Pages

Monday, January 4, 2010

belajar

Baiklah, ladies. Kita sudah sepakat untuk sama-sama belajar. Belajar dan saling mempelajari cerita pendek. Oleh karena itu, ijinkan saya membagikan ilmu yang saya miliki, meskipun itu hanya sedikit sekali, dan belum ada apa-apanya.

Cerita pendek. Saya juga tidak pernah tahu pasti apa pengertiannya. Karena ketika Bu Anggi, guru bahasa saya menjelaskannya di kelas, saya memilih untuk pergi membolos bersama Anika, sahabat saya dari SMP dan makan es pisang ijo yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Kebetulan siang itu kami tidak kembali lagi, karena langsung ke perpustakaan daerah untuk membaca Pipi di Negeri Taka-Tuka, sampai sore. Saya hanya tahu, cerita pendek itu, punya aturan main. Tema, tokoh, plot, narasi, sudut pencerita (point of view), dan panjang tulisan. Itu aturan mainnya.

Mari cerita-cerita tentang tema lebih dahulu. Apa itu tema? Tema itu, saya juga lupa. Tapi kalau dalam arsitektur, dikenal dengan istilah konsep desain. Kurang lebih adalah atmosfir yang mau kita bangun dalam cerita. Melankoliskah, mataduitankah, dramatiskah, horor, kepahlawanan, budaya etnik, spritualis, filosofis, detektif, komedi, seksualitas dan 1001 macam lainnya. Biasanya tema ini tergantung dari karakter dan idealisme penulisnya. Misalnya Mbak Yulie yang suka hal-hal yang menyentuh, maka tema cerpennya Sendiri, adalah melankolis. Jadi kuncinya, kenali, eksplorasi karakter dan selera kita.

Kemudian, tokoh. Siapa dia? Dia bisa siapa dan apa saja. Mau lelaki, perempuan, hewan, tumbuhan, pokoknya suka-suka. Tidak harus tampan, tidak harus cantik dan tidak harus bernyawa. Contoh, cerita pendek Balada Sofi dan Kori. Tokohnya adalah sebuah sofa dan sebuah kursi. Menarik sekali bukan? Silahkan juga mencoba memberikan karakter yang tidak umum atau jauh dari sempurna. Salah satu cara yang biasa saya lakukan adalah mengawinkan karakter manusia dengan karakter benda mati. Misalnya mengawinkan karakter anak perempuan dengan kereta api jaman dulu. Maka yang muncul adalah, anak perempuan hitam manis, yang tidak bisa berhenti bersiul kemana-mana. Lucu kan? Penulis itu bebas menentukan siapa pun tokoh dalam ceritanya. Bahkan Tuhan sekalipun, dengan beberapa catatan tentunya.

Kemudian, plot. Lebih tepatnya, plot dan anaknya si alur. Ini juga saya bingung harus menjelaskannya bagaimana. Secara umum, plot itu kira-kira bentuknya seperti ini: awalan-pertengahan-konflik-klimaks-anti klimaks-akhir. Itu hanya kira-kira saya saja. Jadi sebenarnya penulis itu bebas mau berplot seperti apa. Mau akhiran-pertengahan-awalan-konflik-klimaks atau sebaliknya, silahkan utak-atik sewajarnya dan kreatiflah berploting!
Lalu mengenai si alur. Alur ini adalah pecahan plot. Ada tiga jenisnya.
Yang pertama adalah alur maju. Alur maju artinya ceritanya itu mulus bergerak ke depan. Seperti pada cerita pendek Aku dan Malam ini oleh Gratcia-san. Itu adalah contoh paling baik untuk alur maju. Mulai dari anak mandi, sampai anak selesai pakai baju.
Jenis lainnya adalah alur flashback. Alur ini biasanya didominasi dengan narasi yang berbentuk ingatan masa lalu. Biasanya dalam cerita ditandai dengan keterangan waktu seperti, duapuluh tahun yang lalu, 20 tahun sebelum masehi, dan lain-lain.
Yang terakhir adalah alur maju-mundur. Ini biasanya dilakukan oleh penulis yang separuh gila. Mau maju tapi mau mundur juga. Contoh alur ini, bisa teman-teman lihat di cerita pendek pertama saya.

Bergeser ke aturan selanjutnya, yakni narasi. Apa itu narasi. Narasi itu adalah pengisahan. Penulis itu, sebenarnya narator atau tukang cerita. Nah, ada dua macam gaya dalam berkisah. Yang pertama adalah deskripsi. Deskripsi itu istilah lain dari pemaparan. Jadi, melalui deskripsi, penulis memaparkan tentang peristiwa, lokasi, perawakan tokoh, cuaca, mimik dan suasana lainnya. Mungkin ada yang bertanya (yang jelas bukan Indah, karena Indah paling lihai soal ini) bagaimana menulis deskripsi yang oke punya. Setahu saya, rahasianya hanya satu. Paparkanlah sedetil-detilnya. Misalnya, soal sendal jepit. Ceritakanlah jangan hanya sampai pada, ia adalah sandal jepit. Ceritakanlah pada pembaca apa warnanya, mereknya, tebal tipisnya, cecel-bocelnya, bahkan kalau perlu sampai baunya. Paparkan saja apa adanya. Tidak perlu berbunga-bunga. Tidak perlu metafora. Yang biasa-biasa saja dulu, yang lain bisa menyusul belakangan. Makin detil, artinya makin terlatih kepekaan penulis. Dan pembaca makin mudah menangkap apa maksud dan pikiran si penulis.
Lalu, dialog. Dialog itu adalah percakapan. Bisa antar tokoh, atau tokoh utama dengan dirinya sendiri. Dialog itu wujudnya perkataan yang dikutip. Jadi biasanya kalimat dialog, diawali dan diakhir tanda ".

Berikutnya adalah Point Of view. Sudut pencerita. Dalam teori prosa, POV ada dua jenis.
yang pertama adalah sudut pandang orang pertama. Atau populer disebut keakuan. Ini juga seingat saya masih terbagi dua.
Aku sebagai tokoh utama. Contoh yang paling baik adalah cerita pendek Hujan oleh Indah. Dan aku sebagai tokoh tak serta, di Women's Talk belum ada contohnya, silahkan teman-teman berkreasi dengan sudut pandang ini. Contoh yang berkaitan, barangkali sudah ada yang membaca Serat Centhini? Tokoh utamanya bukan Centhini, tapi majikannya Tambangraras dan Amongraga. Si Centhini ini adalah tokoh penyerta yang menceritakan A, B, C, D-Z tentang kedua majikannya kepada pembaca. Seperti itu kira-kira.
POV yang kedua adalah sudut pandang orang ketiga. Nah, orang yang bercerita ini tidak ada dalam cerita. Tapi ajaibnya, dia tahu semua peristiwa, rasa, pikiran, setiap tokoh. Biasanya digunakan oleh penulis yang sok tahu dan mau tahu saja kerjanya. Contoh sudut pandang jenis ini, bisa dilihat di cerita pendek akuarium biru.

Aturan main yang terakhir, adalah panjang tulisan. Ini juga tidak jelas. Biasanya yang mengatur soal panjang pendek ini adalah media, karena media memang membatasi ruang dan halaman muat. Saya sendiri biasa membuat cerita pendek 5-7 halaman, spasi satu. Atau kurang lebih 15.000-20.000 karakter. Itu adalah aturan yang ditetapkan sebuah media, tempat biasa saya mengirimkan karya saya. Mungkin bagi sebagian penulis jumlah tersebut tampak mengerikan. Namun, jika dipahami sebagai ruang berimaji, tentu jumlah itu akan terasa sangat sempit untuk kreatifitas kita luar biasa tak terbekap ini.

Hhh. Sekian untuk aturan main sebuah cerita pendek versi saya. Tips lain yang ingin saya bagi, barangkali adalah, mulailah dan belajarlah menulis dengan bahasa Indonesia tercinta secara benar. Kurangi singkatan dan pemendekan kata. Perhatikan tanda baca, seperti titik, koma, tanya, seru. Karena lewat titik, koma, tanya, seru, penulis bisa memainkan pergerakan emosi pembaca. Kapan pembaca harus jeda, diam, kaget, berhenti, lalu lanjut lagi.

Demikian telah saya sampaikan pengetahuan saya yang tidak seberapa pada penulis-penulis cantik berbakat di sini. Mohon, bagi yang memiliki ilmu, sedikit apapun itu, jangan disimpan sendiri (mengedip satu kali ke arah sensei G). Silahkan dibagi disini, karena semua berantusias ingin belajar.
Terakhir yang ingin saya sampaikan, bahwa aturan main di atas itu bukan untuk membelenggu. Dia ada untuk dipelajari, dipahami, dikuasai, lalu dimainkan sesuka hati.

Selamat menulis dan selamat menantang diri sendiri, penulis yang cantik!
Bersemangat!

12 comments:

Lina said...

wah...bolosnya aja ilmunya masih nyantol begini, mbak.
Hem..informatif banget ni, mbak. saya paling susah juga tuh bikin cerpen.

Indah said...

Waahh.. ini penjelasannya menarik bangets, Kaa, thanks for sharing ^o^

Kalo gua biasanya kalo pas nulis mah main asal nulis aja karena kalo kebanyakan mikirin teknis gini bisa jadi kaga nulis2 and malah berasa terbelenggu ama aturan2 yang bikin makin macet dalam nyusun kata, hihihi :D

Btw, Ekaa bandel yaa ngebolos, semoga rasa es pisang ijo-nya enaakk :q

Aahh.. jadi kangen ama Pippii.. itu salah satu bacaan favorit gua dulu walau sekarang kalo gua baca2 ulang kok gua malah sebel ama si Thomas and Annika yaa, huahahaha :D

Fave gua dari si Astrid Lindgren itu tetep Ronya Anak Penyamun, itu salah satu buku anak terbaik yang pernah gua baca and bikin gua jadi pengen tinggal di hutan tiap abis baca ulang tuh buku, ahahaha :p

Winda said...

waaah, mantap eka!!
aku selama ini taunya nulis ya nulis aja...cerita ya cerita aja...hihihihi...
boro-boro tau apa itu point of view atau plot...
gilaaa...belom seminggu ilmu gw dah nambah banyak banget nih...gimana setahun? jangan2 pada jadi novelis semua nih? hihihihi....
makasih ya eka, share yg bermanfuaat sekale...^^,

eka wijayanti said...

Ayo! Penulis-penulis yang cantik. Aturan-aturan di atas itu minta dimainkan... Silahkan salaman dulu. Mereka ramah dan fleksibel kok. Membantu kita untuk membentuk dan merapikan tulisan kita... :)

ami said...

iniiii yang kutunggu. thanks ya ka :). baca sekali lagi aaaah

Lie said...

mari kita belajar bahasa indonesia...hehehe...

Winda said...

ami : sama, mi...aku juga baca sampe 3 kali..biar apal...hihihihihi...
jadi ntar pas mulai nulis gak pake nyontek lagi...^^,

Skunyos said...

beuuuh 15.000 kata????
meneguk air liur!
Aku pasti bisa juga mbak :)
mungkin gak dalam waktu dekat
but i will try :)
thank u pencerahannya mbak Eka

eka wijayanti said...

Hampir menangis saya lihat semangat teman-teman semua...
Jika ada yang merasa kesulitan di satu titik, silahkan kesulitannya dibagi di sini. Supaya yang lain bisa membantu mencari pilihan solusinya ya, ladies.

G said...

Terimakasih banyak untuk artikel ini :) Jadi terharu karena sudah mau bersusah payah menulis dan membagikannya ^^

eka wijayanti said...

Tidak susah. Jauh lebih susah mengomel.
Apa sih, yang tidak untuk perempuan-perempuan cantik penuh semangat di sini. Terutama, yang di atas ini.

siska moya said...

mb eka..berguna banget nih, buatku apalagi buat anakku hehe, makasih banyak, akan usaha belajar deh