Pages

Showing posts with label kelingking lie. Show all posts
Showing posts with label kelingking lie. Show all posts

Saturday, February 27, 2010

Pindah

Bagai petir disiang hari, menggelegar keseluruh penjuru, ketika kami mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut dokter saat itu. "Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bu Inge, selamat! Anda hamil. Berbagai rasa berkecamuk didadaku. Inge, anak perempuan kami hamil. Hamil tanpa suami."Tidak mungkiiiin...!" jerit Inge histeris.

Bohong, kalau kami tidak sedih. Dusta, kalau kami tidak terpukul dengan kehamilan Inge. Kami kecewa. Aku dan suamiku. Tapi, apa daya kami? Nasi sudah menjadi bubur, dan sampai kapanpun, Inge tetaplah anak kami. Tak'kan pernah berubah. Kalau kami saja tidak bisa menerimanya, bagaimana dengan lingkungan? bagaimana dengan keluarga besar? bagaimana dengan orang lain? Kami berbesar hati menerima Inge. Apa adanya. Kami memaafkan kekhilafannya. Kecerobohannya. Keteledorannya. Maaf yang tulus. Yang murni. Tanpa syarat apapun. Karena kami mencintainya.

Saturday, February 20, 2010

Waktu

Minggu kedua di tahun yang baru. Hanya mami yang tau, kemana aku pergi pagi-pagi buta. Di hari pernikahanku. "Aku mohon restumu mas." Ucapku pelan. "Jika kelak aku jatuh cinta lagi, itu bukan berarti aku melupakanmu." Janjiku. "Sampai kapanpun, kau akan tetap hidup dalam hatiku". Gumamku lirih. Ku yakin kau mendengar, sepelan apapun suaraku. Kupandangi lekat-lekat pusaramu. Tempat peristirahatanmu yang terakhir, tempat dimana kau dibaringkan. Selamanya. Tak kutemui sosokmu disitu, tapi ku yakin, kau s'lalu ada, entah dimanapun kau kini.

***

Setelah usaha bunuh diriku yang gagal. Mami dan papi akhirnya berbagi luka dengan keluarga Om Bonar. Dan, inilah hasilnya. Bang Adi mau menjadi ayah bayi ini, yang artinya juga menjadi suamiku.

Aku tahu persis hati suamiku. Tak ada aku disana, apalagi bayi dalam kandunganku. Dia menikahiku, karna kasihan. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak bersikap baik. Menikahiku, pasti ada banyak hal yang ia korbankan. Namun aku meyakini satu hal, cepat atau lambat, dia akan mencintaiku, begitupun sebaliknya, aku akan mencintainya. Kata mami di hari pernikahanku masih begitu jelas. "Menikahlah sekali untuk selamanya, lakukan bagianmu, selebihnya serahkan pada yang di atas."

Aku berusaha menjadi istri sempurna. Aku berusaha melakukan segala sesuatu sebaik mungkin. Walau aku sadar, manusia tak ada yang sempurna. Namun, tak ada salahnya aku berusaha. Meski kami tidur di kamar yang berbeda, aku tetap menyiapkan keperluannya. Dari sarapan sampai pakaiannya. Suamiku selalu pulang larut malam, menyapaku seperlunya saja. Tapi aku tidak mengeluh. Semua itu sangat wajar, karena pernikahan kami tidak di landasi cinta yang tulus. Tapi, percaya atau tidak, aku belajar mencintainya. Aku berhutang banyak padanya. Berhutang nyawa anakku. Karnanya, kurasa tidaklah berlebihan bila aku membalas semua itu dengan cinta. Cinta yang berusaha kupupuk, meski begitu sulit, karna, suamiku tak memberiku ruang di hatinya. Waktu kan mengubah semuanya. Semoga...

***

Hari ini begitu sunyi. Mina harus pulang ke kampung, karna bapaknya sakit. Jadilah aku sendiri. Bingung harus melakukan apa, bingung harus ngobrol dengan siapa, akhirnya aku terkaget-kaget sendiri, mendapati diriku telah berada dikamar tamu. Kamar suamiku. Duduk di ranjangnya. Ranjang jati dengan seprei abstrak hitam putih. Ranjang yang menjadi bukti ada tembok yang tinggi antara aku dan suamiku.

Entah berapa lama aku dikamar suamiku, hingga getar ponselku membangunkanku. Rupanya aku ketiduran. Telpon dari mami, seperti biasa, menanyakan keadaanku, menanyakan perkembangan janin dalam kandunganku. Hari sudah sore, aku merapikan seprei dan bantal yang berantakan. Dan...

Dibawah bantal, aku menemukan sesuatu. Sesuatu yang sangat familiar. Potret. Potretku! Untuk apa? Ponselku kembali bergetar. Ada pesan dari suamiku. "Dian, bagaimana kalau kita makan diluar malam ini?" Hah? Apakah aku sedang berhalusinasi karna tidur dikamarnya? Kubaca lagi pesan pendek dari suamiku hingga berulang-ulang. Benarkah ini pesan untukku? Tentu saja, ada namaku disitu. Benarkah pesan ini dari suamiku? Entahlah, aku ragu, tapi aku harus memastikannya. Segera ku tekan tombol-tombol huruf yang ada di ponselku "Oke, jam berapa bang Adi pulang? Aku siap". Cukup lama aku menunggu, barulah aku mendapatkan pesan balasan. "Jam tujuh malam ya."

OMG! Pertanda apakah ini? Benarkah waktu telah mengubah semuanya? Aku punya waktu dua jam untuk siap-siap. Aneh. Bingung. Kaget. Senang. Semua campur aduk. Ini adalah kali pertama suamiku mengajakku dinner sejak kami menikah. Semua pakaian sudah kukeluarkan dari dalam lemariku, aku bingung harus memakai yang mana. Perasaan dejavu. Aku pernah mengalami ini dulu, ketika memilih pakaian untuk kencan pertama kali dengan mas Pras. Oh, mas Pras, restuilah aku, bathinku.

Jam tujuh teng. Aku sudah siap. Akhirnya, aku memilih celana blue jins yang masih muat dengan ukuran tubuhku yang sudah naik beberapa kg, dipadu dengan atasan blous putih. Dan suamiku pun pulang...

-Dian-



cerita sebelumnya:


'sendiri'
'kepergianmu'
'dia'
'sakit'
'pusing'

Saturday, February 13, 2010

Pusing

Waktu berlalu tanpa dapat di tahan. Bulan berganti baru. Entah dimana harus kucari dia. Wanita yang telah begitu dalam tersakiti olehku. Aku kehilangan arah mencarinya kemana. Maafkan aku Inge.

***

Tidak ada komitmen apa-apa antara aku dan Dian. Semuanya mengalir begitu saja. Tidak ada pembicaraan mengenai apakah pernikahan ini hanya sementara sampai Dian melahirkan, atau hal lainnya. Aku tidak pernah cerita soal Inge padanya. Begitupun sebaliknya. Dian tak pernah membicarakan Pras padaku. Entahlah, membicarakan hal itu seolah begitu tabu.

Kalau saja benih yang ada dalam kandungannya itu benihku...! Kalau saja Dian adalah Inge...! Kalau saja aku bisa mencintai Dian seperti aku mencintai Inge...! Kalau saja Dian bisa mencintaiku seperti dia mencintai Pras...! Pusing aku!

Tak pernah ada air mata kulihat di sudut-sudut matanya. Tak pernah ku dengar isak tangisnya. Tak pernah ia mengeluh tentang sikapku. Ku yakin, semua pedihnya ia simpan rapi, mungkin ia mau semua itu hanya menjadi miliknya sendiri.

Dian baik. Terlalu baik malah. Dia berusaha menjadi istri sempurna. Itu yang ku lihat. Padahal, aku bukanlah suami yang baik. Hampir tidak ada waktuku buatnya. Aku selalu sibuk kerja. Selalu pulang larut malam. Dian terlalu sering sendirian di rumah. Sejak kami pindah ke rumah kami sendiri, hadiah pernikahan orang tua kami, hanya ada Mina yang menemaninya, pembantu kami.

Aku tidak pernah menyentuhnya. Sampai saat ini. Aku tidur di kamar tamu, sementara Dian tidur di kamar utama. Padahal Dian cantik. Terlalu cantik malah. Aku bahkan terlalu sering tergoda. Tergoda untuk menyentuhnya. Wajarkan? Aku suaminya. Dian istriku. Kami resmi di mata hukum. Kami sah di mata agama. Dengan perut yang semakin membesar, entah mengapa semakin menambah pesonanya. Itu menurutku. Akh...! Sebentar lagi, aku akan menjadi ayah. Ayah dari bayi yang bukan benihku. Bayi dari wanita yang tidak ku cintai. Benarkah?

Ku ambil ponsel di atas meja kerjaku. Dengan cepat ku tekan huruf-huruf yang ada di ponselku. Pesan pendek untuk istriku. "Dian, bagaimana kalau kita makan diluar malam ini?"
Berbagai rasa bermain, menari-nari dalam dadaku. Apakah jawabannya? Tidak sampai lima menit, aku sudah menerima pesan balasan. "Oke, jam berapa bang Adi pulang? Aku siap". Deg! Ada perasaan aneh menjalar kesekujur tubuhku. Ini pertama kalinya aku mengajak Dian dinner sejak kami menikah tiga bulan lalu.

-Adiyanto-


rangkaian cerita sebelumnya:
'sendiri'
'kepergianmu'
'dia'
'sakit'

Saturday, February 6, 2010

Sakit

Sesak hati ini. Jiwaku bagai terhimpit diantara sela-sela karang. Kuambil dan kubuka lagi amplop besar itu. Kutilik dan kupandang dalam-dalam lembar demi lembar dalam album itu. Aku masih tak percaya, semuanya harus berlalu dengan cara begini! Lima tahun kita lalui bersama, tanpa terlintas sedikitpun menorehkan luka yang begitu dalam.

Semakin kupandangi gambarnya, semakin ku tak percaya itu adalah dia. Kubingkai gambarnya dengan frame kaca favoritku. Kuletakkan kedalam kotak kecil. Aku berjalan perlahan ke halaman belakang rumahku. Rumah yang ia belikan untukku. Rumah yang mestinya kami tempati bersama. Telah kugali lubang kecil dengan tanganku sendiri, untuk meletakkan semua ini. Penggalan kenangan kami. Semuanya, agar tak ada sisa kenangan diantara kami, bahwa kami pernah bersama merajut kasih yang kini telah terkoyak. Kuingin menguburnya dalam-dalam.

Tak sulit menjual rumah ini. Rumah yang akhirnya ia berikan menjadi milikku. Tapi..., entahlah rasanya untuk yang satu ini masih berat bagiku. Kulangkahkan kakiku kala matahari mulai bersinar dengan teriknya, namun teriknya mentari, rasanya tak mampu meluluhkan hatiku yang kurasakan beku. Kuserahkan kunci ke security kompleks, untuk merawat rumah ini, mengontrakkannya bila ada yang berminat, dengan satu pesan kecil bahwa bila ia tanya, katakan rumah ini sudah dijual.

Roda-roda bis terus berputar, perlahan namun pasti menghantarku ke kota asalku. Ku terus termenung dalam bis yang terus melaju. Anganku melayang, mengingat semua kenangan indah bersamanya yang kini telah ia akhiri. Ah! Bukankah aku sudah bertekad melupakannya? Tak mungkin kami bisa merajut mimpi seperti dulu lagi, karna semuanya kini tak sama lagi. Tapi, mengapa kenangan-kenangan itu masih saja mengusikku?

Matahari hampir terbenam mengakhiri tugasnya hari itu. Semakin kutahan, anganku semakin mengembara kemasa-masa indah dulu, seiring laju bis yang terus berputar. Pedihnya perasaanku. Lima tahun bersama, ternyata aku tak mengenalnya sedikitpun. Betapa bodohnya diriku, dipermainkan perasaan.

Akhirnya aku tiba di kotaku. Tak mungkin ku pulang kerumah orang tuaku dalam keadaan seperti ini. Hanya akan membuat mereka gelisah dan khawatir. Kuputuskan untuk menginap di hotel. Ah! Hotel ini lagi.

Begitu letihnya diriku, sampai akhirnya kuterlelap dengan segala galauku. Sebuah mimpi buruk membuatku kembali terjaga. Sementara diluar sana, sang rembulan bersinar dengan begitu indahnya. Namun, mengapa ku tak bisa nikmati keindahan itu? Usapan lembut sang bayu tak mampu sejukkan hati ini. Aku merindukannya. Kurindu belaiannya. Kurindu kehangatannya. Ingin rasanya kupunya sayap, agar ku dapat terbang menjemputnya, menemaniku melalui malam ini, seperti malam-malam yang dulu, agar tak sunyi diri ini.

***

Sebulan sudah kami berpisah. Kutinggal bersama orang tuaku. Mereka kini bisa mengerti semuanya. Tapi, mulai ada yang tidak beres denganku. Kumulai sering sakit. Kesedihan ini nyaris membunuhku. Makanan mulai sulit kucerna. Tubuh ini menolak asupan makanan. Sampai akhirnya orang tuaku memaksaku ke dokter. Memastikan penyakitku. Padahal aku tau pasti, tak ada obat untuk sakitku, karna sakitku adalah sakit rindu yang teramat sangat dalam. Karna ternyata aku tak mampu melupakan kekasih hatiku. Adiyanto.


Semua tercengang. Shock. Aku ternyata tidak sakit. Hanya saja..., ada mahluk kecil bertumbuh didalam rahimku! "Tidak mungkin!" Jeritku histeris. Mengapa baru sekarang benih itu bertumbuh dirahimku? Mengapa setelah semuanya terlambat?

***

Keluargaku memutuskan untuk pindah. Pindah dari kota ini. Agar dia tak tau dimana kami. Agar dia tak pernah tau, ada benihnya dirahimku.

-Inge-

Saturday, January 30, 2010

Surat untuk Sahabat

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran



Tiba-tiba kamu menghilang! Semua panik. Project kita terancam bubar!

***

Aku memang tidak tau betul siapa kamu. Aku bahkan belum pernah bertemu muka denganmu. Awal pertemanan kita pun sangat unik. Kala itu group bentukanmu mengadakan lomba dari game yang begitu ku gandrungi, dan aku begitu ingin ikut serta dalam lomba itu. Akupun masuk sebagai anggota group'mu, upload foto karyaku, dan ternyata salah satu syarat untuk ikut lomba itu, harus menjadi teman para admin (kau salah satu adminnya). Kalah. Aku memang tidak menang di lomba itu, namun aku memenangkan satu nilai yang lebih besar dari pada sekedar game. Persahabatan. Ya, begitulah kita mulai terlibat dalam kelompok yang sama. Kau menjadikanku salah satu admin di group itu (psmi), membuat kita semakin dekat, apalagi kita mengadakan lomba halloween dimana setiap hari perlu adanya koordinasi sesama admin.

Usai masa-masa sibuk lomba halloween, aku pun terpilih sebagai salah satu penerima hadiah dalam thread menyambut natal "Give Away", dimana setiap kita yang terpilih boleh make a wish yang akan dikabulkan santa pet di malam natal. Kau pun ada di thread itu, bersama teman-teman kita yang lain.

Kemudian kebosanan mulai melanda kau dan teman-teman kita, hingga akhirnya ide cemerlang muncul dari pikiranmu. Ngeblog. Padahal aku sama sekali tak tau caranya. Tak tau menulis yang baik. Tapi kau begitu sabar. Kau membagi apa yang kau tahu denganku, dengan yang lain juga (aku belajar banyak soal yang satu ini).

Kemudian, tiba-tiba kamu menghilang. Namamu tidak tercantum lagi sebagai admin di psmi. Di inbox ku, namamu menghitam. Apa yang terjadi? Semua panik. Mencarimu. Kehilanganmu, sampai akhirnya kutemukan kau disini, di blog kita. Ternyata, oh ternyata..., ada seseorang yang menghack akunmu, sesaat setelah kau pamerkan kekayaan Bla (petmu). Untung saja mereka tidak merampok si kaya Bla ;) dan kau pun kembali. Tapi tidak sepenuhnya kembali, karena sejak kau kembali, kau tidak kembali ke group yang mempertemukan kita. Kau meninggalkan psmi.

Entah bagaimana awalnya, aku bisa setuju mengikuti project nekad ini. Satu minggu dengan satu cerpen, padahal aku sama sekali awam soal ini. Kita berkomitment untuk menjalankannya setahun ini. Bersahabat denganmu, banyak memberi masukan positif bagiku. Duniaku mulai terbuka, teman-temanku pun bertambah. Aku bersyukur menjadi sahabatmu, walau terjalin maya.

***

Dan kini, kepanikan itu terjadi lagi. Kau menghilang. Tepat di hari ulang tahunku! Semua blogmu di setting private, di blog kita, namamu menghilang dan di inbox, namamu kembali menghitam. Apa yang terjadi sahabat? Adakah yang salah? Sakitkah kau? Adakah yang tidak beres? Kambuhkah sakit ditangan kirimu yang pernah kau keluhkan? Ataukah ada yang kembali mencoba menghack akunmu? Ataukah kau sedang di Papua melanjutkan projectmu? Ataukah...(ini dugaan paling sulit bagiku) apakah kau lelah menjadi teman mayaku, teman maya kami? Oh, tidak.

Padahal aku merasa kau kini bagian keluargaku. Bukankah tempat yang sama dimana kita bernaung menjadikan kita satu keluarga? Ketika kau menceritakan bagaimana repotnya harus menimba air saat keran mati, aku seolah ikut merasakan kerepotanmu. Ketika bunda tercintamu ulang tahun, aku ikut terpingkal-pingkal kala si kecil Joshua membocorkan rencana surprise yang kau dan keluargamu buat kepada sang bunda. Ah! Sahabat, sungguh, kau seperti saudara bagiku. Bagi kami.

Sahabat...
Apakah kau tau? Indah teman kelingking kita ingin mengundurkan diri dari project yang sudah kita sepakati selama setahun ini? Apakah kau tau? Irene dan yang lain begitu patah semangat tanpamu? Apakah kau tau? kau adalah inspirasi bagiku? Apakah kau tau? Ekasari begitu takutnya kau tidak ada diantara kita, dan menyalahkan dirinya atas menghilangnya dirimu? Apakah kau tau? Winda, Eka, mba Ami, mba Siska, mba Delia, mba Jude, kami semua merasa kehilanganmu? Apakah kau tau semua terasa tak sama?

Sahabat...
Mengapa hati kecilku berkata kau tak akan kembali? Seperti kau tak pernah kembali ke psmi? Jangan tinggalkan teman-teman kelingkingmu dengan tanda tanya. Kami merindukanmu...

Saturday, January 16, 2010

dia

Aku adalah laki-laki petualang. Entah berapa banyak tubuh-tubuh halus mulus nan indah yang dengan rela kusentuh, demi pundi-pundi rupiah yang menggelembung dikantong mereka. Aku begitu menikmati masa-masa itu, masa dimana para perempuan itu menjadi hamba uang. Uangku. Sampai di satu masa, ku jenuh. Jenuh dengan para perempuan penggila uang itu. Jenuh pada belaian semu perempuan-perempuan yang menggadaikan tubuh demi kemewahan. Kurasakan hampa.


Uang memang hamba yang taat, namun dia adalah tuan yang kejam.

Sampai kutemukan dia.. Wanita cantik, pintar, terpelajar, anggun nan bersahaja. Wanita yang sanggup membuatku bertekuk lutut, sementara banyak gadis tergila-gila padaku (atau uangku -entahlah-). Wanita yang rela menyerahkan kehormatannya yang ia junjung tinggi padaku. Ya padaku. Wanita yang masih slalu kurindukan setelah apa yang kulakukan padanya. Wanita yang mampu membangkitkan segenap hasrat yang terpendam, kembali bergelora. Dimanakah ia kini? Aku tak tau dibelahan bumi manakah kini dia ada. Ku bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Dia menghilang.

Egois.
Pembohong.
Tak punya perasaan.
Terlalu!

Dia pasti mengganggapku begitu, setelah apa yang kulakukan padanya. Meninggalkannya, di satu malam menjelang pergantian tahun. Dia pasti membenciku, teramat sangat membenciku. Aku memang egois. Aku memang pembohong. Aku memang tak punya perasaan. Aku memang keterlaluan. Itu semua benar. Bila kau berada diposisinya.

Meninggalkannya, setelah hampir lima tahun menjalin hubungan berkomitment. Demi satu wanita … tengah berbadan dua, yang bukan dari benihku. Tapi tidak! Bukan ini yang dia tahu! Yang ia tahu adalah, aku pergi meninggalkannya, kar’na orang tua tidak merestui hubungan kami (yang ini memang benar adanya, paling tidak, saat itu).

Perempuan itu hamil, memasuki bulan kedua, kala aku memutuskan untuk menikahi perempuan itu. Bukan paksaan papi (seperti yang dia tahu), bukan itu alasan utamanya, mengapa aku memilih perempuan itu, mengapa aku meninggalkannya, padahal aku begitu mencintainya.

Takdir. Ya, aku menyebutnya takdir. Takdir lah yang membawaku pada keputusan. Meninggalkannya. Dikala cinta ini begitu menggelora. Membara. Malam itu, kupergi meninggalkannya dengan segala rasa yang berkecamuk. Pedih. Perih. Sakit. Luka. Ya. Aku pun luka dengan keputusan yang kuambil. Tapi hidup memang slalu mempersilakan kita memilih, dan jalan inilah yang kuambil. Meninggalkannya.

***

Cerita ini, kami simpan rapi. Dibagian hati yang terdalam. Aku. Papi. Mami. Ya. Hanya kami yang tau, yang ingat, yang pedih, yang sakit, mengingat cerita ini.

Ade nama yang kami biasa sapa untuk Adelia. Gadis cantik, riang muda belia. Rambut panjang ikal dengan mata yang selalu berbinar bahagia. Ah…! Masih sesak dada ini mengenangnya. Ade, adikku. Yang begitu ku sayang, yang begitu kulindungi, yang begitu kujaga. Jatuh cinta. Jiwa mudanya yang bergelora, membuatnya hamil diusia belia. 17 tahun. Bahkan SMA pun belum tamat. *Kegagalanku, sebagai abang, yang seharusnya menjaganya, kala papi dan mami terlalu sibuk dengan bisnis mereka. *Kegagalan papi dan mami, sebagai orang tua, yang seharusnya bisa menanamkan nilai2 moral yang tinggi pada kami.

Tapi bukan itu inti masalahnya. Bagas mau bertanggungjawab. Kedua keluarga sepakat menikahkan mereka setelah kelulusan yang saat itu tinggal 2 minggu lagi.

Tuhan merencanakan lain. Bagas, tak bisa menikahi Ade! Pendakian Bagas bersama genKnya di BROMO, adalah akhir cerita Bagas. Anak itu hilang! Lenyap. Raib bagai ditelan bumi. Sampai kini entah bagaimana nasibnya. Hidupkah? Matikah? Entahlah. Namun, bukan itu intinya.

Hhhhhhhhh…tak kuat rasanya dada ini menahan sesaknya. Ade, hampir gila dengan berita itu. Rencana pernikahan menggantung. Perut Ade membuncit. Siapakah yang mau menjadi ayah bayinya? Tak ada. Bahkan supir pun menolak tawaran kami, untuk menutupi aib ini. Ade meradang. Putus asa. Nyaris gila. Hingga akhirnya, kami semua terperanga. Mendapati mata Ade membelalak. Bibirnya kelu. Mulutnya penuh busa. Pil-pil berserakan di lantai. Ade mengahkiri hidupnya!

***

Luka itu kembali basah. Kala keluarga om Bonar datang kerumah, malam itu. Membawa cerita yang nyaris sama dengan Ade. Cerita yang menyayat-nyayat hati. Kala Dian, nyaris mengakhiri hidupnya. Seperti Ade. Ketika Pras (calon suami Dian), harus dipanggilNya lewat suatu kecelakaan tragis, sementara perut Dian pun nyaris kentara berbadan dua. Aku bersedia. Bersedia menjadi ayah bayi itu. Bersedia mengkhianati cinta Inge. Kenapa aku? Kar’na, aku adalah pariban Dian. Aku yang tanpa paksaan mengambil tanggungjawab ini. Agar kisah Ade, tak terulang di keluarga kami. Kar’na, andai dulu ada laki-laki yang mau berkorban demi Ade, rela menutupi aib itu, menjadi ayah bagi bayi Ade, gadis belia itu pasti masih ditengah kami, dengan anaknya yang lucu.

***

“Rumah itu sudah berganti pemilik.” Kata satpam kompleks rumah kawasan elite di Jakarta.
Rumah yang kubeli untuk Inge. Untuk kami.
Rumah itu telah dijualnya.
“Apakah bapak tahu dimana pemilik rumah yang dulu tinggal?”
“Tidak pak, kabar terakhir, Bu Inge pindah ke luar kota.”

Oh Inge... Kemana lagi ku harus mencarinya? Rumah orang tuanya kosong.
Dimanakah dia?


-Adiyanto-

Saturday, January 9, 2010

kepergianmu

semua masih terukir rapi disini...di dalam hati dan sanubari ini...kala pertama kita bertemu, kala pertama kita jatuh cinta, kala pertama semua terjadi...semuanya masih begitu jelas terekam diingatan ini...tatapanmu...senyummu...belaianmu...pelukanmu...kehangatanmu...semuanya...
rasanya baru kemarin...kita merenda kasih, bersama kita merajut mimpi, mimpi yang begitu indah...hingga ku tak ingin terbangun lagi...


malam ini...dari teras kamar tidurku...kupandangi malam yang semakin larut...langit mendung tak berbintang, bulan menyembunyikan wajahnya dibalik awan...tak kulihat ada cahaya disana...ataukah mata ini yang tak mampu menangkap kilauannya? entahlah...kurasa langitpun ikut berbelasungkawa...atas dukaku...atas lukaku...mengenang dirimu...

adaikan saja kau ada disini...mungkin air mata ini tak akan menetes membasahi pipi ini, kar'na kutau...kau tak suka melihatku menangis...
apakah kau tau??? seharusnya aku bahagia...kar'na mimpi yang kita rajut bersama akan menjadi nyata...gaun putih yang kau pilihkan...tergantung rapi didalam lemari kamar ini...tak pernah kusentuh lagi sejak terakhir kau melihatku mencoba'nya...dan besok...gaun ini akan melekat erat ditubuhku menjadi saksi bisu pernikahanku...hari yang begitu kunantikan dulu...impian kita berdua...


kudengar derit pintu kamarku berbunyi...ada seseorang yang datang, melangkah pelan menuju teras kamarku...tanpa menoleh pun aku tau siapa yang masuk...
"Dian...sudahlah..."
"Mam..." tak kuasa aku berkata-kata... aku tau mami begitu mengerti mengapa aku begini...mami begitu paham mengapa air mata ini masih saja menetes membasahi pipiku...mami tau betul mengapa belum juga kering air mata ini...
"relakan dia pergi nak...bangun kembali hidupmu..." kata mami lembut seraya membelai pelan perutku "demi bayi dalam kandunganmu..."
"kenapa dia pergi mam? kenapa dia tak menunggu anak kami lahir?"
"Itulah takdir Dian...kita boleh berencana...tapi yang menentukan semuanya bukan kita..." kata mami lagi...
"Bangun kembali hidupmu nak...raih kebahagiaanmu...bersiaplah untuk besok, jangan biarkan mata sembabmu merusak riasanmu besok" kata mami sambil menyeka airmataku...
"Adiyanto pria yang baik...mami dan papi tau betul keluarganya" kata mami lagi...
"Tapi mam...Dian tdk mencintainya..." aku masih terisak...menahan pedihnya rasa ini...menambah sesaknya dada ini...bagai terhimpit...perih...


Besok...sabtu kedua diawal tahun ini...mami dan papi sudah menyiapkan pesta pernikahan untukku...pesta yang disiapkan untuk pernikahan kita...hanya saja...kenapa Tuhan??? kenapa bukan kau yang akan berdiri di pelaminan besok?
tadinya...semuanya berjalan nyaris sempurna...semua merestui rencana pernikahan kita...tapi... kenapa Tuhan begitu cepat mengambilmu dari sisiku? kecerobohan supir truk sial itu...yang entah ngantuk atau memang gila ngebut, menyerempet mobilmu...dalam perjalanan menuju rumahku...
memaksamu terbujur kaku dalam perjalanan kerumah sakit...merenggutmu dari sisiku...membawa serta semua mimpi yang kita rajut bersama...meluluhlantakkan semua kebahagiaan yang sudah didepan mata...menyiksaku lewati hari-hari penuh kesesakan dan airmata...meninggalkan benih yang tiada dosa ini yang akan lahir tanpa seorang ayah biologisnya...meninggalkanku menjadi janda sebelum menikah...betapa...semua bahagiaku musnah...lenyap...seiring kepergianmu...kau membawa separuh jiwaku bersamamu...


Taukah kau sayang...hari itu -sebulan yang lalu- ku telah siapkan berita gembira untukmu...satu kalimat indah yang ku yakin kau pasti suka...'aku hamil sayang' buah cinta kita *yang terlalu terburu-buru...sayangnya...kau tak pernah tau, ada benihmu dalam rahimku...hingga ajal menjemputmu...



-dian-

Saturday, January 2, 2010

sendiri

Hiruk-pikuk terompet dan petasan mulai tak terdengar lagi. Hhanya desiran ombak yang terdengar ketika menghempas karang.Kulirik arloji yang melingkar ditangan kananku, sudah jam 4 pagi. Tahun yang baru. Aku bahkan tak sadar saat ini mungkin tinggal aku yang belum memejamkan mataku. Atau lebih tepatnya mata ini tak mau terpejam, padahal begitu lelah mata ini, ingin sekali istirahat sejenak. Tapi mungkinkah? Bisakah? Bahkan untuk menangispun aku tak sanggup lagi. Mungkinkah air mata ini telah kering? Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Dia telah pergi. Tepatnya dua jam sebelum tahun berganti. Tinggalkanku sendiri. Seharusnya aku sadar dari awal, inilah konsekwensinya. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah Inge. Gadis desa, yang punya cita-cita hidup lebih baik. Mengadu nasib di ibukota.

Ingatanku menerawang kembali ke masa silam. Lima tahun lalu. Masa awal ku jatuh cinta.
Adi. Lelaki muda, tampan, pemilik perusahaan tempatku bekerja. Kurasa bukan aku satu-satunya wanita yang terpesona olehnya. Ketampanannya, kebaikannya, perhatiannya, oh...! Bukan itu saja. Dari penampilannya, semua pasti tau dari kelas mana dia berasal. Aku masih ingat dengan jelas kapan dan dimana kami berkencan pertama kalinya. Aku ingat betapa penuh cintanya dia, ketika menatapku, membelai lembut rambutku, menggandeng mesra tanganku, bahkan memeluk hangat tubuhku. Saat kencan pertama itu, kutahu perasaannya pun sama denganku'jatuh cinta'.

Sayangnya, cinta kami tak pernah direstui kedua orang tuanya. Dan aku memakluminya. Terlalu besar jurang perbedaan diantara kami (dan aku begitu bodohnya, menganggap itu bukan masalah kar'na kami saling cinta).
Dia dari kalangan yang status sosial nya di atas, sedang aku? Aku hanyalah gadis desa. Orang tua ku hanyalah petani kecil, yang menyekolahkanku dengan keringat dan penuh perjuangan. Namun aku bangga atas itu, menjadi sarjana dari hasil keringat oragtuaku, ditambah beasiswa dari suatu yayasan sosial yang melihat kepintaranku.
Aku pun berasal dari suku yang berbeda dengannya. Dan yang lebih membedakan kami, agama kami pun tak sama(Oh Tuhan, kenapa sekarang semua itu menjadi besar???.

"Ing, aku ingin bicara" Katanya ketika kami sedang berjalan-jalan menyusuri tepian pantai yang dipadati manusia yang ingin merayakan pergantian tahun.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Aku masih tidak mengerti arah pembicaraannya "Katakanlah".
"Oke, kita kembali ke hotel". Ajaknya "Disana mungkin lebih baik untuk bicara" Katanya sambil mengajakku kembali. Berjalan menyusuri keramaian. Aku masih tak mengerti apa yang ingin dibicarakan Adi. Bukankah ini adalah malam tahun baru? Bukankah kami kesini untuk mengakhiri tahun ini dan menyambut tahun baru bersama-sama? Ingin berdua tanpa keluarga yang lain, ingin memikmati kebersamaan ini? Ah...!Entah mengapa nada bicaranya membuat hatiku gundah. Ia semakin mempererat genggaman tangannya, mempercepat langkah kakinya.
"Ada apa?" Tanyaku tak sabar ketika kami tiba di hotel. "Apa ada masalah?" Sambungku gugup. Kutatap matanya. Entahlah, aku sendiri pun tak mengerti, apa yang membuatku gugup.
"Hmmm" Adi mendesah panjang. Kulihat kesedihan disana, dimatanya. Aku makin tak mengerti apa yang terjadi.
"Kau membuatku bingung, apa yng terjadi? Apa ada masalah?" Aku semakin penasaran.
"Mmmm...maafkan aku...aa" Hhh? Adi minta maaf? Minta maaf kenapa? Aku semakin bingung. Kubiarkan dia melanjutkan kata-katanya.
"Papi dan mami ingin aku segera menikah" lLanjutnya cepat. Menikah? Bukankah ini berita gembira? Kenapa dia harus sedih? Kenapa juga dia harus gugup?
"Menikah?" Tanyaku menahan senyum. "Lalu masalahnya apa? Apa kamu belum siap mengajakku berkomitment ke arah itu?" Tanyaku bingung. Sudah hampir lima tahun kami pacaran, dan usianya pun sudah matang untuk berkeluarga, lalu apa masalahnya?
"Bukan" Jawabnya cepat. "Bukan itu" Katanya.
"Jadi?" Hmmm apakah dia akan melamarku? Sebagian pikiranku melayang. Bahagia. Dia akan melamarku...! Akhirnya. Penantian ini berakhir juga.
"Papi dan mami ingin aku segera menikah dengan Dian" HAH? menikah dengan Dian? Siapa Dian? "Aaa..aaa...aapppaaa???" Sekujur tubuhku lemas.
"Dian adalah paribanku. Status sosial kami sama. Papi dan mami telah menjodohkan kami" Dengan cepat Adi menjelaskannya. Secepat tubuhku limbung.
Aku shock. Tak ingin berpikir apa-apa. Aku hanya bermimpi, mimpi buruk, ini tidak nyata.
Pipiku terasa basah. Aku mulai menangis, dadaku terasa sesak. Jadi benar? Ini bukan mimpi? Kucubit tanganku sendiri dengan kerasnya. Sakit. Ini nyata. TIDAAAAAAKKKK.
Aku tak mampu berkata-kata. Adi masih disampingku, menatapku gelisah. Ada kesedihan dimatanya. "Maafkan aku" Katanya "Aku tak bisa menolak keinginan papi dan mami" tambahnya "Kesehatan papi yang tidak stabil, penyakit jantung yang diidapnya, tak bisa menerima penolakan, papi bisa shock bila aku menolak" Samar kudengar penjelasan Adi. "Seharusnya kita tidak memaksakan diri dari awal, suku kita tidak sama, agama kita berbeda" kata Adi "Ya, dan status sosial keluarga kita berbanding terbalik" Selaku. "Ssssstttt" Jari telunjuknya menutupi bibirku. "Kau tau aku tak pernah mempermasaahkan itu" Katanya. "Ini bukan keinginanku Ing. Hanya saja aku tak ada pilihan lain" Lanjutnya. "Kalau ini bukan keinginanmu, kenapa kamu tidak menolak? kenapa? kenapa? KENAPA?????" Aku berontak. "Karna papi Ing. Papi sakit dan aku tak ingin menjadi penyebab kematiannya. Tidak...tidak...dan tidakkkk" Adi teriak sedih, ada ketidakberdayaan disana. "Mengertilah Ing. Coba mengerti posisiku" Adi memohon. "Apa kau juga mengerti perasaanku? Setelah hampir lima tahun bersama, dengan mudahnya kau akan mengakhirinya?" Aku mengumpulkan sisa tenagaku dan mencoba untuk duduk. "Dulu, kita pernah berjanji, bahwa tak satupun bisa memisahkan kita, kecuali maut. Apa kau ingat?" Kataku mengingatkan Adi akan janji kami dulu. Dulu sekali, ketika kami tahu, siapa yang menentang hubungan kami. "Iya, aku ingat dengan jelas, tapi aku tak ingin maut memisahkan aku dan papi...mengertilah...demi papi semua kulakukan". Adi memohon.
Kurasa tak ada gunanya bertahan. Mengemis-ngemis.Memohon-mohon. Tak ada gunanya berdebat. Tak ada artinya.

"Ing, maafkan aku, aku harus pergi, bang Ujang ada di mobil untuk mengantarmu pulang kapanpun kamu siap" Apa? Secepat inikah dia harus pergi? "Kapan kamu akan menikah?" tanyaku sesak. Kupikir, aku lah wanita itu, yang kan jadi pendampingnya. Akh...! "sabtu kedua di tahun yang baru ini". HAH??? Secepat itu? Aku tak mampu berkata-kata. "Papi dan mami sudah mengatur semuanya, aku harus pergi Ing. Maafkan aku.". Ia memelukku erat, namun tak kurasa lagi kehangatan itu. Apa karna aku tau, kehangatan itu bukan milikku lagi? "Ini untukmu..." Adi menyerahkan amplop besar yang diambil dari dalam kopernya. "Aku harus pergi sekarang. Selamat Tinggal".


Aku masih termenung sendiri di teras kamar hotel tempat semuanya terjadi. Menatap malam yang semakin larut. Hampir pagi. Masih kupegang amplop besar pemberian Adi. Apa ini? Perlahan kubuka isinya. Beberapa kertas. Kuambil kertas tulisan tangannya.

Dear Ing... Maafkan aku, entahlah, kurasa tak cukup hanya dengan kata maaf saja... Aku masih sangat mencintaimu, namun mungkin inilah takdir yang harus kita jalani... Cinta tidak selamanya memiliki...Demi satu alasan yang kuat, kuharus tinggalkanmu, namun sebelumnya izinkan aku memberimu sesuatu, bukan apa-apa, namun sebagai kenangan bahwa antara kita ada cinta yang ku yakin tak'kan pernah mati... Adiyanto


Kulipat surat tulisan tangan Adi. Ada selembar kertas lagi, sertifikat rumah, yang dulu dibelinya, untuk rumah kami kelak. Dan, satu album kecil berisi foto-foto kami.
Aku tak butuh semua ini tanpamu disisiku Adiyanto. Aku tak ingin sendiri.

-Inge-