Pages

Thursday, December 17, 2009

Revolutionary Road : A Cry For Help

Topic starter : Rabu, 16 Desember 2009 (8:05 pm)

Topik ini sebenernya udah pernah gua posting di notes FB gua dengan alamat berikut :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=172903317920

Kalo yang belon temenan ama gua bisa liat di :

http://special4fbnotes.wordpress.com

Cari aja di kategori movies and klik di postingan "A Cry For Help".

Kenapa gua ngangkat topik ini lagi di blog Women's Talk?

Karena gua pikir ini topik yang penting, huehehehe :p

And ada komentar temen gua di notes FB yang bikin gua mo mengembangkan postingan awal.

So yang hadir di Women's Talk ini hasil modifikasi yang mana ada tambal sulam, maklum.. berhubung gua kalo bikin postingan khan suka ngalor ngidul, ahahaha.. jadi untuk kali ini gua akan berusaha to stick to the point supaya kaga melenceng :p

Here we goo..

~.*.~

Sabtu, 21 Maret 2009

Tadi pagi gua nonton filmnya Leonardo di Caprio & Kate Winslet yang berjudul ‘Revolutionary Road’.

Ada yang udah pernah nonton?

Apa kesan kalian sehabis nonton film yang satu ini?


Gambar diambil dari :
http://livingincinema.com/wp-content/uploads/2008/09/revolutionary-road-os-001-fragment-450.jpg


Satu yang ngga luput gua dapatkan dari film ini adalah mengenai..

A cry for help..

Yupp.. That’s the thing I learn from this movie ^o^

How oftentimes we missed other’s cry for help and they miss ours.

Iya, jeritan putus asa terselubung yang mungkin terkadang kita lontarkan tanpa sadar.

Dengan harapan agar mereka yang mendengarnya cukup sensitif untuk tau bahwa kita sedang minta tolong.

Itu yang gua tangkap dari tokoh April yang diperankan Kate Winslet.

Sang suami ngga bisa menangkap jeritan minta tolong istrinya.

Bahkan ketika binar2 di mata istrinya mulai meredup ketika sang suami membatalkan rencana kepindahan mereka ke Paris, sang suami tetap ngga bisa menangkap kegundahan sang istri.

Atau ketika sang istri mengungkapkan rasa frustrasinya akan kehamilan anak ketiga mereka yang mana in a way secara ngga langsung dia mengutarakan isi hatinya yang merasa terjebak dalam pernikahan mereka dan anak2 hanyalah suatu ‘kesalahan’ yang ngga disengaja.

Frank (Leonardo di Caprio) bahkan menemukan peralatan untuk self-abortion yang sengaja dibeli oleh April but again, Frank missed her crying for help.

Mereka sempat bertengkar hebat yang mana April meneriakkan bahwa dirinya membenci Frank dan rasa cintanya pada Frank telah lenyap.

April kemudian menenangkan diri di hutan dekat rumah mereka dan meminta Frank membiarkannya sendirian untuk menenangkan pikiran.

Dan ketika keesokan harinya April berubah 180 derajat dari hari sebelumnya, dan pagi2 sudah menyambutnya penuh senyuman sambil menyiapkan sarapan dan makan berdua, Frank just take it as it is.

Kadang gua mikir..

We only see what our eyes want to see..

Sama seperti Frank, dirinya yang masih mencintai April, amat berharap semua yang April katakan kemarin hanyalah emosi sesaat belaka.

Karenanya ketika April bilang bahwa ia masih mencintai Frank, tanpa merasa curiga sedikit pun Frank langsung menelan bulat2 perkataan istrinya.

Frank juga ga bisa menangkap kesedihan di balik senyuman April.

Sepeninggal Frank yang pergi ke tempat kerja, April menangis sambil mencuci piring kotor bekas sarapan mereka.

Kemudian ia pergi ke kamar mandi dan melaksanakan niatannya untuk menggugurkan kandungan.

Perbuatan yang pada akhirnya merenggut nyawanya.

Have you ever cried for help but no one there to listen?

Kadang sih ya ‘bo, ‘jeritan’ itu sendiri ngga kita sadari.

Dan seringkali juga kita ngga bisa mendengar ‘jeritan’ minta tolong dari orang di sekitar kita.

Sometimes maybe we’re just too busy in giving advices that we forget to really listen to what the other has been trying to say..

Sometimes we need to read between the lines.

To pay more attention on the body gesture cause a slight change might be a signal of an untold emotion.

Lately pas gua lagi blogwalking in random, gua ‘nyasar’ ke blog2 yang punya satu kesamaan.

Kebanyakan dari penulis blog yang bersangkutan having a hard relationship with their parents.

Satu dua kali masih ngga terlalu merhatiin karena kadang postingan mereka bercampur dengan kehidupan sehari2 yang lepas dari cerita tentang ortu.

Sampai gua iseng ngubek2 file lama blog mereka.

And then I finally realized..

Wooww..

Ternyata banyak anak2 terluka di luar sana ya akibat perlakuan ortu mereka.

Telat bangets ya baru nyadar :p

Mm..

Some of their postings are really heart-breaking up to the point where they feel rejected by their own parents.

Bahwa kehadiran mereka di dunia ini merupakan ‘aib’ keluarga.

For whatever reasons, I do think it’s sad how family which should have been life’s basic loving foundation might turn into the cause of bleeding wounds to its member of the family.

How many times do parents miss hearing their children’s cry for help?

Instead they just keep on talking, yelling, screaming, even cursing and put more salt and lemon to the open wound and make the hurt goes deeper than before.

Menurut gua penting untuk memulihkan hubungan di antara anggota keluarga, antara orang tua dan anak serta hubungan antar saudara.

Karena again, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.

Kalau unit ini aja udah rusak maka masyarakat yang terdiri dari unit2 keluarga yang akhirnya akan membentuk barisan sakit hati, huhuhu..

Bukan berarti mereka semua akan grow up to be bitter people karena banyak juga yang bisa mengatasi luka hatinya di masa kecil and jadi pribadi yang mengagumkan.. tapii.. yang kaya githu tuh jumlahnya bisa dihitung pake jarii.. sisanyaa lebih besar kemungkinan untuk mengulang pola yang sama ke anak mereka nanti!

Believe me dhee.. cause it's wayy easier to play the role as a victim than break the circle!!

I cannot say from parents’ perspective since I’ve never been one.

All I can say is from a child’s point of view.

Do you really think it’s that important to hold on to traditions and the pressure of society that you sacrifice your own children’s happiness?

Do you?

Mungkin ini pentingnya dari apa yang gua pernah denger bahwa being a parent isn’t an easy job.

It takes more than just a sperm and an ovarium (eehh, bener ga? :p) to be a good parent.

Having a child doesn’t automatically make you a good father or mother!

You still need to learn along the way.

Ah ya, ada yang ketinggalan, hehehe..

Maksudnyaa, untuk jadi ortu yang baik itu katanya seeh penting untuk terlebih dahulu being a whole person, seseorang dengan pribadi yang ‘utuh’, yang udah puas ma kehidupan pribadinya yang sorangan wae and harus siap berbagi banyak hal dengan sang anak nantinya.

Karena kalau belum puas akan kehidupannya, kehadiran anak itu bisa jadi beban buat sang ortu nantinya.

Gimana ngga jadi beban kalau sang ibu (karena sang ayah khan mustinya kerjaa) ngerasa waktunya habis hanya untuk mengurusi anaknya padahal dia masih mau bersenang2 dengan teman2nya and ngga digerecokin ma anaknya itu.

Terkadang tanpa sadar, ortu juga mentransfer impian mereka ke anaknya and somehow betapapun sang anak berhasil mewujudkan impian orangtua-nya, sang ortu tetap aja ngga puas akan prestasi sang anak.

Kenapa?

Karena ortunya yang memimpikan hal itu, sehingga ya harus mereka sendiri yang mewujudkannya buat bisa ngerasain kenikmatan dari terwujudnya sebuah impian.

Sementara impian sang anak mungkin adalah membahagiakan ortunya dengan mewujudkan cita2 mereka tapi impian sang anak pun gagal terwujud karena sang ortu tetap tidak bahagia.

Mungkin ada baiknya kalau para ortu itu meluangkan waktu untuk membaca blog anak2 mereka supaya mereka bisa tau apa yang ada dalam pikiran anak mereka, apa yang mereka rasakan.

Karena terkadang banyak hal2 yang ngga bisa sang anak sampaikan secara langsung di hadapan orangtuanya.

Bukan karena ngga mau, tapi lebih karena cape karena ngga pernah didengarkan atau ngga tiap kali ngomong pasti dhe ujung2nya ribut, males khan kalau udah githu situasinya?

Soo..

Kayanya musti mulai mengasah diri untuk lebih peka and lebih bisa mendengar jeritan dan tangisan minta tolong dari orang-orang di sekitar kita.

Sebelum semuanya terlambat dan penyesalan tidak lagi ada gunanya.

Jadi mikirr..

Udah berapa kali ya gua ber-cry for help tapi ga ada yang nanggapin?

Huehehehe :p

Well, kayanya ‘Revolutionary Road’ musti ditonton ulang, siapa tau banyak hal2 lain yang bisa gua pelajari dari film itu :)

-Indah-

~.*.~

Lanjutt..

Ada salah satu komen temen gua di notes yang menarik..

Bentar gua copas, siapa tau ada yang ngga bisa ngeliat di notes, hehehe..

~.*.~

Dari Dewi :

uhm....siapa yg bisa disalahin ya klo cry for help nya gak kedengaran sama orang lain? Benarkah selalu salah orang lain? G gak setuju sih. Mungkin ada salah orang lain, tp kita juga salah karena gak ngomong terus terang apa yg ada dalam hati kita. I know it's not easy. Tapi kita dikasi suara utk mengekspresikan suara hati jg kan? Gak semua orang bisa peka dan ngebaca cry for help lho. Apalagi klo orgnya poker face.

Utk masalah ortu, g jg berpendapat gak semuanya salah ortu. Kita mestinya bisa ngerti sih klo mrk pny masalah masing2. mestinya malah kita kasian ya. Dari segi umur & fisik udah dewasa, tp kok belum bisa bersikap dewasa ke anak2nya. klo gua jadi anak sih, gua belajar maafkan mereka. if they don't want me, that's their lost.
gua tau gak gampang, apalagi sebagai anak kecil.

~.*.~

Dewi ada benarnyaa..

Ketika orang ngga bisa mendengarkan teriakan minta tolong kita, apakah mereka salah?

Kenapa kita musti minta tolong dalam bahasa kiasan yang belon tentu semua orang ngerti?

Kenapa kita ngga langsung aja bilang ke orang yang bersangkutan, "Help me, pleasee.. I need your help.."

Kenapa kita malah menampilkan senyum ketegaran di saat kita sebenernya pengen nangis?

Well, babee..

Karena sometimes.. mengeluarkan isi hati itu ngga gampang!

Apalagi kalo selama ini elo tipe yang selalu menyimpan semuanya sendiri. Terbiasa karena keadaan.

Gua pikir kita perlu untuk "mendengar" apa yang ngga "terucapkan" karena kadang yang ngga terucapkan itulah yang lebih menggambarkan isi hati yang sebenernya.

Terkadang.. bukan berarti selalu :p

Well..

Berhubung gua ini pencinta balance, jadi gua rasa kita perlu mengembangkan kemampuan dua2nya, belajar mendengarkan (yang tidak terucapkan sekalipun) and juga belajar untuk mengutarakan apa yang kita maksudkan.

Karena tipe orang yang kita hadapi itu beragam.. ada yang bisa dengan gamblang mengutarakan apa yang dirasakannya sehingga kita ngga perlu mencerna lebih lanjut perkataannya.. just take it as it is..

Ada juga yang mana kita harus sambil memperhatikan nada bicara atau gerakan tubuh and ekspresi wajahnya, terutama pancaran matanya karena you can fake a smile but it's wayy harder to fake your eyes!

Ngga percayaa?

Besok2 coba dhe kalo kalian lagi senang, sempetin ngaca and perhatikan binar2 bahagia yang terpancar di mata kalian.

And pas lagi gloomyy.. tetep ngaca donks, hihi.. and lihatlah betapa pendaran yang pernah ada di mata itu menghilang ntah ke mana :)

Ya udah githu dulu dhee.. kayanya udah panjang juga, huahahaha..

*penyakit.. kalo nulis jarang bisa pendek :p*

Topic ended : December 16, 2009 (9:37 pm)

-Indah-
the soul traveller

8 comments:

G said...

Kayaknya saya harus nonton filem ini :) Kebetulan nnti mau jalan untuk berburu DVD, cihuiiy... thanks udah nambah daftar MUST WATCH di list sy.

lie said...

aku juga blm nonton....kayaknya bagus deh ceritanya...nyusul mbG hunting dvd :) hihihihi..thx to indah yg uda share :)

eka wijayanti said...

mengeluarkan isi hati itu ngga gampang! Apalagi kalo selama ini elo tipe yang selalu menyimpan semuanya sendiri. Terbiasa karena keadaan. Gua pikir kita perlu untuk "mendengar" apa yang ngga "terucapkan" karena kadang yang ngga terucapkan itulah yang lebih menggambarkan isi hati yang sebenernya.

Indah... terlalu setujunya saya, sampai bingung harus komentar apa. Belum lama ini, saya curhat hal yang serupa
di sini. Tapi saya kemudian berpikir, apa jangan-jangan hanya saya saja yang menganggapnya masalah. Lega rasanya, menemukan ada orang yang juga menggelisahkan hal yang sama :(

Indah said...

G & Yuliee.. semoga semogaa.. abis nonton masih berpendapat kalo nih film bagus, ahahahaha :D

~.*.~

Ekaa.. hehehe, mungkin tergantung cara dibesarkan juga, Neng.. orang yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang apa2 serba dibicarakan secara terbuka, pada umumnya kurang terlatih untuk menangkap yang "tersirat" di balik yang tersurat :)

Sementara anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang kalo bilang "a" bisa artinya "b", mungkin aja kebingungan di tengah orang2 yang kalo bilang "c" ya artinya "c", ahahahaha :D

Menarik yaa betapa beragamnya orang ituu ^o^

Irene said...

Ndah,gw jadi merenung nih... Do I listen my chid cry for help??

ami said...

betul sekali menjadi ortu 'yang baik' itu penuh perjuangan dan doa. sering kita harus mencoba menempatkan diri kita ke anak2 supaya kita bisa memahami bagaimana keinginan atau perasaan mereka. mereka sebetulnya tetap individu yang mandiri meskipun ada darah kita yang mengalir di diri mereka. menurut aku, yang harus diajarkan adalah disiplin, tanggung jawab, peduli pada orang lain. tapi kalau mengenai bakat, minat, selera, itu biarkan berkembang sesuai diri mereka sendiri. anak sebaiknya diajarkan kreatif, karena ternyata hidup semakin kemari butuh kekereatifan untuk bisa tetap bertahan.
ngga usah memiliki anak dulu, memiliki pasangan saja tidak mudah ;), apalagi ditambah dengan memiliki anak, tapi banyak sekali pelajaran mengenai kebersamaan, berbagi dan tanggung jawab yang kita dapatkan dengan berkeluarga. satu lagi, anak adalah makhluk hidup, sekali kita mendapatkannya, tidak ada langkah mundur atau balik kucing :). pertanggungjawabannya ke pencipta kita, whatever happen, kita harus berjuang dan berdoa untuk kemandirian anak2 kita. disitu menurut aku beratnya menjadi ortu

-Indah- said...

Irenee.. hehehe.. hanya dirimu and anakmuu yang bisa menjawabnya, Jeng ;)

~.*.~

Amii.. aahh.. gua suka bangets ama kalimat elo yang inii : (kutip aahh)

mereka sebetulnya tetap individu yang mandiri meskipun ada darah kita yang mengalir di diri mereka

Kata2 itu kereeeenn bangetss.. karena gua rasa banyak orangtua yang masih "terjebak" dalam anggapan bahwa anak itu harus mengikuti jejak orangtuanyaa.. padahal panggilan jiwa tiap orang khan beda2.

Yaa kalo tuh anak dengan sukarela emang arah panggilannya itu sama kaya ortunyaa.. kalo terpaksa khan kasian juga jiwanya ngerasa terkekang and terbelengguu.. padahal jiwa itu khan seharusnya bebas and ngga boleh diikat :D

And aahh.. soal "kucing" itu juga menariiikk..

Soalnya temen gua pernah bilang yang sama, tapi dia pake contoh anjing sih, hehehe..

Dia bilang gini :

Punya anak itu adalah tanggung jawab seumur hidup, karena punya anak itu beda dengan punya anjing yang mana ketika kita udah bosen bermain dengannya kita bisa tinggal membuangnya begitu aja tanpa perlu peduli bagaimana nasibnya selanjutnya.

Waahh waahh.. andai banyak orang yang lebih memikirkan hal ituu.. mungkin mereka bisa lebih bertanggungjawab kepada anaknya kali yaa? :)

Anika Wahyu B. said...

Setuju mb indah, keluarga berpengaruh besar pd pribadi anak. Selain sifat2 bawaan dr lahir. Sy jg sedang belajar smart parenting nih. Bukan hal mudah mmg. Apalg jika kita tdk dibesarkan dlm keluarga yg 'ideal'. Semua harus kita pelajari sdr. Sy jg mengamati mb, kebanyakan anak2 yg bermasalah adl anak2 yg tidak 'terisi penuh' dr rumahnya. Ya itu perhatian, kasih sayang, kepercayaan, dll. Jika saja semua yg dia butuhkan dicukupkan ortu, maka dia punya banyak energi untk hal berguna lain. Beda dgn anak 'kurang terisi' yg akan mencari2 perhatian dr luar keluarga yg kdg mjd masalah. Yes, I do observe me and other friends.