Pages

Friday, January 8, 2010

Life Is (Never) Flat

Hayley memang cantik. Super duper cantik. Tinggi, langsing dan penuh gaya. Sudah dua minggu Hayley berada di tempat barunya dan selama itu pula Hayley harus terbiasa dengan pandangan kagum wanita-wanita yang bersirobok sosok dengannya. Beberapa ada yang melotot dan tidak sadar kalau rahang bawahnya sudah turun beberapa senti tertarik gravitasi bumi untuk beberapa detik. Beberapa ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan keindahan di depan mata mereka. Beberapa ada yang hanya bisa menganga sambil memegang kedua pipinya. Bahkan Hayley berani bersumpah kalau dia pernah melihat seorang wanita menitikkan air mata saat menatapnya. Sungguh, untuk yang satu ini sudah sangat berlebihan.

Hayley mulai terbiasa dengan pandangan kagum mereka dan sangat menikmatinya. Apalagi Hayley memang mendapat posisi kehormatan di tempatnya. Hayley diletakkan di tempat yang paling strategis, dimana semua mata pasti bisa langsung melihat dirinya. Dia adalah centerpiece. Pusat perhatian orang, tepatnya. Sampai suatu hari Hayley harus menghadapi kenyataan aneh. Dia harus pindah dari singgasananya yang biasa. Kemana? Hayley pun belum tahu pasti. Yang pasti hari itu mendadak sekeliling Hayley gelap gulita. Tidak ada cahaya lampu sorot ke arahnya seperti biasa. Tidak ada beludru merah menghiasi tempat duduknya. Tidak ada usapan lembut sejuknya pendingin ruangan di sekujur tubuhnya. Hayley seperti terkurung.

Hayley terguncang. Benar-benar terguncang. Untuk sesaat Hayley berpikir gempa sedang melanda. Hayley terguncang-guncang dalam gelap. Sesekali kulitnya tergesek sesuatu yang kasar, seperti kertas. Entah apa yang dilakukan kertas itu di dekatnya. Uuuh...Hayley mengeluh sesak.

Byar! Tiba-tiba cahaya terang muncul dari atas Hayley. Dimana aku? Hayley memandang sekelilingnya. Ruangan baru, aroma baru dan sepasang...oh, bukan, dua pasang tatapan baru. Hei, Hayley kenal tatapan itu. Tapi sedikit merasa asing juga. Tatapan itu masih sama dengan tatapan-tatapan yang biasa diterimanya di tempat lamanya, tatapan kagum. Tapi kali ini sudah bercampur dengan tatapan puas.
"Gilaaa....emang keren banget nih!" sebuah suara cempreng mengagetkan terdengar.
"Yup!" suara lain menimpali, terdengar puas.
"Besok harus lo pake ya!"
"Pastinya!" suara wanita kedua kembali menjawab, kali ini terdengar sumringah.
"Tapi..ehm, lo yakin kuat?" tanya si cempreng kembali, terdengar ragu.
"Maksud lo?" wanita kedua gusar bertanya.
"Eh, maksud gue, ini pasti nyiksa lhoo...Apalagi bodi lo extra gitu. Hihihihi..." si cempreng berkata dengan nada geli. “Masih inget kan nasib pendahulunya?” sambung si cempreng lagi.
"Sialan lo! Gak masalah kalee! Gue udah biasa tersiksa. Yang penting keren...Hahahaa...Yang dulu itu kecelakaan. Huh!”


oooOOOooo

Hayley meringis. Duh, apa-apaan ini? Berat sekali rasanya, dan sesak sekali. Hayley belum pernah merasa seperti ini. Mungkin Hayley harus mengenal seekor gajah untuk dapat mengetahui perasaan ini. Karena rasanya memang seperti ditimpa beban seberat gajah yang dirasakan Hayley saat ini.

Tapi Hayley tidak punya waktu untuk mengeluh. Dia terlalu sibuk menikmati, kembali, tatapan kagum wanita-wanita yang berpapasan dengannya. Namun sama seperti terakhir kali Hayley mendapat tatapan kagum, kali ini Hayley pun merasa ada yang aneh. Tetap tatapan kagum namun sepertinya bercampur iba kepada dirinya. Hayley heran. 'Mungkinkah mereka bisa merasakan penderitaanku sehingga ikut merasa iba? Ah...rasanya tidak mungkin' Hayley menepis pikiran anehnya.

"Neeek! Kereeeen....kereeen....hehehe..." suara cempreng itu terdengar lagi.
"Iya doong....eh, lo liat gak Mbak Menul HRD sampe melotot ngeliat gue tadi? Hahaha...puas banget gue"
"Hahahaa...tunggu sampai makan siang nanti. Makin banyak pasti yang melotot ngeliat lo, jeng!" si cempreng kembali berkata lugas.
"Iya. Mudah-mudahan gue masih kuat sampai makan siang ntar ya. Duuh...mana hari ini schedule padat banget lagi. Mobile abis! Gue harus ke dua tempat klien sebelum makan siang."
"Waduh, harus kuat dong. Jangan sampe nggak. Justru pas makan siang di cafe biasa nanti itu puncaknya" suara cempreng itu lama-kelamaan semakin memprovokasi. "Emang kenapa? Sakit ya, bo? Tuuuh, kan...gue udah bilang kemaren. Kuat-kuatin dong! Pretty ladies are tough, you know! You must be strong to be beautiful! Masa lo lupa sih?" si cempreng makin menjadi-jadi memanas-manasi si Nek atau si Jeng atau si Bo tadi.
"Nggak lupalaah....Yuk, sampai nanti ya" si Nek atau si Jeng atau si Bo menyudahi pembicaraan.

oooOOOooo

Bletak! Bunyi sesuatu patah. Patah yang mutlak. Bukan kreteeek, bukan traaak, tapi bletak. Hayley terhuyung-huyung. Dunianya miring seketika. 'Apa lagi ini? Belum cukupkah keanehan untukku hari ini?' Hayley membatin. Pandangannya mengarah ke arah kakinya. Alangkah terkejutnya Hayley. Kakinya patah! Bukan...bukan patah, tapi lepas!

'Kakiku!!!!' raung Hayley dalam dunia senyapnya. 'Kakiku yang jenjang. Kakiku yang indah. Kakiku yang sangat dikagumi semua orang. Oh, tidaaak!!!' Hayley meratapi nasib. Nasib sial yang sepertinya akan menjadi akhir dari hidupnya.

oooOOOooo

Dunia Hayley kembali gelap. Namun kali ini terasa lebih lega. Hayley berusaha mengenali sekelilingnya. Cahaya samar dari kisi-kisi di depannya membantu penglihatannya. Tiba-tiba Hayley mendengar sebuah suara tertawa tertahan dari sampingnya. Hayley terkejut menyadari dia tidak sendiri dalam ruangan gelap itu.
"Hey, siapa kamu?" tanya Hayley cepat.
"Hey, kamu siapa?" balas suara itu seperti mengejek.
"Aku Hayley. Dimana ini?" Hayley kembali dengan tabiat superstarnya, merasa tidak perlu mengenal yang lain selama yang lain mengenalnya.
"Dimana? Dalam lemari tau!" balas suara itu tajam. "Kamu kira dimana kamu akan berakhir setelah mengalami kecelakaan sepertiku?" sambung suara itu lagi.
Samar-samar Hayley mulai bisa menangkap sosok di sampingnya. Hei, dia lumayan cantik juga. Tinggi dan langsing, hanya berbeda gaya dengan Hayley.
"Kok kamu tahu aku mengalami kecelakaan?" Hayley heran.
"Karena kita senasib, cantik" balas si cantik itu sinis.
"Senasib? Senasib bagaimana?"

“Baru sehari dipakai, sudah mengalami kecelakaan. Tapi kelihatannya kamu lebih parah, ya? Kakiku tidak sampai lepas, masih menggantung di tempatnya, walaupun akhirnya memang tidak bisa berfungsi lagi. Kelas kita memang beda, sayang” ujar suara itu lagi, sedikit menyindir.

“Kelas kita berbeda? Kamu tidak tahu siapa aku? Aku Hayley! Datang langsung dari Paris dua minggu yang lalu. Penciptaku adalah seorang desainer terkemuka. Mungkin kamu tidak pernah mendengar namaku karena usiamu jauh lebih tua dariku?” balas Hayley menekankan pada kata ‘tua’.

“Ohohoo…jelas sekali aku tidak mengenalmu. Tapi kamu pasti bodoh kalau tidak mengenalku” suara berucap tak kalah sengitnya.

“Memangnya siapa kamu?”

“Pernah mendengar nama Stella, dear?” tanyanya dengan nada puas.

Hayley terlongo-longo. Tidak menyangka kalau lawannya adalah Stella, sang legendaris dari Milan. Stella tidak ada seratus-satunya. Penciptanya memutuskan hanya membuat seratus Stella untuk seluruh dunia dan menjualnya hanya lewat internet dengan harga seawang-awang. Semua tahu itu. Stella selalu menjadi bahan perbincangan di dunia mereka. Namun Hayley memang harus mengakui kalau dia belum pernah melihat sosok Stella sebelumnya. Stella memang berbeda. Aura eksklusif memancar kuat dari sosoknya. Tak heran dia menjadi legenda.

Tiba-tiba terdengar suara lain dari ujung lemari. Terkekeh-kekeh pelan. Suara itu berkata dengan nada santai, “Silahkan bertengkar tentang siapa yang lebih hebat. Tapi pada akhirnya wanita itu hanya akan kembali padaku dan hanya padaku. Kamu ingat kan, Stella, setelah kecelakaanmu, dia kembali padaku. Dan kamu, Hayley? Ya, Hayley, besok dia pun akan kembali padaku. Aku memang tidak secantik kalian. Dan aku tidak diburu-buru oleh para wanita itu. Tapi aku dibutuhkan mereka saat kalian tidak bisa lagi memberikan rasa nyaman pada mereka. Akulah sesungguhnya yang paling berharga disini.”

Hayley menoleh sengit dan menatap ke arah suara itu. Pendek, suram dan tak bergaya. Tapi dia terlihat bahagia dan nyaman dengan dirinya.

“Siapa pula kamu?” tanya Hayley kesal.

“Flatty!” jawab suara itu dengan singkat dan ringan.“Kalian memang cantik dan membuat mereka cantik, tapi tidak untuk waktu yang lama. Aku memberikan rasa nyaman pada mereka sampai kapan pun mereka inginkan. Jadi, tidak usah kalian ribut siapa yang lebih berharga di sini, stiletto-stiletto bawel! tandas suara itu tajam.

Hayley terdiam, sedangkan Stella melengos. Kedua stiletto heels itu saling memandang satu sama lain, menelan kebenaran yang diucapkan, Flatty, Si Sepatu Datar.

oooOOOooo

Suara iklan keripik kentang terkenal terdengar dari televisi di lobby kantor itu. Tagline yang sangat akrab di telinga semua orang : Motato! Life Is Never Flat!

“Life is never flat, gundulmu! Mine is flat, indeed!” gerutu si Nek atau si Jeng atau si Bo dalam hati sambil memandang ke arah sepatu tanpa hak yang sedang dipakainya. Flatty tersenyum ke arahnya, tapi tentu saja tidak ada yang tahu tentang hal itu.

17 comments:

Winda said...

pagi!!!! ahahahaa...akhirnya...kedudulanku terbayar sudah, cerpennya sukses terjadwal....wkwkwkwk
Inilah kisah dibalik cerpen ini :
Teringat masa-masa sepuluh tahun yang lalu, jadi resepsionis di sebuah perusahaan besar di daerah Thamrin mewajibkan aku pake high heel tiap hari. Hiks, tersiksaaa….
Awalnya, dengan bodohnya aku pake tu sepatu dengan hak 12 cm dari rumah, berangkat ke kantor naek turun bis, sampe pulang lagi. Hasilnya, betis kram dan jempol pada kejepit. Akhirnya, aku siasati, berangkat dan pulang kerja ber-flat shoes-ria…high heel, nunggu aja di kantor….heheheheee…
Aku cuma kagum sama perempuan2 yang sanggup berlama-lama dengan sepatu tinggi. Yang lebih aku kagum lagi, kadang pengorbanan sakitnya itu nggak sepadan. Jangan karena pengen gaya, sakit ditahan-tahan. So not worth it. Ada yang bilang : Cantik Itu Butuh Pengorbanan, gimana kalau dirubah sedikit : Cantik Itu Butuh Rasa Nyaman Dengan Diri Sendiri?
Tapi tetap, aku ini perempuan biasa, yang sering nganga juga di depan etalase toko sepatu kalau liat sepatu tinggi cantik dipajang. Persis Carrie Bradshaw di Sex and The City. Heheheheee…Bedanya Carrie pasti langsung gesek kartu dan bawa pulang tu sepatu, kalau aku berakhir dengan menelan ludah aja. Wkwkwkwkwkwk

Maaf ya kalau kurang gimanaaa gitu....^^,

ami said...

eeh winda kreatif ya, sepatu aja bisa dijadikan cerpen.
aku sendiri menggunakan sepatu berhak tinggi hanya di acara2 tertentu. kalau sehari2nya pakai yang datar2 aja dehhh

.g. said...

Tau ga?? KEREN banget! KEREN banget! KEREN banget! Jadi iri, jelas penulisnya memiliki selera humor yang tinggi dan memang sangat kreatif! Haha.. seneng banget bacanya, jadi cekikikan sendiri.

Pada awal ngintip2 di draft, saya kira Hayley ini mannequin gitu, trus kakinya putus maka dia pun disingkirkan dari display, huehuheue.. ternyata dia adalah sepatu stiletto yak?

Yang paling saya suka adalah bagian ini:Hayley terlongo-longo. Tidak menyangka kalau lawannya adalah Stella, sang legendaris dari Milan. Stella tidak ada seratus-satunya. Penciptanya memutuskan hanya membuat seratus Stella untuk seluruh dunia dan menjualnya hanya lewat internet dengan harga seawang-awang. Semua tahu itu. Stella selalu menjadi bahan perbincangan di dunia mereka. Namun Hayley memang harus mengakui kalau dia belum pernah melihat sosok Stella sebelumnya. Stella memang berbeda. Aura eksklusif memancar kuat dari sosoknya. Tak heran dia menjadi legenda.

Sebab jadi ingat gimana dulu sering banget diskusiin Manolo Blahnik, hahahahaa.. amit-amit deh klo ingat gimana tergila-gilanya sama merek begitu2 hanya karena harganya selangit, dan emang enak sih kalo dipake, cuma aja, ampuuun dah, dangkal bener ternyata kepuasan semu itu ya, diukurnya karena harga dan "martabat" yang dirasakan naik kalo pake itu barang tsb. pdhl pencitraan atas produk itu ya ulah org2 marketingnya.

Juga suka yg "si Nek atau si Jeng atau si Bo" wakakakakaaa... bener banget!

Winda, i love it so much!

Indah said...

Windaa.. I lovee it!!

Pas masih "belum kelar" sangkain mo cerita tentang celana panjang tapi dipikir2 rada aneh kok bisa patah, wakakakakak.. ngga taunya oohh oohh.. cerita tentang stiletto toh!

Waa.. jadi ngga sabar nunggu cerita benda2 lainnya, aww.. so very creative dhe aww ^o^

Gua suka kalimat penutupnya, ahahaha.. iya tuh, life is never flat, gundulmuu, wakakakakak ;p

And pssttt.. itu komentar elo kayanya bisa dijadiin postingan sendiri juga tuh, ahahaha :D

I especially love this part :

gimana kalau dirubah sedikit : Cantik Itu Butuh Rasa Nyaman Dengan Diri Sendiri?

Lovee it ;)

Lie said...

winda...kamu bener2 kreatif...
waktu msh draft, aku uda ngintip, sambil menebak-nebak siapakah gerangan si Hayley ini...kirain patung antiq...huehehehehehe...

asli cerita ini buat para wanita pecinta high heel kayak gw.. (asli ga pede qlo keluar tanpa high heel...)

Lina said...

huah...kreatif banget. kirain tadi manekin,loh. ternyata sepatu. kalo saya sih memang pecinta flat shoes sejati deh. nggak bikin pegel kaki. hehe...

makin seneng main di sini. boleh kan... ?

eka wijayanti said...

Mbak Winda! Saya sudah menanti-nanti sejak pagi buat komentar, malah dapatnya sore.

Mbak Winda, cerita pendek kali ini, jauh lebih enak! Saya pecandu baca, jadi saya hobinya mencari-cari ruh dalam tulisan. Kalau saya bandingkan dengan yang kemarin, yang ini jauh lebih terarah. Dan Mbak Winda ini pintar sekali menjaga mood penasaran pembaca soal siapa Hayley itu, sejak awal hingga akhir. Apasih rahasianya?

Irene said...

gw suka banget,Win...pertama2 gw pikir orang,tp pas udah baca agak ke bawah dikit,gw langsung tau kalo dia sepatu!!! heheheehe...bener banget,pas masih muda seneng banget pake high heel, sekarang udah gak kuat..hahahaha..faktor U!!

Winda said...

sebelumnya, ijinkan saya mengucapkan jutaan terima kasih atas tanggapan teman-teman tercinta yang positif...huaaa...terharuuu...untuk sesaat saya nggak bisa berkata-kata...*swerr, bukan lebay* terima kasih yaaa....

ami : sama kaya aku, make high heel pas ke kawinan doang...wkwkwkwkwk

G : hahahaaa...thank you, darling...^_^ aku juga masih inget jaman2 ngomongin manolo, walaupun ngeliatinnya juga dari majalah wanita...halah-halaaah....segitunya...hihihihi

indah : thank you juga ya, darling...^_^ aku gak bermaksud menghakimi pemakai high heel disini...aku juga nggak berhak menilai...dalam pandangan aku, seorang perempuan normal, high heel memang cantik, swerrr...tapi secara pribadi aku percaya kalau high heel adalah jodoh, dan tidak semua perempuan bisa menikmatinya...dan tidak semua perempuan juga yang pantas makenya... kembali lagi ke kitanya aja...apa yang bikin kita nyaman dan sesuai dengan kondisi fisik kita....=D

Lie : naaah, beneran kalau neng yang satu ini aku yakin pasti cantik dan pantes pake high heel, secara bodi kaya super model gitu...weeheheheheee.... walaupun ada juga beberapa temenku yang bodinya kaya super model tapi gak suka pake high heel, kembali lagi, mungkin itu tidak nyaman buat dia...ya kan?

lina : toss dulu aah...aku pencinta flat shoes juga...sampe2 kalo mungkin ke kondangan aku make si flatty juga deh, sayang, niat itu selalu tercium lebih dulu sama Mamaku, dan walhasil aku dipelototin...wkwkwkwkwk...sering2 mampir ya...besok bakalan muncul cerpen2 yang lebih dahsyat dari kelingking2 yang lain lho, jangan terlewat!!! ^_^

eka : naaaah, aku nungguin komen kelingking yang satu ini. kenapa? karena menurutku bliow salah satu yang mumpuni diantara kita dalam ilmu penulisan (salah satu, karena ada satu lagi, you know who, kan?) hihihihi...
eka tanya rahasia? aku gak bisa jawab. teknik penulisan aku buta. nulis ya nulis aja...cuma memang dasarnya aku suka bikin penasaran. gimana caranya mempertahankan mood itu sampai akhir cerita, mungkin ini yang dimaksud 'rahasia' oleh eka ya? aku selalu punya 'kata kunci' untuk sesuatu. contohnya, waktu di Balada Sofi dan Kori, keywordnya adalah : duduk. Maka untuk menghindari pembaca tahu apa yang sedang aku ceritakan, aku harus menghindari kata 'duduk' paling tidak sampai akhir cerita.
dalam cerita ini kata kuncinya adalah : hak sepatu / heels...begitu kata itu muncul, maka terungkaplah jati diri tokohnya...sebenarnya gak mesti begitu juga sih...yang penting buatku, bagaimana aku bisa mengganti kata untuk menghindari pembaca tahu lebih cepat dari yang seharusnya. itu aja...^_^

irene : thank you, say... aku sejak punya anak gak pernah beli high heel lagi...weleeeh, berasa, lagi gak gendong anak aja pegel, apalagi pake acara gendong anak? hehehehe...bener kayanya, faktor U (UZUR) wkwkwkwkwk

terima kasih sekali lagi....
aku menunggu kelingking kalian semua...^_^ ganbatte neee!!!!

yaya said...

waah...keren abis deh cerpennya mbak Winda..seperti mengalir dengan ending yang ketika pertama kali membacanya, kita tidak bisa menebak dgn mudah. saya juga terkecoh tdk menebaknya sbg sepatu krn ada 'kaki' si Hayley..cerdas banged memilih kata, mbak! ditunggu cerpen berikutnya dair kelingking berikutnya....salut utk semua yg berkelingking...utk semua: maaf baru nongol, kebanyakan menundanunda tugas akhirnya keteteran deh...tiap hari maen petsos terus sih..:)

Winda said...

hahaa...yaya baru nongol....salam kenal dulu yaa...^_^
makasih ya tanggapannya....btw, kurangin petsosnya...*petuah dari mantan petsoser yang sudah rehab* wkwkwkwkwk

Lie said...

duh winda...masa aku di bilang body kayak super model????hihihi..ga bener tuh...wkwkwkwkw...

Linda Belle said...

hahaha...I love it!

emang bnr sih, high heels itu emang buat para cewek makin cantik makenya, aku aja kadang suka iri klo ada yg make n penegeeeen bgt bs spt mrk, tp apa daya kakiku gak kuat pake gituan, maksudnya bkn krn bdn gw ndut tp emang kakinya gak kuat, sakit, gak nyaman... cmn bs 3cm aja klo ke ktr, but klo ke pesta ya spt cewek itu tadi, dinyaman2in pake high heels 7cm hahaha...

emmanuellykeisa said...

super duper kreatif...keren! permainan kata-kata yang cantik, seru bacanya *bayangin bacanya sambil sesekali senyum melebar*

ditunggu cerpen2 selanjutnya ya mbak ;-)

Winda said...

linda : wkwkwkwk...sama banget lin...dulu terpaksa ber-highheel ke kantor...tapi dibilang gak suka, ya gak juga...gw tetep kagum aja sama cewek2 yg jadi cantik kalo pake stiletto...huaaa...ngiriii....

emmanuelly : hehehehee.....makasih ya...*cengar-cengir sambil berdoa mudah2an ide kreatif gw gak mandeg* huhuhuuuu.....

Skunyos said...

xixixi
Stilettos memang menyakitkan tapiii cantik (aaarggg beauty is a pain :p) hahaha

keren euy.. kapan ya bisa bikin yang kek gini.. (garuk2 kepala)

Winda said...

eka : lo mah mang kayanya udah sejiwa sama stiletto ya? *mengagumi fotomu dengan stiletto hitam baru itu* hehehee....
lo pengen nulis kaya gini? gw malah lagi jedot-jedotin kepala ke tembok pengen bisa bikin cer1pen kaya punya lo...hahahaaa...lebay tapi serius nih....