Pages

Saturday, January 16, 2010

dia

Aku adalah laki-laki petualang. Entah berapa banyak tubuh-tubuh halus mulus nan indah yang dengan rela kusentuh, demi pundi-pundi rupiah yang menggelembung dikantong mereka. Aku begitu menikmati masa-masa itu, masa dimana para perempuan itu menjadi hamba uang. Uangku. Sampai di satu masa, ku jenuh. Jenuh dengan para perempuan penggila uang itu. Jenuh pada belaian semu perempuan-perempuan yang menggadaikan tubuh demi kemewahan. Kurasakan hampa.


Uang memang hamba yang taat, namun dia adalah tuan yang kejam.

Sampai kutemukan dia.. Wanita cantik, pintar, terpelajar, anggun nan bersahaja. Wanita yang sanggup membuatku bertekuk lutut, sementara banyak gadis tergila-gila padaku (atau uangku -entahlah-). Wanita yang rela menyerahkan kehormatannya yang ia junjung tinggi padaku. Ya padaku. Wanita yang masih slalu kurindukan setelah apa yang kulakukan padanya. Wanita yang mampu membangkitkan segenap hasrat yang terpendam, kembali bergelora. Dimanakah ia kini? Aku tak tau dibelahan bumi manakah kini dia ada. Ku bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Dia menghilang.

Egois.
Pembohong.
Tak punya perasaan.
Terlalu!

Dia pasti mengganggapku begitu, setelah apa yang kulakukan padanya. Meninggalkannya, di satu malam menjelang pergantian tahun. Dia pasti membenciku, teramat sangat membenciku. Aku memang egois. Aku memang pembohong. Aku memang tak punya perasaan. Aku memang keterlaluan. Itu semua benar. Bila kau berada diposisinya.

Meninggalkannya, setelah hampir lima tahun menjalin hubungan berkomitment. Demi satu wanita … tengah berbadan dua, yang bukan dari benihku. Tapi tidak! Bukan ini yang dia tahu! Yang ia tahu adalah, aku pergi meninggalkannya, kar’na orang tua tidak merestui hubungan kami (yang ini memang benar adanya, paling tidak, saat itu).

Perempuan itu hamil, memasuki bulan kedua, kala aku memutuskan untuk menikahi perempuan itu. Bukan paksaan papi (seperti yang dia tahu), bukan itu alasan utamanya, mengapa aku memilih perempuan itu, mengapa aku meninggalkannya, padahal aku begitu mencintainya.

Takdir. Ya, aku menyebutnya takdir. Takdir lah yang membawaku pada keputusan. Meninggalkannya. Dikala cinta ini begitu menggelora. Membara. Malam itu, kupergi meninggalkannya dengan segala rasa yang berkecamuk. Pedih. Perih. Sakit. Luka. Ya. Aku pun luka dengan keputusan yang kuambil. Tapi hidup memang slalu mempersilakan kita memilih, dan jalan inilah yang kuambil. Meninggalkannya.

***

Cerita ini, kami simpan rapi. Dibagian hati yang terdalam. Aku. Papi. Mami. Ya. Hanya kami yang tau, yang ingat, yang pedih, yang sakit, mengingat cerita ini.

Ade nama yang kami biasa sapa untuk Adelia. Gadis cantik, riang muda belia. Rambut panjang ikal dengan mata yang selalu berbinar bahagia. Ah…! Masih sesak dada ini mengenangnya. Ade, adikku. Yang begitu ku sayang, yang begitu kulindungi, yang begitu kujaga. Jatuh cinta. Jiwa mudanya yang bergelora, membuatnya hamil diusia belia. 17 tahun. Bahkan SMA pun belum tamat. *Kegagalanku, sebagai abang, yang seharusnya menjaganya, kala papi dan mami terlalu sibuk dengan bisnis mereka. *Kegagalan papi dan mami, sebagai orang tua, yang seharusnya bisa menanamkan nilai2 moral yang tinggi pada kami.

Tapi bukan itu inti masalahnya. Bagas mau bertanggungjawab. Kedua keluarga sepakat menikahkan mereka setelah kelulusan yang saat itu tinggal 2 minggu lagi.

Tuhan merencanakan lain. Bagas, tak bisa menikahi Ade! Pendakian Bagas bersama genKnya di BROMO, adalah akhir cerita Bagas. Anak itu hilang! Lenyap. Raib bagai ditelan bumi. Sampai kini entah bagaimana nasibnya. Hidupkah? Matikah? Entahlah. Namun, bukan itu intinya.

Hhhhhhhhh…tak kuat rasanya dada ini menahan sesaknya. Ade, hampir gila dengan berita itu. Rencana pernikahan menggantung. Perut Ade membuncit. Siapakah yang mau menjadi ayah bayinya? Tak ada. Bahkan supir pun menolak tawaran kami, untuk menutupi aib ini. Ade meradang. Putus asa. Nyaris gila. Hingga akhirnya, kami semua terperanga. Mendapati mata Ade membelalak. Bibirnya kelu. Mulutnya penuh busa. Pil-pil berserakan di lantai. Ade mengahkiri hidupnya!

***

Luka itu kembali basah. Kala keluarga om Bonar datang kerumah, malam itu. Membawa cerita yang nyaris sama dengan Ade. Cerita yang menyayat-nyayat hati. Kala Dian, nyaris mengakhiri hidupnya. Seperti Ade. Ketika Pras (calon suami Dian), harus dipanggilNya lewat suatu kecelakaan tragis, sementara perut Dian pun nyaris kentara berbadan dua. Aku bersedia. Bersedia menjadi ayah bayi itu. Bersedia mengkhianati cinta Inge. Kenapa aku? Kar’na, aku adalah pariban Dian. Aku yang tanpa paksaan mengambil tanggungjawab ini. Agar kisah Ade, tak terulang di keluarga kami. Kar’na, andai dulu ada laki-laki yang mau berkorban demi Ade, rela menutupi aib itu, menjadi ayah bagi bayi Ade, gadis belia itu pasti masih ditengah kami, dengan anaknya yang lucu.

***

“Rumah itu sudah berganti pemilik.” Kata satpam kompleks rumah kawasan elite di Jakarta.
Rumah yang kubeli untuk Inge. Untuk kami.
Rumah itu telah dijualnya.
“Apakah bapak tahu dimana pemilik rumah yang dulu tinggal?”
“Tidak pak, kabar terakhir, Bu Inge pindah ke luar kota.”

Oh Inge... Kemana lagi ku harus mencarinya? Rumah orang tuanya kosong.
Dimanakah dia?


-Adiyanto-

12 comments:

Lie said...

cerita ini dituturkan oleh si Adiyanto....
masih nyambung juga dgn cerita kemarin "sendiri" dan "kepergianmu"

btw...aku sementara posting jam nya disetting diatas deadline irene, biar nongol diatas ya... hehehe

.g. said...

Yulie!!! Congrats!! Hihi..seneng liatnya :) Teratur dan baguuuuus banget!! *berbunga2 melihat hasilnya* ((((((hugsssss))))

Lie said...

tengkyu mbG.... :)
(((HUGS TOO)))

Winda said...

huaaaa...ceritanya tambah seruw...adiyanto si petualang cinta...wkwkwkwk...lanjutkan lie....^^,

Indah said...

Yuliee.. keren bangets ceritanyaa!! Mantapss.. ngga nyangka euyy itu alasan di balik keputusan Adiyanto meninggalkan Inge!!

Psstt.. terus lanjutannya gimanaa.. apakah pernikahan Adiyanto ama Dian itu cuman sekedar ngasih status ama anak yang dikandung Dian?

Waahh.. itu kalo dipanjang2in bisa jadi novel beneran neeh, Yuliee, huaa.. kereeennn!!

Lie said...

@winda: ceritanya petualang cinta yg uda tobat...tapi tetep aja apa yg di tabur, itu yg dituai...so beginilah nasibnya...hehehe

@indah: kayaknya sabtu depan mo coba buat cerita yang laen...

soal lanjutannya, nanti cari inspirasi dulu :)

ami said...

yulie, mantaaap, wah aku ngga kebayang menceritakan sebuah cerita dari beberapa orang yang menjadi lakonnya. baguuus lie

eka wijayanti said...

Mbak Yulie. Pesat sekali progressnya! Saya terpana. Terus seperti ini ya, Mbak Yulie. Terlebih Mbak Yulie ini paling lihai membuat konflik.

Lie said...

thx mba ami :)
@ekasari: haduh..jgn terpana donk mba eka...hihihi...ntar sakit lho...

Skunyos said...

Heemmm pemikiran kita sama mbak.. aku juga lagi bikin satu cerita dengan angle yg beda2...

Seru yah :) kacamata bisa beda2 hehehe

Lie said...

hahaha...seru ya Kaaaa...
karna tiap orang itu memang ga pernah ada yang percis sama, bahkan kembar identik sekalipun...

Irene said...

wahhh..bagus banget nihhhh....kerenn...