Pages

Saturday, January 9, 2010

kepergianmu

semua masih terukir rapi disini...di dalam hati dan sanubari ini...kala pertama kita bertemu, kala pertama kita jatuh cinta, kala pertama semua terjadi...semuanya masih begitu jelas terekam diingatan ini...tatapanmu...senyummu...belaianmu...pelukanmu...kehangatanmu...semuanya...
rasanya baru kemarin...kita merenda kasih, bersama kita merajut mimpi, mimpi yang begitu indah...hingga ku tak ingin terbangun lagi...


malam ini...dari teras kamar tidurku...kupandangi malam yang semakin larut...langit mendung tak berbintang, bulan menyembunyikan wajahnya dibalik awan...tak kulihat ada cahaya disana...ataukah mata ini yang tak mampu menangkap kilauannya? entahlah...kurasa langitpun ikut berbelasungkawa...atas dukaku...atas lukaku...mengenang dirimu...

adaikan saja kau ada disini...mungkin air mata ini tak akan menetes membasahi pipi ini, kar'na kutau...kau tak suka melihatku menangis...
apakah kau tau??? seharusnya aku bahagia...kar'na mimpi yang kita rajut bersama akan menjadi nyata...gaun putih yang kau pilihkan...tergantung rapi didalam lemari kamar ini...tak pernah kusentuh lagi sejak terakhir kau melihatku mencoba'nya...dan besok...gaun ini akan melekat erat ditubuhku menjadi saksi bisu pernikahanku...hari yang begitu kunantikan dulu...impian kita berdua...


kudengar derit pintu kamarku berbunyi...ada seseorang yang datang, melangkah pelan menuju teras kamarku...tanpa menoleh pun aku tau siapa yang masuk...
"Dian...sudahlah..."
"Mam..." tak kuasa aku berkata-kata... aku tau mami begitu mengerti mengapa aku begini...mami begitu paham mengapa air mata ini masih saja menetes membasahi pipiku...mami tau betul mengapa belum juga kering air mata ini...
"relakan dia pergi nak...bangun kembali hidupmu..." kata mami lembut seraya membelai pelan perutku "demi bayi dalam kandunganmu..."
"kenapa dia pergi mam? kenapa dia tak menunggu anak kami lahir?"
"Itulah takdir Dian...kita boleh berencana...tapi yang menentukan semuanya bukan kita..." kata mami lagi...
"Bangun kembali hidupmu nak...raih kebahagiaanmu...bersiaplah untuk besok, jangan biarkan mata sembabmu merusak riasanmu besok" kata mami sambil menyeka airmataku...
"Adiyanto pria yang baik...mami dan papi tau betul keluarganya" kata mami lagi...
"Tapi mam...Dian tdk mencintainya..." aku masih terisak...menahan pedihnya rasa ini...menambah sesaknya dada ini...bagai terhimpit...perih...


Besok...sabtu kedua diawal tahun ini...mami dan papi sudah menyiapkan pesta pernikahan untukku...pesta yang disiapkan untuk pernikahan kita...hanya saja...kenapa Tuhan??? kenapa bukan kau yang akan berdiri di pelaminan besok?
tadinya...semuanya berjalan nyaris sempurna...semua merestui rencana pernikahan kita...tapi... kenapa Tuhan begitu cepat mengambilmu dari sisiku? kecerobohan supir truk sial itu...yang entah ngantuk atau memang gila ngebut, menyerempet mobilmu...dalam perjalanan menuju rumahku...
memaksamu terbujur kaku dalam perjalanan kerumah sakit...merenggutmu dari sisiku...membawa serta semua mimpi yang kita rajut bersama...meluluhlantakkan semua kebahagiaan yang sudah didepan mata...menyiksaku lewati hari-hari penuh kesesakan dan airmata...meninggalkan benih yang tiada dosa ini yang akan lahir tanpa seorang ayah biologisnya...meninggalkanku menjadi janda sebelum menikah...betapa...semua bahagiaku musnah...lenyap...seiring kepergianmu...kau membawa separuh jiwaku bersamamu...


Taukah kau sayang...hari itu -sebulan yang lalu- ku telah siapkan berita gembira untukmu...satu kalimat indah yang ku yakin kau pasti suka...'aku hamil sayang' buah cinta kita *yang terlalu terburu-buru...sayangnya...kau tak pernah tau, ada benihmu dalam rahimku...hingga ajal menjemputmu...



-dian-

16 comments:

Lie said...

ini adalah cerpen keduaku...
masih nyambung dengan cerpen pertama, tapi ini dari sudut pandang dian...
terinspirasi gaya ceritanya jodi picoult di "my sister's keeper" dimana ceritanya diambil dari sudut pandang beberapa pemeran utama...
masih banyak kekurangan, mohon masukan..tengkyu :)

eka wijayanti said...

Astaga. Jadi, calon istrinya Adiyanto itu si Dian ini. Dan sedang mengandung benih lelaki lain?
Oh Inge, andai saja kau tahu...
Mbak Yulie ini, paling bisa bikin konflik cerita! Minggu depan, giliran sudut pandangnya Adiyanto ya, Mbak Yulie. Saya ingin tahu, apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu.

Indah said...

Waa.. Yuliee.. menarik yaa ngeliat satu rangkaian cerita dari sudut pandang yang beda ginii ;)

Gua jadi penasaran gimana reaksinya si Adiyanto kalo dia tau si Dian sedang mengandung anak dari lelaki lain, huaa.. seru seruu..

Apa yang akan terjadi kemudian dengan Dian, Adiyanto and Ingee?

Nantikan di cerpen Yulie selanjutnyaa, ahahaha :D

Ditunggu lhoo, Neng, hihihi ;)

Btw, Dian.. turut berduka atas kepergian kekasihmu :'( Siapa namanya, Dian?

Indah said...

Btw, Yulie, itu "My Sister's Keeper" yang udah difilmkan and salah satu pemainnya si Cameron Diaz bukan yaa?

.g. said...

Semua masih terukir rapi di sini, di dalam hati dan sanubari ini. Kala pertama kita bertemu, kala pertama kita jatuh cinta, kala pertama semua terjadi. Semuanya masih begitu jelas terekam diingatan ini. Tatapanmu. Senyummu. Belaianmu. Pelukanmu. Kehangatanmu. Semuanya.

Rasanya baru kemarin kita merenda kasih, bersama kita merajut mimpi, mimpi yang begitu indah, hingga ku tak ingin terbangun lagi.

Malam ini, dari teras kamar tidurku, kupandangi malam yang semakin larut. Langit mendung tak berbintang, bulan menyembunyikan wajahnya dibalik awan, tak kulihat ada cahaya disana, ataukah mata ini yang tak mampu menangkap kilauannya? Entahlah, kurasa langitpun ikut berbelasungkawa atas dukaku atas lukaku (saat) mengenang dirimu.

Andaikan saja kau ada disini, mungkin air mata ini tak akan menetes membasahi pipi ini, karena ku tahu kau tak suka melihatku menangis.

Apakah kau tahu??? Seharusnya aku bahagia karena mimpi yang kita rajut bersama akan menjadi nyata. Gaun putih yang kau pilihkan tergantung rapi didalam lemari kamar ini, tak pernah kusentuh lagi sejak terakhir kau melihatku mencobanya. Dan besok...? Gaun ini akan melekat erat ditubuhku menjadi saksi bisu pernikahanku. Hari yang begitu kunantikan dulu.

Impian kita berdua...

Kudengar derit pintu kamarku berbunyi, ada seseorang yang datang, melangkah pelan menuju teras kamarku. Tanpa menoleh pun aku tau siapa yang masuk.

"Dian...sudahlah..."
"Mam..." tak kuasa aku berkata-kata. Aku tau mami begitu mengerti mengapa aku begini, mami begitu paham mengapa air mata ini masih saja menetes membasahi pipiku, mami tau betul mengapa belum juga kering air mata ini.

"Relakan dia pergi nak...bangun kembali hidupmu..." kata mami lembut seraya membelai pelan perutku "demi bayi dalam kandunganmu..."
"kenapa dia pergi mam? kenapa dia tak menunggu anak kami lahir?"
"Itulah takdir Dian...kita boleh berencana...tapi yang menentukan semuanya bukan kita..." kata mami lagi...
"Bangun kembali hidupmu nak...raih kebahagiaanmu...bersiaplah untuk besok, jangan biarkan mata sembabmu merusak riasanmu besok" kata mami sambil menyeka airmataku.
"Adiyanto pria yang baik...mami dan papi tau betul keluarganya." Kata mami lagi.
"Tapi mam...Dian tdk mencintainya..." aku masih terisak menahan pedihnya rasa ini, menambah sesaknya dada ini, bagai terhimpit. Perih...

Besok, sabtu kedua diawal tahun ini, mami dan papi sudah menyiapkan pesta pernikahan untukku. Pesta yang disiapkan untuk pernikahan kita. Hanya saja, kenapa Tuhan??? Kenapa bukan kau yang akan berdiri di pelaminan besok?

Tadinya, semuanya berjalan nyaris sempurna. Semua merestui rencana pernikahan kita. Tapi kenapa Tuhan begitu cepat mengambilmu dari sisiku? Kecerobohan supir truk sial itu yang entah ngantuk atau memang gila ngebut, menyerempet mobilmu dalam perjalanan menuju rumahku, memaksamu terbujur kaku dalam perjalanan kerumah sakit. Merenggutmu dari sisiku! Membawa serta semua mimpi yang kita rajut bersama. Meluluhlantakkan semua kebahagiaan yang sudah didepan mata. Menyiksaku melewati hari-hari penuh kesesakan dan airmata. Meninggalkan benih yang tiada dosa ini yang akan lahir tanpa seorang ayah biologisnya. Meninggalkanku menjadi janda sebelum menikah!

(AH!)betapa...semua bahagiaku musnah! Lenyap! Seiring kepergianmu. Kau, membawa separuh jiwaku bersamamu.



Tahukah kau sayang? Hari itu--sebulan yang lalu--telah ku siapkan berita gembira untukmu, satu kalimat indah yang ku yakin kau pasti suka,'Aku hamil, sayang..,' buah cinta kita *yang terlalu terburu-buru. Sayangnya, kau tak pernah tau, ada benihmu dalam rahimku, hingga ajal menjemputmu.


-dian-

.g. said...

@Yulie, saya jadi gatal tangan untuk mengedit tulisan kamu, haha, kebiasaan saja sih sebenarnya.

Jalan ceritanya sendiri dan kalimat2 yang dipilih sudah bagus, apalagi ketika tanda2 bacanya diletakkan pada tempatnya, maka menjadi "SEMPURNA"!

Titik2 yang digunakan oleh Yulie itu pasti karena menulis sambil membayangkan Dian bicara, entah itu dilakukan di dalam hati atau bersuara. Hehe, saya juga begitu kalau membuat sebuah cerita, dan setelah itu saya pangkas titik2nya sehingga lebih nyaman untuk dibaca. Itu juga yang saya lakukan (krn gatel tangan di pagi ini) untuk cerita ini, demi kepuasan membaca bagi diri saya secara pribadi ^^

Saya merasa asyik banget mencoba menduga2 apa yang akan terjadi kemudian, apa yang dipikirkan oleh tokoh2 lain dalam cerita ini, jadi tidak sabar untuk menunggu serial selanjutnya nih :)

Lie said...

@ekasari: hehehe...buat cerita selanjutnya masih blank neh...

@indah: iyaps betul. itu dia film'nya, coba baca deh bukunya, unik banget cara ceritanya :)

@G: hahaha...mbG bener banget, aku nulisnya sambil ngebayangin seolah-olah aku ini si dian *amit-amit yahhhh... soal titik2 ini, asli kebiasaan banget, qlo ga pake titik2 ini, rasanya koq ada yg kurang yah??? oke-oke, minggu depan mudah2an lebih baik lagi penggunaan tanda bacanya :)

ami said...

wiih pinter amat yulie, ceritanya seperti bersambung tapi diambil dari sudut pandang tokoh2nya secara bergantian. hebat yulie, minggu2 selanjutnya pasti semakin seru kayaknya yaaa

Lie said...

ah mba Ami...biasa aja hehehe...aku suka bgt baca bukunya si jodi ini, makanya ngikutin alur cara dia... :) mudah2an bisa menghibur...

emmanuellykeisa said...

sedih ngebayangin posisi Dian....

ternyata berhubungan sama yang kemaren itu ya, wess...idenya mantap...! gak sabar nunggu sambungannya dgn sudut pandang tokoh laennya...

.g. said...

@Yulie: Huaa... justru itu yang bagus, makanya emosinya Dian bisa sangat terasa sekali. Nah saya jadi ingin tahu bagaimana penggambaran perasaan tokoh Adiyanto nantinya. Semoga tidak terjebak dalam kemiripan dengan tokoh2 sebelumnya. Ini sebenarnya sangat menarik, karena km bisa membuat 3 macam kepribadian yang berbeda-beda, bahkan dari cara bertuturnya.

Lie said...

@EK: bener banget...msh nyambung sm yg kemaren :)
@G: aduh mbG, aku jadi blank buat si Adiyanto ini, gambaran cerita uda ada beberapa, tapi karakternya itu aku takut sama kayak Inge or Dian...

Winda said...

yulie ini emang wanita sejati....keliatan banget dari pilihan kata-katanya yang manis, lembut dan membuai....romantis abis....
gw biarpun perempuan juga, kayanya gak sanggup berkata-kata sampai semanis ini....
sambung lagi, lie....sapa tau bisa jadi novel....^_^

Lie said...

wanita sejati? pasti...aku bukan wanita 'jadi-jadian' qiqiqiqi...
moga-moga tulisan ini bisa menghibur :)

Skunyos said...

Sediiiiiiiiiiiiiiih banget ceritanya :(
hiks

ditunggu lanjutannya mbak :)

Irene said...

Yul..bagus...ada temen kantorku yg baru nikah desember,sekarang udah 5 bulan kandungannya..aku jadi kebayang kalo kayak Dian..kasian banget ya...