Hari ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Akan badai sebentar lagi. Aku terpesona oleh intensitas gejolaknya yang mengerikan sekaligus memikat, menakutkan dan memesona, kutuk sekaligus berkat. Sebuah paradoks, bergejolak dalam pikiranku.
Ah, nampaknya aku mulai lagi tenggelam dalam perjalanan mental dan filsafatku, yang begitu sering muncul dalam pikiranku hari-hari belakangan ini. Mereka mengajakku berdialog ttg banyak hal. Hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Atau tidak ada waktu untuk kupikirkan. Atau tidak berani kupikirkan.
Kata orang, saat menjelang ajal kita dapat merasakan rayapannya. Aku ingin sekali tahu, seperti apakah rasanya? Apakah seperti sepasang tangan dingin yang merayap naik dari ujung jemari kaki lalu menyelimuti seluruh keberadaanku? Lalu.... Setelah itu, apa?
Apakah aku percaya adanya surga? Ya. Ya, rasanya ya, aku percaya, atau aku pikir aku percaya bahwa tempat itu memang ada: surga dan neraka. Tapi aku tidak tahu persis di mana letaknya, dan bagaiman keadaannya. Aku juga tidak tahu jalan menuju ke sana.
Siapakah yang akan memberitahuku? Mereka yang sudah pergi ke sana tidak ada yang kembali lagi untuk menceritakan pengalamannya, atau setidaknya memberi gambaran bagaimana cara mencapai yang satu dan menghindari yang lain.
Saat aku memandang ke luar jendela, kulihat kuncup-kuncup mawar di ambang jendela meliuk-liuk. Rapuhnya..., tapi tidak gugur. Apa rasanya bagi mereka, harus menghadapi badai tanpa memiliki kesempatan untuk melarikan diri? Hmm... Betapa cantiknya. Pun, betapa rapuhnya. Seperti layaknya kehidupan ini.
Aku menyadari bahwa rasanya semakin sulit untuk melihat dan merabai keindahan, kebaikan, kesempurnaan, ketika setiap detik yang aku lewati berisikan ultimatum yang begitu final. Sementara aku, aku belum ingin berhenti berlari. Aku ingin garis finish itu mundur beberapa meter lagi, bahkan kalau perlu, berkilo-kilo meter lagi, karena aku belum ingin berhenti berlari.
Telingaku menangkap bunyi-bunyi basah di luar sana. Ah...akhirnya hujan itu datang juga. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengarkan pola gemericiknya mengguyur atap, sebelum mengalir turun membasahi jendela lalu menyesap jauh ke dalam tanah. Tanah, dimana segala sesuatu sepertinya bermuara.
Dengan ujung jemari aku merabai kaca jendela yang digelimangi air hujan pada tepi luarnya. Kupandangi efek pantulan wajahku di sana. Wajah yang menatapku dari balik kaca jendela itu nampak aneh, karena teksturnya yang dilekukkan oleh gelimangan hujan. Aku merasa seperti peri dalam bayangan itu, begitu dekat dengan keabadian, nyata sekaligus tidak. Benarkah keabadian itu ada, seperti yang selalu mereka katakan? Bila benar, lalu mengapa hatiku merasa gelisah?
Dalam hidupku, hujan selalu mengembalikan kenang-kenangan. Baik kenangan yang manis dan memang ingin kubiarkan mampir, maupun yang pahit dan ingin kutimbun dalam-dalam sehingga tidak dapat melesak ke luar. Namun, hujan selalu saja mampu menggali semuanya, segalanya, dan aku sudah lama belajar untuk berhenti melawan, berhenti berontak, dan belajar menikmati segala rasa yang beradu dalam hatiku. Aku sadar bahwa itulah hidup. Merasakan segalanya. Menjalani segalanya.
***
Dan kenangan-kenangan itu, satu-satu datang melintas.....
***
Hari itu, saat itu, sama seperti hari ini, sore ini. Hujan mulai merebak lalu meluncur dari langit dengan derasnya. Aku keluar dari apartemenku dan menunggunya diujung tangga ketika dari jendela aku melihat mobilnya berbelok menuju jalan masuk kompleks apartemenku. Ketika berlari-lari kecil menaiki tangga menuju ke apartemenku yang berada di lantai dua ini, dia nampak lebih tampan dari biasanya. Aku menghambur ke dalam pelukannya. "Ah sayang, you're wet..., pasti lupa bawa payung lagi." Kataku, walaupun sesungguhnya aku tidak keberatan.
Wajahnya lembab namun bibirnya terasa hangat menyentuh bibirku, saat hati-hati dia mengecupku, takut menularkan basah bajunya ke tubuhku. "Selamat ulangtahun kekasihku.." Bisiknya dengan mata berbicara, dan mataku berbinar karena kami sama-sama tahu bahwa ini bukanlah hari ulangtahunku, bahkan sama sekali tidak mendekati hari kelahiranku. Namun, dia tahu dan aku pun tahu bahwa apabila boleh memilih, aku ingin dilahirkan saat hujan-hujan seperti ini, bahkan hari ini, sehingga segala sesuatu dapat dimulai dari awal lagi.
"Aku senang kamu ada disini,"bisikku ke telinganya saat kami bergandengan memasuki apartemenku.
Hujan turun semakin deras, bagaikan tercurah dari tingkap-tingkap langit yang dibuka lebar-lebar. Aku ingat bahwa saat itu aku sempat bertanya-tanya, sedang marahkah Dia yang menguasai semesta, atau mungkin Ia sedang menangisi hilangnya sesuatu yang sangat dikasihiNya?
Sementara di ruang tengah, aku dan dia duduk berdampingan, dia mengeringkan rambutnya yang seperti tanah basah diluar sana dengan sehelai handuk yang kuberikan, matanya yang panjang dan sipit, seperti sebuah garis hitam tebal di wajahnya yang putih. Sambil mengamati keadaan di luar jendela, sejenak kami diam, menikmati dengan hikmat kemegahan guntur dan kilat yang dipamerkan alam di luar sana.
Lalu, sembari menghirup kopi hangat, kami mulai bicara, dari hati ke hati.
"Kalau aku mati..." Kataku saat itu.
"Ssshh..." Dia menutup bibirku dengan telunjuknya, dan menggelengkan kepala, "Don't say that. Kamu tidak akan mati."
Aku tertawa ringan, pernyataannya terdengar konyol, walaupun penuh cinta, tapi tidak menutupi kekonyolannya. "Kita semua akan mati, Sayang. Tidak ada apapun juga yang abadi di tempat ini. aku tidak abadi, kamu tidak abadi, bahkan hujan, guntur, petir dan kilat di luar sana pun tidak abadi." Kukecup lembut telapak tangannya, lalu kubiarkan dia mengusap pipiku.
"Baiklah. Kalau kamu mati, aku juga akan mati."
Dalam hati aku tergelak, "Gombal.." aku tersenyum geli, "Kamu tidak akan ikut-ikutan mati. Kamu akan hidup, dan menemukan lagi kebahagiaan, mengerti?"
Dia menatap wajahku sangat lama, ada sesuatu di sana yang seakan ingin berkata tetapi kelu. Namun akhirnya dia berkata, "Haruskah kamu sekejam itu?"
"Kejam?"
"Kamu tidak pernah mempercayai ketulusanku."
Saat itu aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, mendengarkan bunyi desir hujan memukul atap dengan iramanya yang khas.
"Oohh...lihat!" Kataku kepadanya, "seekor kucing kecil terperangkap," ya, anak kucing itu terperangkap di sela-sela atap gedung sebelah, mengeong-ngeong sedih sebelum akhirnya induknya datang menjemput dan mengangkat anaknya dengan mulutnya untuk membawanya menuju ke tempat aman.
Saat itu, tiba-tiba saja aku merasa sangat merindukan sesuatu, yang aman, yang konsisten, yang akan menopang aku ketika aku jatuh. Kubaringkan kepalaku dipundaknya, mencari rasa aman itu di sana. Dia merangkulku. Kami membiarkan hujan menjadi musik hati kami sore itu.
Bersambung ya..
PS: Buat Indah.. hujanmu dan hujanku, bercerita ttg sesuatu yg mirip ;)
Ah, nampaknya aku mulai lagi tenggelam dalam perjalanan mental dan filsafatku, yang begitu sering muncul dalam pikiranku hari-hari belakangan ini. Mereka mengajakku berdialog ttg banyak hal. Hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Atau tidak ada waktu untuk kupikirkan. Atau tidak berani kupikirkan.
Kata orang, saat menjelang ajal kita dapat merasakan rayapannya. Aku ingin sekali tahu, seperti apakah rasanya? Apakah seperti sepasang tangan dingin yang merayap naik dari ujung jemari kaki lalu menyelimuti seluruh keberadaanku? Lalu.... Setelah itu, apa?
Apakah aku percaya adanya surga? Ya. Ya, rasanya ya, aku percaya, atau aku pikir aku percaya bahwa tempat itu memang ada: surga dan neraka. Tapi aku tidak tahu persis di mana letaknya, dan bagaiman keadaannya. Aku juga tidak tahu jalan menuju ke sana.
Siapakah yang akan memberitahuku? Mereka yang sudah pergi ke sana tidak ada yang kembali lagi untuk menceritakan pengalamannya, atau setidaknya memberi gambaran bagaimana cara mencapai yang satu dan menghindari yang lain.
Saat aku memandang ke luar jendela, kulihat kuncup-kuncup mawar di ambang jendela meliuk-liuk. Rapuhnya..., tapi tidak gugur. Apa rasanya bagi mereka, harus menghadapi badai tanpa memiliki kesempatan untuk melarikan diri? Hmm... Betapa cantiknya. Pun, betapa rapuhnya. Seperti layaknya kehidupan ini.
Aku menyadari bahwa rasanya semakin sulit untuk melihat dan merabai keindahan, kebaikan, kesempurnaan, ketika setiap detik yang aku lewati berisikan ultimatum yang begitu final. Sementara aku, aku belum ingin berhenti berlari. Aku ingin garis finish itu mundur beberapa meter lagi, bahkan kalau perlu, berkilo-kilo meter lagi, karena aku belum ingin berhenti berlari.
Telingaku menangkap bunyi-bunyi basah di luar sana. Ah...akhirnya hujan itu datang juga. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengarkan pola gemericiknya mengguyur atap, sebelum mengalir turun membasahi jendela lalu menyesap jauh ke dalam tanah. Tanah, dimana segala sesuatu sepertinya bermuara.
Dengan ujung jemari aku merabai kaca jendela yang digelimangi air hujan pada tepi luarnya. Kupandangi efek pantulan wajahku di sana. Wajah yang menatapku dari balik kaca jendela itu nampak aneh, karena teksturnya yang dilekukkan oleh gelimangan hujan. Aku merasa seperti peri dalam bayangan itu, begitu dekat dengan keabadian, nyata sekaligus tidak. Benarkah keabadian itu ada, seperti yang selalu mereka katakan? Bila benar, lalu mengapa hatiku merasa gelisah?
Dalam hidupku, hujan selalu mengembalikan kenang-kenangan. Baik kenangan yang manis dan memang ingin kubiarkan mampir, maupun yang pahit dan ingin kutimbun dalam-dalam sehingga tidak dapat melesak ke luar. Namun, hujan selalu saja mampu menggali semuanya, segalanya, dan aku sudah lama belajar untuk berhenti melawan, berhenti berontak, dan belajar menikmati segala rasa yang beradu dalam hatiku. Aku sadar bahwa itulah hidup. Merasakan segalanya. Menjalani segalanya.
***
Dan kenangan-kenangan itu, satu-satu datang melintas.....
***
Hari itu, saat itu, sama seperti hari ini, sore ini. Hujan mulai merebak lalu meluncur dari langit dengan derasnya. Aku keluar dari apartemenku dan menunggunya diujung tangga ketika dari jendela aku melihat mobilnya berbelok menuju jalan masuk kompleks apartemenku. Ketika berlari-lari kecil menaiki tangga menuju ke apartemenku yang berada di lantai dua ini, dia nampak lebih tampan dari biasanya. Aku menghambur ke dalam pelukannya. "Ah sayang, you're wet..., pasti lupa bawa payung lagi." Kataku, walaupun sesungguhnya aku tidak keberatan.
Wajahnya lembab namun bibirnya terasa hangat menyentuh bibirku, saat hati-hati dia mengecupku, takut menularkan basah bajunya ke tubuhku. "Selamat ulangtahun kekasihku.." Bisiknya dengan mata berbicara, dan mataku berbinar karena kami sama-sama tahu bahwa ini bukanlah hari ulangtahunku, bahkan sama sekali tidak mendekati hari kelahiranku. Namun, dia tahu dan aku pun tahu bahwa apabila boleh memilih, aku ingin dilahirkan saat hujan-hujan seperti ini, bahkan hari ini, sehingga segala sesuatu dapat dimulai dari awal lagi.
"Aku senang kamu ada disini,"bisikku ke telinganya saat kami bergandengan memasuki apartemenku.
Hujan turun semakin deras, bagaikan tercurah dari tingkap-tingkap langit yang dibuka lebar-lebar. Aku ingat bahwa saat itu aku sempat bertanya-tanya, sedang marahkah Dia yang menguasai semesta, atau mungkin Ia sedang menangisi hilangnya sesuatu yang sangat dikasihiNya?
Sementara di ruang tengah, aku dan dia duduk berdampingan, dia mengeringkan rambutnya yang seperti tanah basah diluar sana dengan sehelai handuk yang kuberikan, matanya yang panjang dan sipit, seperti sebuah garis hitam tebal di wajahnya yang putih. Sambil mengamati keadaan di luar jendela, sejenak kami diam, menikmati dengan hikmat kemegahan guntur dan kilat yang dipamerkan alam di luar sana.
Lalu, sembari menghirup kopi hangat, kami mulai bicara, dari hati ke hati.
"Kalau aku mati..." Kataku saat itu.
"Ssshh..." Dia menutup bibirku dengan telunjuknya, dan menggelengkan kepala, "Don't say that. Kamu tidak akan mati."
Aku tertawa ringan, pernyataannya terdengar konyol, walaupun penuh cinta, tapi tidak menutupi kekonyolannya. "Kita semua akan mati, Sayang. Tidak ada apapun juga yang abadi di tempat ini. aku tidak abadi, kamu tidak abadi, bahkan hujan, guntur, petir dan kilat di luar sana pun tidak abadi." Kukecup lembut telapak tangannya, lalu kubiarkan dia mengusap pipiku.
"Baiklah. Kalau kamu mati, aku juga akan mati."
Dalam hati aku tergelak, "Gombal.." aku tersenyum geli, "Kamu tidak akan ikut-ikutan mati. Kamu akan hidup, dan menemukan lagi kebahagiaan, mengerti?"
Dia menatap wajahku sangat lama, ada sesuatu di sana yang seakan ingin berkata tetapi kelu. Namun akhirnya dia berkata, "Haruskah kamu sekejam itu?"
"Kejam?"
"Kamu tidak pernah mempercayai ketulusanku."
Saat itu aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, mendengarkan bunyi desir hujan memukul atap dengan iramanya yang khas.
"Oohh...lihat!" Kataku kepadanya, "seekor kucing kecil terperangkap," ya, anak kucing itu terperangkap di sela-sela atap gedung sebelah, mengeong-ngeong sedih sebelum akhirnya induknya datang menjemput dan mengangkat anaknya dengan mulutnya untuk membawanya menuju ke tempat aman.
Saat itu, tiba-tiba saja aku merasa sangat merindukan sesuatu, yang aman, yang konsisten, yang akan menopang aku ketika aku jatuh. Kubaringkan kepalaku dipundaknya, mencari rasa aman itu di sana. Dia merangkulku. Kami membiarkan hujan menjadi musik hati kami sore itu.
Bersambung ya..
PS: Buat Indah.. hujanmu dan hujanku, bercerita ttg sesuatu yg mirip ;)