Pages

Thursday, December 17, 2009

Mengapa Ya? (sebuah omelan)

Ada sebuah entri yang membuat saya agak-agak gregetan. Gregetan ya gregetan aja G, ga usah pakai alasan "agak" hehe.. Tapi sungguh deh, entri yang membuat saya gregetan itu sesungguhnya adalah sebuah entri yang baik dan keprihatinannya memang wajar saja terjadi. Mungkin saya yang bakalan kedengaran aneh nantinya, ah terserah deh..

Mumpung blog ini kita namakan sebagai Women's Talk, bicara soal percakapan perempuan dan soal-soal keperempuanan, so saya pikir pembicaraannya lebih baik di sini, mungkin bisa menggelitik hati dan telinga teman-teman untuk berkomentar atau menjewer saya, terserah deh.

Saya ingin sekali tahu, kenapa ya, kita sebagai kaum hawa, selalu lantang sekali kalau menghakimi sesama kaum hawa? Apalagi yang memang sudah terjerembab kasus dan dia memang melakukan hal yang salah. Namun, dia itu bukan hanya dihakimi karena dia melakukan kesalahan, tetapi dihakimi oleh "kaumnya" karena justru dia berasal dari "kaum" tersebut, gitu loh..

Saya jarang melihat laki2 memaki laki2 karena dia seorang laki2 yang melakukan sebuah kesalahan. Biasanya sih laki2 dimaki dan tidak disukai bukan karena "kebetulan" dia adalah laki2 yang melakukan kesalahan, tapi karena sebagai seorang, sebuah individu, dia melakukan sebuah kesalahan. Gitu loh!

Kenapa musti ada pernyataan: padahal dia perempuan loh, kok bisa begitu ya? Atau: saya tidak rela kaum saya kok mau saja dijadikan alat hingga berbuat semurah itu sih? Apa tidak disadari bahwa karena yang mau diumpankan adalah lelaki maka umpannya adalah wanita. Mungkin kalau yg berkuasa dan mau diumpankan adalah wanita, maka umpannya adalah lelaki, gituh, kecuali kalau lelaki/wanita tersebut punya orientasi seksual yang berbeda (ingat ga kasus Joop Ave yang pernah menjadi heboh dahulu itu?).

Tidak bisakah kita berhenti melihat seseorang dan kesalahan seseorang menjadi semakin menjijikan hanya karena jendernya sama dengan kita, dan lebih memberikan ruang pemafhuman kepada jender yang lain, contohnya, ya.. maklumlah karena dia lelaki, kan laki... bla bla bla. Dua-duanya sama2 bias jender gitu loh..

There, gw cuma pingin ngomel aja.

17 comments:

-Indah- said...

G.. kasusnya kurang jelas neeh, jadi bingung mo komen, ahahaha :D

Kalo gua perhatiin yaa.. gua juga punya "kecenderungan" untuk menyalahkan wanita dalam hal perselingkuhan.

I know I know.. tiga pihak yang terlibat sama2 punya salah walau porsinya mungkin berbeda tapi somehow tetep aja gua punya kecenderungan untuk menyalahkan wanita, either sang istri atauu sang wanita penggoda.

I hate this actuallyy.. but can't help feeling that way!

Gua rasa ini mungkin pola pikir yang secara ngga sadar tertanam karenaa.. mungkin di masyarakat kita itu posisi laki2 "ditempatkan" di atas wanita.

And umumnya khan di keluarga2 jaman bahela itu posisi wanita itu harus "melayani" sang suami.

Soo.. kalo sampai suami berselingkuuhh.. artinya tuh suami ngga mendapatkan kepuasan di rumah, salah siapa?

Tentu aja salah istrinya!

Aarrgghh.. gua benci ama pola pikir gua yang seperti ini, huahahaha.. makanya sekarang pelan2 mo mulai dibelokkan dan diletakkan pada porsi yang sebenernya karena kadang khan ada kasus yang mana betapapun sang istri udah sedemikian baiknya yaa tetep aja suaminya ngga bisa nahan diri untuk ngga selingkuh di luaran, huuuhh!! *toeng*

G said...

Hihihi.... Indah, itu salah satu contoh yg bagus, bhw kalau suami berselingkuh kecenderungannya yg disalahkan pasti isteri. Tapi, gimana klo isteri yg berselingkuh dengan alasan ga bisa dipuaskan sama suami? Salah siapa hayo? :p

lie said...

huahahaha, aku koq ga mudeng toh mbaaa....
tapi qlo baca commentnya, apakah mba lagi bahas soal salah satu acara d tv 'a' -masihkah kau mencintaiku- soal istri yg selingkuh coz suaminya ga muasin kebutuhan'nya (secara tiap hari bisa 3x mintanya) qiqiqiqi...

G said...

Wahahahaa..... Yulie, BUKAAAAN, bukan buangeuts!! Hahaha.. sbenernya ini ttg Rani siy... bosen saya sama tulisan yg dituliskan kaum perempuan (kebanyakan sih yg saya baca pas yg nulis perempuan juga) yg mempersalahkannya sebagai penyebab terbunuhnya NZ dan masuknya AA ke penjara.

Yg bener aja, jelas2 yg salah itu namanya: NAFSU.

lie said...

hihihi...politik toh :)
jadi sebel ya liatnya...

eka wijayanti said...

O, Rani Yuliani.

RY : "Bapak ngambek ya... Bapak diem aja..."
AA : "Saya biasa begitu, jaim. Saya nggak suka ngomong"
RY : "Bapak main lagi dong..."
AA : "Tidak jadi, saya terlanjur kecewa sama Modern"

Lokasi percakapan, Hotel. Situasi, hanya berdua. Kesimpulan, perkerjaan siapa lagi ini kalau bukan, HASRAT MEMBARA :D

Indah said...

Kalo istri yang selingkuh? Ya jelas tetepp.. salah istrinya, huahahahaha :p

*salah istri karena ngga bisa menerima ketidakmampuan sang suami memuaskannya, hihihihi*

Well.. sebenernya like it or not itu udah jadi "rahasia" umum khan kalo men fall for women and women fall for money, huahahaha..

Btw, sebenernya gua lagi mikir2.. asal muasalnya itu dari mana yaa?

Karena gua ngeliat udah ada kecenderungan ngga sehat dari kaum wanita untuk "menjatuhkan" atau menyalahkan wanita lainnya.

Gua jadi mikir wanita itu ibarat pengendara mobil dalam kasus tabrakan dengan pengendara motor, no matter whaatt.. biasanya "tuduhan" kesalahan itu pasti dilemparkan ke sang pengendara mobil.

Suami selingkuh? Ahh.. pasti karena istrinya kebawelan, ngga bisa menghargai suami, kebanyakan nuntut, ngga bisa memuaskan, bla bla blaa..

Suami korupsi? Aahh.. itu pasti karena tekanan dari istrinya yang minta ini itu and pake ngancam2 mo cerai segala kalo ngga diturutin.

Gua jadi mikirr.. apa yang ngebentuk pola pikir kita jadi seperti ini yaa.. laki2 jugaa.. jadi khan ketika kita ber-catfights riaa.. para lelaki itu bisa "tampil" sebagai "pahlawan" (kesiangan).. tadaa.. dengan "melerai" para wanita yang lagi sibuk cakar2an :p

Btw berikutnyaa.. gua baca2 kok komen gua antara satu paragraf dengan yang berikutnya kaga nyambung yaa, huahahaha..

*beginilah kalo punya random mind yang suka loncat2 ke sana sini mikirnya, hihihi*

G said...

@Eka: Perciiiiissss... itu dia, ditambah cekikikan dan desah manja katanya sih... saya ga ada di situ sih untuk nguping, coba ada mungkin jadi 3some, huahahaha... *ketok meja, jgn sampe*

@Indah: ahahaha, wah ga konsisten dunk, klo suami selingkuh krn something is wrong with the wife, maka klo isteri selingkuh, logikanya harus something is wrong with the man, kalau tidak begitu, maka namanya adalah double standart.

Mungkin kaum kita sudah dikondisikan untuk "maklum" saja kalau yg melakukan hal tsb adalah laki2, walaupun begitu dengan kemajuan jaman dan kesetaraan yang semakin hari semakin nyata ini, bukankah kita sendiri seharusnya mampu membuka cakrawala berpikir dan melihat dengan lebih jelas.

Perempuan umpannya adalah uang, itu iya, kalau untuk wanita yg bergantung sama pasangannya, jadi ga selalu begitu, buktinya sekarang ini banyak laki2 yg justru bergantung sama gaji isterinya dan bukan sebaliknya. So, teori tersebut seharusnya sudah ga berlaku lagi. Tidak hanya laki2 yg punya uang dan kuasa, tapi perempuan juga, walaupun masih tidak sebesar laki2 persentasinya.

Dan cowok yg ngedeketin bos cewek dan si bos tertarik kepadanya krn rayuan gombalnya juga banyak. Bukan karena duit toh? Orang si bos lebih sukses dan kaya ketimbang dia kok.

So, cara pandang bhw laki2 jatuh karena perempuan itu, berasal dari asumsi bhw laki2lah penguasa sejagad, perempuan hanyalah sekedar nunut dan bisa jadi alat, pdhl di jaman ini, kenyataannya kan tdk begitu lagi.

Itu yg membuat saya gemas, karena tanpa sadar, dengan cara mengatakan "kaum saya" itu melihat perempuan sebagai "perempuan" bukan sebagai "manusia."

RY adalah RY, seorang manusia, seperti juga AA dan NZ, yang sama-sama melakukan rencana-rencana dengan agenda masing2 untuk kepentingan masing2 yg berujung maut because they were up to no good.

Nah gitu loh.

eka wijayanti said...

Barangkali bisa dibagi link tulisan yang dimaksud. Supaya kita bisa ikut menilai.

Menurut saya, ada pola berpikir yang susah sekali(atau enggan?) membedakan kodrat (sesuatu yang tidak bisa dihindarkan)perempuan. Ada yang berpendapat, kodrat perempuan itu termasuk masak, urus anak, urus suami. Padahal sejatinya kodrat perempuan hanya 3. Menstruasi, rahim dan payudara. Itu saja.

Mungkin sama ketika seseorang berpikir, perempuan sudah kodratnya menjadi titik lemah lelaki, menjadi penyebab. Bisa dipastikan akan sulit, memandang permasalahan antara AA dan RY (misal)adalah permasalah dua individu.
Biasanya yang muncul adalah pendapat seputar, Rani sebagai pemeran perempuan.

-Indah- said...

Aaihh.. asyik2 menarik neeh pembahasan (komennya, hihihi.. kalo soal kasusnya sendiri ngga ngikutin sih jadi no komen dhe :p).

Naah, itu dia, G.. disadari apa ngga emang sering berlaku standar ganda.

Lha, gua aja yang udah nyadar pola pikir gua perlu diubah kadang masih susaahh ngeliat suatu permasalahan bukan mentok di gender, apalagi mereka yang ngga nyadar bahwa pola pikir mereka "salah" (walau yaah kadang benar and salah bisa relatif juga sih :p).

Satu lagi selain uang sih, wanita itu butuh "status", huehehe.. karena just face it.. di dunia kita ini being single itu dianggap lebih "rendah" kelasnya dibanding mereka yang married, seberapapun berantakannya kondisi rumah tangganya tetap aja kalo elo punya suami dianggap lebih "tinggi" tingkatannya dibanding janda or mereka yang masih single di usia yang udah matang.

And kemaren gua juga kepikiran ginii..

Contohnya dhe yaa..

Ada kakek2 kayaa rayaa married ama wanita muda yang cantik berusia 20an.. apa yang terlintas dalam benak kebanyakan orang? Like it or not, kebanyakan orang berpendapat bahwa nih cewek pasti ngincer harta tuh kakek2 doank.

Sementara kasus berikutnya : nenek2 kayaa raya married ama pria muda berusia 20an. Apa pendapat orang? Tuh nenek2 kaga tau dirii, masa kawin ama cowok yang seusia anak or bahkan cucunya!!

Tuh khaann.. tetep aja wanita yang "dipersalahkan", padahal khan bisa aja tuh cowok yang emang matree githu lhoo! Apa bedanya ama kasus yang pertamaa? Cuman beda gender khan? Tapi kenapa tanggapannya beda?!

Menarik sih sebenernyaa.. gua aslii penasaran kenapa pola pikir kebanyakan dari kita tuh terbentuk kaya githu yaa? Siapa yang menanamkannya secara ngga sadar? Karena yang ngga sadar ditanamkan itu sebenernya lebih berbahaya sihh..

*kok kayanya ngga nyambung yaa, ahahaha.. maapp :p*

G said...

Pola pikir itu soal kebiasaan. Dan bagi yang sudah sadar bahwa ada yang salah, maka hanya diperlukan kemauan untuk secara sadar menggiring cara kita menilai dan memandang sesuatu ke arah yang lebih proporsional. Dan hal itu merupakan sesuatu yang bisa dikendalikan kok, ada saatnya memang we just can't help it untuk meloncat dan mengasumsikan sesuatu, tetapi kan kita bisa secara internal mengolahnya dan kemudian meninjau ulang apakah kita sudah melihatnya secara fair atau sebenarnya berat sebelah, atau sama sekali tidak fair. Gitu.

Ttg contoh2nya, memang ada "kasus2" semacam itu. Hal itu kan sebenarnya adalah kasus. Tidak setiap perempuan pasti maunya sama laki2 tua dan kaya, dan tidak semua perempuan menikah krn uang kan? Ataukah kita bisa pukul rata bahwa semua perempuan menikah karena uang? Enggak kan? Hanya dalam kasus2 tertentu saja hal itu terjadi. Sayangnya, justru dari situ diambil kesimpulan bahwa perempuan itu begini dan begitu, laki2 itu begini dan begitu.

Saya cenderung melihat, padangan2 ini muncul justru karena hal itu menyederhanakan permasalahan. Jadi kita tidak perlu melihat apa problem yg sesungguhnya, kita hanya perlu mencari kambing hitam, tanpa susah-susah menggali akar permasalahan. Dan tentu saja lebih mudah untuk menekan kaum yg dianggap lebih lemah dalam dunia yg patriarkal ini.

Bagaimana kalau kita secara sadar belajar untuk berhenti melakukan hal itu?

G said...

Soal status, laki2 maupun perempuan sama2 butuh status, haha...!! Laki2 yg belum menikah sama gelisahnya loh dengan perempuan yg belum menikah :)

Nah, kalau soal dipandang sebagai kelas yg lebih rendah bila belum menikah di usia matang (spt saya) itu harus dibahas di topik yg berbeda deh kayaknya, haha, pasti seru, sebab hal itu benar. Namun, hal itu tidak kekal. Sebab semakin menanjaknya usia seseorang, maka di suatu kurun waktu kehidupannya, ia akan menjadi sendiri lagi. Pada saat itu, apakah sedari muda memang single atau sekarang ini baru menjanda, sudah tidak menjadi masalah lagi, haha, saya tahu banget hal ini karena melihat mama saya dan teman-temannya.

Single or married hanya menjadi isu besar diusia-usia tertentu saja. Dia akan mati sendiri bersamaan dengan waktu. Tetapi bias jender, terjadi sepanjang kehidupan.

eka wijayanti said...

Pertanyaan Mbak G, "Mengapa ya?" sudah terjawab. Kita sependapat kalau ini disebabkan oleh pola berpikir bahwa perempuan sudah kodratnya menjadi penyebab.

Pertanyaan Indah, "Dari mana asalnya pola pikir tersebut". Ini sebenarnya tidak lepas dari sejarah (agama dan budaya). Ingat, sejarah ditulis oleh pemenang. Dan kebetulan pemenangnya kebanyakan adalah kaum Adam. Kalau saja sejak dahulu, perempuan berani menuliskan sejarahnya, saya rasa tidak akan muncul pola seperti itu.
Oleh karena itu, mulai sekarang perempuan-perempuan keren seperti kita-kita ini harus menuliskan sejarahnya untuk penerus kita kelak.

Pertanyaan pamungkas Mbak G,"Sudah tahu salah, kenapa tidak mau berubah". Terlepas dari nilai benar-salah adalah relatif, tapi saya sependapat dengan Mbak G. Pola berpikir terbentuk karena kebiasaan yang berulang dan mengakar. Dan menurut saya, mengubah kebiasaan itu sulit sekali. Ketika jam anak sekolah di Jakarta diutak-atik,lihat bagaimana para Ibu kasak-kusuk. Itu karena yang terbiasa bangun jam 6 pagi, tidak terima kalau harus bangun jam 4 pagi. Contoh lain, ada seorang dewasa yang sudah sadar merokok itu berbahaya, tetap saja terus merokok karena sudah terbiasa sejak remaja.

Namun, sulit bukan berarti tidak mungkin. Misalnya saja umat Islam yang biasanya bangun jam 5 untuk ibadah, pada satu bulan puasa, harus bangun jam 2 untuk menyiapkan sahur. Artinya, untuk mengubah kebiasaan berpikir, tidak cukup hanya teori, buku-buku, seminar,lokakarya, orasi dan lain-lain. Juga hampir sia-sia jika hanya mengharapkan kesadaran. Yang dibutuhkan adalah sebuah momentum. Momentum yang revolusioner.

-Indah- said...

Ahaaii.. gua suka dhe kalo komen udah pada panjang2 ginii, huahahaha.. soalnya kalo panjang2 ginii jadi lebih memungkinkan untuk bisa ngeliat satu hal dari sudut pandang yang beda, hihihi :D

Coba kalo orang cuman jawabnya "setuju" ama "ngga setuju" aja.. laahh.. gua perlu tauu.. apa alasan di balik setuju ama ngga setuju-nya dirimuu.. karena amat sangat mungkin kita berada di pihak yang sama untuk alasan yang (amat) berbeda, huahahaha..

G.. kayanya kita ngeliat dari sudut pandang yang beda. Gua nulis contoh kakek-wanita muda ama nenek-pria muda itu cuman mentok mo ngebahas soal "persepsi" yang ada di otak orang kalo ngeliat pasangan tersebut, bukan mo ngebahas soal kasus "pernikahan" secara keseluruhan yang mana menyamaratakan bahwa semua wanita pasti menikah karena alasan uang, hehehe..

And soal status single.. gua ngerasa itu karena kebanyakan masih menganggap bahwa bahagia = menikah..

Padahal, helloo.. seperti halnya banyak jalan menuju ke Roma, gua juga percaya bahwa banyak jalan menuju kebahagiaan, salah satunya mungkin memang dengan menikah tapi menikah itu sendiri bukan satu2nya jalan menuju kebahagiaan, huehehe..

Btw, uhukk uhukk.. ngerasa lumayan tertohok di bagian :

Dan bagi yang sudah sadar bahwa ada yang salah, maka hanya diperlukan kemauan

Hehehe.. salah satu masalah yang perlu gua benahin tuhh.. kemauan ada tapi sayangnya konsistensi-nya kurang, hehehe :)

~.*.~

Ekaa.. aahh.. sejarah!!

Belakangan ini gua baru menyadari pentingnya untuk mempelajari sejarah!

Bukan untuk mencari mesin waktu and memperbaiki apa yang dulu salah sih..

Tapii lebih ke arah.. untuk mempelajari di mana letak salahnya and memperbaiki itu supaya kejadian yang sama ngga terulang kembali!

Karena gua baru nyadar.. history will surely repeat itself, sooner or later, if we don't do something to fix what was once went wrong!

*ini sih berdasar pengalaman pribadi and ngga sedang membicarakan sejarah dunia, hihihihi :D*

~.*.~

Btw.. makasih yaa buat G and Eka yang udah mo berbagi pandangan ^o^

Met Sabtuu ;)

G said...

Thanks Eka yg sudah menjadi moderator kita ^^ Yupsi memang seperti itu kesimpulannya.

Indah, saya paham bhw contoh2 tsb mencontohkan persepsi yg umumnya muncul ketika sebuah kasus terjadi spt yg dicontohkan. Persepsi tsb. sudah sangat umum, demikian pula contoh kasusnya kan? Karena itu saya menjawabnya seperti jawaban saya, sbb. menurut hemat saya keduanya dalam satu rangkaian yang sama. ^^

Btw, diskusi begini bikin ngeblog lebih hidup, ehehehehe... :p

eka wijayanti said...

Jangan kapok berdebat ya. Kita sama-sama belajar.

Indah said...

Hidup perempuan2 keren seperti kita2 ini, huehehehehe :D

Btw, kangen juga udah lama ngga balas2an komen macam gini, ahahaha..

And menariknya adalahh.. walau mungkin ngga mengubah pandangan kita masing2 akan sesuatu, kita jadi lebih mengenali lagi tentang diri kita sendiri dalam memandang sesuatu, ahahahaha :D