Pages

Tuesday, January 19, 2010

Kamu Dan Pertanyaanmu

TITIK PELUH menghias pias wajahmu. Disini, di pangkuanku, engkau terlelap tidur. Nyenyak seolah tanpa beban, padahal baru seminggu sebelumnya badai menghantam hidupmu, eh hidupku juga. Wajah ovalmu polos tanpa tersaput make-up, kamu nampak cantik, gadisku. Sangat cantik. Aku lebih suka kamu disaat seperti ini, tak ada dempul yang katamu berkhasiat menyembunyikan kantong mata, tak ada saputan mubazir serbuk halus berwarna merah di pipi, lha wong pipimu selalu bersemu malu-malu tiap kali ku goda, pun tak ada pemulas bibir senada warna buah saga. Untuk apa sih pemulas itu? Kalau sudah bersamaku, warna itu tentu luntur tergerus lumatanku, jadi lain kali tinggalkan saja gincu itu. Aku suka berlama-lama memandangimu saat seperti ini. Sudahkah kukatakan bahwa kamu cantik ketika tidur? Ketika tak ada make-up sama sekali? Ah ya, sudah kukatakan itu di awal paragraph ini. Maaf, sepertinya aku mulai pikun.

Kamu itu menggemaskan gadisku, karena pertanyaan-pertanyaan polosmu itu kadang membuatku geli. Tadi sebelum tubuh kita menyatu, engkau bertanya apa definisi orang ketiga. Lucu. Kamu tidak tahu perbedaan orang pertama, kedua, dan orang ketiga dalam suatu hubungan, padahal demikian lancar kamu membeberkan fakta dan opini akan kasus Bank Century. Sulit aku menjawab pertanyaanmu tadi.

Orang ketiga? Mungkinkah aku adalah orang ketiga dalam pernikahanmu? Dibanding suamimu, aku lebih tahu makanan kesukaanmu: setangkup roti tanpa crust, dioles dengan mentega tawar bermerk bunga anggrek. Harus tawar, tidak boleh asin, tidak juga manis karena itu bisa merusak dietmu! Ditemani secangkir teh hijau tanpa gula maka jadilah sarapan pagimu. Kamu tidak suka nasi, lebih suka mie untuk menu siang hari, dan sebuah apel di malam hari.

Mungkinkah aku orang ketiga, manakala aku lebih tahu peta tubuhmu? Aku tahu persis lokasi tanda lahir yang berwarna coklat muda itu. Tersembunyi di tengkuk belakang, dibalik rambut ikal bergelombang dengan harum shampo yang menggoda. Aku ingat jumlah tahi lalat kecil didekat pucuk ranum buah dadamu yang ukurannya sering membuat banyak wanita iri dan para pria tidak bisa tidak berdecak kagum. Ada lima. Tiga di aerola kiri dan dua di aerola kanan. Belum lagi sebuah tahi lalat hitam legam yang kian hari kian membesar tepat di puncak bokong kirimu yang bulat itu. Ya. Aku tahu. Aku hafal lekuk semlohai tubuhmu karena aku mencumbui senti demi senti kulit mulusmu setiap minggu. Membaui wangi asli tubuhmu yang bercampur dengan parfum Victoria’s Secret; menghasilkan aroma sensual yang selalu membuaiku ke langit ketujuh dan melecut birahiku maju. Aku memujamu.

Suamimu, yang dalam situasi ini adalah orang kedua, tahukah ia bahwa istrinya, yaitu kamu –gadisku-, tidak bisa tidur tanpa tepukan halus dipunggung sebanyak sepuluh kali? Tidak bisa memejamkan mata jika belum mendengar alunan jazz kepingan cakram dari Fourplay? Tidak bisa terlelap tenang tanpa bakaran aroma therapy yang memancarkan harum cendana di sudut ruangan? Tahukah ia? Ah, manalah ia tahu kebiasaan-kebiasaanmu, tatkala pulang kantor saja selalu bertepatan dengan jam dinding sebelas kali bertalu. Manalah ia tahu luka batin dan kesepianmu selama ini, ia terlalu sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Aku, aku yang tahu air matamu, yang menjadi teman pengusir sepimu, yang memuaskan hasratmu. Yang menenangkan resah jiwamu setiap saat, setiap waktu. Sementara suamimu itu hanya tahu untuk dilayani tanpa mengerti bagaimana menyenangkanmu. Lalu, dalam situasi ini, siapakah yang menjadi orang ketiga?


Orang Ketiga

KUUSAP PELAN rambut-rambut halus di dahimu dan kau pun terbangun. Dengan senyum cantik membingkai wajahmu. Duh! Untung kita tidak sedang di pantai Selatan sayangku, jika ya, sepertinya Ratu Kidul bisa cemburu tersaingi oleh senyummu yang semanis madu.

“Maaf ya cantik, bukan maksudku membangunkanmu,” ujarku pelan, masih membelai ponimu. Namun hanya kerling manja yang kau berikan sementara halus jemarimu mengusap paha kananku bagian dalam. Aiiih dadaku berdesir, ingin kukecup lagi bibirmu sementara tanganku mengelus tengkuk dan punggungmu yang terbuka. Dan kitapun kan bercumbu hingga kau melenguh-lenguh, menggelinjang bahkan mencakarku. Tapi, sialan! Belum sempat kulancarkan aksiku, kau sudah beringsut duduk disebelahku. Menekuk lututmu mendekati dagu dan memeluk kaki jenjang itu dengan dua tanganmu. Kamu semakin menawan. Gelombang rambutmu menari ditiup sang bayu.

“Yank... Kamu belum jelaskan perbedaan orang pertama, kedua juga orang ketiga lho,” riang engkau bertanya. Aku diam. Terkesima dengan keceriaanmu. Ah hari demi hari, aku makin jatuh cinta padamu. Pada kepolosan yang dibalut kepandaian, pada keceriaanmu, pada gaya ngambekmu yang bikin aku tertantang menundukkanmu, ah tentu juga jatuh cinta pada tubuhmu. Untuk sekian menit pertanyaan itu menggantung di udara.

“Iiiiiih, sebel deh, ditanyain koq malah melamun!” Jeritmu manyun sambil mencubiti lenganku. Aku tersenyum. Apa tadi yang kamu tanyakan sayang? Heemm, kau belum menemukan jawab apa artinya orang ketiga ya? Sudahkah kukatakan bahwa sulit untuk aku menjelaskannya? Bahwa aku bingung menetapkan batas antara orang kedua dan ketiga? Ah ya pemikiran itu belum sempat kuutarakan padamu. Maaf ya sayang, sepertinya aku mulai pikun.

Mami Skunyos

(Eka Situmorang-Sir)


Cerita Sebelumnya:

1. Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu.

18 comments:

Skunyos said...

Cerpen ini adalah sequel dari cerpen 2 minggu lalu dengan mengambil sudut pandang yang berbeda.

Sebuah pertanyaan dasar akan posisi. Ya, pasti akan ada pro dan kontra, siapakah yang benar dan salah. Dan posisi apa yang pantas untuk tokoh disini...

Well, setiap orang pasti punya judgment sendiri dengan setumpuk alasan dibaliknya. Suatu pembuktian bahwa kacamata masing-masing kita bisa saja berbeda :)

Selamat Pagi :) Selamat menikmati hari! ^_^
Saya mau siap2 penataran lagi hehehehe

Lie said...

duh Eka...akhirnya ada sambungan juga cerita kemaren itu :)
btw, soal orang ketiga, ya uda pasti yg bukan si suami lha...terlepas dia yang paling banyak tau soal seluk-beluk si cewe ini :)

eka wijayanti said...

Eka Skunyos! Cerita pendekmu sangat menggoda mami...
"Mrinding-mrinding" ketika membaca adegan tokoh-tokoh tanpa nama ini. Fiuh... *menjauhlah setan*

Lina said...

pertanyaan yang bingung juga saya jawab. saya cuma pembaca yang menikmati ini saja...hehe

Indah said...

Ahh.. gua kemaren udah sempet baca di blog elo, Kaa.. and ada satu tanggapan elo terhadap komen di sana yang bikin gua mikir..

Jangan2 ini sebenernya bukan nyeritain lelaki di cerpen yang pertama tapii.. lelaki di sini adalah suami dari wanita di cerpen pertama :p

Kalo ini emang bener suami si wanita di cerpen pertama.. well.. gua menyesal kemaren ini udah bersimpati ama si suami, huahahaha..

(wong sama2 selingkuh, aiihh!!)

Atau jangan2 "suami" wanita dalam cerita ini adalah selingkuhan si wanita di cerpen pertama?! Huaa.. ribetss :p

Ditunggu kisah selanjutnya, Kaa ;)

ami said...

hlah kamu kok nyebelin sih ka, sedang mulai naik, eeeeh malahan .... wahahaha

Bunga Rawa Belong said...

Kereenn banget, ceritanya segar euy.
Thanks for sharing sob

devita said...

huaaaa.... itu foto siapa???

emmm.... ceritanya romantis dan sensual... bagusss......

eka wijayanti said...

Eka Skunyos, kalau boleh tahu, settingnya cerita ini dimana kah? Di kamar tidurkah, mami?

Winda said...

HOT!! HOT!!! HOTTT!!!!
kamu emang paling jago bikin cerita sensual tanpa kata2 vulgar...kesannya jadi seksi2 gimanaaa gitu....^^,

Skunyos said...

@Lie: berarti mbak Lie melihat si tokoh ini dari sudut pandang yg berlaku di masyarakat, bukan dari hati yg melalui banyak quality time ;) hehehe

@Eka-chan: huahhahaha kasih tau dunk, setannya emang ngomong apaan? ;)

@Indah: daripada puyeng ndah, mending lu tunggu lanjutannya ajah yah :)

Skunyos said...

@mbak Ami: biar seru dunk! ;) hihihi

@Bunga Rawa Belong: my pleasure! :)

@Devita: fotonya hanya sebagai ilustrasi cerita saja koq :)

@Eka-Chan: ini kan lanjutan cerita minggu lalu, coba cermati lagi deh cerita diatas.. ada bbrp hint yang halus tentang settingnya loh ;)
Siapa bisa jawab??? hayoooo kuis ney hehehe

@Winda: HOT? Pedes maksudnya? =)) *sok polos huahahaha

eka wijayanti said...

Setting masih di pantai? Di sini kurang jelas. Lebih jelas yang Kau. Aku. Di ujung senja itu.

.g. said...

Uuuww... bisa bangeeeet bikin sesuatu yg sangat "menggoda" *kipas-kipas* ^^

Devita said...

aku masih di bawah umur... ga boleh baca ini... huehuehueueue

Skunyos said...

@Eka-Chan: yep msh di pantai.. emang sengaja dibikin agak blur :p biar pembaca jeli melihat hint hehehe

@mbak G: vulgar ya mbak? :P haduuuh maaaf.. kalo kelewatan, bilang ya mbak... biar gak kena bredel nanti ceprenku hehehe

@Devita: hahahaha cek dolo lah KTP nya :) hihihi

emmanuellykeisa said...

astaga...ini si gadis koq kelayapan jauhnya minta ampun sih Kaa...:D

top dah, keren ceritanya! ditunggu settingan cerita berikutnya...;-)

Skunyos said...

@Keisa: hehehe si gadisnya rada binal ;) hehehe