Pages

Thursday, January 7, 2010

malaikat kecil

Terdengar isak tangis tertahan di kamar sebelah dari seorang ibu muda yang tetap terlihat cantik meskipun derai air mata dan kesembaban terlihat samar. Dengan rambut panjang sebahu dan tubuh dibalut baju rumah terusan berwarna pink berbunga-bunga, sebuah syal melilit lembut dilehernya yang semenjak tadi pagi mulai terasa nyeri sesudah hampir seminggu ini turut merasakan sakitnya hati yang pada akhrinya tanpa tertahan menjalar juga ke tenggorokannya.

Posisi berbaringnya yang berpindah-pindah dari berbalik ke sisi kiri kemudian ke kanan, memeluk guling sedikit bersandar menampakkan kegelisahannya terhadap kondisi hubungan dengan suaminya. Akankah dia bertahan terhadap bentakan dan kata kasar dari suaminya, akankah tidak mempengaruhi tumbuh kembang anak mendengar sang ayah yang tanpa tedeng aling-aling membentak ibunya di depan mereka.

'Hhhh aku tidak bisa hanya menangis tanpa melakukan tindakan apa-apa. Bagaimana mas tahu rasa dan kekhawatiranku apabila aku hanya menangisi diriku di saat dia sedang ke kantor, bagaimana bisa terketuk hatinya apabila aku hanya berdiam tanpa mengatakan apapun kepadanya'

Sesudah hampir seminggu tanpa bisa membendung rasa kecewa yang dalam dan tertuang di butir-butir air matanya, rasionya mulai menampakkan geliat mengontrol kembali emosinya. Tindakan nyata menunjukkan rasa sakit hati dan kecewa harus disampaikannya menggunakan kata yang terang untuk mengingatkan suaminya. Sering sudah terjadi peristiwa seperti ini, tapi baru kali ini dia merasakan betul kecewa dan sakit hatinya. Suaminya melakukan itu di depan si kecil, anak mereka yang baru menginjak usia 3 tahun lebih !

Sudah berkali-kali juga secara halus dia mengingatkan suaminya agar mengontrol emosi dan berkata dengan lebih sopan, tetapi entah mengapa tetap saja sulit sekali suaminya bisa merasakan rasa sakit yang dideritanya akibat perlakuan seperti itu.

Sebentar kemudian rasa sakit dihatinya kembali merasuki dirinya, kembali air mata mengalir mengiringi isak tangis tertahannya.

Tiba-tiba tanpa disadarinya dua pasang kaki mungil telanjang tengah mendekat dan memasuki kamar, berjingkat melintas ruangan melewati sederetan lemari pakaian, kemudian dengan perlahan, dua pasang telapak tangan mungil menggapai ujung tempat tidur. Si kecil berusaha dengan kekuatan kecilnya merangkak menaiki tempat tidur dimana si ibu sedang berbaring dengan kepala bersandar sedikit tegak diganjal oleh dua tumpukan bantal. Tanpa dinyana, si kecil mencium pipi kiri si ibu kemudian pipi kanannya kembali lagi diciumnya pipi kiri ibunya dan kemudian pipi kanannya lagi. Dengan tatapan lembut kanak-kanak di dalam bola mata bundar kecil yang bening, si kecil berkata

'Sudahlah mama sudah … sudahlah'

Kembali diciuminya pipi ibunya yang hanya bisa terdiam menahan nafas, tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun dan dengan tengah terpana memandang kembali ke kedua bola mata bening si kecil. Sekali lagi si kecil berkata

'Sudah ma …. Sudah ya'

Kemudian dengan tenang si kecil merangkak menjauh membelakangi ibunya, sesampainya di ujung ranjang si kecil membalikkan tubuhnya sembari menatap lembut si ibu dan mulai memelorotkan badannya menuruni ranjang. Dengan langkah kecilnya yang ringan kemudian keluar dari kamar kembali memasuki ruang bermainnya.

Si ibu yang masih terpana dengan apa yang baru saja terjadi hanya dalam hitungan detik kemudian mendengar kemlinting beradunya balok2 plastik lego yang kembali dimainkan oleh si kecil.

'Siapakah itu tadi? Sikecilkah dengan tuntunan malaikat? Betapa lembut dan penuh rasa sayang yang aku lihat dimata bundar kecilnya'.

Inikah bukti dari tali ikatan batin antara seorang ibu dengan anaknya? Tanpa kata apapun tetapi rasa yang sedang berkecamuk akan teralir secara otomatis.

'Aaaah Tuhanku betapa murah hatinya Engkau, Engkau kirimkan kepadaku malaikat kecil yang telah menenangkan hatiku dengan tatapan lembut dan kasih sayangnya. Dengan sedikit kata disertai tatapannya yang sekali ini aku lihat, terasa benar rasa sayang dan kemauan kuatnya untuk membantu menenangkan diriku'.

Kembali si ibu menumpahkan air matanya, kali ini karena rasa syukur yang mendalam, menikmati rasa tenang dan nyaman yang sudah dilimpahkan kepadanya di tengah keadaan batin yang sedang gundah melalui si kecil.

21 comments:

ami said...

akhirnya kamis dini hari datang juga :). ini adalah cerpen perdanaku semenjak ... sd rasanya. cerpen ini sudah masuk scheduled sebelum posting eka sari berjudul 'belajar' ditayangkan. dan aku sengaja tidak merubah cerpenku sesudah membaca postingan eka itu. aku ingin melihat apakah ada perubahan menjadi lebih baik di cerpenku minggu depan yang dimana pada saat aku membuat cerpen keduaku itu aku sudah memiliki tambahan ilmu percerpenan dari postingan eka.
okeee aku tunggu yaaa komen dan saran dari sahabat2ku semua. thanks

eka wijayanti said...

Kalau ada cerita pendek of the week, dan saya diminta memilih yang mana. Saya pilih cerita pendek ini. Teknis bisa dipelajari, tapi memberikan ruh penulis dalam cerita itu terjadi alami. Dan itu sudah bukan jadi masalah lagi untuk cerita pendek di atas.

Satu yang menarik perhatian saya adalah kalimat ini:
"...menggunakan kata yang terang untuk mengingatkan..."
Hmm, kata 'terang' yang mengantikan kedudukan kata 'jelas' itu menarik sekali. Kreatif!

senoaji said...

Haaadooooohhhhhhh!!! apppiiikkkk! baru tau ternyata eh ternyata mbak Ami yo mbabat abis nulis cerpen... hmmmm... hmmmm... hmmmm.. hmmmm... gosok lagi ya mbak.. sip sip sip!

senoaji said...

sepakat karena orang yang sama.. wkkwkwkw

pongpet said...

pencitraan yang manis mbak.. salam..

Winda said...

aku kok merinding ya bacanya? saking merasuk kata2 :

'Siapakah itu tadi? Sikecilkah dengan tuntunan malaikat? Betapa lembut dan penuh rasa sayang yang aku lihat dimata bundar kecilnya'.

mantab, mi...^_^

G said...

Tiba-tiba tanpa disadarinya dua pasang kaki mungil telanjang tengah mendekat dan memasuki kamar, berjingkat melintas ruangan melewati sederetan lemari pakaian, kemudian dengan perlahan, dua pasang telapak tangan mungil menggapai ujung tempat tidur. Si kecil berusaha dengan kekuatan kecilnya merangkak menaiki tempat tidur dimana si ibu sedang berbaring dengan kepala bersandar sedikit tegak diganjal oleh dua tumpukan bantal. Tanpa dinyana, si kecil mencium pipi kiri si ibu kemudian pipi kanannya kembali lagi diciumnya pipi kiri ibunya dan kemudian pipi kanannya lagi. Dengan tatapan lembut kanak-kanak di dalam bola mata bundar kecil yang bening, si kecil berkata

'Sudahlah mama sudah … sudahlah'


Deskripsi yang sangat bagus, saya bahkan bisa membayangkan adegan tersebut dengan sangat-sangat jelas, bagaimana kaki-kaki kecil itu melangkah, mungkin agak jinjit-jinjit, lalu berusaha naik ke atas tempat tidur dengan menarik seprai sekuat tenaga agar tidak melorot turun lagi... hmm... terlalu sering melihat kedua anak itu dulu melakukan kegiatan semacam itu, jadi suasana yg digambarkan di atas benar2 dapat saya tangkap dengan sempurna. Dan memang benar, anak2 selalu secara intuitif mampu mengucapkan kata-kata yang tepat dan pada saat yg tepat. Ah.. mereka mmg malaikat2 kecil ;)

Indaaaaah banget cerpen ini! Thanks Ami :D

eka wijayanti said...

Astaga! Mbak Ami. Ini langka terjadi, saya tinggalkan meja gambar saya untuk baca lagi :D

Boleh saya kritik sedikit, Mbak Ami? Mungkin lebih tepat bukan "sudahlah mama...sudahlah", karena menurut saya kalimat ini terlalu dewasa untuk usia 3 tahun. Lebih tepat barangkali seperti ini "cup cup mah...cup mamah"

Lina said...

mbak, ini cerpennya ngena banget. saya jadi pengen punya malaikat kecil bermata jernih seperti itu.
kerennnnnnnn, banget.

G said...

@Eka, hmm... sebenarnya hal itu tergantung dari bagaimana orgtua biasa berbicara kepada anak2nya. Kita selalu berpikir ttg cup cup... seperti yg umumnya terjadi, atau digambarkan sebagai "biasanya terjadi", tp saya bisa menjamin bahwa Jason dan Joshua, ketika berusia 3 tahun bahkan bisa mengatakan hal-hal yang jauh lebih "dewasa" dari yang seharusnya mrk mampu katakan bila ditilik dari umurnya.

Jadi, sungguh.. "Sudahlah mama" atau"Udah mama, jangan nangis ya" itu mungkin saja diucapkan oleh mereka dengan lidah yang cadel, tetapi "isi" yang dewasa.

eka wijayanti said...

Iya, Gratcia-san. Maksud saya juga artikulasi. Bukan isi. Karena ucapan bernas bisa datang dari usia berapa saja.
"sudahlah" terutama untuk akhiran -lah. Ini hampir tidak mungkin diucapkan anak 3 tahun.

ami said...

dear all, duuh jadi terharu aku membaca semua komen disini. terima kasih banyak atas dukungan dan sarannya. sekali lagi terima kasih banyak.
mengenai kata 'sudahlah', eka, banyak hal yang sama sekali tak terduga yang bisa dikatakan dan dilakukan anak2 diluar nalar normal kita sebagai orang dewasa. tapi sebagai seorang ibu -dan aku yakin makin umur eka akan makin mengerti- seperti yang aku sampaikan diatas, ada saat anak2 amat peka sehingga timbul kata atau tindakan yanggggg diluar kebiasaan umumnya anak2. memang itu biasanya terjadi pada saat khusus ka. begituuu

Indah said...

Lhoo? Tadi udah komen kok ngga nongol yaa? *hmm*

(untung udah di-copas ke notepad, ahahaha)

~.*.~

Amii.. love it ^o^

Gua belon jadi ibu jadi belon bisa meresapi apa yang dirasakan sang Mama di atas, tapi gua pernah ngerasain dalam posisi terbalik di mana hanya ngeliat senyuman nyokap gua bisa bikin perasaan gua jadi lebih tenang :)

Jadi mungkin mungkin.. apa yang dirasakan sang ibu di atas itu sama juga dengan apa yang gua rasakan kali yaa, hihihi..

Tapii, Maa.. kalo boleh usul, tetap perlu ngomong lhoo ama suaminyaa.. karena berawal dari kata2 kasar, kalo dibiarkan nanti bisa berlanjut ke kekerasan fisik, ouuchh..

*kalo gua perhatiin kok gua lebih sering komen tentang isi cerpennya yaa, wakakakakak :p*

Dodo Filan said...

Iya beneran keren nih ceritanya... MEnyentuh euy... Lanjutkan mbak Ami.. !!! :D :D
hehehe

ami said...

ndah wahaha siapa tau nanti2nya aku lanjutkan cerita ini ya, dan yang jadi fokusnya adalah komunikasi antar si ibu dengan suaminya

iya do, lanjuuut :D

Irene said...

Duuhhh...aku terharu deh... bener2 keluar air mata lho... kebayang ya.. emang anak tuh malaikat banget ya... apalagi kalo pas tidur ya...duh kayaknya damai... bener2 indahh,Mi...

emmanuellykeisa said...

so sweet ngebayangin si malaikat kecil...
ditunggu cerpen selanjutnya mbak Ami ;-)

Lie said...

suka banget ceritanya...and bersyukur banget aku juga punya malaikat kecil yang dikirim Tuhan
*penggambaran yang sempurna buat si buah hati :)

ami said...

@all, sekali lagi terima kasih untuk komennya. mudah2an kelingkingku lengkap sampai akhir tahun :)

Skunyos said...

Mbak... aku belum punya baby and memang plan untuk belum ada dulu...
Namun membaca ini, aku koq bisa merasakan kelembutan kelembutan si kecil yah...

*ngeloyor pergi nyari suami minta dipeluk :P

itempoeti said...

duduk manis dipojokan... sambil baca-baca...