Pages

Friday, January 15, 2010

Selingkar Cinta

Aku tidak ingat berapa tepatnya usiaku. Yang masih jelas terpatri dalam ingatanku hanyalah saat pertama aku bertemu dengannya. Aku masih ingat bagaimana senyum bahagianya begitu memukauku. Belum pernah rasanya aku melihat senyum yang demikian berseri dan penuh semangat. Dia memandangku dengan penuh cinta.

Aku masih ingat bagaimana dia menimang-nimangku dengan penuh perasaan. Seolah tak ingin aku jatuh dan terluka. Aku merasa sangat berharga dalam timangannya. Aku begitu menikmati buaian tangan kekarnya. Buaian yang hanya sesaat namun meninggalkan kesan yang begitu mendalam padaku. Aku berani bersumpah kalau aku begitu merasakan cinta.

Sesaat aku berpisah darinya untuk kemudian tak lama aku kembali ada dalam buaiannya. Hanya berselang tiga hari, tangan kekar itu kembali menggenggamku dengan penuh perasaan. Dipandangnya diriku sekali lagi, masih dengan pandangan yang sama saat pertama kami bertemu. Pandangan penuh cinta. Aku berani bersumpah kalau aku begitu merasakan cinta sekali lagi.

Tak lama rasa tangan kekar itu telah berganti dengan sebuah usapan lembut selembut angin senja yang ramah menyapa. Sebuah belaian halus sehalus kepompong ulat yang menjelma menjadi untaian benang sutera. Kupandang wajahnya, cantik rupawan. Pandangan lembutnya memancarkan sinar yang tak asing bagiku. Tak bosan kupandangi rupa indah perempuan itu. Aku berani bersumpah kalau aku begitu merasakan cinta lagi dan lagi.

oooOOOooo

"Kau sudah yakin dengan pilihan hatimu, Nak?" suara Bunda bertanya putra semata wayangnya. Dipandangnya wajah rupawan sang anak yang tengah duduk tegak di hadapannya. 'Ah, kau sungguh replika sempurna kekasihku, anakku' batin Bunda terkenang.

"Aku yakin, Bunda. Rena adalah pilihan hatiku" jawab Pandu, sang putra.

"Sudahkah kau pikirkan perbedaan yang kini mendadak hadir di antara kalian, Pandu? Tidakkah kau berpikir kalau ini bisa menjadi masalah dalam rumah tangga kalian kelak?" tanya Bunda kembali, berusaha mencari secercah keyakinan lain.
"Ingat, kita tidak seperti dulu lagi!" Bunda mengingatkan. Sungguh berat sesungguhnya hati Bunda mematahkan semangat putra tercintanya itu. Namun kenyataan adalah kenyataan. Sesuatu yang harus bisa dihadapi dan ditelan walau pahit. Keadaan ekonomi keluarga mereka yang mendadak jatuh terpuruk sepeninggal Ayah adalah pahit yang harus mereka berdua hadapi dan telan sebisa mungkin. Bunda tak ingin menyeret pihak lain ikut merasakan kepahitan yang sedang mereka rasakan. 'Tidak, jika dia tidak siap' ujar Bunda dalam hati.
Semenjak Ayah berpulang ke pangkuanNya enam bulan yang lalu, segalanya menjadi terbalik. Rumah mewah, berderet mobil, perhiasan kemilau, semua habis. Habis menutupi biaya pengobatan Ayah yang akhirnya tetap mengantarkannya juga ke penghujung usia.

"Rena mengerti, Bunda. Dua tahun kami bersama rasanya cukup membuktikan kalau dia bisa diandalkan dalam senang maupun susah” tegas Pandu.

“Baiklah kalau sudah begitu tetap hatimu” Bunda menyerah masih setengah hati. Hati kecilnya masih meragukan ucapan putranya itu. Walaupun Rena dan Pandu telah dua tahun bersama, namun baru enam bulan terakhir ini Rena merasakan susahnya mempunyai kekasih yang mendadak jatuh miskin.

“Aku mohon Bunda merestui niatku untuk meminangnya, Bunda” pinta Pandu dengan penuh harap.

“Tentu saja Bunda merestuinya, Nak. Selama kau bahagia karena cinta, maka itu juga menjadi kebahagiaan Bunda” jawab Bunda penuh ketulusan.
“Sekarang terimalah ini, karena tinggal inilah benda berharga yang masih tersisa yang Bunda miliki. Semoga Rena mau menerimanya” ucap Bunda sambil menyerahkan sesuatu pada Pandu.
Pandu menerimanya dengan penuh rasa terima kasih. Walau bagaimana benda itu adalah saksi cinta Bunda dan Ayahnya. Pandu sempat berkaca-kaca sebelum cepat dihapusnya air yang hampir mengalir dari kedua matanya.

oooOOOooo

Aku kembali ditimang setelah sekian lama aku terlelap dalam gelap. Kembali aku menemukan pancaran cinta dari sosok laki-laki yang tengah menimangku itu. Namun kali ini aku tidak berani bersumpah kalau aku merasakan cinta dan hanya cinta seperti bertahun-tahun yang lalu. Aku merasakan cinta dan keraguan. Aku merasa diragukan oleh laki-laki ini. Entah mengapa aku sedih.

oooOOOooo

Rena mendorong kotak kecil di atas meja tamunya itu kembali ke arah Pandu.
“Maafkan aku, Pandu. Aku sudah memikirkan masak-masak. Sepertinya aku tidak siap untuk menikah denganmu. Terserah kamu mau bilang aku perempuan tak tahu diri atau materialistis. Aku hanya berusaha realistis pada keadaan kita, keadaanmu terutama. Aku tidak mau menanggung beban hidup berat bersamamu. Maaf kalau aku terdengar kasar. Tapi ini kenyataan dan aku sudah memikirkan dengan matang” Rena menyelesaikan kalimat-kalimat panjang itu hanya dalam satu helaan nafas. Seolah dia sudah menghafal kalimat-kalimat itu sejak lama.

Pandu hanya bisa termangu menatap wajah perempuan cantik di hadapannya itu. Terngiang kembali ucapan Bunda sebelum dia pergi ke rumah Rena untuk melamarnya. ‘Sudahkah kau pikirkan perbedaan yang kini mendadak hadir di antara kalian, Pandu? Tidakkah kau berpikir kalau ini bisa menjadi masalah dalam rumah tangga kalian kelak?’. Kalimat Bunda terus bergaung dalam rongga pikirannya sampai dia lupa untuk menanggapi penolakan menyakitkan dari Rena.

Rena hanya diam menunggu reaksi Pandu. Dia sudah siap dengan kemarahan Pandu. Namun Pandu akhirnya hanya menghela nafas berat dan mengangguk. Mengangguk mengerti akan kenyataan yang sedang dihadapinya kini. Rena bingung melihat reaksi Pandu yang demikian tenang.

“Maafkan aku sudah menyakiti hatimu, Pandu. Tapi tolong mengertilah tentang keraguanku. Aku hanya berharap semoga kamu bisa menemukan penggantiku yang lebih kuat daripada aku” Rena kembali berusaha meminta pengertian Pandu.

“Aku mengerti, Rena. Aku sangat mengerti kini. Terima kasih telah mengatakannya padaku sebelum semuanya terlambat. Terima kasih. Aku pulang sekarang” ujar Pandu seraya beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa diselipkannya kotak kecil itu ke dalam saku celananya.

oooOOOooo

Aku kembali berada di tangan lembut itu. Aku kembali melihat sinar mata yang teduh itu. Dan aku merasa bahagia. Entah bagaimana nasibku jika aku sampai ke tangan wanita bernama Rena itu. Aku tak bisa menjadi saksi hidup sepasang manusia tanpa cinta. Aku tercipta karena cinta. Bentukku yang melingkar menandakan bahwa aku adalah lambang cinta yang tak pernah terputus. Aku hanya berharap Pandu kelak bisa menemukan cinta sejatinya dan menyematkan aku di jari manis kekasih hatinya itu. Walau aku hanya sesosok cincin, tapi aku adalah selingkar cinta dua manusia.

15 comments:

Winda said...

ffiiiuuuhhh......akhirnya kelar juga....
setelah ribet sama anak seharian, trus pake acara ketiban postingan DEADLINE! Irene, akhirnya berhasil publish tepat pada waktunya...
kelingku, oh kelingkingku...aku cinta padamu...wkwkwkwkwk
selamat membaca...^_^

Indah said...

Ayy ayy.. nice one, Windaa.. setelah dua minggu diajak ketawa ketiwii ama cerpen2 eloo.. eehh.. untuk yang ketiga ini diajak untuk sedih, huhuhu..

Panduu.. jangan bersedih terlalu lama yaa.. semoga cepet dapat wanita yang lebih baik dari Renaa ;)

Renaa.. semoga ngga nemuin pria yang lebih baik dari Panduu!! Wakakakakak..

*sadiisss* :p

And cincin, semoga kamu terus melingkar di jari sang ibu aja yaa.. moga2 pas Pandu nemu wanita berikutnya yang mo dikasih cincin, perekonomian udah membaik jadi dia bisa beli cincin sendiri, ahahahaha :D

ami said...

iiiih winda, bagus banget. ngga ngira hlo cincin juga bisa bernyawa :)

Winda said...

indaaaah...plis deeeh...ini cuma cerpen gitu lhooo...kebiasaan terbawa-bawa emang lo ya...wkwkwkwkwk
tengkyu ya...

ami...ini mah seandainya cincin bisa ngomong kayanya...heheheheeee

Indah said...

Ahahaha.. abis kasian, udah cape2 diciptain kalo ngga dipikirkan nasib mereka selanjutnya gimanaa, hihihi :p

Met wiken, Windaa.. ditunggu yang selanjutnyaa.. plus Blackbook-nya jugaa.. walau gua ngga bisa komen di Kompasiana tapi udah gua baca semua dari seri pertamaa, ahahahaa :D

Winda said...

met wiken to you too....^_^
blackbook istirahat dulu...tinggal finale-nya...klimaksnya kan udah kemaren....ffiiuuhhh....

Lie said...

seperti biasa, ceritanya menjebak. aku pikir kali ini winda akan buat cerita tentang seseorang...hehehe...salah euy...
masih tetap sesuatu...

.g. said...

Mantaaaap! Cuma aja rindu sisi "witty" yang jadi ke-khasan tulisan Winda bagi diriku. Tetep aja, bisa-bisanya membayangkan benda2 bicara, merasa dan berpikir, haha. Te-o-pe, ditunggu loh kisah Bra-nya, qiqiqiqiqi... ^^

Winda said...

lie : kemaren gara2 kefefet nyaris mau bikin cerpen tentang seseorang...tapi untunglah masih bisa terkejar bikin tentang sesuatu, sesuai dengan komitmen pribadi...hehehehe
G : susah buat jadi witty pas kepepet deadline...wkwkwkwkwkwk

Gratcia said...

Hahahaha... iya, emang bener, kalo mau sempurna harus ga pake deadline, masalahnya, klo ga pake deadline seringkali malahan ga jadi2, haha, sama aja bo'ong!

eka wijayanti said...

Mbak Winda. Kepepet deadline kah? Pantesan kurang mengigit. Biasanya lincah. Kali ini agak mengendur.
Tapi saya salut, karena tetap pegang komitmen! Teman-teman harus meniru yang satu ini. Jangan cari celah untuk berkilah.

edratna said...

Ceritanya indah.....membuatku introspeksi. Terkadang menjadi orangtua, sulit melarang anak jika sedang jatuh cinta..namun perasaan seorang ibu tak bisa diingkari...syukurlah belum terlambat

Winda said...

eka : hahahaaa...kebaca ya? emang beneran kefefet banget kemaren...hiks...but the show mas gogon....hehehehee

mb edratna : bener mbak, intuisi ibu itu kuat lhooo...aku udah buktiin sendiri...hehehehee...makasih ya udah baca2....^^

Skunyos said...

Jangan sampai selingkar tanda cinta itu terselip di jemari yang salah.... :)

Irene said...

Win...bagus banget sih ceritanya...gimana ya,biar bisa dapet ide bagus2 begini...