Pages

Saturday, January 16, 2010

H E A D L I N E

Sering kubertemu dengannya di lorong-lorong kota tempat kita tinggal. Berpapasan jalan, lebih tepatnya. Perempuan itu, namanya aku tak tahu, aku hanya menyapanya, "Hai!" atau "Pagi," atau sekedar menggerakan kepala tanpa suara. Dan dia jarang sekali membalas sapaanku, ia lewat begitu saja, sibuk dengan dunianya sendiri yang menempel erat dikupingnya membuat dia bicara layaknya pada udara. Entah apa yang dibicarakannya dengan udara, namun sepertinya mereka terus-terusan berkelahi. Aku tak tahu mengapa, aku suka melihatnya, aku suka mengamatinya, aku bahkan menunggu-nunggu ia jatuh tersandung karena selalu melangkah tanpa melihat jalan. Namun, mengagumkanya!, hal itu tak pernah terjadi. Ia seolah memiliki mata di kakinya sehingga dapat menavigasikan diri dengan baik, bahkan ia tahu kapan harus melompat bila ada genangan air dan ia tak ingin celana panjang yang dikenakannya itu basah oleh genangan hasil air hujan, walaupun, lucunya, ia seringkali tak terlalu perduli pada gerimis yang tentu saja sudah mengirimkan titik-titik basah yang kemudian menempeli rambut, wajah dan bajunya itu. Absurd, pikirku geli sendiri.

Seminggu yang lalu ia menjadi headline pada Koran Pagi kota tempat kita berdomisili. Ya, ya, ya, aku yakin sekali itu wajahnya, yang manis namun jarang sekali tersenyum. Heran, mengapa senyumnya nampak begitu mahal, aku sering heran sendiri. Ada yang salahkah dengan giginya? Ah, tidak, aku pernah melihat dia bicara dengan mulut yang terbuka-buka lebar, entah bicara tentang apa, tapi sampai saat ini aku ingat sekali, giginya bagus dan tertata rapi sekali. Dan di koran pagi ini, ia masuk menjadi berita, Young Entrepeneur Of The Year, begitu koran pagi itu menyebutnya. Di dalam gambar ia nampak menerima sebuah plakat, hanya dengan senyum sedikit saja, seakan berkata, "Yups, saya memang pantas dapat bintang." Dan benar saja, konon kabarnya, begitu tiba di kantornya, plakat itu dimasukkannya ke tempat sampah! Dia bilang, dia tak perlu penghargaan-penghargaan yang hanya untuk gengsi-gengsian, yang dia perlu adalah kerja-kerja-kerja dan memberikan hasil yang nyata!

Ah! Dia memang mengagumkan sekali. Aku merasa agak jatuh cinta pada keagresifannya yang dingin seperti cadas itu.

Karena itu pula aku tertegun, ketika melihatnya sedang duduk bengong seperti bagong kebingungan. Tidak biasanya pikirku. Mana pernah aku punya kesempatan melihat pantat mungil itu diistirahatkan di pagi hari. Ho-ho-ho, sumpeh deh! ini kejadian super langka yang sudah seharusnya aku abadikan dengan kamera, seandainya saja aku membawa kamera. Sayangnya tidak.

Tiba-tiba ia menatap kearahku. Fokus. Seakan ia menyadari bahwa aku ini ada. Setelah bertahun-tahun berpapasan tanpa pernah mengetahui bahwa aku adalah bagian dari manusia-manusia lain yang lalu lalang di lorong gedung ini, akhirnya dia menatapku! Fokus! Menakjubkan! Aku hampir berteriak karena girangnya. Yaiiiy! Tetapi cepat-cepat kutahan diriku dari rasa girang yang keterlaluan sangat itu, sebab tiba-tiba pula aku merasa takut sekali. Bukan, bukan takut, tapi merasa segan. Apa yang akan kubicarakan dengan perempuan hebat ini? Apa yang bisa keluar dari mulutku yang akan membuatnya berpikir aku pantas menjadi kawan bicaranya? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, dan bersirobok pandang lagi dengannya. Ya, ia masih menatapku, matanya nampak seakan mengiba meminta aku mendekat. Hah! Aku mencubit kege-eranku kuat-kuat. Yang benar saja! Rupanya aku sudah berhalusinasi di pagi ini.

Kutekan kuat-kuat rasa ingin tahuku, dan kutekan juga kuat-kuat keinginanku untuk mendekati dan menyapanya, "Ada apa?" Karena aku tak bisa membayangkan ia memerlukan apa-apa. Dia begitu kuat. Begitu kokoh. Dia adalah dia, yang tak dapat kulukiskan cukup dalam berpanjang-panjang kalimat. Dia hanya satu kata saja: dia. Maka kutinggalkan dia duduk di sana, di tempat yang biasa saja bagi orang lain, namun tak biasa bagi: dia. Kuusir sejentik perasaan aneh yang menggangguku. Ah! Semua baik-baik saja. Pastilah! Dan tak kuubah ritme rutinitasku.

Tapi, pagi ini saat ku terima Koran Pagi Kota Kita, dia masuk headline lagi!

"Dia gila! Dia kira dia superwoman!" Jeritanku mengagetkan seisi rumah.

Ya, dia masuk Headline lagi!

Seorang perempuan muda, terkenal dan ambisius, melompat dari ketinggian lantai tujuh sebuah pusat perbelanjaan di kota kita.

Aku terhenyak. "Oh, Tuhan! Dia kira dia punya sayap!" Pekikku masih dengan suara tinggi, sementara tanpa dapat kutahan air-air masin mengalir dari mataku, membasahi pipiku., membayangkan bagaimana dia terbanting keras dengan telak, terbawa oleh gravitasi bumi yang tidak memberikan dispensasi, tak perduli apakah ada hal-hal yang masih bisa dikerjakannya atau tidak, tak perduli apakah akan ada karya-karya cemerlang berikutnya yang bisa dihasilkannya atau tidak. Tubuh mungil itu memang terjerembab tanpa ampun! Lehernya, patah. Kepalanya, pecah, otak yang luarbiasa itu terburai begitu saja, begitu saja! Tak lagi dapat difungsikan seperti seharusnya.

Dan nyawanya? Melayang, meninggalkannya.

Pagi ini aku duduk di kursi makan, menghadapi meja makan, dan sarapan pagi yang belum juga kusentuh, koran pagi dihadapanku, dan hati yang sibuk bertanya-tanya, kalau saja aku sedikit lebih berani menyeberangi jalan kecil sempit diantara kami dan mengambil resiko membuka mulut walaupun akan terdengar dan terlihat bodoh dihadapan perempuan hebat itu, apakah akan ada bedanya? Arrrghhh!! Tiba-tiba aku merasa sangat marah kepada perempuan itu, "Kau gilaaaaaaa!" Raungku sekeras-kerasnya, mengusir pedih yang menusuk tajam, seakan sebuah telunjuk berkuku tajam menusuk nuraniku hingga membelahnya, dengan rasa bersalah tentang sekian detik atau menit atau mungkin jam yang bisa mengubah headline hari ini. "Mengapa kau begitu bodoh?" Keluh mulut ini, "kalau saja aku tahu kamu begitu bodoh, aku tak akan takut mendekatimu dan mungkin menggandeng tanganmu, kalau kau ijinkan, selama yang kau mau, sampai detik-detik kebodohanmu menguap." Dan tatapan menghiba itu menerobos memoriku, hinggap di ruang-ruang celah mataku terpampang sangat jelas. Kini, malah semakin jelas! Aaarggh!!

Sudah terlambat. Pagi ini berita tentang kebodohannya menjadi Headline di Koran Pagi Kota Kita, di saat aku sudah tahu siapa namanya, ia menyentuh deadline.

9 comments:

.g. said...

Yang ini, sekedar menulis, sekedar mencerna fenomena yang terjadi belakangan ini, sekedar berpikir apakah ada detik2 dimana sekedar perduli bisa membalikkan sebuah keadaan. Bahwa setiap orang menyimpan ceritanya sendiri2, menyimpan keluhan2 yang mungkin tidak tertangkap oleh sekelilingnya.

Indah said...

Ihikss.. kesepian itu emang penyakit yang paling mematikan di dunia yaa, yang seringkali ngga kita sadari.

Gua lupa siapa yang pernah bilang tapi ada yang bilang gini : lonely at the top.

Gua pikir itu mungkin ada benarnya. Karena ketika ada di "puncak" seringkali emang selalu ada orang2 yang mengelilingi tapi di antara mereka2 itu, belon tentu ada satu orang pun yang bisa disebut sebagai "teman".

Kita cenderung ngeliat apa yang ingin kita liat and terkadang kilau "kebintangan" begitu menyilaukan sehingga kita lupa bahwa di balik segala gemerlapnya itu, orang itu tetaplah manusia biasa yang juga bisa merasakan "emosi" normal seperti manusia2 lainnya.

Gua pikir ketika ada orang yang ngeluh ke kita terus kita ngeresponnya dengan "apa lagee seeh yang elo keluhin?! Bukannya elo udah punya segalanyaa?!", itu saat di mana kita udah gagal untuk menjadi pendengar yang 'baik' yang bisa read between the lines, and really listen akan hal2 yang ngga terucapkan!

Masalah tetap masalah, besar or kecil menurut pandangan kita, tetaplah berat untuk mereka yang sedang mengalaminya so ngga "adil" kalo kita membandingkan masalah dengan orang lain karena belitannya sama2 bisa menenggelamkan kita ke titik terendah dalam hidup kita yang mana mungkin pada saat itu bikin kita berpikir bahwa meninggal jauh lebih baik dari hidup!

Aahh.. jadi panjang nih komen, ahahahaha :p

Lie said...

realita yg sering terjadi belakangan ini ya mbG...
jalan pintas yang konyol sekali...

ami said...

iya g bisa ya membuat cerita dari kejadian yang sedang hangat. sepertinya semakin banyak orang2 kesepaian padahal manusia di dunia ini semakin banyuak. ada yang salah

Winda said...

sumpah, sedih banget jadi manusia kesepian....hebatnya G, seperti biasa, bisa bawa gw ngerasain gimana gregetannya si aku lewat kalimat-kalimatnya....heuheuheu...jago bener bersilat kata sih lo G??? hahahaaa

eka wijayanti said...

Ini cerita terngomel yang saya baca.
Saya cuma heran. Penulisnya kok sibuk berkutat dengan nonfiksi dan masih bilang nanti-nanti untuk bersaing dengan Ayu Utami.

Skunyos said...

Mbak, mati yo orangnya? Bunuh diri?

Hemmm.... secara tidak sadar ketika saya banyak terpaku di depan komputer, saya mengurangi jatah untuk berinteraksi langsung dengan manusia2 yang kadang butuh sapaan!

*memutuskan untuk lebih hangat, lebih ramah pada semua orang yang ada di sekelilingku, termasuk yg tidak dikenal mulai hari ini...

.g. said...

Hai all, tengkyuuu.. atas apresiasinya ya.. ^^

emmanuellykeisa said...

sedih banget mbak G...:(
seperti kata Indah...perasaan sepi itu ujung-ujungnya bisa "membunuh"..

semoga kita gak pernah terlambat menjangkau orang2 terdekat kita...menjadi pribadi yang lebih hangat kata emaknya Skunyos...