Pages

Monday, January 4, 2010

Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu.

Tanganmu dingin meremas jemari ini. Sedingin salju yang menutupi pohon plum yang berbunga di awal Januari. Sedingin hawa kematian yang berhembus leluasa di kamar jenazah. Sedingin, ah sedingin jiwa kita. Tanpa perlu kata-kata, kita berdua tahu untuk apa kita bersua. Disini, dipinggir pantai dengan hamparan pasir putih engkau menggenggam ruas-ruas jariku kuat, seolah menyatakan keenganan untuk berpisah. Tak ada aksara. Apalagi belai manja. Hanya debur ombak bermain dengan camar saja. Ironis, di depan elok semburat jingga mentari, kita diam dalam pikiran dan luka yang menyayat rasa.

“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu tak bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku. Tak ayal kusenderkan kepalaku di pundak, mencari kehangatan. Ah bukan, tepatnya berusaha mencari perlindungan dari rasa gentar juga gelisah yang makin meraja.

“Mungkinkah ini waktu bagi kita tuk berpisah?” tanyamu tanpa berani menatapku. Dan aku diam tergugu, sebuah pertanyaan pahit dengan kadar kebenaran. Ada pedih didalam hatiku. Ada hati yang teriris-iris mendengar kata-katanya. Perih. Aku menutup telingaku, tak mau mendengarnya bicara lagi. Oh, duhai Lelaki.. Tolong... Tolonglah aku. Kumohon berhentilah bicara.

“Ku harap hidupmu bahagia dengan atau tanpaku,” bisikmu lirih ditelinga seraya menyibakkan ikal anak rambutku. Kata-katamu bagai pisau tajam yang merobek jantung. Ingin rasanya kutampar saja bibirmu namun kulihat dadamu turun naik. Susah payah berusaha menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga paru, tanda kau pun mulai tak mampu mengontrol rasa yang mengharu biru. Situasi yang sungguh aku benci; terluka oleh Lelakiku yang dengan topengnya berusaha kuat padahal sisi dalam hatinya mungkin sudah hancur berkeping-keping juga.

Lirih katamu tadi kusambut dengan titik air menggantung di sudut mata. Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Siapakah yang mampu berpisah denganmu wahai Lelaki. Engkau yang menghias malam-malamku dengan lelucon jenaka, yang menyapaku di pagi hari dengan pesan-pesan puitis nan romantis, yang menemani hari-hariku dengan segala rengekan manja juga polah merajuk yang gila. Lelaki lain mungkin sudah menyerah menghadapiku, namun kamu tidak. Kamu terus ada, sabar juga setia. Setia jadi tempatku berkeluh kesah, setia meyakinkanku bahwa rasa itu nyata dan terus bertumbuh. Dan sekarang? Setelah kita berdua sedemikian yakin akan rasa ini, realita menampar rasa. Menghempaskan mimpi kembali ke bumi.

Semenjak hari itu, semenjak sore kelabu itu, kulalui setiap detik waktu dengan sengsara menahan rindu, teringat belai kasihmu. Dengan tatapan kosong memandang kotak ajaib di ruang tamu padahal pikiran ini melayang jauh pada memori kencan-kencan rahasia kita. Dengan isak yang tertahan diujung kamar (hati-hati jangan sampai suami mendengar) terbayang kecup mesra bibirmu melumat bibirku. Dengan kuah sayur yang berlebih takaran asinnya karena terngiang semua kata-kata gombalmu. Rayuan (sampah) yang sesungguhnya mampu menggetarkan sukmaku. Dan hari-hariku pun kelabu. Tak ada warna disitu, karena tak ada kamu. Aku ini bagai mayat hidup yang berusaha menjalani hari. Yang tersisa hanya raga padahal jiwa dan roh sudah melayang meminta bersamamu jika bisa.

“Bagaimanakah aku bisa bahagia jika tak ada kau dalam hidupku?” suaraku tercekat menahan tangis di gagang telepon. Setelah sekian hari, mungkin tujuh, tak mampu lagi logika mengatur hati. Hati yang memerintah logika, jadi kutelepon dia. Namun senyap yang menyambut kata-kataku. Tak ada jawaban, hanya helaan nafas saja yang terdengar. Beberapa saat kemudian ada jawab dari seberang sana,“Temui aku ditempat biasa.”

Senja Merah

Dan begitu melihatmu di ujung senja pantai kesayangan kita, aku menghambur dalam peluk kekar tanganmu. Tangisku pecah. Ah, sedemikian aku rindu pada Lelakiku, pada suara bariton khasmu yang selalu mampu menenangkanku, pada wangi jantan yang membuatku merasa aman. Dan kamu pun mengangkatku hingga sejajar dagu, lalu bibir ini bersatu. Berpagutan liar seolah lama tak bersua padahal hitungannya tak lepas seminggu saja. Meluapkan emosi tertahan yang menyiksa. Liar, panas, ganas. Senja elok itu ditutup dengan dengan gumulan tubuh yang berpeluh. Berdua nafas kita tersengal riuh.

Bukan kali pertama kita berusaha berpisah, karena kata orang cinta kita ini cinta terlarang. Entah siapa yang membuat aturan bahwa ini cinta terlarang, cinta halal atau haram. Aku benci aturan itu! Aturan konyol yang memaksa memadamkan cerita kasih ini. Namun entah mengapa, setiap kali mengambil keputusan untuk menyudahi roman cinta, setiap kali pula gagal. Paling lama tak bersua dari ahad ketemu ahad saja saja, namun rindu yang menggedor jiwa lebih keras dari keputusan untuk berpisah. Ah, sepertinya cinta sialan yang terlarang ini begitu kuat, mencengkeram erat bagai maut mengintai daging sekerat. Persetan dengan terlarang, ke laut saja itu norma. Kau adalah dosa terindah yang pernah kubuat dan jika ku harus dirajam karenanya... Biar, biarlah itu adanya. Kau. Aku. Kita. Teronggok mesra di ujung senja merah itu, bergemuruh, berusaha mencurangi takdir dan waktu. Entah sampai kapan mampu begitu......

24 comments:

Skunyos said...

Cerpen pertama saya di women's talk....

Sebenernya agak kurang puas dengan cerpen ini soalnya masih bisa digali sisi emosinya....

Semoga berkenan yah :)

salam, Eka maminya Skunyos

Winda said...

horeee...kebagian komen kedua, setelah beberapa cerpen kebagian belakangan melulu...^^,
mbak eka...aku terhanyut tuh bacanya....hmmm....pemilihan kata-katanya juga bagus....^_^
tapi boleh aku kasih masukan sedikit? mudah-mudahan aku nggak salah, karena aku juga baru tau info ini beberapa saat yang lalu dari para penulis di Kompasiana.

“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu tak bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku.

'tak bergeming' artinya bukan diam tak bergerak, melainkan sebaliknya. salah kaprah ini memang sudah berlangsung lama. jadi kalau mbak eka maksudkan diam tak bergerak maka seharusnya ditulis :

“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku.
Kecuali kalau memang maksudnya bergerak juga, maka kalimat mbak eka sudah benar...

Please, correct me if I'm wrong...^_^

Skunyos said...

@mbak Winda:

Hoooooooooooooooo aku malah baru tahu soal ituh :)
oke2.. nanti saya coba cek lagi yah :)
thank u bgt inputnya mbak...

Pssst.. aku dipanggilnya EKA ajah ya..gak usah pake mbak (belagak muda :p hihihi)

G said...

OMG!!! Saya suka banget sama permainan kata-katanya!! Seductive gitu.. Ini cinta yang benar2 mengesampingkan logika, benar2 pakai insting sejati, dan memang masih banyak yg melakukan hal ini dimana-mana, ya kan? Jadi bertanya-tanya, apakah di dalam diri setiap kita selalu ada keinginan untuk melanggar rambu-rambu, justru untuk meraih apa yg secara koor diteriakan "jangan!" Hahaha.. dalam situasi tertentu ignorance is indeed a bliss.

Pokoknya saya suka susunan kata-kata dan kalimat di cerpen ini.

Thanks Eka :D

G said...

Betewe, pemilihan judulnya OK. See, saya bilang juga apa, 2 Eka ini memang manteps!

G said...

Teronggok mesra di ujung senja merah itu, bergemuruh, berusaha mencurangi takdir dan waktu. Entah sampai kapan mampu begitu......

Huhuhu... saya kok suka banget sama kalimat penutup kisah ini?

Indah said...

Ayy.. seperti biasaa.. karya dirimua selalu mantapss, Kaa ;)

Btw, baca ini.. ntah kenapa yang ada di pikiran gua cuman satu : apa yang akan terjadi sama mereka bertiga (satunya lagi si suami :p) kalo sang perempuan hamil anak si lelaki yaa?

Psstt, Kaa.. bisa kasih bocoran nggaa? :D

Skunyos said...

@mbak G:

weleeeh komennya diborong tiga hihihi. Thank u pujiannya ya mbak :) saya jadi tersapu-sapu :p hehehe.

Ohya soal keinginan melanggar rambu2 demi tercapainya suatu keinginan.. heem sepertinya itu ada naluri manusia. Inget dunk Hawa yang melanggar larangan makan buah pengetahuan.. tapi nekat dimakan juga kan? Abisnya sesuatu yg dilarang itu justru membangkitkan hasrat untuk dijalani, diraih. Semakin sulit semakin menarik bukan? ;)
Ah apapun yang haram itu kan memang pd dasarnya disenangi tubuh hehehe....

Skunyos said...

@Indah:

Hihihi kayaknya bisa jadi ide cerpen lanjutannya tuh hehehe :P sorry gak bisa ngasih tau deh hahahaha

rizky said...

nice post sayah suka baca postingan ini

ami said...

denger2 aturan dibuat untuk dilanggar. jadi pass bener dengan cerita ini :). wiih terhanyut ka, terasa gitu bagaimana rasanya pertemuan diam2 yang malahan semakin menggelorakan rasa, fiuuuhh

Skunyos said...

@Rizky: thank u yah udh suka :)

@mbak Ami: uhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuy jangan dipraktekin ya mbak hehehe kasian pak Mahendar :p

eka wijayanti said...

Puitis. Berdesiran membacanya. Maminya Skunyos pasti suka puisi cinta, romantika, dan bahaya.

Mbak Winda, pengamatan yang jeli! Kalau dari saya, kata "bersender" yang benar adalah "bersandar". Tapi tidak apa-apa kan, salah sedikit-sedikit itu asyik.

Winda said...

gapapa doong, namanya juga belajar...lagian kata ami diatas : denger2 aturan dibuat untuk dilanggar. hihihihi.....

Indah said...

Aahh.. friendss.. mumpung lagi ngebahas kata2, mau nanya donkss..

Kalo "acuh" itu artinya apaa?

Gua rasa yang bikin artinya jadi rancu itu karena suka dipakainya ngegandeng : acuh tak acuh.

Makasih sebelonnyaa :D

eka wijayanti said...

Kesini, Indah...

Lie said...

Ekaaaaa....aku menikmati banget lho bacanya....
'cinta gila'...hahahahhaha...

itempoeti said...

mau nanya...
kalau "men's talk" itu sebelah mana yaaa???

Lie said...

oh iya...Ka...label kamu kurang cerpennya tuh...hihihi..pantesan koq agak aneh, liat label cerpen cuma lima...

emmanuellykeisa said...

Eka...bagus cerpennya. Sempat ikut hanyut sama si cinta terlarang :-)

Beneran dilanjutin ya buat edisi selanjutnya, penasaran sama yang dilarang :D

Lina said...

pemilihan katanya keren. emosinya udah dapat kok, buktinya saya kebawa. hehe...

Skunyos said...

@mbak Lie: tersapu2 :) ma kasih ya mbak, siaaap nanti label cerpennya aku tambahin

@Eka W
Aiiih kamu pengamat yang baik yah ;) I loveeeee dangerous hehehe

@Winda
Belajar dari kesalahan ;) tentunya bikin kita jadi lebih baik lagi. Thank uuuu yah buat input2nya ;)

@Indah: tuuuh udh dijawab Eka Sari hehehe, thank u ya Eka San ;)

@pak Mahendra: bapak ajah yang bikin blog soal cowok2 bicara :P

@keisa: semoga minggu depan udh jadi lagi hehehe

@lina: whoaaaaaaaaaaaaa kamu ada disini jugah hehehe

Ik@ MM said...

NUMPANG berkata ya.....o-O

aku menangis.... pilu...
cerita lanjutan setelah senja merah itu mana ?

Skunyos said...

@Ika MM:

sambungannya ada :) Judulnya Kamu dan Pertanyaanmu :)