Pages

Saturday, January 23, 2010

Hujan Dedaunan 1

Hari ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Akan badai sebentar lagi. Aku terpesona oleh intensitas gejolaknya yang mengerikan sekaligus memikat, menakutkan dan memesona, kutuk sekaligus berkat. Sebuah paradoks, bergejolak dalam pikiranku.

Ah, nampaknya aku mulai lagi tenggelam dalam perjalanan mental dan filsafatku, yang begitu sering muncul dalam pikiranku hari-hari belakangan ini. Mereka mengajakku berdialog ttg banyak hal. Hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Atau tidak ada waktu untuk kupikirkan. Atau tidak berani kupikirkan.

Kata orang, saat menjelang ajal kita dapat merasakan rayapannya. Aku ingin sekali tahu, seperti apakah rasanya? Apakah seperti sepasang tangan dingin yang merayap naik dari ujung jemari kaki lalu menyelimuti seluruh keberadaanku? Lalu.... Setelah itu, apa?

Apakah aku percaya adanya surga? Ya. Ya, rasanya ya, aku percaya, atau aku pikir aku percaya bahwa tempat itu memang ada: surga dan neraka. Tapi aku tidak tahu persis di mana letaknya, dan bagaiman keadaannya. Aku juga tidak tahu jalan menuju ke sana.

Siapakah yang akan memberitahuku? Mereka yang sudah pergi ke sana tidak ada yang kembali lagi untuk menceritakan pengalamannya, atau setidaknya memberi gambaran bagaimana cara mencapai yang satu dan menghindari yang lain.

Saat aku memandang ke luar jendela, kulihat kuncup-kuncup mawar di ambang jendela meliuk-liuk. Rapuhnya..., tapi tidak gugur. Apa rasanya bagi mereka, harus menghadapi badai tanpa memiliki kesempatan untuk melarikan diri? Hmm... Betapa cantiknya. Pun, betapa rapuhnya. Seperti layaknya kehidupan ini.

Aku menyadari bahwa rasanya semakin sulit untuk melihat dan merabai keindahan, kebaikan, kesempurnaan, ketika setiap detik yang aku lewati berisikan ultimatum yang begitu final. Sementara aku, aku belum ingin berhenti berlari. Aku ingin garis finish itu mundur beberapa meter lagi, bahkan kalau perlu, berkilo-kilo meter lagi, karena aku belum ingin berhenti berlari.

Telingaku menangkap bunyi-bunyi basah di luar sana. Ah...akhirnya hujan itu datang juga. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengarkan pola gemericiknya mengguyur atap, sebelum mengalir turun membasahi jendela lalu menyesap jauh ke dalam tanah. Tanah, dimana segala sesuatu sepertinya bermuara.

Dengan ujung jemari aku merabai kaca jendela yang digelimangi air hujan pada tepi luarnya. Kupandangi efek pantulan wajahku di sana. Wajah yang menatapku dari balik kaca jendela itu nampak aneh, karena teksturnya yang dilekukkan oleh gelimangan hujan. Aku merasa seperti peri dalam bayangan itu, begitu dekat dengan keabadian, nyata sekaligus tidak. Benarkah keabadian itu ada, seperti yang selalu mereka katakan? Bila benar, lalu mengapa hatiku merasa gelisah?

Dalam hidupku, hujan selalu mengembalikan kenang-kenangan. Baik kenangan yang manis dan memang ingin kubiarkan mampir, maupun yang pahit dan ingin kutimbun dalam-dalam sehingga tidak dapat melesak ke luar. Namun, hujan selalu saja mampu menggali semuanya, segalanya, dan aku sudah lama belajar untuk berhenti melawan, berhenti berontak, dan belajar menikmati segala rasa yang beradu dalam hatiku. Aku sadar bahwa itulah hidup. Merasakan segalanya. Menjalani segalanya.

***

Dan kenangan-kenangan itu, satu-satu datang melintas.....

***

Hari itu, saat itu, sama seperti hari ini, sore ini. Hujan mulai merebak lalu meluncur dari langit dengan derasnya. Aku keluar dari apartemenku dan menunggunya diujung tangga ketika dari jendela aku melihat mobilnya berbelok menuju jalan masuk kompleks apartemenku. Ketika berlari-lari kecil menaiki tangga menuju ke apartemenku yang berada di lantai dua ini, dia nampak lebih tampan dari biasanya. Aku menghambur ke dalam pelukannya. "Ah sayang, you're wet..., pasti lupa bawa payung lagi." Kataku, walaupun sesungguhnya aku tidak keberatan.

Wajahnya lembab namun bibirnya terasa hangat menyentuh bibirku, saat hati-hati dia mengecupku, takut menularkan basah bajunya ke tubuhku. "Selamat ulangtahun kekasihku.." Bisiknya dengan mata berbicara, dan mataku berbinar karena kami sama-sama tahu bahwa ini bukanlah hari ulangtahunku, bahkan sama sekali tidak mendekati hari kelahiranku. Namun, dia tahu dan aku pun tahu bahwa apabila boleh memilih, aku ingin dilahirkan saat hujan-hujan seperti ini, bahkan hari ini, sehingga segala sesuatu dapat dimulai dari awal lagi.

"Aku senang kamu ada disini,"bisikku ke telinganya saat kami bergandengan memasuki apartemenku.

Hujan turun semakin deras, bagaikan tercurah dari tingkap-tingkap langit yang dibuka lebar-lebar. Aku ingat bahwa saat itu aku sempat bertanya-tanya, sedang marahkah Dia yang menguasai semesta, atau mungkin Ia sedang menangisi hilangnya sesuatu yang sangat dikasihiNya?

Sementara di ruang tengah, aku dan dia duduk berdampingan, dia mengeringkan rambutnya yang seperti tanah basah diluar sana dengan sehelai handuk yang kuberikan, matanya yang panjang dan sipit, seperti sebuah garis hitam tebal di wajahnya yang putih. Sambil mengamati keadaan di luar jendela, sejenak kami diam, menikmati dengan hikmat kemegahan guntur dan kilat yang dipamerkan alam di luar sana.

Lalu, sembari menghirup kopi hangat, kami mulai bicara, dari hati ke hati.

"Kalau aku mati..." Kataku saat itu.
"Ssshh..." Dia menutup bibirku dengan telunjuknya, dan menggelengkan kepala, "Don't say that. Kamu tidak akan mati."
Aku tertawa ringan, pernyataannya terdengar konyol, walaupun penuh cinta, tapi tidak menutupi kekonyolannya. "Kita semua akan mati, Sayang. Tidak ada apapun juga yang abadi di tempat ini. aku tidak abadi, kamu tidak abadi, bahkan hujan, guntur, petir dan kilat di luar sana pun tidak abadi." Kukecup lembut telapak tangannya, lalu kubiarkan dia mengusap pipiku.
"Baiklah. Kalau kamu mati, aku juga akan mati."
Dalam hati aku tergelak, "Gombal.." aku tersenyum geli, "Kamu tidak akan ikut-ikutan mati. Kamu akan hidup, dan menemukan lagi kebahagiaan, mengerti?"
Dia menatap wajahku sangat lama, ada sesuatu di sana yang seakan ingin berkata tetapi kelu. Namun akhirnya dia berkata, "Haruskah kamu sekejam itu?"
"Kejam?"
"Kamu tidak pernah mempercayai ketulusanku."

Saat itu aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, mendengarkan bunyi desir hujan memukul atap dengan iramanya yang khas.

"Oohh...lihat!" Kataku kepadanya, "seekor kucing kecil terperangkap," ya, anak kucing itu terperangkap di sela-sela atap gedung sebelah, mengeong-ngeong sedih sebelum akhirnya induknya datang menjemput dan mengangkat anaknya dengan mulutnya untuk membawanya menuju ke tempat aman.

Saat itu, tiba-tiba saja aku merasa sangat merindukan sesuatu, yang aman, yang konsisten, yang akan menopang aku ketika aku jatuh. Kubaringkan kepalaku dipundaknya, mencari rasa aman itu di sana. Dia merangkulku. Kami membiarkan hujan menjadi musik hati kami sore itu.

Bersambung ya..

PS: Buat Indah.. hujanmu dan hujanku, bercerita ttg sesuatu yg mirip ;)

25 comments:

.g. said...

Ini adalah cerita pendek yang benar-benar saya tulis dari hati dan lubuk jiwa yang paling dalam. Cerita ini dimuat di Kumpulan Cerita Pendek pilihan Majalah FEMINA 2003. Kalau Anda bertanya kenapa bersambung, karena saya tidak tahan untuk menyambung dan menyambung dan menyambung lagi kisahnya. Jadi, bisa dikatakan ini sama sekali baru, dan tidak persis sama dengan yang di kumcer. Kreatif dan inovatif bukan? Ingin keterangan lebih lanjut? Silahkan berasumsi.

Selamat menikmati
salam,
SGA*
;)


*versi esw

eka wijayanti said...

Aku ingat bahwa saat itu aku sempat bertanya-tanya, sedang marahkah Dia yang menguasai semesta, atau mungkin Ia sedang menangisi hilangnya sesuatu yang sangat dikasihiNya?

♥♥♥

.g. said...

ESW kali ini sy benar2 merasa tdk suka dgn cara Anda, berkomentar dgn mmpergunakan id saya. Sy bhkan sempat berpikir apakah hal itu dgn cara membobol password? hmm... Ada batas2 dlm berinteraksi, sy mohon dengan serius untuk menghormati hak-hak saya seperti saya juga menghormati hak2 Anda.

Indah said...

Ini adalah cerita pendek yang benar-benar saya tulis dari hati dan lubuk jiwa yang paling dalam.

Kerasa sih, G.. ntah kenapa gua menangkap aura kesedihan, kesepian dan kehilangan di postingan ini.

And hmm.. kalo hujan kita mirips, berarti.. hikss.. sedihnyaa :'(

Ditunggu sambungannya, G!

.g. said...

@Indah, walaupun yg km kutip itu bukan komentar sy tp komentar Eka Wijayanti yg memakai id saya, terimakasih atas apresiasinya ya...

eka wijayanti said...

Indaaah... Komentar pertama itu, saya yang ketik. Bukan Gratcia-san.

Iya. Gratcia-san. Saya mengaku salah dan sudah terlalu kebangetan... Saya menyesal sekali. Saya minta maaf...

Terharu, Anda menegur saya di sini, tanpa ditahan dan disimpan-simpan. Terima kasih...
Maukah Anda memeluk?
( ( ( hugs ) ) )

Judith(Emaknya Dee) said...

tidak sabar menunggu sambungan mbak G!

Widya asti said...

cerpen yang bagus banget mba Gratcia,,,, :) tentang cinta,,,selalu dalem,,,

*hukumannya untuk eka jg BAGOOSSSS,,, biar kapok dia,,,nyebelin banget!!!! harusnya setahun qiqiqiqi

dillan otto said...

salam kenal bu Gratcia, cerita pendeknya nanggung. sengaja ya? dipotong pada saat yang tepat. Bagus. Salut juga atas tegurannya buat partner sy. Hohohohoho. kami temen2 aja udah mati langkah untuk nyari kesempan mcm ini.

salam hormat,
Dillan Otto

Cia Subandi said...

Dear, Ibu Gratcia Siahaya. Pertama-tama ijinkan sy berkomentar untuk cerita pendeknya. Indah &lembut. Sangat feminim. Jelas penulisnya punya pengalaman. Dua jempol.

Yang kedua, sy sebagai orang yg sudah menganggp eka wijayanti seperti adik sy sendiri, memohon maaf yang sebesar-besarnya. sy berani jamin, adik sy tidak punya niat jahat... ia anak yang mnis dan cenrung lugu. hanya saja tidak terlatih utk berisengria... sy harap ibu tdk menganggapnya serius. Sekali lagi sy mohon maafnya :(

hormat saya Cia M Subandi

Erina Chandra A said...

mbak Gratcia yg baik. salam kenal, saya Erina. Sama seperti komentar diatas saya, cerpennya bagus, indah...sy suka kalimat ini ---->> Kukecup lembut telapak tangannya, lalu kubiarkan dia mengusap pipiku.
mesra banget.

oia soal eka... ...mohon dimaafkan ya mbak? hukuman pasang status itu udah bikin dia "sengsara"......sy temen baiknya bahkan gak tega...tapi dia memang salah dan dia terima hukumannya... tolong segera dilupakan y mbak. seperti kata mbak cia, eka itu cute polos bnget...keliatannya aja keras ^.^

Dillan otto said...

saya ikut mewakili/bersama saudari eka & teman2lain minta maaf atas kejahilannya yang bikin kami kaget.(ternyata bisa jail juga ^0^)

Dillan O

.g. said...

For All, waduh.. dikeroyok dgn maaf seperti ini bagaimana menolaknya?? Tenang saja teman2 Eka yg sangat suportif dan sangat baik.. Eka sudah minta maaf dan saya sudah memaafkan 100%. Kalau ada lagi yg memohonkan maaf, saya gantung diri di pohon toge.

Irene said...

Ge..indah dan dalem banget ya.... bacanya serasa melayang-layang di udaraa...;))

Eka..bawa balatentara..hihii..

Lie said...

menyentuh sekali mbG... koq bersambung sih........ *penasaran.com

ami said...

haduuuh G ikutan terhanyut dengan ceritamu dan jadi rada2 sebel karena bersambung! hahaha. ditunggu sambungannya yaaa

Winda said...

kenapa dipotong seeeh? *protes, penasaran*

Skunyos said...

mbak G.. ujan2 seru kalo ada ML nya :P
kaboooooooooor ^_^ hihihi

Irene said...

Skunyos..ayo dong bikin..biar tambah seruww..hihihi

Anonymous said...

Ah, sore itu..

***

Lalu kenangan berikutnya melintas...

Aku ingat suatu saat di bulan Desember yang basah. Sore-sore menjelang malam Natal. Seisi kota sudah berdandan, siap untuk berpesta. Sejak dari Bukit Panjang, City Hall, sepanjang jalan di Orchard Road hingga Pasir Ris, ornamen-ornamen indah dipasangkan dimana-mana.

Kota nampak berdandan bagaikan seorang perempuan berhias lengkap untuk kekasihnya, pikirku saat itu dengan hati yang enteng dan pikiran yang dipenuhi rencana-rencana kencan dengannya nanti malam.

Sambil menenteng sejumlah belanjaan, aku berencana hinggap sebentar di Starbucks Plaza Singapura untuk segelas kopi hangat, ketika kulihat mereka: dia, dan wanita bergincu YSL itu, tenggelam dalam dunia milik mereka sendiri. Berciuman dalam satu nafas. Tepat disana: di depan mataku, diantara lalu lalang pejalan kaki yang mengejar lampu merah bagi kendaraan dan lampu hijau bagi para pejalan kaki, tanda boleh menyeberang.

Saat itu, aku merasa berdiri di tepi sebuah jurang, antara keabadian dan kenyataan. Sebuah kesadaran menghantam hatiku begitu keras seakan meledak dengan tawa terbahak yang membukakan sebuah rahasia: keabadian memang tidak ada di tempat ini. Kedok kepalsuan yang mengugurkan semua teoriku tentang cintanya dan kesetiaannya, membenarkan kenyataan bahwa segala sesuatu hanya temporer, seperti halnya hidup ini, dan tidak ada apapun juga yang konsisten dari detik ke detik. Tidak juga dia. Tidak juga aku. Atau kata kolektif itu: kami, tidak pernah sungguh-sungguh ada.

Ketika mata kami, aku dan dia, akhirnya bertemu, sudah terlambat baginya untuk meyakinkan aku bahwa keping-keping hati yang berceceran di jalanan itu bukanlah miliku.

Segala sesuatu seakan bergerak dalam gerakan lambat. Saat itu aku tak mampu berkaca di matanya lagi. Aku bahkan tak dapat menangkap jejak bayanganku di sana, dan aku menyadari bahwa ketidak mampuanku untuk menemukan diriku disana bukan disebabkan oleh jarak yang terentang beberapa meter diantara kami.

Aku ingin terbang, namun tidak punya sayap. Aku ingin berlari, namun kehilangan arah. Sejenak aku tidak lagi tahu mau kemana. Lalu tiba-tiba aku merasa sangat kehausan, aku merasa hanya ingin mereguk secangkir kopi saja agar aku benar-benar yakin bahwa saat ini aku memang sedang terjaga dan semua yang aku saksikan tadi bukan berasal dari salah satu adegan dalam koleksi mimpi-mimpi burukku.

***

Irene said...

Ge... miss you so much!!

ami said...

hiks kok sedih yaaaa. terasa banget penjiwaannya. semoga kamu sehat selalu ya G

Irene said...

disini 'kami' itu ada..kami,teman2mu selalu merindukanmu...

Indah said...

Oohh.. myy.. ternyata memang hujan kita mirips yaa :(

Aahh.. semoga perempuan dalam cerita di atas udah bisa menata kembali hatinya :)

Lie said...

Sedih sekali ceritanya... :(