Pages

Tuesday, February 9, 2010

Pelangi Rasa

Jemariku gemetar membaca barisan aksara yang muncul di ponselmu. SMS mesra pada jam 3 dini hari! Kutenangkan jiwaku, kudinginkan kepala yang mulai panas dengan amarah. Tak ada nama, hanya barisan angka, berarti nomor ini tak tersimpan dalam memori ponselmu. Perasaan tenang merayapi hati, mungkin SMS mesra ini cuma nyasar saja.

Hati-hati ku letakkan ponsel istriku itu pada tempatnya. Memang, kami sudah menikah namun privacy masing-masing kan harus tetap ada dan dijaga. Ku pejamkan mata, mencoba untuk kembali tidur. Namun tak bisa. Aku gelisah. Tak bisa kupungkiri, aku curiga. Apalagi segala tingkah lakunya yang ganjil akhir-akhir ini. Arrrgh! Tak mampu kutahan diri ini. Kusambar ponsel tadi, kuperiksa folder inboxnya; tak ada pesan-pesan yang aneh, semuanya standar. Cuma sms ke teman-teman arisan, ke ibu, ke tetangga. Ku cek folder Sent item; semuanya biasa. Tak ada yang mencurigakan. Hampir saja kukembalikan ponsel itu lagi ke tempatnya untuk yang kedua kali, ketika aku ingat bahwa istriku ini senang mengelompokkan pesan-pesan istimewa dan disimpan di folder tersembunyi. Hemmm, aku periksa dengan seksama ponsel itu lagi. Ku buka-buka semua aplikasi dan folder yang ada. Dan aku boleh tersenyum lega, tak ada yang aneh. Kecurigaanku tak beralasan. Ah maafkan aku istriku, mengiramu yang bukan-bukan. Dasar SMS sialan! SMS nyasar yang sudah membuatku berkeringat dingin.

Aku kembali ke tempat tidur, dan hampir jatuh tertidur ketika ponselmu lagi-lagi berdering halus. Gerahamku beradu. Hati ini tercabik. Dan bantal, guling atau bahkan pelukmu pun kehilangan pesonanya setelah membaca pesan itu. Aku terjaga hingga sang surya menampakkan sinar emasnya.

****

Sore itu aku pulang cepat dari kantor, kutinggalkan saja sederet kertas yang masih perlu diperiksa. Jam di pergelangan tangan ini menunjukkan pukul 4 sore, Jakarta macet seperti biasanya. Zig zag mobil dipacu secepat-cepatnya. Aku mulai habis kesabaran. Sial, kenapa pula mesti ada kecelakaan beruntun sih di jalan tol. Gak tahu apa kalau aku harus secepatnya berada di utara Jakarta, ditempat dimana kumpulan pasir dan buih bercengkerama? Perasaanku kacau, beraneka rasa. Seperti pelangi yang beragam warna namun rasa ini sama sekali tidak indah. Cenderung menyiksa malah. Ingin kuyakinkan diriku bahwa SMS tadi pagi adalah SMS nyasar saja, namun ketika di SMS kedua tertulis nama kecil istriku yang tidak banyak orang tahu, hati ini gelisah. Sungguh campur aduk antara resah, kuatir, bingung. Uh menyebalkan! Bisa saja aku menanyakan kebenaran kecurigaanku pada istriku, namun ah, aku harus membuktikan sendiri. Kalau ternyata kecurigaan yang kulemparkan padanya salah, tentu akan melukai hatinya. Jadi, sekarang aku dalam perjalanan menuju tempat yang disebutkan dalam pesan tadi dengan harapan di hati kecil semua pradugaku salah, semua kecurigaanku itu tak berdasar. Walau logika ini mendesak membuktikan kebenarannya. Arrrgh!!! Semoga aku salah! Semoga!!!! Aku tak tahu harus bagaimana jika benar istriku tak setia. Tetes air meleleh perlahan dari sudut mata.

Semburat jingga menyapa saat aku sampai, sedikit terlambat dari waktu yang disebutkan dalam SMS. Dan disana, di hamparan pasir putih itu kulihat kamu berbaring di pangkuannya dengan jemarinya mengelus lembut rambutmu. Tenggorokanku panas. Nafasku tersengal. Dadaku turun naik. Hatiku pecah. AKU MARAH. Geram, sakit, jijik. Istriku! Oh istriku, tidak ingatkah kamu pada janji setia kita?! Pada sumpah sehidup semati yang terucap di depan altar?! Pada... BANGSAT! Kuhantam dashboard mobil hingga semua boneka-boneka kecil penghias interior yang kau tata jatuh berantakan. Kamu kejam istriku!! Ku banting pintu mobil, cepat aku berjalan kearah kalian. Kan kutarik dirimu dari rengkuhannya, kuhajar dulu ia baru kemudian aku berurusan denganmu. Jangan salahkan aku jika sumpah serapah dan makian kulemparkan padamu, kamu istriku! Dan kamu bercumbu mesra dengan orang lain?! ANJ*NG! Kepala ini terbakar bara api kebencian. Pada titik ini, bahkan setan pun kan ngeri mendengar derap langkah kakiku yang berkejaran dengan amarah degub jantung ini.

Tapi langkahku tertahan tatkala kulihat senyummu.. Kuurungkan niatku melabrakmu tatkala kumelihat senyum manja yang kau lemparkan padanya seraya menyubiti lengannya. Se..senyum itu... t’lah lama tak kulihat dari wajahmu.. Aku berdiri mematung dengan mata panas terkaburkan air. Tenggorokanku tercekat. Mengapa kamu tersenyum ketika bersamanya, bukan bersamaku? Apakah itu pertanda kamu bahagia dengannya?

Tanganku terkepal keras. Sekian lama aku memperhatikan kalian, dan aku tak mampu berkata apa-apa. Pahit. Dapat kurasakan kuku tangan yang terkepal melukai telapakku hingga berdarah. Pengkhianatanmu menyakitkan. Tapi senyummu padanya menyadarkan aku, sesungguhnya aku telah gagal menjadi suamimu. Tubuhku lunglai.. Kubalikkan badan, melangkah pergi dengan gontai. Meninggalkanmu dengannya, bersama cinta dan pernikahan kita yang telah kau khianati. Kau tahu, bukan hanya tanganku yang merah saat ini, hatiku pun berdarah!

Cerita sebelumnya:

1. Kau. Aku. Diujung Senja Merah Itu

2. Kamu dan Pertanyaanmu

3. BERHENTI

7 comments:

Skunyos said...

Maafkan keterlambatan saya mempublish ini...
Terima kasih untuk support teman-teman semua yah :)
Sampai kita ketemu lagi!

emmanuellykeisa said...

lohh...saya baca ini dipostinganmu yang mana Ka? waktu itu di fb bukannya udah di link kan? *mulai pikun*

suka ngikutin ceritanya...gak sabar nunggu sambungannya...

ampun-ampun dah yang namanya selingkuh ya...sedih betul dia ngelihat istrinya...hu hu hu...

Lie said...

penggambaran yg dahsyat banget tentang selingkuh...
gilaaaaaaaaaaaa

Irene said...

Ka..ini yg kemaren di posting di FB kan ya? aku menanti sambungannya...penasaran..

eka said...

Paragraf terakhir, astaga naga emosinya! Apa sedang marah betulan ketika menulisnya, mami?

ami said...

haduuuh ngeri aku. terasa banget tercabiknya hati suami terutama pada saat melihat senyum istrinya hiks

Winda said...

dahsyat, mih...bener2 angkara murka nih...kabuuur....heheheheee