmu, dan kamu tersenyum. Mengucapkan salam seraya memeluk dan mencium pipiku. Lalu bergegas menuju ke dapur menyiapkan secangkir teh hangat untukku. Tunggu, tunggu sayang. Kali ini, aku tak butuh teh hangat itu, aku hanya butuh pelukan hangatmu. Itu saja. Itu cukup buatku. Buat menenangkan kepalaku yang lelah berkejaran dengan kertas dan negosiasi.

Beberapa biskuit rasa coklat menjadi teman secangkir teh hangat seduhan tanganmu. Engkau menyodorkannya diatas meja, lalu melepas kaos kakiku serta memijat lembut telapak kakiku. Ah, rasanya nikmat. Penatku hilang. Terus sayang, pijat terus kakiku. Lelah sekali tadi menekan pedal kopling mobil. Kuusap lembut rambutmu dan engkau pun membalasnya dengan senyum. Eh, senyum itu.. senyummu itu.. Kenapa aku menangkap ada yang beda dari senyum dan sorot bola matamu? Senyummu sungguh tak tentu. Tawamu terasa palsu. Malam ini ada yang lain darimu, ah bukan hanya malam ini, smeinggu terakhir kamu sungguh berbeda. Terasa rapuh. Iya, kamu tersenyum, namun tidak semanis biasanya. Iya, kamu memelukku, namun tidak seerat malam sebelumnya. Iya kamu menciumku, namun tidak sehangat biasanya.

Aku gelisah, ada yang beda darimu. Tapi aku tak tahu. Apakah engkau marah setelah sebulan penuh ini aku selalu pulang larut? Apakah kamu kecewa karena aku tak pernah menanyakan kabarmu? Oh, istriku.. aku bekerja keras untukmu. Hanya untukmu. Selera pakaianmu diatas rata-rata, koleksi sepatumu itu setara dengan 3x UMR buruh tiap bulannya, pipi mulusmu itu hasil suntikan rutin vitamin C dari dermatoligist terkenal, dan segala hal lainnya. Kamu itu mahal sayang. High maintenance. Tapi aku tak mengeluh. Tidak ada yang terlalu mahal untuk sebentuk perasaan bernama cinta. Dan aku mencintaimu Ya, memang betul dengan gila kerja maka aku cepat mendapatkan promosi untuk jabatan strategis di kantor. Suatu kepuasan dan pencapaian tertentu untuk eksistensi karir. Tapi istriku, semua pencapaianku itu untukmu. Sungguh, hanya untukkmu.

***

Keringat dingin mengalir dari dahi, membangunkanku dari istirahat yang baru dua jam saja aku rengkuh. Kamu, tidur memunggungiku. Istriku, kenapa? Ada apa? Ku balikkan tubuhmu, dan engkau hanya menggeliat saja sambil tersenyum simpul dalam lelapmu. Entah apa yang ada di alam mimpimu. Apakah aku? Kugenggam erat jemarimu, mencoba membaca isi hatimu. Tapi semuanya terasa kelabu. Aku tak mampu lagi melanjutkan tidur. Firasatku berkata ada yang tak beres dengan kamu. Apakah itu? Apa yang kamu sembunyikan istriku? Apa?

Aku dikejutkan oleh dering halus tanda masuknya pesan singkat dari ponselmu. Hemm, ponselmu selalu mati tiap kali engkau berangkat tidur. Namun, kenapa malam ini tidak? Mungkinkah engkau lupa? Siapa pula gerangan dini hari begini mengirimimu pesan singkat? Seperti tidak ada kerjaan saja. Kubuka layarnya, tidak ada nama pengirim di kolom Sender, hanya barisan angka saja.

Sender: +62813*******2

Message: Pagi pacarku, how was your sleep? Muaawh! Peluk mesra.


Deg! Duniaku sepertinya berhenti berputar.

Mami Skunyos
(Eka Situmorang-Sir)

12 comments:

Skunyos said...

Seri ketiga dari 2 cerpen terdahulu...
Dari persepsi orang yang lain lagi

.g. said...

Eka, seriously, buat NOVEL! Hehehe... dan please please please deh ah!

Indah said...

Suamii.. turut bersimpatii :'(

Bakal ada lanjutannya ngga, Kaa? Nangguuunngg, ahahahaha :p

Kenapa yaa awal baca cerpen ini kok gua mikirnya mo ceritain tentang kakek nenek? Hihihi :D

Milla Widia N said...

Skunyo pinter juga menulis yah hihi...

Lie said...

Wuihhhhh...Ekaaaa... ternyata sang suami cinta mati'nya kebentur karir...hiks...

eka wijayanti said...

Oh mami... Daku kembali mrinding-mrinding...

ami said...

duuh eka mami, terasa degnya itu disertai pias pucat dari si suami

Skunyos said...

@mbak G: thank u 4 d encouragement :) doain cepet longgar aja mbak.. skr duuuh lg puadet bgt orientasi...

@Indah: Jelas ada dunk Ndah ;) btw napa bisa jadi nenek dan kakek2 ya? :P hehehe

@mbak Milla: Skunyosnya kerasukan kata2 :P hahaha

@Lie: yep! Tipikal pasanga di kota metropolitan :P

@Eka Chan: weeeks kenapa merinding? kan gak ada sarunya? :p hahaha

@mbak Ami: bulan tak lagi merah jambu... pucat...

Winda said...

waaaah....kasiaaan bangeeet...
biasanya perempuan yang jadi korban...ini emang beda....
setuju sama G...bikin novelnyaaa!!!!!
and, yes, setuju dengan G lagi...eka, plis plis plis deh aaaah.....kentaaang (kena tanggung niiih)...
kamu tuh bisa aja ya bikin org udah ngarep yang 'iya-iya' trus abis itu ditinggalin gitu aja...huahahahaaa

Skunyos said...

@Winda: Maaaaaaaaap yaaaa, udh bikin kentang :P hehehe tunggu ajah lah minggu depan lanjutannya ;)

Irene said...

Ka...I wish I culd be that wife....kayaknya disayang banget ya..hehehe..tapi gak pake ada yg ngirimin message pagi2...

Skunyos said...

Hemmm mbak Irene udah baca 2 cerpen sebelumnya kan? Memang si suami keliatannya sayang banget sama istrinya...
tapi apa istrinya merasa disayangi dengan limpahan uang tersebut? ;)