Pages

Wednesday, January 20, 2010

DEADLINE!

“ Rani, maaf hari ini saya harus segera ke Kalimantan, ada proyek yg harus saya cek on the spot, suara Anton terdengar terburu-buru,” Obat untuk Niko ada di lemari di atas kulkas, pesawatku berangkat sebentar lagi ya,paling juga sampai besok,bye.”
“ Baik,Mas, hati-hati.”

Baru saja telpon aku tutup, menyusul dering yang lain, terlihat nama Bayu di layar, dan ini tambah membuatku senewen, “Rani, mana artikel kamu,sudah harus masuk hari ini, kalo tidak digantikan dengan yang lain.”
“Mas Bayu, maaf banget, computer aku sedang bermasalah, tolong tunggu dalam 1 jam ini aku pasti kirim,please?” kata Rani memohon.
“Ya sudah, tapi harus secepatnya ya”
“ Baik,mas”… Duh Deadline!!

Rasanya mau pecah kepala Rani, mana tadi pagi, Siti, pembantunya, baru minta ijin untuk pulang kampng,karena ada telpon yang mengabarkan bahwa bapaknya sakit keras. Mudah2an itu bukan akal2an Siti dan pacarnya…HUhh!!

Rani harus buru2 menyelesaikan artikelnya sebelum Niko terbangun. Karena kalau Niko bangun, boro2 artikel, nafas aja sepertinya harus mencari2 waktu yang tepat. Baru Rani dapat mulai berkonsentrasi dan mulai mengirimkan artikelnya, tiba2,
“Mama.”
Niko terbangun dan sudah duduk di pangkuan Rani sambil mulai bermain2 dengan tuts keyboard dan mouse computer Rani… Duhhh, kalo ada Anton tentu dia bisa sabar mengajak main Niko, Anton memang lebih sabar dalam mengurus NIko dibandingkan Rani. “Niko, ayo mama antar saja kamu ke ruamah nenek.”

Empat tahun yang lalu,saat perkawinan Rani sudah memasuki 7 tahun perkawinan,dan belum memiliki momongan, suatu sore datanglah Nurul sahabat Rani semasa SMA di daerah asal Rani dulu, dia dating ke Jakarta hendak mencari suaminya yg sudah 6 bulan tak ketauan rimbanya,yang katanya bekerja di Jakarta. Nurul membawa bayinya yg saat itu masih berumur 6 bulan. Berbekal hanya alamat Rani,sampailah Nurul di Jakarta, dan tinggal di rumah Rani untuk mencari suaminya yg alamatnya pun tak jelas, hari demi hari tak kunjung bertemu, yang ada hanyalah rasa sayang Anton terhadap Niko, yang tambah hari bertambah lucu dan menggemaskan. Dari situlah awal kedatangan Niko dalam hidupku.

Ya, Niko bukanlah anak kadnungku. Dia anak sahabatku, Nurul, yg akhirnya pulang ke kampong karena suaminya tak jelas rimbanya. Mas Anton yang telah jatuh cinta dengan Niko, berusaha meyakinkan aku, bahwa megadopsi anak yg sudah jelas asal usulnya, tentu lebih baik ketimbang anak yg kita tak tau siapa orang tuanya, setelah melalui perdebatan yg panjang, akhirnya Niko sah kami adopsi menjadi anak kami. Nurul pun sudah merelakannya,karena saat itu dia juga sedang bingung akan masa depan anaknya.

Pagi ini ada konferensi pers penting yang harus Rani liput, membuat Rani sangat sibuk. Suasana tempat konferensi pers yang penuh,membuat para pencari berita harus berjuang untuk dapat mencari posisi dan narasaumber yang tepat, agar beritanya paling menarik,dan dapet paling update. Rani benar2 berkonsentrasi penuh,tak terasa hari sudah hampir petang. Setelah acara tersebut selesai, Rani baru dapat sedikit santai, dan dapat mengecek hp yg dari tadi dalam kondisi ‘silent’. Begitu hp dia buka, terdapat banyak sekali pesan dari Anton,

“ Ran, tadi pagi, saya sudah berpesan agar kamu dapat pulang lebih cepat, karena hari nini Niko berulang tahun, kita sudah janji untuk membawa dia jalan2 smabil membeli robot yang sudah lama dia minta. Tapi dari tadi telpon saya tidak kamu angkat, dan pesan saya tidak kamu balas. Tolong kabari saya secepatnya, Niko dan saya sudah menunggu dari tadi.”

Lemas langsung rasanya sekujur tubuh Rani.

“ Ya Tuhan, bagaimana aku dapat melupakan peristiwa sepenting ini dalam hidupku. Tak henti2 nya aku berdoa pada Mu, untuk seorang anak dari dalam rahimku sendiri, tanpa menyadari bahwa kan anugerah yang sudah ada. Dan anugerah itu bernama Niko. Maafkan aku,Tuhan. Maafkan mama,Niko”
Rasanya Rani ingin segera bisa terbang menemui mereka, sambil terus berdoa agar Anton dan Niko memaafkan dan menunggu dia.

Ini baru benar-benar DEADLINE!!!!

15 comments:

Irene said...

hellooo...duhhh masih dapet gak ya...kelingking masih bisa diselamatkan gak sih... baru dapet ide nya tadi pagi euy...mohon petunjuk ya..;))

Milla Widia N said...

hmmmm dikejar deadline ya ren? hihihi

Irene said...

Milla..iya euy...udah gitu bingung, mau gak masukkin kok kayak punya utang...

ami said...

waduuh gara2 deadline bisa jadi ruwet gitu ya ren hehehe. aku sendiri sejak rabu malam baru sempat sekarang buka WT

Indah said...

Ayy.. gua suka cerita penutupnya, Ren!

Emang bener yaa kadang kita itu suka lupa untuk mensyukuri apa yang udah ada di tangan kita, ahahaha :D

Met jalan2 yaa, Niko, Rani & Anton, and psstt.. Nikoo.. berhubung si Mama lama datangnyaa.. minta robotnya sekalian ama pedang2an yaa, wakakakakka :p

Oh iyaa.. happy birthday, Nikoo ;)

*kira2 Niko bakal dikasih tau ngga ya pas udah gede nanti kalo dia bukan anak kandung? hmm..*

Irene said...

Ami..hehehe.ini aja udah ruwet soal hari penerbitan..hehhee..aku tumpang tindih sama Winda... ternyata ada harinya sendiri2 ya..baru tau..hehehehe..

Indah... thanks..ntar dibikin juga kali ya cerita soal Niko...ketimbang bingung soal ide..;))

Lie said...

bener-bener dealine ren...
*ternyata dikejar2 deadline, bisa nimbulin ide yah...hehehe...

Irene said...

Lie..hehehehe...ketimbang bingung..itu tuh tanggal nya keluar 20 ya..tapi kok tetep nongol ya,Yul...

eka wijayanti said...

Bagian lutut lemas itu, terasa sekali emosinya sampai ke saya (pembaca). Pengalaman lutut lemas pribadi ya? Hihi.

Mbak Irene, kelingkingmu, riwayatmu kini... Caramu bercerita, bagus begini. Jadi, jangan sampai terpotong kelingkingnya lagi ya.

Winda said...

hahahaaaa...ini dia nih kelingking yang bikin heboh seminggu yang lalu....
bener kata eka...lo bisa kok kalo lo mau, ren...
gw terus terang malah jadi tambah jago ngatur waktu setelah ikutan proyek cerpen ini....heheheee....
jadi, jangan sampe kepotong lagi yaaa...

eka wijayanti said...

Betul, kata Mbak Winda. "Lo bisa kok kalo lo mau, ren..."

*salingmembenarkanpernyataandenganmbakwinda,satusamalain*

.g. said...

Walaupun sudah membaca dari minggu kemarin :p Tapi baru bisa komentar sekarang, semoga juga bisa masuk komentar ini karena koneksi sedang kaputt, cerita pendek ini menarik, soalnya pernah ngalamin sendiri kelupaan sesuatu yg penting dan membuat orglain menunggu, huhu... rasanya ga enak banget.

(((hugss Irene))) Ga papa kehilangan kelingking untuk waktu yang lalu, yg penting terus menulis! :D

emmanuellykeisa said...

hu hu hu,,,memang sering ya fokus mengejar hal yang lebih besar dan melupakan hal2 kecil...jadi lupa "bersyukur"...iya, bersyukur buat apa yang sudah dimiliki kadang terlupakan.

*selamat menyelamatkan kelingking mbak*

Irene said...

terimakasih teman2...gak pa pa kehilangan kelingking,asalkan gak keilangan temen2 sebaik kalian...huggggssss and kissesss....

Skunyos said...

Mbak kapan hari aku udh pernah komen disini..
koq komenku ndak masuk ya? :(

Btw.. moga lain kali gak lupa ultah orang2 yg kita cintai yah :)