Pages

Wednesday, January 6, 2010

Surat Buat Mama

Dari ketinggian lantai 26, tampak cuaca semakin tidak bersahabat. Rintik2 air makin kencang membasahi jalan di sore itu. Andari hanya bisa merenung menatap air yang sepertinya tak mau berhenti. Andari teringat akan percakapan dengan putrid tunggalnya, Thea, untuk dapat pulang cepat hari ini, karena Thea ingin mengajaknya beli buku pelajaran untuk besok pagi. Tapi hujan yang mengguyur sejak pagi,membuat Andari tidak bisa pulang lebih cepat,selain karena deadline yang masih menuggu, juga banjir yang membuat lalu lintas di ibukota amat sangat tidak bersahabat.

“ Kriiinnggg..., “ Andari dikejutkan oleh suara dering telpon di mejanya.
“ Hallo,” jawab Andari.
“ Mama, aku kangen,mama jadi pulang kebih cepat kan, aku sudah mandi dan siap buat cari buku sore ini,” sapa sebuah suara yang sanga Andari sayangi. Andari terdiam, karena merasa sedih tidak dapat memenuhi keinginan putrinya.
“ Thea, hari ini mama sepertinya tidak dapat memenuhi keinginan kamu, ada pekerjaan yang belum selesai dan hujan membuat jalanan sangat macet, maafkan mama ya,sayang.”
“ Ahhhh,mama selalu ingkar janji,mama gak sayang sama aku,” rengek Thea di telepon. “ Maafkan mama ya,Thea,” jawab Andari. Tetapi Thea yang sudah terlanjur kecewa sudah menutup telpon itu.

Andari menerawang lagi, tak terasa air matanya menitik keluar. Seandainya Mas Raka, papa Thea masih ada, tentu tidah serepot ini rasanya. Mas Raka adalah seorang penerbang yang sangat menyayangi keluarganya, tetapi rupanya keadaan membuat mereka harus berpisah. Pesawat yang dikendarai Mas Raka hilang tanpa pernah diketemukan lagi, saat itu cuaca juga sedang hujan badai seperti saat ini. Sejak itu, Andari menjadi orang tua tunggal buat putrid semata wayang mereka.

Setelah akhirnya Andari dapat sampai di rumah, saat itu sudah pukul 10 malam, Thea sudah tidur. Kata pengasuh Thea, tadi badan Thea agak kurang enak, setelah diberi obat, Thea langsung tidur. “ Tadi Thea sempat menulis surat untuk ibu, dia letakkan di meja makan, di sebelah segelas the hangat yang dia buat sendiri untuk Ibu."

“ Mama sayang, mama capek ya? Maafin Thea ya,Ma, tadi Thea gak sopan, tutup telpon Mama. Thea sayang banget sama Mama, kalau Mama masih sibuk, gak pa pa kok, kita lain kali aja ke tokonya. Besok dia bilang sama bu guru,kalo Thea belon sempat beli bukunya, Thea bisa pinjam dulu ke teman Thea. Mama, Thea sdah buatin the buat mama,diminum ya. Thea bobo dulu. Thea sayang sama Mama.”

Betapa trenyuhnya hati Andari membaca surat itu, memang Mas Raka meninggalkan bidadari kecilnya untuk menemani aku,begitu bisik hati Andari. Dan Andari sudah memutuskan bahwa besok dia akan mengambil cuti dan menemani Thea, kemanapun dia mau.

12 comments:

Irene said...

Waaahhhh..akhirnya berhasil juga posting cerpen...mohon kritik dan saran nya ya...;))

G said...

(((Hugsss))) Saya suka, saya suka. Entah kenapa, faktor umur kali ya, haha, saya suka baca kisah-kisah sederhana yang menyentuh seperti ini :D

Tapi saya punya teman yg juga mengalami apa yg dialami Andari. Anaknya juga tukang protes dan suka marah gitu krn mamanya sibuk, walaupun dia juga tahu bhw mamanya sibuk krn "terpaksa" hrs cari uang utk kehidupan mereka.

Sebenarnya dilema itu ga hanya buat sang mama, tp juga buat si anak. Hmm... kisah yg indah.

Thanks Irene..

eka wijayanti said...

"Ibu..."
Hari ini kenapa banyak sekali hal-hal yang membuat saya ingin terbang ketemu Ibu saya. Salah satunya cerita ini. Mbak Irene harus tanggung jawab, dengan membayar tiket pesawatnya!

ami said...

hiks kebayang beratnya menjadi single parent

Indah said...

Terharuu.. suratnya Thea menyentuh bangets :')

Andari & Theaa.. semoga besok acara Mother-Daughter-nya menyenangkan yaa ;)

Winda said...

Irene : menyentuh sekali ya...somehow, walaupun waktu udah punya anak saya udah brenti kerja, tapi mungkin memang itulah yang dirasakan working Mom, ya? single parent atau bukan...hiks...

benar kata G, mungkin ini bukan hanya dilema bagi sang ibu tapi juga bagi sang anak, apalagi kalau sang anak sudah mengerti bahwa ibunya bekerja demi anak2nya...

eka : ntar kalo irene udah setuju beliin tiket pesawatnya, belinya sama aku atau yulie yah...wkwkwkwkwk....*sekalian usaha* hihihihihi

Milla Widia N said...

huhuhuhu... ngebayangin kalo tokoh utama di cerpen ini gw :(

Lie said...

irene...kamu bisa...:) selamat yaaa
ceritanya nyata di zaman sekarang...ga hanya buat single parent, tp juga buat emak2 yang bekerja...

Irene said...

Waduuhhhhh..terimakasih ya temen2.... aku jadi terharu,sorry baru sempet bales,setelah kemaren gak berkutik karena inet gak bersahabat.. aku pas nulis sambil mbayangin Denzel yg suka telpon bilang kangen sama aku..hehehee,jadi terinspirasi..
Eka: ntar kalo udah bisa bikin buku kayak Ge,baru bisa beliin tiket di Winda dan Yuli ya... heheehe

Bener banget, working mom tuh,single parent ato bukan dilema gak biat ibu tapi juga buat anaknya,satu sisi kalo minta mainan,mereka seneng kali ya emaknya bekerja, tapi giliran di rumah sepi, kangen melulu..hehehe

Tapi buat aku kadang2 kerja juga escape lost, kalo di rumah bete,ketemu temen2 kantor kok ya fun juga ya...;))

Sekali lagi terimakasih banget ya,jd rada pede dipuji para pembuat cerpen berpengalaman gini....muahhhh..

emmanuellykeisa said...

baca ini, jadi mikir betapa mulianya peran seorang ibu, apalagi diposisikan peran tunggal seperti ini...

ditunggu cerpen selanjutnya ;-)

Irene said...

Keisa...hehehe.thanks...

Skunyos said...

Quality time with people that we love ;)
nice mbak Irene!