Pages

Wednesday, February 3, 2010

Laki-Laki Itu Bernama Adjie

Laki-laki itu bernama Adjie. Pertama kali ku mengenalnya, di Airport Husein Sastranegara,Bandung, di sebuah kedai soto di hari pertamaku bekerja di sana. ‘Gerejanya dimana?’ tanyanya. Mungkin karena dia melihat kalung salib yang menggantung di leherku. Rasanya berbunga-bunga sekali,disapa laki2 bermata indah di tempat yang masih serba baru bagiku.

Dari situ awal perkenalanku dengannya, dan sejak itu mulailah kami melewati hari-hari bersama berdua. Banyak suka dan duka yang kita hadapi. Mulai dari penyesuaian karakater sampai dengan restu dari orang tua yang rasanya harus kita lewati dan perjuangkan. Tidak ada yang mudah,tapi bersama dengannya, membuatku kuat menghadapinya.

Tak semuanya berjalan mulus. Ada saja kerikil yang menghadangnya. Dari pertengkaran-pertengkaran kecil sampai pertengkaran=pertengkaran besar,yang rasanya membuat kami berdua merasa mungkin kami tidak dapat bersatu. Tetapi entah apa namanya,mungkin kekuatan cinta yang menyatukan kami. ( hehehehe,puitis gak sih, gak pa pa deh,buat cerpen ini ;))

Sampailah kami pada permulaan hidup berdua, yang resmi di mata Tuhan. Hari perkawinan kami. Seharusnya hari itu menjadi yang paling bahagia buat kami berdua, tetapi ada cobaan yang membuat hari itu menjadi tidak lengkap. Ibuku terbaring di rumah sakit! Terserang stroke pada malamnya,saat keluarga besarku sedang mengadakan makan malam bersama. Mungkin beliau terlalu lelah dan tegang mempersiapkan aku,putri pertamanya,memasuki hidup berkeluarga. Tetapi acara tetap berlangsung dengan baik,karena semua persiapan sudah terjadi dan semua saudara sudah berkumpul. Semua berjalan dengan lancer. Aku resmi menjadi seorang istri. Bahagia sudah pasti…

Hari-hari sesudah perkawinan pun,rasanya tidak mudah. Karena aku harus pindah ke Jakarta, satu minggu setelah kami menikah. Walaupun sedih,tapi kami mancoba melaluinya dengan bersyukur. Sehingga kami dapat melewatinya dengan lebih ringan dan gembira. Ada saat2 dimana aku membutuhkannya, tapi dia tidak ada di dekatku. Seperti saat di tengah malam, kandunganku yang berusia 6 bulan,mengalami pendarahan hebat,aku seorang diri di kamar kos2anku. Beruntunglah aku,bayak teman2 kos yang menolongku,mereka mebawaku ke rumah sakit. Saat dia datang dari Bandung,d an menemuiku di rumah sakit, tampak rasa lelah dan bersalah di matanya. Saat itu aku tau, walaupun jarang sekali ada kata2 romantis dari mulutnya, bahwa dia amat menyayangi aku dan bayi kami.

Tahun ini, adalah tahun ke 16,dari sejak kami bertemu, tapi rasa sayang itu tidak pernah berkurang, tatapan dan sentuhan yang aku dapat,masih sama seperti ketika pertama kali kami bertemu, malah terasa semakin dalam,karena kami lebih dapat memahami satu sama lain. Saat ini, ijinkan aku berkata, terimakasih karena sudah datang dan melengkapi hidupku. Walaupun masih jauh dari sempurna, aku tau bahwa hanya maut yang dapat memisahkan kami….

23 comments:

Irene said...

Hello... ini udah bener2 kehabisan ide deh... ini cerpen apa diary ya..hehehehe..mudah2an berkenan....(((hugs)))

Indah said...

Tahun ini, adalah tahun ke 16,dari sejak kami bertemu, tapi rasa sayang itu tidak pernah berkurang, tatapan dan sentuhan yang aku dapat,masih sama seperti ketika pertama kali kami bertemu, malah terasa semakin dalam,karena kami lebih dapat memahami satu sama lain. Saat ini, ijinkan aku berkata, terimakasih karena sudah datang dan melengkapi hidupku. Walaupun masih jauh dari sempurna, aku tau bahwa hanya maut yang dapat memisahkan kami….

Ireneee.. ihikss.. gua tersentuh ngebacanya :'(

Jangan lupa tunjukkin juga ke suamimu yaa ;)

God bless your family, gal!! ^o^

Irene said...

Ndah...hihihi..thanks ya...

Lie said...

hmmm...ini pengalaman pribadi ya? hehehe

g. siahaya said...

Irene, keren banget sih.. Ini bukan ga ada ide namanya :)

Irene said...

Yul..iya.. gak kepikir kalo ngarang euy...hihi

Ge..wahhhh..masak sih?? terimakasih ya...;))

ami said...

asik ren, memang true story selalu menarik untuk diceritakan dan untuk di baca.
besok apakah kamis ??? hiks

Milla Widia N said...

cieee cieeee.... kirain Adjie Massaid nich hehehehehee

Irene said...

Ami..thanks..hehehe.. seminggu makin berasa cepet ya,sejak ada WT.hihihi...

Milla.. Adjie Massaid waktu itu punya nya sapa ya??hahahahaha.....

Winda said...

hahahaaa...irene....adjie massaid milikkuuuu....huahahahaaa.....
keren, ren....

ami, ceritain tentang tamu2 di cafe dong...pasti tingkahnya banyak yang lucu2...atau aku bagi deh ceritanya buat dibikin cerita...wkwkwkwkwk

Irene said...

Winda..hihihi..oh iya punyamu ya...

Ami...minta komisi tuh,kal ceritanya dimuat...ahahahha

Skunyos said...

Merinding... mbak mataku berkaca-kaca.....
Wah pokoknya langgeng terus ya mbak
bisa melewati tahun ke 25, ke 50 bahkan sampai 75!

salam, EKA

Irene said...

Eka..aminn aminnnn...makasih banget ya...

catila said...

How sweet.. Cerita yang manis..
buat orang pcya klo cinta itu memang indah..
terusin mbak biar jd novel.. pasti aku beli he..

Judith(Emaknya Dee) said...

salam buat Adjie :)
ceritanya bikin deg deg seerr..indahnya cintaaa

Irene said...

Jude...makasih banget ya...indahnya kalo lagi indah ya..hihii..tapi pas ngeselin,kesel juga yoooo..huhuhu..;)) Salam nya aku sampein...;))

emmanuellykeisa said...

wah...cerita pribadi ternyata ya mbak...
semoga cinta kalian selamanya akan tetep indah, sebagaimana yang diceritakan disini ya...

Irene said...

Keisa... amin... banyak yg harus dilewatin ya... gak mudah... thanks ya..

Irene said...

Catila...sorry kelewat..makasih ya...;))

Ik@ MM said...

hampir netes..... bacanya....

begitu bahagia terasa diantara keluarga yang terbentuk oleh rencana Tuhan...

Irene said...

Ika... terimakasih ya... Rencana Tuhan selalu indah ya....

eka said...

Mbak Irene... Manis sekali. Manis sekali. Mesra. Inikah kisah bersama si mata indah? Manis sekali...

Irene said...

Eka..hihihi..iya....terimakasih ya...