Pages

Tuesday, January 12, 2010

Pria Berseragam Loreng Itu Membunuhku

Setiap terang bulan bapak selalu duduk terpekur memandangi langit melalui beranda rumah. Malam ini pun tak terkecuali. Tak diindahkannya ajakku agar masuk ke dalam. Diusianya yang sekarang aku cemas paru – paru tuanya itu tak kuasa menahan dingin angin malam. Belum lagi rokok kretek yang selalu menjadi karibnya. Memperparah keadaan saja. Sekali ini pun jawabnya tak berubah saat ku pinta kembali beliau untuk pindah ke dalam.

“Jangan kau ganggu aku Duma,” hanya itu. Dan sesudah itu ia seolah tenggelam dalam kepulan asap kreteknya. Dunianya yang tak tersentuh. Bahkan oleh aku – anaknya. Esok harinya lakon bapak di depan beranda rumah itu ia tekuni lagi. Lakon yang telah ia jalani selama 2 tahun terakhir sepeninggalan omak. Tak dipedulikannya ladang kami, tak dihiraukannya pula kebun sawit kami. Kami anak-anaknya yang tak pandai berladang ini harus mengurus itu semua. Mulanya ku pikir paling lama 3 bulan saja bapak akan duduk diam seperti itu. Tapi... hingga sekarang bapak lebih memilih memandangi canda burung gereja di dahan daripada berbicara denganku. Sia – sia bapak tua datang dari Samosir untuk menghiburnya. Sia – sia namboru atau bahkan tulangku datang mangapuli. Tak ada satupun yang mampu menembus dunianya. Mata bapak tetap kosong. Sekosong jiwanya.

Bapak...

Walaupun kasat mata ia ada bersamaku namun entah dimana jiwanya. Hilang. Aku tak tahu. Yang dipikirkannya hanya omak dan boru siakangannya yang tak pulang – pulang. Ya, boru siakangannya. Lima tahun lalu kakakku itu pergi mengejar impian. Ke Jakarta katanya. Omak tak setuju tapi bapak mendukung. Hiburnya ke omak:

"Tak apa, disanapun ia tinggal dirumah amangborunya. Galaknya amangborunya itu. Pasti ia tak bisa macam-macam”.

Katanya kemudian pada kakakku:

“Baik – baik kau di Jakarta boruku. Biar kau buka jalan untuk adik-adikmu. Biar Sihar, Togar dan Duma kuliah di Jakarta pula nanti. Aku tak mau anakku hanya melihat ladang saja. Harus jadi orang besar kalian nanti”

Begitulah, kakak pergi ke Jakarta bersama dengan 1 kebun sawit kami sebagai bekalnya. Binar mata bapak penuh harap saat melepas kakak. Manusia boleh berencana tapi takdir berbicara lain. Angan bapak kandas tatkala setahun kemudian kakak bilang ia mau mangoli padahal belum tamat pula kuliahnya. Pahit. Tapi yang lebih membuat bapak dan omak murka hingga tak sepatah katapun keluar, tatkala melihat calon hela.nya itu. Melalui sinar matanya aku tau omak berang bahkan bapak sudah sedia parang. Tapi apa daya, pria pilihan kakak dikawal 8 orang bersenjata.

Kulihat bang Sihar dan Bang Togar pun sudah merah menahan amarah. Ah kakak... betapa beraninya kau bawa pulang pria berseragam. Tak ingatkah kau sumpah bapak dulu? Bahwa tak akan dibiarkannya keturunannya menikah dengan siapapun yang berseragam. Terlebih seragam loreng. Tak ingatkah kau kak, ompung kita dianiaya, dinjak-injak tentara hanya karena memberi minum laki-laki terluka dari kampung seberang. Hanya karena air, ompung dianggap anggota gerakan terlarang dari provinsi perbatasan hingga mati ditembak tanpa diadili dianggap layak baginya.

Kak, sakit hatiku melihat kesedihan bapak. Jiwanya habis digerogoti rasa bersalah memberikan ijin kakak ke ibu kota. Omak pun tak kuasa menahan pilu hingga ajal cepat menjemputnya. Itupun kau tak pulang, bahkan pusaranya pun belum sekalipun kau bersihkan. Pahit nian hati bapak. Sudah ditinggal borunya, ditinggal omak pula. Perih aku kak, manakala kulihat bapak. Sayup kudengar suara bapak bersenandung dari beranda:

Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani

Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani.


“Kak, pulanglah. Bapak masihol," kataku melalui telepon. Lirih dari seberang sana ia menjawab, "Aku tak bisa pulang. Pria berseragam loreng itu membunuhku dek, membunuh jiwaku.”


Aku diam untuk kemudian pecahlah tangisku.



Skunyos
(Eka Situmorang-Sir)


Glossary:
  • Bapak tua : Saudara laki –laki bapak yang lebih tua
  • Namboru : Saudaraperempuan bapak
  • Amangboru : suami darinamboru
  • Tulang : Saudara laki – lakiomak
  • Mangapuli : menghibur dukakarena ada yang meninggal
  • Boru siakangan : Anakperempuan pertama
  • Mangoli :menikah
  • Hela : menantu
  • Ai hodo boruku, borupanggoarani: Kamulah putirku, anak perempuan yang membawanamaku
  • Sai sahat dana dirohani:terkabullah apa yang kau cita - citakan
  • Masihol : rindu


18 comments:

Skunyos said...

Akhiiirnyaaaaaaa setelah melalui perjuangan panjang (pheeew mengelap peluh di dahi) cerpen ini bisa publish juga. Cerpen lawas yang punya arti khusus secara pribadi.

Supaya lebih mengerti jalan ceritanya, ada baiknya untuk mengecek glossary terlebih dahulu :)

Enjoy...

Salam saya,
Eka-mami Skunyos

ami said...

hiks sediiih. kebetulan keluarga mamaku juga begitu ka, menolak pria berseragam

Winda said...

alamaaaak Ekaaa....
terbayarnya kau pun posting cerita ni masuk ke injury time...elok sangat kalimat-kalimat yang kau tulis dalam cerita ni....
benar-benar menyayat hati....huaaaa....
sukses lah kau Ka mengantar tidurku dengan cerita pilumu ini...hiks....
btw, bisalaah aku sikit-sikit basa medan (bukan batak), aku lahir disananya pun! hihihihi...^^,

Skunyos said...

@mbak Ami:
Ini fakta nyata dalam kehidupan sehari2.. jangan lupa mbak... dulu waktu masih zamannya rezim yang dulu, banyak pihak yang tersakiti oleh oknum2 berseragam, jadi penolakan seperti itu lazim terjadi. Semoga di era yang baru ini, para pria/wanita berseragam tersebut dapat mengubah citranya menjadi lebih bersahabat dan sungguh2 merakyat.

Skunyos said...

@Winda:
Jangannya jadi sedih.. cuma cerpannya ini. Senyum sikit lah ya :)
aiiih anak Medannya si Winda inih ya! :)

Indah said...

Aahh.. Ekaa, apa yang terjadi dengan sang kakak sekarang ini? Masihkah dia ada dalam cengkraman sang pria berseragam loreng itu?

*mudah2an dia baik2 ajaa!!*

eka wijayanti said...

Eka Skunyos! Kelingkingnya nyaris! Hihi.
Lawas? Kalau cerita ini dipublish 20 tahun yang lalu, pasti sudah di-banned sebab, isinya krusial, berani dan sensitif. Benar-benar penyuka bahaya.
Saya suka ini. Menarik sekali. Juga kelokalannya. Mengingatkan saya pada Saksi Mata-nya SGA.

*stt, maminya Skunyos, lain kali pilih judul yang tidak membeberkan isi. Biar pembaca penasaran. Hihi.

Lie said...

duh Eka...kisah pilumu ini buat aku merinding...
*sigh............*

emmanuellykeisa said...

sedih amat si Ka...

ya ampunnn....aku berasa lagi duduk memandang amang itu dari antara pohon sawitnya, kebayang sedihnya...

jadi, yang berseragam loreng itu masih disana Ka? *siap2 ngasah golok*

.g. said...

Mengagumkan. Saya sampai berkaca-kaca membacanya.

Laston M Nainggolan said...

cerpenmu bagus ya,, boru tumorang...

.g. said...

Bagus banget, kayaknya ini nukleus dari sebuah Novel nih :)

Lina said...

cerpen keren...

Skunyos said...

@Indah:
Napa ya lu selalu nanya kelanjutan ceritanya? Mbok ya dibahas alurnya dulu gitu.. :P hehhe

@Eka chan
cerpen lawas krn dibuat sekitar 8 bulan lalu... btw ok inputnya aku perhatiin ;)

@mbak Lie:
nyanyi dolo aah.. merinding bulu romaku hehehe

@Keisha:
hahahaha ati2 disangka anrkis bawa2 golok hihihi ;)

@mbak G:
Thank u mbak

@ito Nainggolan:
Thank you :)

@Lina:
trims yaa ;)

eka wijayanti said...

Iya, komentarnya Indah selalu paling menarik.
Ada kalanya berisi doa, harapan, seolah tokoh-tokohnya hidup dan benar nyata.
Indah, pikiranmu selalu positif.
Eka suka... Indah.

Indah said...

Eka SS.. ahahaha ahahaha.. yaa gimana donks yaa, Buu.. abis buat gua selama gua ngerti jalan ceritanya yaa udah, cukup buat gua.. gua khan penikmat cerita, hihihi :D

Lagian buat guaa.. there's a bit of our soul in our writings, either berupa impian, harapan, ketakutan, imajinasi, our concerns, dllsb.. soo gua khan pengen tau kelanjutan kisah tokoh yang diceritakan, apalagi kalo yang endingnya ngegantung sedih2 githuu :p

~.*.~

Ekaa.. ahahaha.. setidaknya dalam cerita itu tuh tokoh "nyata" khan? ;) Who knows.. mereka2 itu tetap melanjutkan kisahnya walau mata kita ngga lagi memandang ke arah mereka and jari jemari kita ngga lagi menjalin kisah mereka, wakakakakak :D

*kebanyakan ngayal :p*

Skunyos said...

@Eka-chan:
Iya.. Indah selalu membayangkan tokohnya beneran hidup hehehe

@Indah: hahaha.. barti lu akan sering penasaran deh.. ending ceria gue kan banyak yang ngegantung :p hahaha

Irene said...

Eka...duhhhh...sedih banget dehhh.. bagus banget euy....