Pages

Saturday, January 2, 2010

Aku dan Malam Ini

Malam ini adalah malam seperti malam-malam yang biasanya setiap hari Sabtu, tugasku adalah memandikan anak-anak sebelum tidur malam, sehingga apabila besok pagi mereka bangun terlambat masih tak mengapa untuk cuci muka, sikat gigi dan bersama-sama denganku berangkat ke gereja. Mereka tentu saja ke sekolah minggu, atau gereja kecil, demikian si bungsu suka mengatakannya, sementara aku sendiri ke gereja besar untuk beribadah.

Malam ini juga seperti malam-malam yang biasanya setiap hari dalam kehidupanku, yaitu malam dimana waktu terasa tidak mencukupi untuk menyelesaikan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah hal yang besar, bahkan lebih besar dari diriku sendiri, dan sering sekali aku mengeluh, kapan aku bisa menyelesaikan segala sesuatu seperti yang seharusnya.

Bagaimana yang seharusnya itu? Yang seharusnya itu adalah, setrikaan beres semua, cucian piring tidak pernah bertumpuk, kompor selalu kinclong, tidak ada sisa-sisa tumpahan makanan atau susu atau yogurt yang menodai lantai, taplak meja makan tidak pernah belang belontang karena terpercik kecap atau sirup atau saus tomat, dan pekerjaan kantor siap pada waktunya sehingga aku tak perlu lagi membuka laptop setiap malam setelah ketiga kurcaci tidur untuk meneruskan apa yang belum selesai pada siang harinya sementara keesokan hari sudah ada lagi hal-hal lain yang menunggu. Aku mau semuanya beres seperti yang seharusnya!

Itu yang sering sekali aku jeritkan dalam doa malam sebelum tidurku. Aku benar-benar terlalu sering menjerit akhir-akhir ini. Tetapi itu semua karena aku merasa tidak punya cukup waktu!

Jangan salah, bukan tidak ada orang yang membantu aku setiap hari. Ada, Linda namanya, dia datang setiap hari dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, selanjutnya aku yang mengambil alih tongkat estafet kegiatan di rumah. Dan jangan juga berprasangka bahwa aku tidak menyukai kegiatan domestikku. Bukan itu. Justru aku sengaja hanya menggaji seseorang untuk membantuku paruh waktu dan hanya dari Senin sampai Jumat, justru agar aku tetap melakukan kegiatan-kegiatan domestik tersebut, agar anak-anakku melihat bahwa aku tetaplah seorang ibu yang selain bekerja di luar rumah juga mengurusi keperluan mereka di dalam rumah, walaupun tidak melakukannya sepanjang hari.

Mengapa? Aku ingin mereka melihat dan mencontohku, yaitu mengerjakan apa yang memang bisa dikerjakan sendiri dan belajar untuk bertanggungjawab dalam hal-hal yang kecil-kecil, tidak sedikit-sedikit menyuruh orang lain untuk melakukannya bagi mereka. Aku ingin mereka tumbuh menjadi anak-anak yang normal, yang tidak cengeng, manja dan merasa berhak untuk bertingkah seenaknya karena kami, aku dan ayah mereka, berpisah. Bagiku, ini adalah salah satu cara untuk membuat aku tetap waras, dan memberikan kepada mereka keteraturan ditengah sebuah kenyataan yang sama sekali keluar dari aturan yang seharusnya dijalani, melakukan kegiatan-kegiatan secara bersama-sama merupakan sebuah ikatan yang aku harapkan cukup kuat menopang hari-hari mereka yang timpang tanpa kehadiran seorang ayah setiap saat dan waktu. Juga aku ingin mereka memiliki dasar yang kuat ketika mereka kubiarkan menginap ke rumah ayah mereka yang tradisi-nya berbeda dengan tradisi yang setiap hari kami lakoni di rumah ini, tempatku di hati mereka dan dalam kehidupan mereka tidak boleh tergantikan oleh wanita lain yang telah menggantikan kedudukanku di hati ayah mereka. Ia boleh mengambil laki-laki itu, tetapi tidak anak-anakku.

Malam ini, sama seperti malam-malam yang biasanya setiap hari Sabtu, Lena, Dino dan Adinda masuk ke dalam bathtub yang telah diisi air hangat itu bersama-sama. Dengan riuh rendah mereka menikmati kegiatan mandi mereka. Secara bergantian aku harus turun tangan menyabuni mereka, terutama si bungsu yang baru berusia 4 tahun. Bila Lena, 7 tahun, si sulung adalah si bossy di keluarga ini, yang mengatur dengan cermat siapa yang melakukan ini dan siapa yang harus melakukan itu sehingga menciptakan keteraturan yang begitu mengagumkan bagiku, maka Dino, 5 tahun, adalah si briliant yang selalu berhasil menemukan solusi-solusi dari perkara-perkara, sedangkan Dinda adalah sang artis, yang kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam imajinasi, ia melihat dunia selalu penuh dengan warna-warni dan mahluk-mahluk imajiner ciptaannya sendiri.

Maka, apabila saat ini Lena dengan penuh disiplin menakar waktunya sendiri dan memutuskan bahwa waktu untuk mandi sudah cukup, demikian pula Dino yang telah menghitung bahwa apabila ia segera menyelesaikan mandinya maka ia masih dapat bermain game selama 30 menit sebelum waktu tidur malam ini, maka Adinda asyik dengan gelembung-gelembung sabun dan sibuk mengajakku berceloteh.

"Dinda," kataku akhirnya dengan kesabaran yang tiba-tiba menjadi begitu pendek karena aku tak melihat tanda-tanda bahwa ia akan menyudahi kegiatannya bermain air, "sudah cukup, sekarang juga keluar dari dalam sana dan pakai handuk. Mama hitung sampai tiga! Satu..."

"Oke, oke..." Katanya sambil memonyongkan bibirnya dan keluar dari bathtub. Aku segera mengeringkan badannya dengan handuk yang lebar dan halus kesukaannya, bergambar Dora dan Boots. Dinda cekikikan ketika aku mengeringkan rambutnya dan aku jadi ikut tersenyum. Ketika tubuhnya sudah kering, tiba-tiba saja ia melesat ke lorong menuju kamarnya sambil menari-nari dan berseru, "Lihat ma, seperti balerina kan? Kalau sudah besar nanti, Dinda mau menjadi balerina."

Kesabaranku habis. Tidak bisakah dia meniru kakak-kakaknya yang sekarang sudah dengan rapi mengenakan baju tidur mereka dan bersiap-siap untuk tidur? Tidak mengertikah dia telah begitu banyak hal yang aku kerjakan sepanjang hari ini dan masih begitu banyak hal yang ingin aku selesaikan?

"Dinda!" Suaraku terdengar sangat keras, bahkan bagi telingaku sendiri, namun aku tidak perduli lagi. Si penari kecil berhenti menari, dari gerakan pundaknya aku tahu bahwa ia sangat terkejut.

Perlahan-lahan ia membalikkan badan lalu tiba-tiba berlari ke arahku dan memelukku dengan erat, "Mama.. jangan marah.." Katanya dengan wajah tengadah memandangku sambil mewek, mata bulatnya berkaca-kaca dan ujung hidungnya memerah.

Hatiku melembut, kupandang wajahnya dan berkata, "Makanya Dinda harus cepat-cepat pakai baju... jangan bikin mama jengkel. Mengerti?"

Dinda mengangguk. "Maaf ya..." katanya sambil mencium pipiku lalu tiba-tiba wajahnya kembali ceria dan ia kembali menari-nari seperti sebelumnya dengan tawanya yang lincah itu.

Aku mengeluh putus asa, "Dindaaaaaa!"

"Yaaaa..." Jawabnya sambil tertawa-tawa lalu ketika melihat wajahku yang kesal, ia berhenti menari dan berjalan mendekatiku seraya mengangkat kedua tangannya pertanda minta digendong, lalu menatap wajahku dengan sangat serius, "Ma, memangnya mama mau pergi kemana malam ini?"

Aku menatapnya, heran dengan pertanyaan yang diajukannya. "Mama tidak mau pergi kemana-mana..."

"Kalau begitu, kenapa kita harus cepat-cepat?"

Aku menatapnya tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Ya, mengapa harus selalu cepat-cepat seakan aku selalu berkejaran dengan waktu atau dengan entah apa?

"Ma?"

Aku menatap wajah polos itu dan tiba-tiba saja aku mengerti sesuatu. Aku mulai mengerti bahwa waktu adalah alat bukan tuan. Waktu adalah kesempatan untuk merajut saat-saat kebersamaan seperti ini, bukan hanya melewatkannya dan berharap sesuatu yang baik akan terjadi karena aku sudah memanfaatkan setiap detik tik-tok-tik-tok itu. Waktu adalah kesempatan bagiku untuk mendengarkan kisah-kisah Dinda tanpa merasa dikejar-kejar deadline yang tak jelas berasal dari siapa. Waktu adalah kesempatan untuk menikmati saat ini yang akan menjadi sejarahku, Lena, Dino dan Dinda di masa-masa yang akan datang. Saat ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar aku miliki, dan seharusnya seperti Dinda, aku menikmatinya sepenuh hatiku tanpa sibuk memikirkan loncatan peristiwa yang akan aku kerjakan di waktu berikutnya.

Kuturunkan Dinda dari dalam gendonganku dan sambil tersenyum aku berkata kepadanya, "Ajari mama menari seperti tadi, Dinda. Mama juga ingin menjadi balerina untuk malam ini."

Sambil melepaskan diriku dari kungkungan kotak-kotak yang kubangun sendiri tanpa menyadari betapa aku sudah memenjarakan diri dari kesempatan-kesempatan untuk menikmati tanpa takut apa yang menjadi bagian hari ini, aku berjanji untuk belajar membiarkan noda-noda di lantai menjadi bagian yang merepotkan namun tidak menakutkan, juga tumpukan baju yang belum semuanya dicuci bukan berarti dunia runtuh, semuanya hanya berarti ada hari-hari yang tidak akan menjadi sempurna seperti yang aku pikir seharusnya terjadi, melainkan hari-hari penuh arti justru karena ia dapat ditandai dengan ragam dan macam peristiwa yang menjadikan hidupku memiliki warna-warni, ada yang teratur, ada yang spontan tercipta, ada yang tak mampu kukendalikan. Ya.. tak selalu harus seragam.

Malam ini tidak sama seperti malam-malam sebelumnya. Tidak akan pernah ada lagi malam-malam atau hari-hari yang persis sama dalam kehidupanku, dan hal itu baik adanya.

---

Terinspirasi dari Joshua yg selalu mengomel: "adek heran kenapa orangtua-orangtua selalu aja maunya cepat-cepat terus sih?"

19 comments:

G said...

Komentar pertama sebagai tradisi harus diisi oleh yang penulisnya sendiri.

Maka.. inilah dia si jali2, cerpen yg saya tulis setelah menimbang2 mau mengambil yang separuh jadi atau yg sama sekali muncul dari langit2 kamar.

Yg menang adalah yang muncul dari langit2 kamar. Walaupun pastinya tak sempurna dan perlu dipangkas sana dan sini, namun berhasil melakukan sesuatu yg spontan itu ternyata memberikan nilai lebih dan kelegaan yang berbeda.

Saya menyukai perasaan tsb. Seperti mencubit diri sendiri dan menyadari, ho-oh, sakit tau! tp itu pertanda syaraf2 perasa saya masih berfungsi dengan benar.

^^

eka wijayanti said...

Gratcia-san, ini begitu mengalir. Terlalu mengalir. Tarik ulur sedikit di tengah-tengah. Sisipi insiden "kecelakaan" karena sugesti "buru-buru". Seperti, muncul ufo yang menculik orang Senayan. Sesuatu yang mengejutkan begitu.

G said...

Memang kurang gregetnya, saya juga menyadari hal itu. No prob, akan diperbaiki, jadi kalau nnti jadi buku tak akan persis sama dengan yg di blog ;)

eka wijayanti said...

Ya, kirimi saya 1 eksemplar. Plus tanda tangan.

*tidak bisa ya, bikin tulisan yang tidak bikin saya berpikir?*

Indah said...

yang kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam imajinasi, ia melihat dunia selalu penuh dengan warna-warni dan mahluk-mahluk imajiner ciptaannya sendiri.

Dari baca ini udah jatuh cintaa ama Dindaa, yuhuu!! *cupps*

Btw, untungnya si Mama nyadar yaa.. soalnya banyak juga ortu yang ngga mudeng pas dalam situasi di atas, ahahaha :D

Btw, G, udah pernah baca "Momo"-nya Michael Ende belon? Di situ dijelaskan tuh kenapa manusia dewasa selalu terburu2, ahahaha..

G said...

@Eka, huehuehue.. maksudnya kan buku kumpulan cerpen2 kita ini loh... *berkhayal* trus nnti ilustrasinya bisa minta tolong dibikinkan juga ya?? *yg ini maksa*

@Indah, ada ya?? Hohoho... pengen baca ahh.. hahaha, ternyata ada pembahasan itu toh. wah itu saya harus baca sama2 Jason dan Joshua, wkwkwkwk

ami said...

ngga bisa komen seperti yang lain hehehe. bagus bangets. mengenai ceritanya, aku jadi ingat dengan diriku, aku juga pernah mengalami seperti ceritamu itu G. miriip banget :)

G said...

@Ami, waaah artinya saya berhasil menangkap esensi kehidupan seorang ibu, yessss!!!

Indah said...

Yupp.. baca dhee.. rada bertele2 sih di awal tapi makin ke belakang makin kereenn!!

And hebatnyaa.. nih buku walau udah ditulis sekian puluh tahun yang lalu, tapi isinya masih lumayan relevan ama masa sekarang, uhuyy..

And kalo baca yang versi Indo.. aww.. gua terkesan ama prinsip si Beppo Tukang Sapu Jalanan ^o^

Aahh.. jadi kangen ama bacaan anak2 yang mengandung pesan moral kaya ginii *sigh*

G said...

Asyik asyik.. saya udah googling, buku ini terbitan thn 73 ya? Hmm... udah lama banget ga baca buku2 cerita anak2, semoga masih bisa ketemu buku ini, kalau ga ada, terpaksa cari di internet deh, siapa tahu bisa download gratisan, hehee.. tp pegel juga mata kalau baca dari laptop, hiks..

Skunyos said...

Mbak Nilai moralnya bagus!
Betapa kita sering terpenjara waktu dan melewatkan momen2 indah yg datang bersama waktu...

Lie said...

hmmmm...aku juga sering banget ga sabar...apalagi qlo liat Bella mandi kelamaan...rasanya nada suaraku percis sama dgn nada suara maminya Dinda...hehehe *problem ibu2, rasanya ga cuman mami Dinda aja yg kyk gitu...

emmanuellykeisa said...

Makasih mbak G, asik...cerpennya terbit malem minggu, ada bacaan baru...;-)

pesan ceritanya mengena mbak, tanpa disadari ya...kadang sibuk mencari yang belom pasti sementara yang ada di depan mata sering terabaikan...ahhh...sepertinya, kalo saya diposisikan disana, tegangannya lebih dari mama nya Dinda :(

G said...

@Eka, Yulie dan Emmanuelly, thanks sudah baca cerpen ini dan thanks atas tanggapannya. Pastinya setiap ibu2 yg sudah pny anak dan harus ngurus sendiri anak2 mereka pernah mengalami momen kayak gini, hihi.. klo saya sendiri sering banget ngalamin kayak gini juga sama dua keponakan yg kebetulan mmg dekat bngt sama saya itu.

Winda said...

G, sori telad komen, walaupun nggak telad baca lho...
hebat lo, penggambaran yang nyaris sempurna tentang kehidupan seorang ibu dan anak-anaknya...
wuuaaah, gw ngerasa jadi bagian dari cerita ini lho...bener2 ngena...
keren banged G!!!!
^_^

Irene said...

Ge..aku langsung merasa harus ada yang aku rubah dalam memperlakukan anakku.. tepat mengena sasaran....

G said...

@Winda: pengalaman menjadi babysitter, wahaha, dan menjawab pertanyaan2 tak kunjung selesai yang sering bikin jengkel karena masih ada kerjaan yang harus diselesaikan tapi kok anak2 ini kayak ga ngerti bhw bagi org dewasa time is money, smntara bagi mereka time flies by, don't worry be happy! Thanks Winda ;)

@Irene: Syukurlah kalau ada manfaatnya ^^

Linda Belle said...

i love it as usual hehe...
inspirasi dari ponakan pasti mengalir terus say and intinya mengena...kita itu emang terlalu suka buru2 emang ya hihih

G said...

Linda: halo halo, ketemu di sini juga ^^ Tengkyuu... Hidup para keponakan yang walopun kadang2 bisa jadi sangat ngerepotin dan ngejengkelin, hahaha, tapi juga menyuarakan "wisdom" yang dibutuhkan oleh org2tua yg sok dewasa ;)