Pages

Showing posts with label kelingking g. Show all posts
Showing posts with label kelingking g. Show all posts

Saturday, January 23, 2010

Hujan Dedaunan 1

Hari ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Akan badai sebentar lagi. Aku terpesona oleh intensitas gejolaknya yang mengerikan sekaligus memikat, menakutkan dan memesona, kutuk sekaligus berkat. Sebuah paradoks, bergejolak dalam pikiranku.

Ah, nampaknya aku mulai lagi tenggelam dalam perjalanan mental dan filsafatku, yang begitu sering muncul dalam pikiranku hari-hari belakangan ini. Mereka mengajakku berdialog ttg banyak hal. Hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Atau tidak ada waktu untuk kupikirkan. Atau tidak berani kupikirkan.

Kata orang, saat menjelang ajal kita dapat merasakan rayapannya. Aku ingin sekali tahu, seperti apakah rasanya? Apakah seperti sepasang tangan dingin yang merayap naik dari ujung jemari kaki lalu menyelimuti seluruh keberadaanku? Lalu.... Setelah itu, apa?

Apakah aku percaya adanya surga? Ya. Ya, rasanya ya, aku percaya, atau aku pikir aku percaya bahwa tempat itu memang ada: surga dan neraka. Tapi aku tidak tahu persis di mana letaknya, dan bagaiman keadaannya. Aku juga tidak tahu jalan menuju ke sana.

Siapakah yang akan memberitahuku? Mereka yang sudah pergi ke sana tidak ada yang kembali lagi untuk menceritakan pengalamannya, atau setidaknya memberi gambaran bagaimana cara mencapai yang satu dan menghindari yang lain.

Saat aku memandang ke luar jendela, kulihat kuncup-kuncup mawar di ambang jendela meliuk-liuk. Rapuhnya..., tapi tidak gugur. Apa rasanya bagi mereka, harus menghadapi badai tanpa memiliki kesempatan untuk melarikan diri? Hmm... Betapa cantiknya. Pun, betapa rapuhnya. Seperti layaknya kehidupan ini.

Aku menyadari bahwa rasanya semakin sulit untuk melihat dan merabai keindahan, kebaikan, kesempurnaan, ketika setiap detik yang aku lewati berisikan ultimatum yang begitu final. Sementara aku, aku belum ingin berhenti berlari. Aku ingin garis finish itu mundur beberapa meter lagi, bahkan kalau perlu, berkilo-kilo meter lagi, karena aku belum ingin berhenti berlari.

Telingaku menangkap bunyi-bunyi basah di luar sana. Ah...akhirnya hujan itu datang juga. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengarkan pola gemericiknya mengguyur atap, sebelum mengalir turun membasahi jendela lalu menyesap jauh ke dalam tanah. Tanah, dimana segala sesuatu sepertinya bermuara.

Dengan ujung jemari aku merabai kaca jendela yang digelimangi air hujan pada tepi luarnya. Kupandangi efek pantulan wajahku di sana. Wajah yang menatapku dari balik kaca jendela itu nampak aneh, karena teksturnya yang dilekukkan oleh gelimangan hujan. Aku merasa seperti peri dalam bayangan itu, begitu dekat dengan keabadian, nyata sekaligus tidak. Benarkah keabadian itu ada, seperti yang selalu mereka katakan? Bila benar, lalu mengapa hatiku merasa gelisah?

Dalam hidupku, hujan selalu mengembalikan kenang-kenangan. Baik kenangan yang manis dan memang ingin kubiarkan mampir, maupun yang pahit dan ingin kutimbun dalam-dalam sehingga tidak dapat melesak ke luar. Namun, hujan selalu saja mampu menggali semuanya, segalanya, dan aku sudah lama belajar untuk berhenti melawan, berhenti berontak, dan belajar menikmati segala rasa yang beradu dalam hatiku. Aku sadar bahwa itulah hidup. Merasakan segalanya. Menjalani segalanya.

***

Dan kenangan-kenangan itu, satu-satu datang melintas.....

***

Hari itu, saat itu, sama seperti hari ini, sore ini. Hujan mulai merebak lalu meluncur dari langit dengan derasnya. Aku keluar dari apartemenku dan menunggunya diujung tangga ketika dari jendela aku melihat mobilnya berbelok menuju jalan masuk kompleks apartemenku. Ketika berlari-lari kecil menaiki tangga menuju ke apartemenku yang berada di lantai dua ini, dia nampak lebih tampan dari biasanya. Aku menghambur ke dalam pelukannya. "Ah sayang, you're wet..., pasti lupa bawa payung lagi." Kataku, walaupun sesungguhnya aku tidak keberatan.

Wajahnya lembab namun bibirnya terasa hangat menyentuh bibirku, saat hati-hati dia mengecupku, takut menularkan basah bajunya ke tubuhku. "Selamat ulangtahun kekasihku.." Bisiknya dengan mata berbicara, dan mataku berbinar karena kami sama-sama tahu bahwa ini bukanlah hari ulangtahunku, bahkan sama sekali tidak mendekati hari kelahiranku. Namun, dia tahu dan aku pun tahu bahwa apabila boleh memilih, aku ingin dilahirkan saat hujan-hujan seperti ini, bahkan hari ini, sehingga segala sesuatu dapat dimulai dari awal lagi.

"Aku senang kamu ada disini,"bisikku ke telinganya saat kami bergandengan memasuki apartemenku.

Hujan turun semakin deras, bagaikan tercurah dari tingkap-tingkap langit yang dibuka lebar-lebar. Aku ingat bahwa saat itu aku sempat bertanya-tanya, sedang marahkah Dia yang menguasai semesta, atau mungkin Ia sedang menangisi hilangnya sesuatu yang sangat dikasihiNya?

Sementara di ruang tengah, aku dan dia duduk berdampingan, dia mengeringkan rambutnya yang seperti tanah basah diluar sana dengan sehelai handuk yang kuberikan, matanya yang panjang dan sipit, seperti sebuah garis hitam tebal di wajahnya yang putih. Sambil mengamati keadaan di luar jendela, sejenak kami diam, menikmati dengan hikmat kemegahan guntur dan kilat yang dipamerkan alam di luar sana.

Lalu, sembari menghirup kopi hangat, kami mulai bicara, dari hati ke hati.

"Kalau aku mati..." Kataku saat itu.
"Ssshh..." Dia menutup bibirku dengan telunjuknya, dan menggelengkan kepala, "Don't say that. Kamu tidak akan mati."
Aku tertawa ringan, pernyataannya terdengar konyol, walaupun penuh cinta, tapi tidak menutupi kekonyolannya. "Kita semua akan mati, Sayang. Tidak ada apapun juga yang abadi di tempat ini. aku tidak abadi, kamu tidak abadi, bahkan hujan, guntur, petir dan kilat di luar sana pun tidak abadi." Kukecup lembut telapak tangannya, lalu kubiarkan dia mengusap pipiku.
"Baiklah. Kalau kamu mati, aku juga akan mati."
Dalam hati aku tergelak, "Gombal.." aku tersenyum geli, "Kamu tidak akan ikut-ikutan mati. Kamu akan hidup, dan menemukan lagi kebahagiaan, mengerti?"
Dia menatap wajahku sangat lama, ada sesuatu di sana yang seakan ingin berkata tetapi kelu. Namun akhirnya dia berkata, "Haruskah kamu sekejam itu?"
"Kejam?"
"Kamu tidak pernah mempercayai ketulusanku."

Saat itu aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, mendengarkan bunyi desir hujan memukul atap dengan iramanya yang khas.

"Oohh...lihat!" Kataku kepadanya, "seekor kucing kecil terperangkap," ya, anak kucing itu terperangkap di sela-sela atap gedung sebelah, mengeong-ngeong sedih sebelum akhirnya induknya datang menjemput dan mengangkat anaknya dengan mulutnya untuk membawanya menuju ke tempat aman.

Saat itu, tiba-tiba saja aku merasa sangat merindukan sesuatu, yang aman, yang konsisten, yang akan menopang aku ketika aku jatuh. Kubaringkan kepalaku dipundaknya, mencari rasa aman itu di sana. Dia merangkulku. Kami membiarkan hujan menjadi musik hati kami sore itu.

Bersambung ya..

PS: Buat Indah.. hujanmu dan hujanku, bercerita ttg sesuatu yg mirip ;)

Saturday, January 16, 2010

H E A D L I N E

Sering kubertemu dengannya di lorong-lorong kota tempat kita tinggal. Berpapasan jalan, lebih tepatnya. Perempuan itu, namanya aku tak tahu, aku hanya menyapanya, "Hai!" atau "Pagi," atau sekedar menggerakan kepala tanpa suara. Dan dia jarang sekali membalas sapaanku, ia lewat begitu saja, sibuk dengan dunianya sendiri yang menempel erat dikupingnya membuat dia bicara layaknya pada udara. Entah apa yang dibicarakannya dengan udara, namun sepertinya mereka terus-terusan berkelahi. Aku tak tahu mengapa, aku suka melihatnya, aku suka mengamatinya, aku bahkan menunggu-nunggu ia jatuh tersandung karena selalu melangkah tanpa melihat jalan. Namun, mengagumkanya!, hal itu tak pernah terjadi. Ia seolah memiliki mata di kakinya sehingga dapat menavigasikan diri dengan baik, bahkan ia tahu kapan harus melompat bila ada genangan air dan ia tak ingin celana panjang yang dikenakannya itu basah oleh genangan hasil air hujan, walaupun, lucunya, ia seringkali tak terlalu perduli pada gerimis yang tentu saja sudah mengirimkan titik-titik basah yang kemudian menempeli rambut, wajah dan bajunya itu. Absurd, pikirku geli sendiri.

Seminggu yang lalu ia menjadi headline pada Koran Pagi kota tempat kita berdomisili. Ya, ya, ya, aku yakin sekali itu wajahnya, yang manis namun jarang sekali tersenyum. Heran, mengapa senyumnya nampak begitu mahal, aku sering heran sendiri. Ada yang salahkah dengan giginya? Ah, tidak, aku pernah melihat dia bicara dengan mulut yang terbuka-buka lebar, entah bicara tentang apa, tapi sampai saat ini aku ingat sekali, giginya bagus dan tertata rapi sekali. Dan di koran pagi ini, ia masuk menjadi berita, Young Entrepeneur Of The Year, begitu koran pagi itu menyebutnya. Di dalam gambar ia nampak menerima sebuah plakat, hanya dengan senyum sedikit saja, seakan berkata, "Yups, saya memang pantas dapat bintang." Dan benar saja, konon kabarnya, begitu tiba di kantornya, plakat itu dimasukkannya ke tempat sampah! Dia bilang, dia tak perlu penghargaan-penghargaan yang hanya untuk gengsi-gengsian, yang dia perlu adalah kerja-kerja-kerja dan memberikan hasil yang nyata!

Ah! Dia memang mengagumkan sekali. Aku merasa agak jatuh cinta pada keagresifannya yang dingin seperti cadas itu.

Karena itu pula aku tertegun, ketika melihatnya sedang duduk bengong seperti bagong kebingungan. Tidak biasanya pikirku. Mana pernah aku punya kesempatan melihat pantat mungil itu diistirahatkan di pagi hari. Ho-ho-ho, sumpeh deh! ini kejadian super langka yang sudah seharusnya aku abadikan dengan kamera, seandainya saja aku membawa kamera. Sayangnya tidak.

Tiba-tiba ia menatap kearahku. Fokus. Seakan ia menyadari bahwa aku ini ada. Setelah bertahun-tahun berpapasan tanpa pernah mengetahui bahwa aku adalah bagian dari manusia-manusia lain yang lalu lalang di lorong gedung ini, akhirnya dia menatapku! Fokus! Menakjubkan! Aku hampir berteriak karena girangnya. Yaiiiy! Tetapi cepat-cepat kutahan diriku dari rasa girang yang keterlaluan sangat itu, sebab tiba-tiba pula aku merasa takut sekali. Bukan, bukan takut, tapi merasa segan. Apa yang akan kubicarakan dengan perempuan hebat ini? Apa yang bisa keluar dari mulutku yang akan membuatnya berpikir aku pantas menjadi kawan bicaranya? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, dan bersirobok pandang lagi dengannya. Ya, ia masih menatapku, matanya nampak seakan mengiba meminta aku mendekat. Hah! Aku mencubit kege-eranku kuat-kuat. Yang benar saja! Rupanya aku sudah berhalusinasi di pagi ini.

Kutekan kuat-kuat rasa ingin tahuku, dan kutekan juga kuat-kuat keinginanku untuk mendekati dan menyapanya, "Ada apa?" Karena aku tak bisa membayangkan ia memerlukan apa-apa. Dia begitu kuat. Begitu kokoh. Dia adalah dia, yang tak dapat kulukiskan cukup dalam berpanjang-panjang kalimat. Dia hanya satu kata saja: dia. Maka kutinggalkan dia duduk di sana, di tempat yang biasa saja bagi orang lain, namun tak biasa bagi: dia. Kuusir sejentik perasaan aneh yang menggangguku. Ah! Semua baik-baik saja. Pastilah! Dan tak kuubah ritme rutinitasku.

Tapi, pagi ini saat ku terima Koran Pagi Kota Kita, dia masuk headline lagi!

"Dia gila! Dia kira dia superwoman!" Jeritanku mengagetkan seisi rumah.

Ya, dia masuk Headline lagi!

Seorang perempuan muda, terkenal dan ambisius, melompat dari ketinggian lantai tujuh sebuah pusat perbelanjaan di kota kita.

Aku terhenyak. "Oh, Tuhan! Dia kira dia punya sayap!" Pekikku masih dengan suara tinggi, sementara tanpa dapat kutahan air-air masin mengalir dari mataku, membasahi pipiku., membayangkan bagaimana dia terbanting keras dengan telak, terbawa oleh gravitasi bumi yang tidak memberikan dispensasi, tak perduli apakah ada hal-hal yang masih bisa dikerjakannya atau tidak, tak perduli apakah akan ada karya-karya cemerlang berikutnya yang bisa dihasilkannya atau tidak. Tubuh mungil itu memang terjerembab tanpa ampun! Lehernya, patah. Kepalanya, pecah, otak yang luarbiasa itu terburai begitu saja, begitu saja! Tak lagi dapat difungsikan seperti seharusnya.

Dan nyawanya? Melayang, meninggalkannya.

Pagi ini aku duduk di kursi makan, menghadapi meja makan, dan sarapan pagi yang belum juga kusentuh, koran pagi dihadapanku, dan hati yang sibuk bertanya-tanya, kalau saja aku sedikit lebih berani menyeberangi jalan kecil sempit diantara kami dan mengambil resiko membuka mulut walaupun akan terdengar dan terlihat bodoh dihadapan perempuan hebat itu, apakah akan ada bedanya? Arrrghhh!! Tiba-tiba aku merasa sangat marah kepada perempuan itu, "Kau gilaaaaaaa!" Raungku sekeras-kerasnya, mengusir pedih yang menusuk tajam, seakan sebuah telunjuk berkuku tajam menusuk nuraniku hingga membelahnya, dengan rasa bersalah tentang sekian detik atau menit atau mungkin jam yang bisa mengubah headline hari ini. "Mengapa kau begitu bodoh?" Keluh mulut ini, "kalau saja aku tahu kamu begitu bodoh, aku tak akan takut mendekatimu dan mungkin menggandeng tanganmu, kalau kau ijinkan, selama yang kau mau, sampai detik-detik kebodohanmu menguap." Dan tatapan menghiba itu menerobos memoriku, hinggap di ruang-ruang celah mataku terpampang sangat jelas. Kini, malah semakin jelas! Aaarggh!!

Sudah terlambat. Pagi ini berita tentang kebodohannya menjadi Headline di Koran Pagi Kota Kita, di saat aku sudah tahu siapa namanya, ia menyentuh deadline.

Saturday, January 9, 2010

Sebuah Laci Yang Berbeda: Prosa Tentang Rumput dan Ilalang

“You know you're in love when you can't fall asleep because reality is finally better than your dreams.” Dr. Seuss

Malam itu Rumput tak bisa tidur, sebab ia sibuk memikirkan Ilalang. sedang apa engkau kekasih, bisiknya mengusir Mimpi yang mencoba membujuknya untuk tidur bersisian. aku belum ngantuk! sungut Rumput. Mimpi tahu dia berbohong. bukan itu alasan yang sebenarnya. Kau isteriku! biniku! perempuanku! setiap Matahari sembunyi dan masuk ke dasar danau itu kau adalah milikku! desaknya gusar. berhentilah main mata dengan Angin, Rumput! berhentilah!

Rumput melambai ramping, tubuhnya yang langsing melesat dari dekapan Mimpi dan menari menuju tengah ruangan, menjauhi peraduan. Dia tersenyum mengejek, beringsut-ingsut mengitari peraduan dalam jarak yang aman. Rumput tahu benar bahwa Mimpi terikat erat di sana, oleh rantai-rantai perjanjiannya dengan entah apa, mereka sama-sama tahu namun sama-sama tak menyebutkan nama. Kejarlah daku kalau engkau menginginkan aku, maka aku milikmu. desahnya menggoda, matanya mengerjap, melemparkan kegenitan semu sebelum ia mengeluarkan lidahnya tanda mengejek. Kau, tak mampu! Mimpi memalingkan wajah merasa sakit dikebiri. mengumpat dalam bahasa yang tanpa terjemahan aksara. Rumput tertawa ditahan.

aku ingin menusuk bulan. desis Rumput perlahan ketika mengintip dari celah jendela. cahaya bulan masuk samar-samar menepi hingga ke sudut kiri kamar. Rumput menatapnya dengan kelembutan yang mengiris kalbu. ada gesekan biola di sana, diantara tatapan itu. Mimpi menguap, dia mulai merasa tak menemukan tempat dan bertanya-tanya, benarkah perempuan ini perempuannya, bininya, wanitanya? kalau iya, mengapa jarak sejengkal itu tak mampu diseberanginya? apa yang menghalanginya? Mimpi menggeleng enggan. dia enggan berpikir. dan melarutlah dia dalam larung malam. menguap bagai asapan. hilang.

bye, bye, sayonara, selamat tinggal, bisik Rumput menatap asap yang tersisa, setelah disiramnya dengan kopi kental. ah, terlalu mudah mengalahkanmu mimpi, terlalu mudah.

Psst... sesuatu berbisik begitu dekat di telinganya. Rumput terkejut. Siapa? tanyanya. Bulan tersenyum manis dari luar jendela. aku. di sini, di atas sedikit dari pandangan matamu. Rumput mengangkat pandangannya, menatap bulan. Bulan berbisik lembut, kau menginjak cahayaku, aku tak bisa bergerak bebas, sudut perputaranku menjadi tersendat. tolong geser kakimu lima senti saja ke kanan. tapi aku ada di sini, protes Rumput, kakiku tak menginjak cahayamu sama sekali. bulan menggelengkan kepalanya, lihatlah, kaki bayanganmu, desaknya. Rumput menoleh, ah.. itu maksudnya. baiklah aku kan menggesernya lima senti ke kanan.

Terimakasih, bisik Rembulan mesra. ingin aku mengecup pipimu. Ohoho... Rumput menggeleng, tidak bisa. aku bukan perempuanmu. aku adalah aku yang tidak harus tunduk pada keinginanmu. aku tak akan memasungmu, protes Rembulan, sungguh. Rumput berayun menggeleng. Tidak. dan tidak. dan tidak. aku sudah memilih siapa yang boleh mengusap pipiku dan mengecupnya.

Ah.. Bulan mengangguk. Dia, rupanya. Rumput tersenyum samar. Hmm, kau tahu? Rembulan tertawa kecil. Aku mengintip jalan setapak menuju danau, setiap malam aku menembus gelap dan membiarkan cahaya-cahayaku merayap untuk bermain di sana. aku melihat kalian. berdua mandi-mandi dikedinginan malam. aku melihat kalian, saling mendekap dan memagut dalam riaknya. kalian menginjak matahari yang tertidur lelap di dasar danau, tanpa membangunkannya. dia lelap. lelah oleh seharian waktu yang dipegangnya dan lelah oleh ulah2 manusia yang dilihatnya. dia membiarkan aku menjaga tanah sebelah sini, ketika dia masyuk bermimpi.

Mimpi bukan swamiku, bukan laki-lakiku. dia boleh menggagahi sesiapa, tapi bukan aku. aku sudah membebaskannya.

Bulan mengerjap, kau membunuhnya Rumput, desah rembulan sembari menggelengkan rambut cahayanya yang pucat itu. kau membunuh mimpi.

Rumput mengerjap, membiarkan bunga-bunga rumput terbang bersama semilir malam dari rambutnya yang terurai. ia mandi cahaya keperakan, begitu rapuh, namun begitu penuh tekad. aku menunggu ilalang, ia sebentar lagi akan datang, sebab hari-hari kami tinggal sebentar. aku hanya rumput. dan dia ilalang, kami bersepadan, tak perlu diantara mimpi.

ah... bisik Rembulan. aku tak mampu mengerti.

ya, bisik Rumput, tak ada yang perlu mengerti. hanya aku dan dia yang perlu tahu. itu cukup. Rumput bergegas menuju ke pintu, mendengar langkah-langkah yang kian mendekat. Kekasih? bisiknya lirih. Ilalang membuka pintu, dan menemukan.

Rembulan menutup mata malam, membiarkan bintang menari, dan meninggalkan dua kekasih berbincang dalam bahasa yang hanya mereka yang tahu.

---

Saya menyukai menulis yang seperti ini, karena menulis ini membebaskan saya untuk melakukan apa saja yang saya mau dengan gambar-gambar visual yang terbentuk di kepala saya tanpa perduli apakah gravitasi memperbolehkannya atau tidak.

Satu hal yang saya syukuri adalah, teman2 di sini mau-maunya ikut dalam petualangan ini, yang saya pikir tadinya akan saya jalani sendiri. Rencana awal menulis 1 tulisan fiksi setiap hari di sebuah blog yang sudah saya siapkan sendiri, akhirnya menjadi menuliskan sambungan kata-kata yang membentuk entah cerita seperti apa pada akhir tahun nanti, hehe, itu yang sedang saya lakukan sendiri, karena ingin saja melakukannya.

Well... tulisan yang di atas ini semoga saja tidak membuat ngantuk.. atau garuk2 kepala. ^^

Saturday, January 2, 2010

Aku dan Malam Ini

Malam ini adalah malam seperti malam-malam yang biasanya setiap hari Sabtu, tugasku adalah memandikan anak-anak sebelum tidur malam, sehingga apabila besok pagi mereka bangun terlambat masih tak mengapa untuk cuci muka, sikat gigi dan bersama-sama denganku berangkat ke gereja. Mereka tentu saja ke sekolah minggu, atau gereja kecil, demikian si bungsu suka mengatakannya, sementara aku sendiri ke gereja besar untuk beribadah.

Malam ini juga seperti malam-malam yang biasanya setiap hari dalam kehidupanku, yaitu malam dimana waktu terasa tidak mencukupi untuk menyelesaikan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah hal yang besar, bahkan lebih besar dari diriku sendiri, dan sering sekali aku mengeluh, kapan aku bisa menyelesaikan segala sesuatu seperti yang seharusnya.

Bagaimana yang seharusnya itu? Yang seharusnya itu adalah, setrikaan beres semua, cucian piring tidak pernah bertumpuk, kompor selalu kinclong, tidak ada sisa-sisa tumpahan makanan atau susu atau yogurt yang menodai lantai, taplak meja makan tidak pernah belang belontang karena terpercik kecap atau sirup atau saus tomat, dan pekerjaan kantor siap pada waktunya sehingga aku tak perlu lagi membuka laptop setiap malam setelah ketiga kurcaci tidur untuk meneruskan apa yang belum selesai pada siang harinya sementara keesokan hari sudah ada lagi hal-hal lain yang menunggu. Aku mau semuanya beres seperti yang seharusnya!

Itu yang sering sekali aku jeritkan dalam doa malam sebelum tidurku. Aku benar-benar terlalu sering menjerit akhir-akhir ini. Tetapi itu semua karena aku merasa tidak punya cukup waktu!

Jangan salah, bukan tidak ada orang yang membantu aku setiap hari. Ada, Linda namanya, dia datang setiap hari dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, selanjutnya aku yang mengambil alih tongkat estafet kegiatan di rumah. Dan jangan juga berprasangka bahwa aku tidak menyukai kegiatan domestikku. Bukan itu. Justru aku sengaja hanya menggaji seseorang untuk membantuku paruh waktu dan hanya dari Senin sampai Jumat, justru agar aku tetap melakukan kegiatan-kegiatan domestik tersebut, agar anak-anakku melihat bahwa aku tetaplah seorang ibu yang selain bekerja di luar rumah juga mengurusi keperluan mereka di dalam rumah, walaupun tidak melakukannya sepanjang hari.

Mengapa? Aku ingin mereka melihat dan mencontohku, yaitu mengerjakan apa yang memang bisa dikerjakan sendiri dan belajar untuk bertanggungjawab dalam hal-hal yang kecil-kecil, tidak sedikit-sedikit menyuruh orang lain untuk melakukannya bagi mereka. Aku ingin mereka tumbuh menjadi anak-anak yang normal, yang tidak cengeng, manja dan merasa berhak untuk bertingkah seenaknya karena kami, aku dan ayah mereka, berpisah. Bagiku, ini adalah salah satu cara untuk membuat aku tetap waras, dan memberikan kepada mereka keteraturan ditengah sebuah kenyataan yang sama sekali keluar dari aturan yang seharusnya dijalani, melakukan kegiatan-kegiatan secara bersama-sama merupakan sebuah ikatan yang aku harapkan cukup kuat menopang hari-hari mereka yang timpang tanpa kehadiran seorang ayah setiap saat dan waktu. Juga aku ingin mereka memiliki dasar yang kuat ketika mereka kubiarkan menginap ke rumah ayah mereka yang tradisi-nya berbeda dengan tradisi yang setiap hari kami lakoni di rumah ini, tempatku di hati mereka dan dalam kehidupan mereka tidak boleh tergantikan oleh wanita lain yang telah menggantikan kedudukanku di hati ayah mereka. Ia boleh mengambil laki-laki itu, tetapi tidak anak-anakku.

Malam ini, sama seperti malam-malam yang biasanya setiap hari Sabtu, Lena, Dino dan Adinda masuk ke dalam bathtub yang telah diisi air hangat itu bersama-sama. Dengan riuh rendah mereka menikmati kegiatan mandi mereka. Secara bergantian aku harus turun tangan menyabuni mereka, terutama si bungsu yang baru berusia 4 tahun. Bila Lena, 7 tahun, si sulung adalah si bossy di keluarga ini, yang mengatur dengan cermat siapa yang melakukan ini dan siapa yang harus melakukan itu sehingga menciptakan keteraturan yang begitu mengagumkan bagiku, maka Dino, 5 tahun, adalah si briliant yang selalu berhasil menemukan solusi-solusi dari perkara-perkara, sedangkan Dinda adalah sang artis, yang kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam imajinasi, ia melihat dunia selalu penuh dengan warna-warni dan mahluk-mahluk imajiner ciptaannya sendiri.

Maka, apabila saat ini Lena dengan penuh disiplin menakar waktunya sendiri dan memutuskan bahwa waktu untuk mandi sudah cukup, demikian pula Dino yang telah menghitung bahwa apabila ia segera menyelesaikan mandinya maka ia masih dapat bermain game selama 30 menit sebelum waktu tidur malam ini, maka Adinda asyik dengan gelembung-gelembung sabun dan sibuk mengajakku berceloteh.

"Dinda," kataku akhirnya dengan kesabaran yang tiba-tiba menjadi begitu pendek karena aku tak melihat tanda-tanda bahwa ia akan menyudahi kegiatannya bermain air, "sudah cukup, sekarang juga keluar dari dalam sana dan pakai handuk. Mama hitung sampai tiga! Satu..."

"Oke, oke..." Katanya sambil memonyongkan bibirnya dan keluar dari bathtub. Aku segera mengeringkan badannya dengan handuk yang lebar dan halus kesukaannya, bergambar Dora dan Boots. Dinda cekikikan ketika aku mengeringkan rambutnya dan aku jadi ikut tersenyum. Ketika tubuhnya sudah kering, tiba-tiba saja ia melesat ke lorong menuju kamarnya sambil menari-nari dan berseru, "Lihat ma, seperti balerina kan? Kalau sudah besar nanti, Dinda mau menjadi balerina."

Kesabaranku habis. Tidak bisakah dia meniru kakak-kakaknya yang sekarang sudah dengan rapi mengenakan baju tidur mereka dan bersiap-siap untuk tidur? Tidak mengertikah dia telah begitu banyak hal yang aku kerjakan sepanjang hari ini dan masih begitu banyak hal yang ingin aku selesaikan?

"Dinda!" Suaraku terdengar sangat keras, bahkan bagi telingaku sendiri, namun aku tidak perduli lagi. Si penari kecil berhenti menari, dari gerakan pundaknya aku tahu bahwa ia sangat terkejut.

Perlahan-lahan ia membalikkan badan lalu tiba-tiba berlari ke arahku dan memelukku dengan erat, "Mama.. jangan marah.." Katanya dengan wajah tengadah memandangku sambil mewek, mata bulatnya berkaca-kaca dan ujung hidungnya memerah.

Hatiku melembut, kupandang wajahnya dan berkata, "Makanya Dinda harus cepat-cepat pakai baju... jangan bikin mama jengkel. Mengerti?"

Dinda mengangguk. "Maaf ya..." katanya sambil mencium pipiku lalu tiba-tiba wajahnya kembali ceria dan ia kembali menari-nari seperti sebelumnya dengan tawanya yang lincah itu.

Aku mengeluh putus asa, "Dindaaaaaa!"

"Yaaaa..." Jawabnya sambil tertawa-tawa lalu ketika melihat wajahku yang kesal, ia berhenti menari dan berjalan mendekatiku seraya mengangkat kedua tangannya pertanda minta digendong, lalu menatap wajahku dengan sangat serius, "Ma, memangnya mama mau pergi kemana malam ini?"

Aku menatapnya, heran dengan pertanyaan yang diajukannya. "Mama tidak mau pergi kemana-mana..."

"Kalau begitu, kenapa kita harus cepat-cepat?"

Aku menatapnya tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Ya, mengapa harus selalu cepat-cepat seakan aku selalu berkejaran dengan waktu atau dengan entah apa?

"Ma?"

Aku menatap wajah polos itu dan tiba-tiba saja aku mengerti sesuatu. Aku mulai mengerti bahwa waktu adalah alat bukan tuan. Waktu adalah kesempatan untuk merajut saat-saat kebersamaan seperti ini, bukan hanya melewatkannya dan berharap sesuatu yang baik akan terjadi karena aku sudah memanfaatkan setiap detik tik-tok-tik-tok itu. Waktu adalah kesempatan bagiku untuk mendengarkan kisah-kisah Dinda tanpa merasa dikejar-kejar deadline yang tak jelas berasal dari siapa. Waktu adalah kesempatan untuk menikmati saat ini yang akan menjadi sejarahku, Lena, Dino dan Dinda di masa-masa yang akan datang. Saat ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar aku miliki, dan seharusnya seperti Dinda, aku menikmatinya sepenuh hatiku tanpa sibuk memikirkan loncatan peristiwa yang akan aku kerjakan di waktu berikutnya.

Kuturunkan Dinda dari dalam gendonganku dan sambil tersenyum aku berkata kepadanya, "Ajari mama menari seperti tadi, Dinda. Mama juga ingin menjadi balerina untuk malam ini."

Sambil melepaskan diriku dari kungkungan kotak-kotak yang kubangun sendiri tanpa menyadari betapa aku sudah memenjarakan diri dari kesempatan-kesempatan untuk menikmati tanpa takut apa yang menjadi bagian hari ini, aku berjanji untuk belajar membiarkan noda-noda di lantai menjadi bagian yang merepotkan namun tidak menakutkan, juga tumpukan baju yang belum semuanya dicuci bukan berarti dunia runtuh, semuanya hanya berarti ada hari-hari yang tidak akan menjadi sempurna seperti yang aku pikir seharusnya terjadi, melainkan hari-hari penuh arti justru karena ia dapat ditandai dengan ragam dan macam peristiwa yang menjadikan hidupku memiliki warna-warni, ada yang teratur, ada yang spontan tercipta, ada yang tak mampu kukendalikan. Ya.. tak selalu harus seragam.

Malam ini tidak sama seperti malam-malam sebelumnya. Tidak akan pernah ada lagi malam-malam atau hari-hari yang persis sama dalam kehidupanku, dan hal itu baik adanya.

---

Terinspirasi dari Joshua yg selalu mengomel: "adek heran kenapa orangtua-orangtua selalu aja maunya cepat-cepat terus sih?"